Jumat, 26 November 2010

Westland Lynx

Westland Lynx

Westland Lynx merupakan nama helikopter Britania Raya yang dirancang oleh Westland Aircraft (sekarang bernama AgustaWestland) dan diproduksi di pabrik Westland di Yeovil, penerbangan perdananya pada 21 Maret 1971 dengan nama Westland WG.13. Pada awalnya Westland Lynx dirancang untuk membantu kepentingan umum dan angkatan laut, ketertarikan militer mendorong pengembangan varian angkatan laut lainnya dan pengembangan untuk pemakaian di medan pertempuran, yang mulai dioperasikan pada tahun 1977 dan digunakan oleh angkatan bersenjata di lebih dari dua belas negara. Helikopter ini kini dibuat dan dipasarkan oleh AgustaWestland.
Pembuatan

Sebagai bagian dari perjanjian helikopter antara Inggris dan Perancis yang ditandatangani pada Februari 1967, perusahaan Perancis Aérospatiale diberikan bagian kerja dalam proyek pembuatan.

Dengan pilot Roy Moxam pada 1972, Westland Lynx mencapai rekor 15 dan 25 km dengan kecepatan 321,74 km/jam. Setelah itu Westland Lynx juga memecah rekor lintasan tertutup menempuh 100 km dengan kecepatan 318,504 km/jam. Pada 1986, sebuah Lynx dengan rotor ekor BERP (British Experimental Rotor Programme), terdaftar sebagai G-LYNX dan dengan pilot John Egginton mencetak rekor kecepatan mutlak bagi helikopter pada lintasan 15 dan 25 km dengan kecepatan sampai dengan 400,87 km/jam. . Lynx merupakan helikopter lincah dan mampu membuat gerakan berputar (loops and rolls).

Tentara Britania Raya memesan 100 Lynx AH (Army Helicopter) Mk.1 untuk berbagai keperluan, termasuk pengangkutan taktik, pengiring angkatan bersenjata, pertempuran anti-kendaraan baja (dengan delapan BGM-71 TOW), pengintaian dan evakuasi. Angkatan bersenjata Britania Raya telah melengkapi sistem Marconi Elliot AFCS pada Lynx untuk penstabilan otomatis pada tiga poros.

Kamis, 25 November 2010

WATER CANON

MENGETAHUI FUNGSI DARI MOBIL RANTIS POLRI (WATER CANON)

Siapa yang tidak kenal dengan mobil Polsi yang satu ini ..? Ya...Benar ini adalah mobil rantis Polri yang bernama "water canon" yang di desain khusus seperti mobil model pemadam kebakaran tetapi fungsinya berbeda;

Salah satu fungsi mobil ini adalah untuk "Meredakan/ Antisipasi Unjuk Rasa kalau sudah tahap anarki. dan biasanya Mobil ini akan menyemprotkan Air dan Gas Air Mata bagi Pengunjuk rasa yang sudah teramat anarkis. Mobil ini juga dilengkapi dengan Camera CCTV yang terpasang pada Muka dan Belakang Mobil fungsinya melihat posisi Mobil, pengambilan gambar dan Merekam Seberapa Bringas Unjuk rasa pada saat kejadian.

Adapun Rancangan dari Mobil Ratis Polri tersebut adalah :

* Rancangan dasar : Kendaraan Niaga Heavy Duty
* Kapasitas Muatan : 10 Orang
* Kapasitas : 4000 liter
* Tekanan : 16 bar
* Perlengkapan : - Kamera & V
* Joy stick pengatur arah penyemprot
* Penyemprot gas air mata
* Air Conditioning &
* Computer

Di Dalam Mobil Taktis Water Canon terdapat fasilitas sebagai berikut :

Workshop Special Function Vehicles dilengkapi dengan sarana:

1. Computer design system dengan software-software mutakhir untuk penunjang pembuatan design, engineering maupun ergonomic dan styling serta analisis.
2. Fasilitas manufactur antara lain flame cutting, roll, bending,TIG-WIG Welding serta CNC machines tools.
3. Fasilitas assembling terdiri dari Crane, jig and fixture, tools serta rotary lift

Mobil Water Canon ini sangat membantu sekali dalam tugas Polisi dalam hal Pengamanan Unjuk rasa

Selasa, 23 November 2010

Meriam FH 2000 TNI

Meriam FH 2000

FH-2000 (Field Howitzer 2000) adalah meriam Howitzer berkaliber 155mm/52 yang dapat ditarik/gandeng menggunakan kendaraan angkut berat, meriam ini dikembangkan oleh Singapore Technologies (ST) untuk kebutuhan AD Singapura.

Jarak tembak maksimum meriam ini mencapai 42 kilometer menggunakan amunisi khusus, uji coba lapangan pertama dilakukan di New Zealand. Pengoperasian meriam diawaki oleh 8 personel dan menggunakan mesin Diesel berdaya 75 hp untuk menggerakkan meriam secara mandiri (self propelled) dengan kecepatan 10 Km/jam tanpa perlu ditarik kendaraan pengangkut.

Meriam ini pernah ditawarkan untuk di ekspor kebeberapa negara, dan TNI mengakuisisinya sebanyak 6 meriam Howitzer FH-2000. Saat ini meriam-artileri tersebut ditempatkan di Resimen II Artileri Medan (Armed)/ 

Desain

Saat Howitzer digunakan platform pendukung penembakan me
nggunakan struktur tripod mekanis. Beban tembakan di transmit ke permukaan tanah melalui tripod ini, isolasi silinder hidrolik dari platform ini cukup handal untuk digunakan.
FH2000 juga dapat mengaplikasi serangkaian sistem pengamatan optik ke elektro-optik. Sistem pengamatan ini bisa dihubungkan kedalam kontrol penembakan di komputeri.

Di bagian belakang
meriam menggunakan mekanisme semi-otomatis, bagian ini terbuka secara otomatis selama counter recoil digunakan. Kontrol elektronik dan hidrolik power mendorong ceklikan ram proyektil masuk ke ruang barel dengan konsistensi tinggi.
 

ZSU-23/4

ZSU-23/4 ALTILERI ANTI SERANGAN UDARA TAKTIS, SI PEMANGSA PESAWAT MUSUH

Secara umum, artileri merupakan sebutan untuk kesenjataan, pengetahuan kesenjataan, pasukan serta persenjataannya sendiri yang berupa senjata-senjata berat jarak jauh.

Pada awalnya, istilah artileri (bahasa Perancis: artillerie) digunakan untuk menyebut alat berat apapun yang menembakkan proyektil di medan perang. Istilah ini juga dipakai untuk mendeskripsikan tentara yang tugasnya menjalankan alat-alat tersebut. Dengan ditemukannya kendaraan terbang pada awal abad ke-20, artileri mulai digunakan juga untuk menyebut senjata darat anti-udara.

Dalam pengertian TNI-AD, senjata artileri meliputi Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) dan Artileri Medan (Armed). Termasuk dalam Arhanud adalah meriam dan peluru kendali anti pesawat udara. Sedangkan Armed terdiri dari meriam, howitzer, mortir berat dan roket.

Sejarah artileri Modern
Pada awal abad ke-20, senjata infanteri sudah semakin kuat dan akurat, membuat artileri harus dijauhkan dari garis depan medan perang. Perubahan kepada tembakan tidak langsung ini ternyata tetap efektif pada Perang Dunia I, menyebabkan 75% dari jumlah semua kematian. Karena adanya peperangan parit pada awal Perang Dunia I, howitzer semakin banyak dipakai, karena howitzer menembak dengan sudut yang tinggi, cocok untuk mengenai target di dalam parit

Selain itu, pelurunya juga dapat berisi bahan peledak dengan jumlah lebih banyak. Jerman menyadari hal ini dan memulai perang dengan howitzer yang lebih banyak dari Perancis. Perang Dunia I juga ditandai dengan adanya Meriam Paris, meriam terjauh yang pernah ditembakkan. Meriam berkaliber 200 mm ini digunakan Jerman untuk menembak ke Paris, dan mampu menembak ke target yang jauhnya 122 km.

Perang Dunia II mencetuskan perkembangan baru dalam teknologi meriam, antara lain peluru sabot, proyektil bahan peledak hampa, dan sumbu berjarak, semuanya cukup penting. Sumbu berjarak mulai dipakai di medan perang Eropa pada akhir Desember 1944. Teknologi ini kemudian dikenal sebagai "hadiah Natal" untuk tentara Jerman, dan banyak dipakai di Pertempuran Bulge. Sumbu berjarak efektif dipakai melawan infanteri Jerman di ruang terbuka, dan digunakan untuk menghentikan serangan.

Teknologi ini juga dipakai pada proyektil anti pesawat, dan digunakan di medan perang Eropa dan Pasifik untuk menghadapi peluru kendali V-1 dan pesawat kamikaze. Meriam anti tank dan meriam tank juga sangat berkembang pada perang ini. Misalnya, Panzer III yang awalnya dirancang untuk menggunakan meriam 37 mm, diproduksi dengan meriam 50 mm. Pada tahun 1944, KwK 43 8,8 cm—dan berbagai variasinya—mulai dipakai oleh Wehrmacht, dan digunakan sebagai meriam tank dan meriam anti tank PaK 43. Meriam ini menjadi salah satu meriam paling kuat pada Perang Dunia II, yang mampu menghancurkan tank Sekutu apapun dari jarak jauh.

Salah satu yang paling populer dalam alteleri dan pertahanan anti serangan udara adalah penggunaan ZSU-23/4 (SPAAG) yang dimana dalam inovasinya terus di kembangkan sistem baik dari sistem dinamik maupun radar system.

ZSU-23/4 adalah Salah satu contoh proyek yang dihasilkan oleh Ulyanovsk Mechanical Plant di Rusia. upgrade mencakup RPK-2 radar berbasis yang mengintegrasikan kontrol yang memudahkan dalam melakukan serangan kepada target pesawat musuh. Sistem ZSU -23 ini dilengkapi dengan peralatan canggih lainnya mulai dari sistem digital yang terhubung ke komputer remote surveilans sumber data dan penargetan. Yang lainnya termasuk sensor ptik, yang memungkinkan sistem untuk melakukan searching target diluar radaar. Varian terbaru dari ZSU-23 ini adalah Igla (SA-18) missiles, di ZSU-23-4M5 dan penggantian yang quad dengan senapan kembar barel Tulamashzavod 2A38M 30mm cannons (juga digunakan dalam 2S6M Tungushka). ZM Tranow dari Polandia, yang menghasilkan dua barel ZSU-23-2 di bawah lisensi yang terpasang pada sistem 2S1 howitzer chassis, terintegrasi dengan empat moncong tembakan remote kontrol Grom ringan anti missiles pesawat terbang .

ZSU-23 / 4 Shilka juga mendapat tambahan sistem kontrol untuk menunjang daya tembakan yang terintegrasi dan terpadu dengan di lengkapi multi-Sensor yang di dikembangkan secara bersama antara perusahaan India Barat Dynamics dan Israel Aerospace Industrie's MBT.

Kendaraan tempur yang telah dimodernisasi ditampilkan di pada acara Aero India, pada varian terbaru dipasang dengan 359 BHP Caterpillar utama mesin diesel serta alas-mount radar, thermal imager, pengindaraan malam hari dan laser rangefinder yang memungkinkan kendaraan yang beroperasi secara pasif atau 'emitting 'Mode pencarian.

Radar ZSU-23 / 4 mampu mendeteksi target pada kisaran 15km dan mampu mengunci target pada jarak 9 km. Sensor pasif optronic dapat beroperasi secara independen dari radar yang mendeteksi dan melacak target udara sepanjang 8 km. Empat 23mm senjata yang efektif dalam kisaran 2.500 meter dengan ketinggian 1.500 meter. Kendaraan tempur ZSU-23 ini dipasang dengan dua operator konsol, di samping itu terdapat satu unit sistem pelacakan target secara spesifik serta nantinya akan di lengkapi dengan persenjataan berupa roket. Sistem ini diharapkan kedepan mampu menjawab sisi defence dalam upaya pencegahan dan momok yang menakutkan bagi pesawat tempur musuh .

Meriam L 70 / 40mm TNI

Meriam L 70 / 40mm

Adalah meriam buatan Swedia tahun 1960. Meriam ini dapat di operasikan dalam mode otomatis penuh, semi otomatis dan mode manual. Sampai saat ini meriam ini menjadi senjata andalan batalion - batalion ARHANUD Ringan di TNI AD.

KARATERISTIK

Kendaraan

Panjang : 8240 mm
Lebar : 2600 mm
Tinggi : 3580 mm

Jarak deteksi : < 8 km
jarak deteksi otomatis : 7 Km
Daerah operasi laser : 500 - 800 m

Kapal Selam Serang Kelas Scorpene

Kapal Selam Serang Kelas Scorpene

Jika ditelisik asal usulnya, maka kapal selam serang kelas Scorpene terbilang unik. Betapa tidak. Leluhurnya saja ada tiga, yakni kapal selam kelas Agosta, Daphne dan Le Triomphant. Jika Agosta dan Daphne merupakan kapal selam konvensional bertenaga disel maka Le Triomphant kapal selam bertenaga nuklir yang mengusung rudal balistik.
Perancangnya mengklaim Scorpene merupakan bentuk pengejawantahan langkah aplikasi teknologi terkini kapal selam bertenaga nuklir kepada kapal selam bertenaga disel. Berkat rancang bangunnya yang menganut sistem modular maka Scorpene mudah dibangun dalam aneka varian. Pola rancang bangun macam ini telah lebih dulu diadopsi kapal selam tipe U-209 karya Howaldtswerke Deutsche Werft AG (HDW), Jerman. Sebagai catatan salah satu varian kapal selam kelas 209 juga dimiliki TNI AL.
Sebagaimana halnya kapal selam modern pada umumnya Scorpene juga mengadopsi bentuk konstruksi rangka badan model ‘tetes air mata’ berlunas tunggal (single teardrop hull form). Model rangka badan ini pertama kali dipakai kapal selam riset AL AS USS Albacore dan kemudian jadi acuan bentuk konstruksi rangka badan kapal selam masa kini. Bentuk konstruksi ini dianut semua varian Scorpene.
Namun dalam perkara ukuran dimensional dan bobot operasional mereka berbeda. Untuk varian baku (basic) panjang 66,4 meter, lebar 6,2 meter, dan tinggi garis air (draft) 5,8 meter. Sementara varian basic-AIP yang diklaim kedap sonar (stealth) panjang badan mencapai 76,2 meter, lebar 7,1 meter, dan draft 6,65 meter. Tetapi untuk varian compact yang sekilas tampilannya lebih kecil, ukuran panjang, lebar, dan draftnya memang sedikit lebih pendek, yakni 59,4, 5,6, dan 5,2 meter.
Itu baru soal panjang badan total. Dalam hal bobot kapal baik di saat terapung di permukaan laut maupun kala melayang di bawah permukaan laut kondisinya pun setali tiga uang. Ketiga varian Scorpene ini tetap saja tak bisa akur. Bobot apung varian babisa akur. Bobot apung varian basic 1.700 ton, basic-AIP 2.000 ton, dan varian compact 1.450 ton. Sedangkan bobot layangnya 1.790 hingga 2.010 ton tergantung kepada tipe varian dan modifikasi peralatan operasionalnya. Yang unik justru adalah meski bobot layang ketiganya berbeda, tapi kecepatan maksimum berlayar di permukaan lautnya identik, yakni 12 knot.
Hanya saja dalam soal kecepatan maksimum di bawah permukaan laut yang bisa akur hanya varian basic dan basic-AIP yakni sama-sama 21 knot. Sedangkan varian compact hanya 15 knot.
Badan Scorpene generasi awal terbuat dari lapisan baja yang tahan tekanan tinggi (high yield stress steel) tipe 80HLES. Berkat bahan baja yang juga dipakai kebanyakan kapal selam bertenaga nuklir AL Perancis ini semua varian Scorpene sanggup menyelam hingga kedalaman 300 meter. Khusus untuk varian compact, mengingat struktur rangka badannya agak beda dari kedua saudara tuanya, maka kemampuan selamnya terbatas hanya mencapai 200 meter.

Pada Scorpene generasi terkini kabarnya sudah mengadopsi lapisan baja tahan tekanan tinggi tipe 100HLES. Daya tahannya sekitar 25 persen di atas 80HLES. Dengan begitu diperkirakan Scorpene generasi terkini sanggup me-nyelam pada kedalaman lebih dari 350 meter.
Guna mendukung kinerja seperti ini Scorpene butuh tenaga listrik dan tenaga propulsi yang cukup besar. Hingga kini pabrikannya masih merahasiakan jenis mesin disel penghasil tenaga listrik yang dipakai. Tapi diduga ada dua mesin disel besar atau empat mesin disel kecil tipe turbocharged bersemayam di ruang mesinnya. Tiap tipe kumpulan mesin diyakini sanggup menghasilkan tenaga hingga 2.500 kilo Watt. Tenaga listrik ini akan menyusut jika Scorpene bergerak pada kecepat-an lambat atau bahkan sangat lambat.
Saat kecepatan jelajahnya delapan knot penyusutan tenaga gerak Scorpene 25 persen sedangkan jika kecepatannya empat knot penyusutan 10 persen. Jika sampai terjadi kondisi darurat maka ada generator tenaga listrik yang bisa memasok tenaga listrik 2.900 kilo Watt selama dua hari. Sedangkan untuk sistem propulsinya Scorpene mengandalkan satu motor magnet permanen berdaya 3,5 Mega Watt lansiran Leumont Industries.
Berkat berbagai mesin peng-hasil tenaga gerak ini Scorpene diklaim bisa beroperasi di lautan selama 45 hari tanpa henti dan menempuh jarak jelajah hingga 6.400 mil laut tanpa harus kembali ke pangkalan barang seharipun.
Dalam setahun Scorpene bisa berlayar selama 240 hari. Jika perlu Scorpene bisa berkeliaran di bawah permukaan laut tanpa terdeteksi suaranya oleh perangkat sonar musuh (non snorting endurance) selama hampir lima hari dengan kecepatan jelajah empat knot berkat keberadaan satu jenis baterai berkerapatan tinggi (high density battery).
Agar lebih sulit terdeteksi seluruh dinding bagian dalam Scorpene dilapisi bahan khusus yang bisa meredam kebisingan suara yang dihasilkan mesin disel penghasil tenaga gerak dan mesin penggerak tuas pemutar baling-baling tunggal berbilah tujuh.
Agar bisa bekerja maksimal, Scorpene varian basic dan basic-AIP butuh 31 personil untuk mengoperasikannya selama 24 jam. Sedangkan varian compact cuma butuh 22 orang. Selain personil pengawak, Scorpene varian basic masih sanggup menampung tambahan muatan sebanyak enam orang.
Jumlah total ini jauh lebih sedikit ketimbang jumlah awak kapal selam bertenaga nuklir yang butuh 45-50 awak. Sementara teknologi kapal selam negara berkembang umumnya berbasis pada teknologi kapal selam dari era 1960 dan 1970-an. Konsorsium DCNS-Izar mengintegrasikan teknologi kapal selam bertenaga nuklir produk dekade 1990-an kepada kapal selam bertenaga disel yang terkenal mudah dan murah pengoperasiannya.

Disesaki peralatan canggih
Guna memantau kondisi perairan di sekelilingnya Scorpene dibekali perusahaan elektronik Perancis, Sagem, dengan periskop serang yang dapat keluar dari dan masuk ke dalam menara kapal selam (hull penetrating attack periscope) tipe CKO-48/CHO-98 plus perangkat pengamat berbasis teknologi elektronik-optik ber-ujud tiang statis pada menara kapal selam (non penetrating optronics surveillance mast) dari Thales Optronic Systems.
Semua kegiatan operasi kapal dikendalikan IPMS (Integrated Platform Management System - Sistem Manajemen Landasan Terpadu) yang dilengkapi perangkat lunak komputer kedap usikan elektronik dan layar tayang nan lebar. Alat ini buatan CAE Shipmaster. Dengan memadukan aneka peralatan kendali operasi di bawah IPMS maka perancang Scorpene mengklaim barang ciptaannya dapat dikendalikan oleh hanya satu awak.
Hidung pengendus Scorpene banyak ragamnya. Secara garis besar terdiri dari seperangkat sensor bawah permukaan laut (subsurface sensors) dan sensor atas permukaan laut (above water sensors). Perangkat sensor bawah permukaan laut dilansir Thales, tersusun dari sejumlah sistem array. Meliputi array silindris jarak jauh (long range cylindrical array), array penyergap aktif (active intercept array), array penje-jak pasif yang sinyalnya dapat ter-distribusi (distributed passive ranging array), array pendeteksi keberadaan ranjau (mine detection array), dan flank and towed arrays. Sementara perangkat sensor atas permukaan laut mencakup radar tipe 1007 buatan Kelvin-Hughes yang bekerja pada pita gelombang I dan peralatan penghimpun data intelijen secara elektronik (ESM) tipe AR900 lansiran Condor Systems.
Seluruh sistem senjata yang bermukim dalam perut Scorpene sepenuhnya dikendalikan oleh sistem pengendali tempur terpadu taktis SUBTICS. Merupakan kependekan dari SUBmarine Tactical Integrated Combat System, perangkat kendali dijital buatan Underwater Defence Systems International ini sudah dipantek di semua kapal AL Perancis. Oleh perancangnya SUBTICS diklaim mampu mengolah semua data hasil deteksi sekaligus melakukan melacak dan menentukan lokasi sasaran seraya menentukan plus mengendalikan senjata yang dianggap cocok untuk menghancurkan sasaran itu. Basis SUBTICS adalah sistem perhitungan algoritma tingkat lanjut yang dikembangkan guna menganalisa gerakan setiap obyek di sekitar kapal yang dianggap berbahaya sembari memadu semua data hasil kegiatan deteksi dan pelacakan.

AIP-MESMA
Dari ketiga varian Scorpene maka basic-AIP terbilang unik. Pasalnya, varian ini mengadopsi teknologi AIP (Air Independent Propulsion – Propulsi Bebas Uda-ra) yang membuat Scorpene tetap bisa mengisi ulang baterai motor penghasil tenaga listrik tanpa harus muncul ke permukaan laut. Selama ini dengan mengandalkan bahan kedap suara selaku bahan pelapis bagian interior serta baling-baling berderajat kebisingan rendah kapal selam bertenaga disel bisa aman berlayar di bawah permukaan laut karena sukar terdeteksi peralatan sonar musuh. Meski begitu tetap saja ia rentan dipergoki kehadirannya saat harus mengisi ulang baterai generator listrik. Hal itu karena kapal selam harus muncul ke permukaan laut (kehadirannya dapat terdeteksi pesawat patroli bahari) dan tingkat kebisingan yang dihasilkan mesin disel saat mengisi ulang baterai lebih tinggi ketimbang takaran normal.
Untuk mengatasi masalah tersebut kini kapal selam dilengkapi sistem propulsi bebas udara (AIP). Ada banyak ragam sistem AIP. Mulai dari mesin Stirling, sel bahan bakar, hingga mesin disel sirkuit tertutup dan mesin sirkuit MES-MA. Sistem AIP yang disebutkan terakhir ini diadopsi Scorpene sehingga lahir varian basic-AIP. Kata MESMA merupakan kependekan dari Module d’Energie Sous-Marine Autonome. Sistem sirkuit tertutup ini memanfaatkan uap bahan bakar (hasil pemanasan campuran minyak solar dan oksigen cair) untuk menggerakkan turbin. Pada gilirannya turbin menghasilkan tenaga listrik 200 kilo Watt. Produk samping berupa gas karbon dioksida akan dikeluarkan dari badan kapal ke perairan di sekitarnya. Berkat sistem AIP tipe MESMA Scorpene dapat berkeliaran di bawah permukaan laut tanpa henti selama 18 hari.
Sekilas tampilan Scorpene varian basic dan basic-AIP yang mengadopsi MESMA tak begitu jauh berbeda. Perbedaan hanya terletak pada ukuran panjang badan kapal dan bobot saat menyelam varian basic-AIP yang sedikit di atas varian basic. Selain kedua faktor tersebut, boleh dikata kinerja keduanya nyaris identik. Sistem Senjata Pamungkas Ganda
Layaknya kapal selam bertenaga nuklir Scorpene juga mengadopsi sistem kendali senjata mutakhir. Maka selain torpedo sebagai sista utama, Scorpene bisa menembakkan rudal balistik. Demi pertimbangan kepraktisan dan tentu juga faktor harga jual, perancang Scorpene memasang jenis rudal balistik berbasis di kapal selam yang dapat ditembakkan melalui tabung peluncur torpedo. Dengan begitu selain tidak perlu ada ruang khusus untuk menyimpan rudal dengan posisi berjajar vertikal (guna memudahkan penembakan) di dalam badan kapal juga jumlah rudal yang dibawa bisa lebih banyak bila disimpan dalam posisi berjajar horisontal.
Perancang Scorpene masih mempercayakan tabung peluncur torpedo tipe konvensional yang bekerja dengan mekanisme pompa turbin udara (air turbine pump) sebagai sarana peluncur torpedo. Pada haluan Scorpene ada enam tabung peluncur berdiameter 533 milimeter yang bisa dipakai menembakkan torpedo, rudal balistik, atau pun ranjau laut. Tidak jauh dari posisi tabung peluncur torpedo terdapat rak tempat 12 torpedo cadangan atau 30 ranjau laut.
Jenis torpedo andalan Scorpene adalah tipe F17 Black Shark berbobot 1,5 ton lansiran kon-sorsium DCNS-Whitehead Alenia Sistemi Subacquei (WASS). Sebelum Scorpene, Black Shark telah dipakai pada kapal selam bertenaga nuklir kelas Barracuda. Black Shark hasil pengembangan torpedo kelas ringan MU-90/IMPACT produksi Eurotorp. Semula dikembangkan dalam memenuhi kebutuhan AL Italia mempersenjatai kapal selam baru kelas U-212A. Awalnya dinamai torpedo A-184 Advanced (1997). Pertama kali muncul pada 20 November 2004 dan segera dipesan AL Italia, Perancis dan ketiga negara operator Scorpene. Jangkauan jelajah Black Shark 50 kilometer yang dapat dicapai dalam tempo 15 menit dengan kecepatan jelajah maksimum 52 knot. Khusus Scorpene milik Malaysia, dipakai Black Shark varian baru yang lebih ringan, jangkauan jelajahnya 30 kilometer, kecepatan jelajah maksimum 35 knot, dan bisa beraksi di kedalaman 600 meter.
Motor penghasil tenaga gerak Black Shark tipe brushless axial flux tipe PB50. Tenaganya dipasok baterai alumunium-perak ok-sida (Al-AgO) buatan SAFT Batteries, Perancis. Baterai tipe ini dua kali lebih kuat ketimbang baterai perak-seng (Ag-Zn) yang saat ini dipakai kebanyakan torpedo. Masa pakai baterai Al-AgO mencapai 12 tahun berkat adanya sistem manajemen elektrolit. Sedangkan agar handal menyasar semua jenis sasaran Black Shark mengadopsi pemandu arah gerak akustik pasif / aktif tipe ASTRA (Advanced Sonar Transmitting & Receiving Architecture), sensor penjejak multi sasaran, sistem jaringan pemandu berbasis teknologi serat optik, dan alat penetralir peralatan gelar perang elektronik musuh. ASTRA beroperasi pada gelombang suara frekuensi pasif 15 kHz dan frekuensi aktif/pasif 30 kHz. Berkat kemampuan operasi ganda ini, Black Shark mampu membedakan sinyal elektromagnetik dari sasaran dengan sinyal elektromagnetik dari peralatan akustik pengecoh.
Sebagai alternatif Black Shark, tersedia torpedo Mk.48 ADCAP (ADvanced CAPabilities) yang berbobot 1,68 ton dan keluaran tahun 1989. Torpedo ini hasil pengembangan Mk.48. Sista bawah permukaan air sepanjang 5,8 meter dan berdiamater 533 milimeter ini dapat beraksi dengan atau tanpa bantuan kawat pemandu serta mengandalkan sistem pemandu arah gerak pasif/aktif (active/passive homing device). Meski terbilang sista konvensional tapi karena mampu beraksi pada kedalaman 900 meter dengan kecepatan jelajah hingga 55 knot serta sanggup menjangkau sasaran hingga sejauh 38 kilometer torpedo Mk.48 ADCAP dipercaya AL AS memperkuat kapal selam bertenaga nuklir kelas Los Angeles, Ohio, dan Sea Wolf. Di luar AS, Australia banyak mengakuisisi torpedo berhulu ledak seberat 295 kilogram ini.
Selain torpedo kelas berat, Scorpene juga dimodali rudal balistik untuk melumat sasaran kapal perang permukaan laut. Yang terpilih rudal Exocet varian SM39 Blok 2 buatan MBDA, Perancis. Rudal sepanjang 4,7 meter, ber-diameter 350 milimeter, dan dengan lebar rentang sirip 1,1 meter ini mulai dikembangkan Aerospatiale pada tahun 1975. Sistem pemandu arah gerak rudal subsonik berhulu ledak seberat 165 kilogram ini terdiri atas alat navigasi inersial dan radar pencari sasaran aktif berfasa terminal (active radar seeker for the terminal phase). Untuk meluncurkan SM39 yang berbobot mati 0,66 ton ke permukaan laut dengan kecepatan jelajah Mach 0,93 dapat dipakai tabung peluncur torpedo konvensional. Jangkauan jelajah SM39 ka-barnya bisa mencapai hingga 50 kilometer

LPD4 AUSTIN CLASS

LPD4 AUSTIN CLASS KAPAL TEMPUR MULTI FUNGSI AS

LPD4 Austin Class adalah salah satu jenis kapal tempur Angkatan Laut AS yang dimana mengkombinasikan fungsi 3 jenis kapal: kapal pendarat, kapal pendarat tank, dan kapal muatan perang. Transport amfibi dan geladak kapal ini digunakan untuk transportasi marinir, serta perlengkapan Angkatan Laut seperti kapal amfibi dan helikopter.

Walaupun kemampuan LPD4 Austin Class masih kurang jika dibandingkan dengan LSD-41 yang baru, tetapi kapal-kapal Austin Class yang dibangun antara tahun 1965 dan 1971 ini diyakini lebih modern dari kapal-kapal jenis lainnya, karena memiliki masa operasi kapal yang jauh lebih lama daripada kapal AL terbaru sekalipun. Karena adanya fakta ini, AL Amerika telah merencanakan pembangunan kembali kapal jenis ini sebanyak 11 kapal pada tahun 1988. Kapal-kapal LPD4 Austin Class yang dibangun kembali dengan sentuhan modernisasi ini diharapkan akan memperpanjang masa aktif operasi kapal selama 17 tahun. Sayangnya, kongres Amerika tidak menyetujui pendanaan untuk program modernisasi kapal ini. Hasilnya, kapal LPD-1 telah pension setelah beroperasi selama tiga dekade. Meskipun demikian, jenis kapal LPD terus dibangun untuk mengganti kapal sebelumnya yang tidak dapat beroperasi lagi, hingga kini telah dibangun kapal LPD ke 17.

Kapal-kapal jenis LPD Austin Class memang didesain sebagai kapal pemimpin dan mampu memadai fasilitas komunikasi, kontrol, dan fungsi yang luas yang dapat mendukung kapal perang lain seperti Amphibious Task Force dan Landing Force Commander. Pada penyerangan amfibi, kapal ini akan berfungsi normal sebagai kapal pengendali primer yang mampu bertanggungjawab untuk mengkoordinasi gelombang kapal dan memperkirakan arah gerak kapal saat mendarat.

Berikut data lengkap kapal sangar Multi Fungsi Marinir AS.

General characteristics
Type: Amphibious transport dock
Tonnage: 7,713 tons dwt
Displacement: 9,201 tons (light)
16,914 tons (full)
Length: 548 ft (167 m)w/l
569 ft (173 m) o/a
Beam: 84 ft (26 m) w/l
105 ft (32 m) extreme
Draft: 22 ft (6.7 m) navigational,
34 ft (10 m) ballasted
Propulsion: 2 × boilers, 2 × steam turbines, 2 × shafts, 24,000 shp (18,000 kW)
Speed: 21 knots (24 mph; 39 km/h)
Boats and landing
craft carried: 1 × LCAC, or
1 × LCU, or
4 × LCM-8, or
9 × LCM-6, or
24 × AAV
Complement: 24 officers, 396 enlisted, 900 marines
Armament: 2 × 25 mm Mk 38 guns
2 × Phalanx CIWS
8 × .50-calibre machine guns
Aircraft carried: Up to six CH-46 Sea Knight helicopters

Meriam 23 mm / Giant Bow TNI

Meriam 23 mm / Giant Bow

Adalah senjata buatan China tahun 2000, terdiri atas meriam 23 mm / GB dan kendaraan BCV ( Battery Command Vehicle ). Meriam 23 mm / GB merupakan kategori Twin Gun karena memiliki laras ganda kaliber kecil. Senjata ini merupakan senjata efektif untuk melawan sasaran udara yang terbang rendah serta memberikan aplikasi pengoprasian pertahanan udara dengan mobilitas tinggi.

Meriam ini dapat di operasikan dalam tiga mode yakni Mode otomatis penuh ( dikendalikan secara penuh dan otomatis melalui BCV )

yang kedua adalah mode semi otomatis ( Di kendalikan dengan dukungan tenaga listrik dari baterai yang di miliki meriam itu sendiri.
yang ketiga adalah mode manual yaitu di kendalikan oleh awak meriam.
Kendaraan BCV bukan hanya sebagai sistem komando namun merupakan FCS ( Firing Control System ) dari senjata meriam 23 mm / GB.

KARAKTERISTIK
Kaliber : 23 mm
Jumlah laras : 2 Buah
Kecepatan awal : 970 m/detik
Jarak Maksimal Vertical : 1500 m
Jarak Masksimal Horizontal : 2000 m
Rata- rata tembakan ( 2 Laras ) : 600 - 2000 butir / menit
Berat Total : 1250 Kg ( termasuk Kotak Amunisi, isinya dan terpal meriam )

VAB 4 X 4 TNI

VAB 4 X 4

VAB, singkatan dari Véhicule de l'Avant Blindé (bahasa Perancis "Kendaraan Lapis Baja Pemimpin"), adalah kendaraan pengangkut lapis baja yang diproduksi oleh Divisi Euro Mobilité dari GIAT Industries Perancis. VAB adalah kendaraan amfibi, memiliki kemampuan off-road yang luar biasa, dan bisa dimodifikasi menjadi berbagai versi. Versi modern dari VAB sudah memiliki lebih dari 1000 perubahan baru dibandingkan dengan versi awal.

pada tahun 1997 Indonesia pernah mengadakan ranpur VAB 4x4
sebanyak 18 unit yang dibeli dari Giat Industries bekerjasama dengan
Renault-Trucks Perancis. Perusahasaan Renault ini punya kemampuan
untuk melaksanakan rekondisi ranpur VAB 4x4.

KARATERISTIK

Awak : 2 + 10 orang
Panjang : 5,98 m
Lebar : 2,49 m
Tinggi : 2,06 m
Berat : 13 ton
Mesin : Renault MIDR 062045
(300 hp (224 kw )
Kecepatan : 92 km/jam
Tenaga/Berat : 23 hp/ton
Daya jelajah : 1000 km

Meriam Rheinmetal 20mm TNI

Meriam Rheinmetal 20mm

Rheinmetal MK 20 Rh 202 adalah meriam otomatis dengan kaliber 20 mm yang dirancang dan diproduksi oleh Rheinmetall. Di kesatuan - kesatuan TNI meriam ini banyak di gunakan oleh kesatuan ARHANUD TNI AD untuk menangkal serangan udara. Namun meriam ini juga banyak di gunakan di Kapal - kapal Perang atau KRI milik TNI AL.

SPESIFIKASI

* Tipe: Double-barrel automatic cannon
* Kaliber: 20 mm x 139 mm
* Operasi: operasi gas
* Panjang: 2,61 m)
* Berat (komplit): 75 kg single feed; 83 kg dual feed
* Rate of fire: 1000 rpm
* Muzzle velocity: 1050 to 1150 m/s
* Berat Proyektil: 134 g

HOWITSER MK 61 TNI

HOWITSER MK 61

Howitser MK 61 adalah alutsista jenis howitser gerak sendiri. Howitser MK 61 menggunakan wahana pengusung sasis tank ringan AMX 13.
Howitser MK 61 di datangkan TNI pada medio 1970 - an .Pada saat ini ada 2 satuan Armed TNI AD yang masih menjagokanya yaitu :

1. Batalyon Armed 5/ 105 GS Parahayangan yang berada di bawah panji Kodam III siliwangi dan berbasis di Cimahi.
2. Batalyon Armed 7/105 Gs Biring Galih yang berada di bawah panji Kodam jaya yang bermarkas di cikiwul bekasi.

seluruh bagian karoseri badan dan kubah senjata MK 61 tersusun dari rangkaian lempengan baja dengan ketebalan beragam.Untuk bagian depan ( hull front ) ketebalanya 15-40 mm, kedua dinding badan sebelah kiri dan kanan ( hull sides ) 20 mm, atap badan 10 mm, dan bagian belakang 15 mm, untuk mengurangi efek hancur dari ledakan ranjau darat maka bagian perut MK 61 di susun dengan baja ketebalan 10-20 mm. Kubah senjata MK 61 juga di susun dari lempengan baja bervariasi , ketebalan bagian depan dan samping sekitar 20 mm, sedangkan bagian atap dan belakang masing - masing 15 dan 10 mm.

SENJATA:

Senjata utama Mk 61 berupa sepucuk howitser M1950 kaliber 105 mm, Laras M1950 dapat menunduk hingga 4 derajat, mendongak hingga sudut 66 derajat , " menoleh " ke kiri maupun ke kanan hingga 20 derajat.MK 61 memiliki 2 jenis amunisi yakni :

1. HE ( high Explosive ) bobot 16 Kg , kecepatan lesat awal 670 m/ s, jangkauan maksimum 15 Km
2. HEAT ( High Explosive Anti Tank ) bobot 16 Kg, Kecepatan lesat awal 700 m/s , jangkauan maksimum 15 Km.

kaliber meriam : 105 mm
berat total : 13,7 Ton
sistem suspensi : sistem jajaran torsi ( torsion bar )
panjang kendaraan : 5,7 meter
Lebar kendaraan : 2, 65 Meter
Tinggi kendaraan : 2,7 Meter
mesin : Mesin 8 silinder tipe 8 Gxb berpendingin air buatan SOFAM
kecepatan : 60 Km/jam

JASGU TNI

JASGU, JEEP TEMPUR AMFIBI SERBA GUNA BIKINAN INDONESIA

Jasgu adalah hasil karya seorang prajurit Marinir, Kapten Marinir Citro Subono, 31 tahun. Jasgu yang dipamerkan merupakan prototipe ketiga. Selain pengunjung, Laksamana TNI Slamet Subijanto, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), juga antusias. Dia menyempatkan diri berdialog dengan Kapten Citro. KSAL terlihat bangga dengan hasil karya prajuritnya itu. Jasgu didesain Kapten Citro untuk bergerak di darat dan laut.

Jasgu (Jeep Amfibi Serba Guna) mendampingi peralatan tempur milik Marinir, seperti roket multilaras RM 70 Grade, BTR 80 A, dan Sea Rider. Peranti tempur itu umumnya impor. Namun Jasgu bikinan dalam negeri.

"Saya berharap, Jasgu bisa menjadi kendaraan serba guna. Enak untuk tempur dan dikendarai," kata Citro. Dia mengaku mendapat ide mencipta Jasgu ketika bertugas di Batalyon Angkutan Bermotor I Marinir, Karang Pilang, Surabaya, sejak 1997. Ia terusik ketika melihat perahu bot ditarik jip menuju pantai. "Kenapa tidak digabungkan saja," tuturnya.

Dengan biaya sendiri, Citro mulai "mencangkok" perahu boat ke jip. Untuk menciptakan kendaraan yang bisa bermanuver di air dan darat, ia membangun mobil amfibi yang menggunakan mesin sedan Mitsubishi Evo 4. Lahirlah Jasgu seri 1. Pada ulang tahun TNI ke-59 pada 2004, Citro mengikutkan Jasgu dalam Lomba Karya Cipta Teknologi TNI. Jasgu 1 menjadi juara inovasi terbaik, menyisihkan 147 peserta lainnya.


Citro kian bersemangat menyempurnakan mobil amfibinya. Kelemahan Jasgu 1, suspensinya terlalu ringan. Di medan berat, "perut"-nya kerap menggesek tanah. Suspensi per spiral terlalu ringkih menahan beban. Jasgu 1 terlihat kurang kokoh. "Kayak belalang," katanya. Citro pun memermak Jasgu 1. Dia menggunakan badan jip di bagian depan, sedangkan bagian bawah ia buat seperti perahu.

Lahirlah Jasgu 2 dengan penggerak mesin Mitsubishi Evo 1.800 cc, ditambah mesin Mitsubisdi L-300 2.500 cc. Jika di darat, Jasgu 2 menggunakan mesin Mitsubishi Evo. Bila terjun ke air, Mitsubishi L-300 yang bekerja. "Kecepatan di air masih belum maksimal," kata Citro. Kecepatannya hanya menyamai kecepatan tank amfibi, yang rata-rata 10 kilometer per jam atau sekitar 7 knot.

Daya apungnya juga masih payah. Ruang mesin yang penuh membuat tabung apung menjadi minimal, sehingga hanya mampu mengangkut empat serdadu tanpa ransel. Meski belum sempurna, Jasgu 2 kerap mengikuti parade TNI Angkatan Laut. Tampilan yang mirip mobil membuat Jasgu 2 tidak beda dengan kendaraan umumnya. Setelah Jasgu 2 malang melintang, mulai ada perhatian dari kesatuan tempat Citro berdinas.

Citro pun dipercaya membuat Jasgu seri 3, dengan ukuran lebih gede. Dia mendapat bantuan Rp 200 juta. Dikerjakan enam orang sipil dan dua Marinir anak buah Citro, dalam tiga bulan Jasgu 3 kelar. Peranti tempur ini jadi jauh lebih andal dan kokoh. Berat total 3.700 ton. Panjang 648 cm, lebar 200 cm, tinggi 243 cm, dengan jarak dari tanah 46 cm. Jarak antarsumbu roda mencapai 365 cm.

Jasgu 3 juga menggunakan mesin diesel Mitsubishi. Bedanya, mesin yang dicangkokkan adalah mesin truk 4.300 cc. Kini, di darat, Jasgu 3 sanggup berlari 105 kilometer per jam. Bentuk dasarnya yang mirip kapal kerap membuat orang heran. "Ini ada kapal di jalan," kata Citro menirukan. Di air, Jasgu 3 bisa melaju 25 kilometer per jam atau setara 15 knot. Jasgu 3 juga dilengkapi dua pompa air, yang berfungsi mengeluarkan air yang masuk secara otomatis.

Di air, Jasgu 3 butuh 10 liter solar untuk sejam perjalanan dengan kecepatan standar, 20 kilometer per jam. Di darat, seliter solar dapat menempuh jarak 8 kilometer, dengan kecepatan rata-rata 60 kilometer per jam.

Kini, Citro pingin menjajal kendaraannya melayari Laut Jawa. Niat Citro itu mendapat apresiasi I Ketut Aria Pria Utama, Kepala Laboratorium Hidrodinamika Teknik Perkapalan ITS. Pelayaran itu akan menguji kekuatan Jasgu 3 ketika mencebur ke laut yang berombak. Percobaan di danau tidak cukup untuk menguji. "Tidak ada yang istimewa (pada Jasgu 3), tapi idenya yang luar biasa," kata Ketut, memuji.

SU-47 FIRKIN

SU-47 FIRKIN PESAWAT TEMPUR DENGAN SAYAP TERBALIK

Sukhoi Su-47 atau pada awal pengembangan dikenal S-32 and S-37, Pesawat tempur ini adalah eksperimen dari pesawat tempur subsonic yang dikembangankan oleh Sukhoi Aviation Corporation. Fitur yang paling dikenal dari pesawat ini adalah forward-swept wing, sama dengan pesawat Tsybin’s LL-3. NATO menjuluki pesawat ini dengan nama “Firkin“. Untuk versi ekspor pesawat ini menggunakan demontrasi prototip teknologi canggih dan dibuat juga prototip kedua dari pesawat ini yang masih dipertanyakan sehubungan dengan pengembangan pesawat tempur MiG generasi ke 5 (lima).

Su-47 Mengusung Dimensi dan berat dasar yang mirip dengan Su-37, meskipun pesawat ini keliatannya berbeda namun perbedaan itu menjanjikan berbagai manfaat dalam aerodinamis untuk mendukung kecepatan subsonic yang di milikinya dan mempunyai sudut serang yang tinggi dan sayap depan yang unik memungkinkan pesawat untuk meningkatkan jangkauan dan manuver pada ketinggian tinggi serta penggunaan material komposit untuk mengecilkan tangkapan radar. Berbicara masalah daya gerak Kedua powerplants awalnya di sokong oleh turbojet D-30F6 t yang sering digunakan pada MiG-31m, sedangkan prototipe kedua menggunakan turbojet Ljulka AL-37FU dengan vector dorong yang mampu secara efektif meningkatkan kemampuan tempur dan manuver di udara dan mampunyai jarak jelajah hingga 3.300 km dan mampu melaju dengan kecepatan maksimum 2.1 Mach .
Untuk sistem persenjataan dari Sukhoi 47 ini di lengkapi sistem terpadu untuk mengendalikan persenjataan, yang meliputi onboard multimode RLS, optik-elektronik sistem dan sistem helm kokpit berteknologi canggih yang tentunya sangat mendukung pilot dalam melakukan suatu aksi dogfighting kepada lawan. Tidak tanggung tanggung pesawat tempur ini mampu menggontong sejumlah senjata maut berupa peluru kendali, baik itu peluru kendali dari udara ke udara maupun peluru kendali udara ke darat. Kemungkinan besar, untuk peluru kendali dari udara ke udara akan menggunakan R-77, R-77PD, R-73, dan K-74. Sedangkan untuk peluru kendali udara ke darat, kandidatnya adalah X-29T, X-29L, X-59M, X-31P, X-31A, KAB-500, KAB-1500.

Berikut ini adalah karakteristik detil dari SU-47 :
General characteristics
Crew: 1
Length: 22.6 m (74 ft 2 in)
Wingspan: 15.16 m to 16.7 m (49 ft 9 in to 54 ft 9 in)
Height: 6.3 m (20 ft 8 in)
Wing area: 61.87 m² (666 ft²)
Empty weight: 16,375 kg (36,100 lbs)
Loaded weight: 25,000 kg (55,115 lb)
Max takeoff weight: 35,000 kg (77,162 lbs)
Powerplant: 2× Lyulka AL-37FU(planned) Flying prototypes used 2 Aviadvigatel D-30F6 afterburning, thrust-vectoring (in PFU modification) turbofans with digital control
Dry thrust: 83.4 kN (18,700 lbf) each
Thrust with afterburner: 142.2 kN (32,000 lbf) each
Thrust vectoring: ±20° at 30° per second in pitch and yaw

Performance
Maximum speed: Mach 1.6 (Achieved in test flights [3]) (1,717 km/h, 1,066 mph),projected 2710 km/h
* At sea level: Mach 1.14 (1,400 km/h, 870 mph[1])
Cruise speed: projected 1,800 km/h on dry thrust, 2650 km/h on full thrust
Range: 3,300 km (2,050 mi)
Service ceiling: 18,000 m (59,050 ft)
Rate of climb: 233 m/s (46,200 ft/min)
Wing loading: 360 kg/m² (79.4 lb/ft²)
Thrust/weight: 1.18 when fully loaded,1.15 when empty

Armament
Number of hardpoints: 14: 2 wingtip, 6-8 under wing, 6-4 conformal under fuselage
Guns: 1 × 30 mm GSh-30-1 cannon with 150 rounds
Missiles: 14 hardpoints (2 wingtip, 6-8 underwing, 4-6 conformal under the fuselage)
Air-to-air: R-77, R-77PD, R-73, K-74
Air-to-surface: X-29T, X-29L, X-59M, X-31P, X-31A, KAB-500, KAB-1500

Daewoo K11

Daewoo K11 (South Korea)

Daewoo K11 adalah senjata yang mengadopsi dual laras yang dimana memiliki fungsi yang berbeda, selain sebagai senjata serbu, Daewoo K11 ini dilengkapi dengan shell yang dapat meledak di udara sehingga untuk membunuh musuh yang berlindung di balik tembok cukup dengan menembakkan shell ke udara, mirip seperti senjata anti serangan udara, Daewoo K11 dilengkapi dengan berbagai-finder laser serta komputer balistik, yang K11 memungkinkan operator untuk cepat menemukan jarak ke target dan meluncurkan shell meledak udara. Ruang lingkup elektronik terintegrasi pada K11, bisa dihubungkan ke sistem gadjet dengan tampilan digital. Layar dapat digunakan pada malam hari dengan thermal imaging, dan menunjukkan informasi rentang dari jangkauan-penemu laser.

namun sayang kecanggihan senjata ini menimbulkan efek ketidaknyamanan bagi penggunanya selain berat, K11 ini memiliki keakurasian tembakan yang tergolong payah namun memiliki daya bunuh yang tinggi

Caliber
5.56x45mm NATO (KE Module)
20x30mm (HE Module)
Action
Gas operated, rotating bolt (rifle section)
Bolt action (launcher section)
Muzzle velocity
200 m/s (20mm HEAB)
Effective range
500 m (1640 ft)

Feed system
STANAG Magazines (KE Module)
6-round box (HE Module)
Sights
Ballistics computer, day (Optical)/night (Thermal vision) vision sight

KF-X

KF-X

KF-X
Tipe Pesawat tempur multifungsi
Produsen KAI dan Dirgantara Indonesia
Diperkenalkan direncanakan 2020
Status Dalam pengembangan
Pengguna Korea Selatan dan Indonesia

KF-X adalah sebuah program Korea Selatan untuk mengembangkan pesawat tempur multi-fungsi canggihn untuk Angkatan Udara Republik Korea (ROKAF) dan Tentara Nasional Indonesia - Angkatan Udara (TNI-AU), program ini dipelopori oleh Korea Selatan dengan Indonesia sebagai mitra utama. Negara-negara lain seperti Turki telah menunjukkan minat dalam kerjasama pengembangan dan produksi pesawat. Ini adalah program pengembangan pesawat tempur kedua Korea Selatan setelah KAI FA-50.

Proyek ini pertama kali diumumkan oleh Presiden Korea Selatan Kim Dae-Jung pada upacara wisuda di Akademi Angkatan Udara pada Maret 2001. Meskipun persyaratan operasional awal untuk program KF-X seperti yang dinyatakan oleh ADD (Badan Pengembangan Pertahanan) adalah untuk mengembangkan pesawat ber kursi-tunggal, ber mesin jet kembar dan dengan kemampuan siluman (stealth) yang lebih baik dibanding Dassault Rafale atau Eurofighter Typhoon, tapi masih kurang stealth dibanding Lockheed Martin F-35 Lightning II, fokus dari program tersebut telah bergeser untuk memproduksi pesawat tempur dengan kemampuan lebih tinggi dari pesawat tempur kelas KF-16 pada tahun 2020.

Spesifikasi

* Kru: 1
* Daya dorong : sekitar 50,000 ;lbf
* Avionik
o Kemampuan Datalink
o Radar AESA
o IRST

Kaliningrad K-5 (AA-1 Alkali)

Kaliningrad K-5

Kaliningrad K-5 (kode NATO: AA-1 Alkali, dikenal juga dengan RS-1U atau produk ShM) adalah sebuah peluru kendali udara ke udara buatan Uni Soviet. Pengembangan K-5 dimulai pada 1951. Uji coba penembakan pertama dilakukan pada 1955. Rudal ini pertama kali diujicobakan pada Yakovlev Yak-25 dan pertama kali memasuki masa dinas dengan nama Grushin/Tomashevitch (bahasa Rusia: Грушин/Томашевич) RS-2U (dikenal juga dengan R-5MS atau K-5MS) pada 1957. Versi awal sekelas dengan RP-2U (Izumrud-2) yang digunakan MiG-17PFU, MiG-19PM. Versi yang lebih maju, K-5M atau RS-2US memasuki masa dinas pada 1959. Republik Rakyat Cina mengembangkan versi mereka sendiri dengan menggunakan disain yang sama dengan kode PL-1 yang digunakan oleh pesawat tempur J-6B.

Pada 1967, K-5 digantikan oleh K-55 (R-55 dalam masa dinas) yang menggantikan sistem berpandu sorot cahaya dengan pelacak radar semi-aktif atau pemandu inframerah. K-55 digunakan sampai dengan 1977.

Rudal K-5M
Spesifikasi umum
Kode NATO AA-1 Alkali
Jenis Rudal udara ke udara
Negara Flag of Russia.svg Rusia
Mulai dipakai 1957
Spesifikasi teknis
Mesin -
Berat 83,2 kg
Panjang 2,83 m
Diameter 200 mm
Kecepatan 2.880 km/jam
Jangkauan 2-6 km
Hulu ledak 13 kg
Sistem pemandu cahaya atau radio
Platform peluncuran MiG-17PFU, MiG-19P, MiG-21F, Yak-25, Yak-28
Pengguna

* Angkatan Udara Rusia Flag of Russia.svg Rusia.
* Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat Flag of the People's Republic of China.svg Republik Rakyat Cina yang menggunakan PL-1.

Spesifikasi (RS-2US / K-5MS)

* Length: 2500 mm (8 ft 2 in)
* Wingspan: 654 mm (2 ft 2 in)
* Diameter: 200 mm (7⅞ in)
* Launch weight: 82.7 kg (183.3 lb)
* Speed: 800 m/s (2,880 km/h, 1,790 mph)
* Range: 2-6 km (1¼-3¾ mi)
* Guidance: beam riding
* Warhead: 13.0 kg (28.7 lb)

Fokker F-27

Fokker F-27 : Si Troopship Yang Malang

Dilihat dari segi usia, pesawat yang satu ini sudah cukup berumur. Maklum masa baktinya di TNI-AU sudah lebih dari 30 tahun. Tapi sontak saja, Fokker F-27 M400 Troopship milik TNI-AU menjadi buah pembicaraan dimana-mana setelah musibah jatuhnya F-27 dengan nomer A2703 pada hari Senin (6/4/2009). Jatuhnya pesawat angkut personel dengan mesin Turborprop ini menambah panjang arsenal TNI-AU yang jatuh cukup sering belakangan ini. Dari musibah jatuhnya F-27 di bandara Husein Sastranegara, Bandung, TNI-AU kehilangan 24 personelnya, beberapa diantaranya adalah anggota tim elit “Bravo” yang tengah melakukan latihan terjun.

Sekilas pandang, Fokker F-27 mulai diterima oleh TNI-AU dari Belanda antara tahun 1975 dan 1976. Pesawat ini menjadi ujung tombak skadron udara 2 yang bermarkas di Lanud Halim Perdanakusumah, pesawat lain yang ada di skadron 2 adalah CN-235 Military version. Versi yang jatuh hari Senin lalu merupakan pengembangan dari F-27 versi sipil (komersial) yang diberi kode F-27 Friendship. Letak perbedaan yang utama terletak pada konfigurasi kabin, perlengkapan avionik dan perbedaan pintu belakang. Pada F-27 Troopship, pintu dirancang lebih besar untuk memudahkan penerjunan pasukan para.

Selain versi komersial dan militer, F-27 juga dikembangkan sampai saat ini dan telah digunakan oleh banyak negara. Salah satunya Singapura yang mengoperasikan F-27 versi intai maritim. Bahkan F-27 dikembangkan untuk bisa dilengkapi persenjataan, yakni Fokker F-27 Enforcer yang bisa menggotong beragam rudal seperti AM39 Exocet, Harpoon, Sea Skua dan Maverick. Enforcer juga dilengkapi radar intai permukaan yang canggih. Enforcer saat ini telah digunakan oleh Belanda, Irlandia, Finlandia, Singapura, Filipina, Spanyol dan Thailand.

Spesifikasi F-27 Troopship

* Kru : 2/3 orang
* Kapasitas : 60 pasukan
* Panjang : 25.06 m (82 ft 2½ in)
* Lebar sayap : 29.00 m (95 ft 1¾ in)
* Tinggi : 8.72 m (28 ft 7¼ in)
* Wing area: 70.07 m² (754 ft²)
* Berat kosong : 11,204 kg (24,650 lb)
* Berat maksimum take off : 19,773 kg (43,500 lb)
* Mesin : 2× Rolls-Royce Dart Mk.532-7 turboprop engines, 1,678 kW (2,250 eshp)
Performa

* Kecepatan Jelajah: 518 km/h (280 knots, 322 mph) at 20,000 ft (6,100 m)
* Jangkauan: 1,826 km (986 nm, 1,135 mi)
* Kecepatan menanjak : 7.37 m/s (1,450 ft/min)

Minggu, 21 November 2010

LOS ANGELES submarine

LOS ANGELES submarine

Kode resmi yang disandang oleh kapal selam kelas Los Angeles adalah SSN, artinya monster laut bikinan AS ini tergolong sebagai mesin penyerang (attack). Kalau dibedah tugas yang disandang bisa beragam. Menghantam target darat dengan rudal Tomahawk. Menjebol kapal perang lawn dengan bermodalkan Harpoon. Serta melahap kapal selam lawan dengan torpedo Mk48 atau ADCAP (Advanced Capability). Itulah deretan kesaktian Los Angeles. Predikat hebat juga melekat pada jumlah unit yang dibuat. Sejak di operasikan pertama kali pada 13 November 1976 sebanyak 52 buah kapal telah di luncurkan

Spesifikasi
Kru : 127 orang.
Bobot Selam : 6,927 ton
Bobot Permukaan : 6.080 ton
Panjang (P) : 109 Meter
Beam (b) : 10,1 Meter
Drought : 9,8 Meter
Mesin : Sebuah reaktor S6G dengan baling baling tunggal
Kecepatan Mks : 31 Knots
Persenjataan : empat tabung Toperdo Multi fungsi

MBT AMX-30

AMX-30 Main Battle Tank

Setelah kegagalan proyek tank AMX 50, Perancis sempat bekerja sama dengan Jerman dan Italia dalam satu proyek tank gabungan. Namun akhirnya proyek tersebut gagal dan Jerman memutuskan untuk mengembangkan tank Leopard 1 dan Perancis membuat tank AMX-30.

MBT pertama Perancis ini mulai diproduksi pada tahun 1966 dan dibuat sebanyak 3.571 unit dalam berbagai varian. Selain digunakan oleh Perancis, tank ini juga diekspor ke negara-negara seperti Yunani, Spanyol, Saudi Arabia, Venezuela, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Chili. Pada tahun 1990-an, sejumlah tank AMX-30 milik Yunani dijual kepada Siprus; sementara 32 unit tank milik Uni Emirat Arab dijual kepada Bosnia. Perancis sendiri saat ini sudah menggunakan tank Leclerc sebagai MBT mereka, namun sekitar 250 unit AMX-30 masih disimpan sebagai kekuatan pasukan cadangan AS.

Sama halnya seperti tank Leopard 1, AMX-30 juga bisa dikatakan hampir tidak pernah digunakan dalam pertempuran yang sesungguhnya. Satu-satunya perang yang pernah melibatkan tank ini mungkin hanya Perang Teluk tahun 1991, ketika sejumlah tank AMX-30 milik Perancis dan Qatar terlibat dalam pertempuran melawan pasukan Irak.

Specification (AMX-30B2)
Crew : 4
Armament :
Main : 1 x 105mm gun
Co-axial : 1 x 20mm cannon
Anti-aircraft : 1 x 7.62mm machine gun
Combat weight : 36,000 kg
Length : 9.48 m
Width : 3.10 m
Height : 2.85 m
Powerpack :720 hp Hispano Suiza HS-110 multi-fuel engine
Maximum road speed : 65 km/h
Range : 600 km

OHIO submarine

OHIO submarine

Bila Soviet berjaya dengan Typhoon maka AL AS cukup bangga dengan kehadiran kapal selam nuklir kelas Ohio. Lantaran rival, jadi sah-sah saja kalau ia juga menerapkan taktik operasi yang sama dengan typhoon. rudal-rudal Triden yang di usung Ohio bisa di pakai menghantam seluruh kota besar Soviet. Dan untuk itu posisi kapal selam tak harus berada pada dekat dengan di wilayah lawan. Ide pembuatan Ohio muncul pada era 70-an. Kala AL AS berniat untuk meracik kapal selam baru buat pengganti pendahulunya yaitu kelas George Washington dan Ethan Allen. Maklum, kedua jenis kapal selam tadi tak bisa dimuati oleh rudal balistik Trident.

Spesifikasi

Kru : 160 orang.
Bobot Selam : 18.750 ton
Bobot Permukaan : 16.764 ton
Panjang (P) : 170,7 Meter
Beam (b) : 12,8 Meter
Drought : 11,1 Meter
Mesin : Sebuah reaktor S8G dengan baling baling tunggal
Kecepatan Mks : 20 Knots
Persenjataan : 24 pelontar vertikal rudal balistik; empat tabung torpedo

MBT C1 Ariete

C1 Ariete Main Battle Tank

Sejak tahun 1970-an kekuatan MBT militer Italia bertumpu pada tank-tank M60 Patton dan Leopard 1 yang sebagian besar dibuat secara lisensi oleh perusahaan OTO Melara. Belajar dari pengalaman membuat tank secara lisensi tersebut maka kemudian OTO Melara bekerja sama dengan Fiat membuat tank OF-40. Tank OF-40 sendiri tidak digunakan oleh militer Italia, tetapi diekspor ke Uni Emirat Arab.

Di tahun 1982 militer Italia mengadakan program MBT baru Italia. Dengan pengalaman membuat tank OF-40, maka OTO Melara kembali bekerja sama dengan Fiat untuk membuat MBT baru yang lebih cangih. Desain MBT baru tersebut dimulai pada tahun 1984 dan tahun 1986 prototype pertama tank itu selesai dibuat. Tank baru ini akhirnya memasuki tahap produksi pada tahun 1990-an dan digunakan militer Italia sejak tahun 1996. MBT baru itu adalah C1 Ariete dan sebanyak 200 unit tank ini sekarnag digunakan oleh Italia.

C1 Ariete dipersenjatai dengan sepucuk meriam tipe smoothbore kaliber 120mm buatan OTO Melara dan dilengkapi dengan fire control TRUMS buatan Galileo Avionica. Tank ini mengggunakan lapisan baja komposit dan dilengkapi sistem perlindungan perang nubika.

Spesification :
Crew : 4
Armament :
Main : 1 x 120mm gun
Co-axial : 1 x 7.62mm machine gun
Anti-aircraft : 1 x 7.62mm machine gun
Combat weight : 54,000 kg
Length : 9.67 m
Width : 3.60 m
Height : 2.50 m
Powerpack : 1,300 hp IVECO V-12 MTCA diesel engine
Maximum road speed : 65 km/h
Range : 550 km

Kapal Selam kelas Akula

Akula class submarine rusia

Kapal selam Shchuka-B Proyek 971 dalam perjalanan di Laut Baltik
K-152 Nerpa (bahasa Rusia: К-152 «Нерпа») adalah sebuah kapal selam penyerang tenaga nuklir dari Shchuka-B Proyek 971 (NATO: Akula II). Pembuatannya telah dimulai sejak tahun 1991, tetapi ditunda disebabkan oleh kekurangan dana. K-152 Nerpa telah diluncurkan pada bulan Oktober 2008 dan akan disewakan kepada Angkatan Laut India pada tahun 2009 dan dinamakan sebagai INS Chakra. Nerpa adalah kata Rusia untuk anjing laut Baikal, sedangkan chakra pula adalah kata Sansekerta yang berarti piring, roda atau tenaga kisaran.

Ketika K-152 Nerpa menjalani ujian di Laut Jepang pada tanggal 8 November 2008, sebuah musibah terjadi dan menyebabkan kematian 20 orang anak kapal dan mencederai 21 orang yang lain.Sistem pemadam kebakaran telah membebaskan gas freon di bagian haluan kapal selam, dan melemaskan para spesialis dari kalangan sipil dan ABK AL.

Kecepatan mencapai 12 knot dengan spesifikasi senjata tempur 4 x 650 mm and 4 x 533-mm torpedo tubes for up to 40 torpedoes or missiles OR Up to 42 mines in place of torpedoes.

Pembuatan
Pembuatan telah dimulai di galangan kapal Komsomolsk-on-Amur pada tahun 1991, akan tetapi pembuatannya tertunda disebabkan oleh kekurangan dana setelah krisis ekonomi pada awal tahun 1990-an.[3][4] Setelas sebuah jangka waktu yang lama, kapal yang separuh siap ini disimpan, K-152 Nerpa telah dilengkapi di galangan kapal Vostok di kota tertutup di Bolshoy Kamen, Krai Primorsky.[3] Kapal ini diluncurkan pada bulan Oktober 2008 Laporan media India mencurigai pembuatan kapal selam ini diteruskan setelah mendapat suntikan dana dari India. Hingga tahun 2008, kapal selam ini dimiliki oleh Angkatan Pasifik.
Alexander Golts, penyunting surat kabar pertahanan Yezhednevny Zhurnal, telah menyatakan pada awal 1980-an, galangan kapal Amur tidak putus-putusnya membangun kapal selam, akan tetapi sejak tahun 1993 hingga tahun 2008 hanya membuat sebuah kapal selam. "Para spesialis yang tua telah pergi, sedangkan spesialis yang baru kekurangan profesionalisme."

KRI Pasopati

KRI Pasopati – Kapal Selam Pemburu Tanpa MCK

Rasanya sudah banyak yang tahu bahwa kembalinya Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi tak terlepas dari jasa show of force armada militer RI dikala itu. Dari sekian banyak arsenal tempur yang dijagokan untuk merontokan nyali Belanda, bisa disebut unsur armada kapal selam adalah yang paling ditakuti Belanda. Alasannya jelas, RI dikala itu menjadi satu-satunya negara di belahan dunia selatan yang memiliki 12 kapal selam kelas Whisky. Saat itu Whisky class merupakan kapal selama diesel yang amat ditakuti oleh blok NATO. Belanda pun saat itu tak memiliki kapal selam dengan spesifikasi yang sama untuk menandingi Whisky class.

Dari 12 kapal selam Whisky class yang dimiliki TNI-AL, KRI Pasopati 410 bisa disebut yang paling kondang disebut-sebut. Pasalnya, Pasopati adalah kapal selam terakhir yang beroperasi. Pasca gestapu, Rusia melakukan embargo suku cadang militer ke Indonesia, akibatnya armada kapal selam TNI –AL perlahan mulai mati akibat kurangnya suku cadang. Langkah kanibalisasi suku cadang terus dilakukan, dan yang terakhir beroperasi adalah KRI Pasopati. Pasopati tercatat baru dinonaktifkan dari jajaran TNI-AL pada 25 Januari 1990.

Whisky class mulai diproduksi tahun 1952 di Vladi Rusia. Dan mulai masuk jajaran TNI AL (Satselarmatim) tanggal 29 Januari 1962 dengan tugas pokok menghancurkan garis lintas musuh (anti shipping), mengadakan pengintaian dan melakukan “silent raids”. Saat ini KRI Pasopati ditempatkan sebagai monumen kapal selam di kota Surabaya sejak tahun 1998.

Kemampuan Whisky class terbukti dapat menggetarkan armada kapal Belanda, tapi seperti kebiasaan produk keluaran Rusia pada umumnya. Unsur kenyamanan pada awak kurang diperhatikan. Walau dipersenjatai rudal anti serangan udara dan peluncur torpedo di buritan dan haluan. Whisky class tidak dibekali fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus). Hal inilah yang membuat derita awak kapal selam. Selama pelayaran para awak sangat jarang mandi, mandi lebih mengandalkan air hujan saat kapal naik ke permukaan laut.

Lebih parah, banyak awak kapal selam TNI-AL dikala itu yang terserang penyakit ginjal. Pasalnya tak ada MCK, jadi para awak harus menghemat konsumsi air agar tidak sering kencing. Atau bila ingin kencing harus ditahan, tak jarang air kencing harus disimpan dulu dalam wadah plastik. Coba itu baru untuk urusan buang air kecil. Lebih parah lagi untuk BAB (buang air besar), murni hanya bisa dilakukan saat kapal naik ke permukaan. Pada geladak kapal tersedia kloset untuk awak kapal melakukan BAB. Di dalam kapal tidak tersedia fasilitas sanitasi dan sistem penyaringan dari air laut ke air tawar.

Dengan kondisi diatas, bisa dibayangkan penderitaan awak kapal selam. Belum sempat berperang bisa-bisa sudah kalah duluan gara-gara kebelet pipis atau mules. Dalam ruang kapal selam juga tak dibekali fasilitas pendingin udara, baru pada masa-masa akhir pengabdian, Pasopati dilengkapi AC. Hal ini berbeda 180 derajat dengan generasi kapal selama TNI-AL type 209 buatan Jerman (KRI Cakra dan Nanggala).

Spesifikasi KRI Pasopati

Panjang : 76,6 meter
Lebar : 6, 3 meter
Kecepatan : 18,3 knots di atas air
13,5 knots di bawah air
Berat penuh : 1.300 ton
Berat kosong : 1.050 ton
Jarak jelajah : 8.500 mil laut
Bahan bakar : Solar
Batere : 224 buah
Persenjataan : Torpedo steam 12 buah
Panjang torpedo : 7 meter
Peluncur torpedo : 6 buah
Awak kapal : 63 orang beserta perwira

Mikoyan/Gurevich MiG-27

Mikoyan/Gurevich MiG-27; 1970

Role: Attack aircraft
Manufacturer: Mikoyan OKB; Hindustan Aeronautics Limited
First flight: 20 August 1970
Introduced: 1975
Retired: 1990s (Russia)
Status: In service with foreign users
Primary users: Soviet Air Force; Indian Air Force;
Produced: 1970 to 1986
Number built: 1075 including licensed production
Developed from: Mikoyan-Gurevich MiG-23

Mikoyan MiG-27 (Rusia: Микоян и Гуревич МиГ-27) (NATO "Flogger-D/J") adalah pesawat “ground-attack”, yang awalnya dikembangkan oleh biro desain Mikoyan di Uni Soviet dan kemudian diproduksi di bawah lisensi di India oleh Hindustan aeronautika sebagai Bahadur ( "Berani"). Pesawat ini dikembangkan berdasarkan pada Mikoyan-Gurevich Pesawat Tempur MiG-23, tapi dioptimalkan untuk peran “ground-attack.

Design and development

MiG-27 memakai sebagian airframe dasar dari MiG-23, namun dengan modifikasi hidung,dengan julukan "Utkonos" ("platypus") dalam bahasa Rusia. Memakai sistem seperti pada MiG-23B tanpa radar dengan hidung yang mengarah ke bawah untuk meningkatkan visibilitas pilot, serta memakai pencari jarak dan pencari target laser. Pilot uji menyebut sistem itu dengan nama "Balkon" karena tingkat visibiltas frontal dari kokpit. Tambahan lapis baja pada kokpit dipasang, bersama dengan sistem navigasi/serang baru. Karena MiG-27 dimaksudkan untuk misi di ketinggian rendah, maka intake variabel dan exhaust nozzles telah ditiadakan agar lebih sederhana, mengurangi berat, serta untuk kebutuhan pemeliharaan. Pesawat terbang juga lebih besar, dan mempunyai roda yang kokoh agar dapat dioperasikan dari landasan yang tidak memadai.

Operational history

Sri Lanka

MiG-27 pesawat mulai beroperasi untuk AU Sri Lanka pada tahun 2000. Sejak itu, mereka terlibat dalam operasi regular, pengeboman sasaran strategis dan memberikan dukungan serangan udara dekat. Pada bulan Agustus 2000, sebuah MiG-27 mengalami kecelakaan di dekat bandara internasional Kolombo, menewaskan pilot Ukraina-nya. Pada bulan Juli 2001, sebuah MiG-27 hancur di pangkalan udara akibat serangan oleh LTTE. MiG-27 lain mengalami kecelakaan di tengah laut di dekat bandara Colombo Juni 2004. Pada tanggal 30 April 2007, LTTE menyatakan satu MiG-27 Sri Lanka tertembak dan jatuh, namun para pejabat Sri Lanka menyangkalnya.

India

Pada tanggal 27 Mei 1999, selama Perang Kargil, satu MiG-27 India mengalami kebakaran mesin ketika mengebom Pakistan. Pilot, Letnan Penerbangan Nachi Keta memakai kursi lontar dan kemudian menjadi tawanan Pakistan. Sebuah MiG-21 ditembak jatuh oleh roket permukaan-ke-udara Pakistan ketika melakukan pencarian terhadap Letnan Penerbangan Nachi Keta, pilot pun terbunuh. Pejabat Pakistan mengklaim kedua kejadian tersebut

Specifications (MiG-27K)

General characteristics
Crew: One
Length: 17.1 m (56 ft)
Wingspan: * Spread: 13.8 m (45 ft 3 in)
Swept: 7.4 m (24 ft 3 in)
Height: 5 m (16 ft 5 in)
Wing area: * Spread: 37.35 m² (402.0 ft²)
Swept: 34.16 m² (367.7 ft²)
Empty weight: 11,908 kg (26,252 lb)
Loaded weight: 18,100 kg (39,900 lb)
Max takeoff weight: 20,670 kg (45,570 lb)
Powerplant: 1× Khatchaturov R-29-300 afterburning turbojet
Dry thrust: 81 kN dry (18,300 lbf)
Thrust with afterburner: 123 kN (27,600 lbf)

Performance
Maximum speed:
Sea level: Mach 1.10 (1,350 km/h, 839 mph)
at altitude: Mach 1.77 (1,885 km/h at 8,000 m, 1,170 mph at 26,000 ft
Range: 780 km (480 mi) combat, 2,500 km (1,550 mi) ferry
Service ceiling 14,000 m (45,900 ft)
Rate of climb: 200 m/s (39,400 ft/min)
Wing loading: 605 kg/m² (123 lb/ft²)
Thrust/weight: 0.62

Armament
1x GSh-6-30 30 mm cannon with 260-300 rounds
One centerline, four fuselage, and two wing glove pylons for a total of 4,000 kg (8,800 lb) of stores, including general-purpose bombs, rocket pods, SPPU-22 and SPPU-6 gun pods, and various guided air-to-surface missiles.

Aerospatiale SA 316 / SA 319 Alouette III

Aerospatiale SA 316 / SA 319 Alouette III

Designation: Aerospatiale SA 316 / SA 319 Alouette III
Classification Type: Light Utility Helicopter
Contractor: Aerospatiale - France
Country of Origin: France
Initial Year of Service: 1960
Number Built: 2,100

Aérospatiale Alouette III, adalah helikopter milik Perancis yang memiliki mesin tunggal dan digunakan sebagai helikopter utilitas ringan. Helikopter ini dikembangkan oleh Sud Aviation dan diproduksi oleh Aérospatiale Perancis. Versi pertama dari Alouette III, Purwarupa SE 3160 terbang pada 1959. Produksi dari SA 316A (SE 3160) dimulai pada 1960 dan tetap diproduksi hingga 1968. Helikopter ini digantikan oleh SA 316B. Alouette III merupakan penerus Alouette II, dengan mesin yang lebih besar dan tempat duduk yang lebih banyak.

Mesin Turboshaft Turbomeca Artouste IIIB adalah untuk varian asli yang diproduksi, Alouette III dikenal untuk misi penyelamatan di gunung tetapi dapat diadaptasikan untuk pemakaian normal dan di kapal. AL Argentina membeli 14 helikopter, 3 desain yang asli SE3160, 7 dengan mesin yang lebih kuat dan upgrade SA316B dan 4 mesin dari SA319B dengan kekuata yang lebih dari dua versi yang lain.

Alouette III mulai beroperasi untuk Angkatan Bersenjata Perancis di tahun 1960. Banyak yang digunakan oleh pasukan asing dari 1964-1967. Tiga mesin yang dikirim dari Perancis untuk perakitan lokal di Australia, dan digunakan oleh Royal Australian Air Force (RAAF).

Pakistan membeli 35 heli dan digunakan pada Indo-Pakistani War 1971. Dua heli dari PAF telah tertembak jatuh, dan pada Perang Kolonial Portugis, selama tahun 60an dan 70an menggunakan sejumlah besar heli di Angola, Mozambik dan Guinea, di mana heli ini membuktikan kualitasnya untuk digunakan dalam kondisi lingkungan berdebu dan panas. Satu SA316B yang dibeli oleh Argentina yang dinaiki oleh Jendral Belgrano tertembak dan tenggelam oleh HMS Concueror S48 selama Perang Falklands dengan Inggris Raya pada tahun 1982.

SA 316B dan SA 319B keduanya tetap dalam rangkaian produksi hingga awal tahun 1980-an, ketika lini produksi utama di Perancis ditutup. Namun, HAL India memproduksi Alouette IIIs di bawah lisensi dengan nama Chetak. Pada tahun 2004, sebagian besar Alouette III telah dipensiunkan dari Angkatan Udara Prancis setelah 32 tahun yang sukses. Heli ini akan digantikan oleh Eurocopter EC 355 Ecureuil 2. Pada tahun yang sama, Angkatan Bersenjata Swiss mengumumkan bahwa Alouette III dipensiunkan dari garis depan pada tahun 2006, dan seluruhnya pada tahun 2010. AU Venezuelan memensiunkan Alouette III pada akhir 90an. Saat ini beberapa unit masih digunakan di Afrika dengan suku cadang yang tersedia dari India.

Specifications: Aerospatiale SA 316 Alouette III

Dimensions:
Length: 42.13ft (12.84m)
Width: 0.00ft (0.00m)
Height: 9.84ft (3.00m)

Performance:
Max Speed: 130mph (210kmh; 113kts)
Max Range: 298miles (480km)
Rate-of-Climb: 885ft/min (270m/min)
Ceiling: 7,379ft (2,249m; 1.4miles)

Structure:
Accommodation: 2 + 5
Hardpoints: 2
Empty Weight: 2,474lbs (1,122kg)
MTOW: 4,850lbs (2,200kg)

Power:
Engine(s): 1 x Turbomeca Artouste IIIB turboshaft engine generating 570shp while driving the main three-blade rotor and a three-blade tail system.

Weapons Suite:
Mission specific armament can include any of the following:
1 x 7.62mm machine gun (mounted on tripod in right-side doorway).
1 x 20mm cannon fixed to left-side of fuselage
2 or 4 x AS.11 anti-tank missiles
2 x Mk.44 Torpedoes

Variants:
SE 3160 Alouette III - First Designation Model
SA 316A Alouette III - Initial Production Designation; Features Turbomeca powerplant.
SA 316B Alouette III - Improved transmission, increased takeoff weight.
SA 319 Alouette III Atazou - Features Turbomeca Astazou turboshaft engine generating 600shp.
IAR-317 Skyfox - Romanian-produced Prototype based on Alouette III.
Chetak - Indian production version of the SA 316B model.