Rabu, 19 Januari 2011

Cavour Aircraft Carrier, Italy

Cavour Aircraft Carrier, Italy

Pada 22 November 2000, sebuah kontrak telah disepakati oleh Fincantieri dan Menteri Pertahanan Laut Italia untuk mensuplai sebuah kapal induk yang dikenal sebagai Nouva Unita Maggiore (NUM) atau “Kapal Utama Baru” AL Italia.
Cavour adalah kapal induk milik AL Italia yang akan mulai beroperasi pada 2008. Pembuatan kapal yang pada awalnya bernama Andrea Doria tetapi kemudian diberi nama Cavour, dimulai di Fincantieri Shipyards di Riva Trigoso dan Muggiano pada Juli 2001. Cavour diluncurkan pada Juli 2004 dan mulai melakukan test laut pada 2006. Kapal induk ini dikirim ke AL Italia pada April 2008 dan dijadwalkan akan mulai beroperasi pada akhir 2008 atau awal 2009.

DESAIN CAVOUR
Kapal ini mempunyai displasemen standar dengan berat 27.100 ton, panjang keseluruhan 244m dan mempunyai kecepatan 27 knot. Ukuran dek penerbangan kapal ini adalah 180m x 14m dengan ski jump 12 derajat. Kapal ini mampu mengakomodasi sampai 1.202 orang di atasnya, termasuk awak kapal sebanyak 486 orang, 211 awak penerbangan, 140 pasukan amfibi dan 360 dari Battalion San Marco, ditambah 90 pasukan ekstra jika diperlukan.
Fitur kuat dari kapal ini adalah fleksibilitas tingginya dalam kondisi operasional. Kapal ini dapat digunakan dalam misi militer msipil. Hangar pesawat di kapal ini dapat menampung 100 kendaraan kecil atau 24 tank tempur utama untuk misi amfibi. Kapal ini mempunyai 2 elevator 30 ton untuk pesawat dan 2 elevator 15 ton untuk persenjataan.

FUNGSI KAPAL INDUK
Kapal induk ini dilengkapi dengan sebuah dek penerbangan yang cocok untuk helikopter maupun pesawat yang dapat take-off dan mendarat dengan jarak pendek. Dia mempunyai hangar berukuran 2.00m2 yang juga dapat mengakomodasi kendaraan darat.
Kapal ini dapat menampung delapan pesawat jenis VTOL seperti AV-8B Harrier atau F-35 JSF varian VTOL, atau 12 helikopter seperti EH101, NH 90 atau SH-3D, atau kombinasinya. Operasi pendaratan akan didukung oleh sistem pendaratan instrumen semua-cuaca frekuensi radio Telephonics AN/SPN-41A dan radar presisi Galileo Avionica SPN-720.
Fitur lain kapal ini adalah fasilitas rumah sakit dengan tiga ruang operasional untuk pasien, peralatan sinar-X dan CT Scan, dokter gigi dan laboratorium.

PERSENJATAAN
Kapal ini dipersenjatai dengan dua sistem peluncuran vertikal 8-sell dari Eurosam SAAM/IT missile system yang menembakkan misil Aster 15. Misil Aster 15 mempunyai hulu ledak 13 kg dengan jarak jangkau 30km. Sistem pandu misil ini adalah inersial dengan uplink data dan terminal radar aktif.
Sensor primer untuk SAAM/IT adalah radar multifungsi Selex Sistemi Integrati Empar G-band, yang mampu melakukan survey, pelacakan dan kontrol senjata secara bersamaan. Kapal ini pertama kali menembakkan misilnya dengan sistem SAAM/IT pada Desember 2002.
Kapal ini akan dilengkapi dengan dua meriam super cepat Oto Melara 76mm dan tiga meriam anti pesawat 25mm.

COMBAT SYSTEMS
Selex Sistemi Integrati merupakan integrator untuk sistem tempur kapal ini dan juga mensuplay sistem termasuk radar jarak jauh RAN 40L 3D D-band, radar permukaan RASS RASS 30X/I, radar survey, sistem SIR-R Interrogation Friend or Foe (IFF) dan sistem navigasi. Member lain dari sistem tempur kapal ini termasuk Elettronica, Galileo Avionica dan Oto Melara.
Sistem lain termasuk sonar penghindar ranjau Whitehead Alenia Sistemi Subacquei (WASS) SNA-2000, dua sistem kontrol penembakan radar/electro-optic dan sebuah sistem pencari dan pelacakan inframerah Galileo Avionica SASS (Silent Acquisition Surveillance System).

COUNTERMEASURES
Kapal ini dilengkapi dengan dua launcher decoy 20-barrel Oto Melara / Selex SCLAR-H untuk roket multi-tujuan 105mm atau 118mm. SCLAR-H menghasilkan pertahanan “soft-kill” otomatis penuh terhadap ancaman misil musuh dengan membuat bingung sensor musuh sebelum penembakan misil. Dua sistem pertahanan torpedo SLAT juga dipasang.

CAVOUR AIRCRAFT CARRIER PROPULSION
Cavour mempunyai propulsi Combined Gas Turbine and Gas (COGAG). Empat turbin gas LM2500 yang dibuat oleh FiatAvio dari Turin yang berada di bawah lisensi dari General Electric (AS), satu turbin dapat menghasilkan 22.000 kwh. Empat turbin memutar dua unit gigi (gear) yang masing-masing menghasilkan 60.000 tenaga kuda.

Gloster Javelin

Gloster Javelin

Gloster Javelin adalah all weather night and day interceptor pertama yang dimiliki Inggris dan sekaligus merupakan pesawat tempur dengan desain delta wing pertama yang memasuki dinas operasional. Prototype pesawat ini berhasil melakukan first flight pada tanggal 26 November 1951 dan mulai digunakan oleh Angkatan Udara Inggris pada tahun 1956. Javelin diproduksi sebanyak 436 unit dalam berbagai varian dan merupakan pesawat terakhir yang dibuat oleh perusahaan Gloster karena pada tahun 1961 Gloster melakukan merger dengan Armstrong Whitworth dan menjadi Whitworth Gloster Aircraft Limited. Whitworth Gloster sendiri pada tahun 1963 dilikuidasi dan menjadi bagian dari Hawker Siddeley Aviation.

Javelin sendiri sebenarnya sudah dirancang dan dikembangkan oleh Gloster dari tahun 1948. Pada awalnya pesawat ini diberi kode Gloster GA.5 dan bersaing ketat dengan pesawat de Havilland D.H.110 dalam proyek all weather interceptor bagi Angkatan Udara Inggris. Angkatan Udara Inggris sendiri akhirnya memilih Gloster GA.5 pada tahun 1952 dan menjadi Gloster Javelin. Sementara itu, walaupun gagal menarik perhatian Angkatan Udara Inggris, de Havillan D.H.110 akhirnya tetap diproduksi untuk Angkatan Laut Inggris dan menjadi de Havilland Sea Vixen.

Gloster Javelin sempat memperkuat 14 skadron tempur RAF, namun bisa dikatakan tidak pernah digunakan dalam pertempuran yang sebenarnya. Satu-satunya peristiwa di mana Javelin nyaris terlibat pertempuran udara adalah semasa konfrontasi Indonesia dengan Malaysia di mana sejumlah Javelin ditempatkan oleh RAF di Malaysia dan dalam beberapa kesempatan sempat terlibat saling unjuk kekuatan dengan pesawat-pesawat AURI. Javelin juga sempat ditempatkan oleh RAF di Hong Kong pada masa Revolusi Kebudayaan di Cina. Javelin dipensiunkan oleh RAF pada tahun 1968.

Specifications (Javelin FAW. Mk.9)
Crew : 2
Powerplant : 2 x 54 kN Armstrong Siddeley Sapphire 7R turbojet engines
Length : 17.15m
Wingspan : 15.85m
Height : 4.88m
Weight empty : 10,886 kg
Maximum take-off weight : 19,580 kg
Maximum speed : 1,140 km/h
Range : 1,530 km
Service ceiling : 15,865m
Armament : 4 x 30mm ADEN cannons and 4 x Firestreak air-to-air missiles

De Havilland D.H. 103 Hornet

De Havilland D.H. 103 Hornet

Salah satu pesawat tempur Inggris yang cukup sukses dalam Perang Dunia II adalah de Havilland D.H.98 Mosquito. Mengikuti kesuksesan Mosquito, maka team perancang dari de Havilland kemudian merancang pesawat tempur baru yang dikembangkan dari Mosquito untuk memenuhi kebutuhan long range fighter Angkatan Udara Inggris yang akan digunakan untuk melawan Jepang di front Pasifik. Pesawat tempur tersebut adalah de Havilland D.H.103 Hornet yang berhasil melakukan first flight pada tanggal 28 Juli 1944.

Walaupun berhasil melakukan first flight pada tanggal 28 Juli 1944, namun Hornet baru diterima oleh RAF pada bulan Juli 1945 sehingga tidak ikut dilibatkan dalam Perang Dunia II. Pada kenyataannya, bahkan skadron Hornet RAF pertama (Skadron No.64) baru dibentuk pada bulan Mei 1946. Hornet kemudian digunakan sebagai kekuatan RAF di Eropa sampai dengan tahun 1951, sebelum kemudian digantikan oleh Gloster Meteor F.8 pada tahun 1951. Namun sejak tahun 1949 fungsi Hornet diubah tidak lagi sebagai long range fighter, namun sebagai ground attack airfcraft.
Setelah digantikan oleh Gloster Meteor F.8 pada tahun 1951, sebagian besar Hornet milik RAF kemudian dipindahkan ke unit-unit tempur di daerah Asia Tenggara. Angkatan Udara Inggris banyak menggunakan Hornet untuk menggempur posisi gerilyawan komunis di Malaya dan Hornet ternyata terbukti jauh lebih bisa dihandalkan daripada Bristol Brigand. De Havilland Hornet merupakan pesawat tempur bermesin piston terakhir yang digunakan oleh Angkatan Udara Inggris dan dioperasikan sampai dengan tahun 1955. RAF kemudian mengganti Hornet dengan pesawat tempur jet de Havilland Vampire.

De Havilland Hornet juga dibuat dalam versi pesawat tempur angkatan laut yang diberi nama Sea Hornet. Versi Sea Hornet ini memiliki kemampuan untuk dioperasikan dari atas kapal induk dan digunakan oleh Angkatan Laut Inggris dari tahun 1949 sampai dengan tahun 1951.

Specifications (Hornet F. Mk.3)
Crew : 1
Powerplant : 2 x 2,080 hp Rolls-Royce Merlin 130/131 piston engines
Length : 11.18m
Wingspan : 13.72m
Height : 4.30m
Weight empty : 5,850 kg
Maximum take-off weight : 9,493 kg
Maximum speed : 760 km/h
Range : 4,828 km
Service ceiling : 10,668m
Armament : 4 x 20mm Hispano Mk.V cannons; 8 x RP-3 60-lb rockets; up to 907 kg (2,000 lb) of bombs

EF-111A Raven

EF-111A Raven

General Dynamics / Grumman EF-111A Raven adalah sebuah pesawat perang elektronik yang dirancang untuk menggantikan pesawat Douglas EB-66 di dalam layanan Angkatan Udara Amerika Serikat. Crew penerbangan dan penyelenggaraannya sering kali disebut sebagai "Spark-Vark".

Pada tahun 1972, pihak Angkatan Udara Amerika Serikat menganugerahkan kontrak ke perusahaan Grumman untuk memodifikasi pesawat General Dynamics F-111A ada mereka ke sebuah pesawat perang elektronik / ECM. Pihak Angkatan Udara Amerika Serikat mempertimbangkan pesawat Grumman EA-6B Prowler yang digunakan di dalam layanan Angkatan Laut Amerika Serikat, akan tetapi enggan untuk menggunakan. Setelah petunjuk pesawat EF-111 dihentikan pada tahun 1990-an, Angkatan Laut AS mulai tergantung pada skuadron pesawat EA-6B milik Angkatan Laut AS dan Korps Marinir Amerika Serikat EA-6B di dalam peperangan elektronik.

Role Electronic warfare
Manufacturer General Dynamics, conversion by Grumman
First flight 10 March 1977
Introduced 1981 Retired 1998
Status Retired Primary user United States Air Force
Number built 42
Unit cost US$15 million + $25 million each for conversion
Developed from F-111 Aardvark
General characteristics
• Crew: Two: pilot and electronic warfare officer
• Length: 76.0 ft (23.17 m)
• Wingspan: 63.0 ft spread, 32.0 ft swept (19.2 m / 9.74 m)
• Height: 20.0 ft (6.1 m)
• Wing area: 657.4 ft² spread, 525 ft² swept (61.07 m² / 48.77 m²)
• Airfoil: NACA 64-210.68 root, NACA 64-209.80 tip
• Empty weight: 55,275 lb (25,072 kg)
• Loaded weight: 70,000 lb[16] (31,751 kg)
• Max takeoff weight: 89,000 lb (40,370 kg)
• Powerplant: 2× Pratt & Whitney TF30-P-3 initially, later upgraded to TF30-P-9 turbofans with afterburner, 19,600 lbf (TF30-P-9) (92.7 kN (TF30-P-9)) each
• Zero-lift drag coefficient: 0.0186 (F-111D)
• Drag area: 9.36 ft² (0.87 m²) (F-111D)
• Aspect ratio: 7.56 unswept; 1.95 fully swept (F-111D)
Performance
• Maximum speed: Mach 2.2 (1,460 mph, 2,350 km/h) ; above 30,000 ft
• Range: 2,000 miles (1,740 nmi, 3,220 km)
• Ferry range: 3,800 mi (3,300 nmi, 6,110 km)
• Service ceiling: 45,000 ft (13,715 m)
• Rate of climb: 11,000 ft/min (3,353 m/min)
• Thrust/weight: 0.598
• Lift-to-drag ratio: 15.8 (F-111)

KRI Siliman (848)

KRI Siliman (848)

Kapal KRI Siliman milik Indonesia merupakan kapal jenis bot patroli kecil kapal kelas Sibaru - HMAS Attack. KRI Siliman memenuhi kebutuhan Indonesia dan berperan mempertahankan Indonesia dari kapal-kapal musuh. KRI Suliman dibangun oleh Walkers Ltd., Australia. Ia diluncurkan pada 1968.

Kapal lain dalam kelas yang sama adalah KRI Sibaru, KRI Suliman, KRI Sigalu, KRI Silea, KRI Siribua, KRI Siada, KRI Sikuda, dan KRI Sigurot.

KRI Siliman memiliki 22 orang anak kapal termasuk pejabat. KRI Suliman dilengkapi untuk misi pertempuran kapal ke kapal di permukaan laut "anti-surface Warfare".

Kapal KRI Siliman sepanjang 32.76 m; 6.2 meter * 1.9 meter (107.5 kaki panjang * 20.3 kaki * 6.2 kaki) memiliki kecepatan bertempur di 21 mil nautikal.
MERIAM

Propulsion: 2 diesels, 2 shafts, 3,460 bhp, 21 knots Armament: 1 40 mm, 1 7.62 mm MG

Meriam utama kapal patroli kelas Sibaru, KRI Siliman yang dipasang pada dek depan, adalah meriam 40 mm dan senapan mesin 7.62 mm berbagai penggunaan yang menawarkan pertahanan udara jarak-dekat terbatas terhadap pesawat sayap kekal dan pesawat sayap berputar dan untuk tugas patroli.
Dorongan

Kapal KRI Siliman memiliki dua mesin disel yang dihubungkan ke dua gandar yang menghasilkan 3,460 bhp secara berkelanjutan dengan kecepatan bertempur 21 mil nautikal.

Archer Tank Destroyer

Archer Tank Destroyer

Archer adalah tank destroyer buatan pabrik Vickers, Inggris. Menggunakan rangka tank Valentine dan meriam 17 pdr (seperti yang dipasang pada varian Sherman Firefly). Tank destroyer ini digunakan oleh pasukan Inggris mulai akhir tahun 1944 hingga tahun 1948-1949, digunakan dalam Perang Dunia II di front Italia dan Eropa Barat.

Usai Perang Dunia II, Mesir memperoleh sejumlah Archer dari Inggris. Ironisnya, Mesir justru menggunakan Archer untuk menghadapi pasukan gabungan Inggris, Perancis, dan Italia dalam Krisis Suez tahun 1956.
Crew : 4
Armament : 1 x 17 pdr gun (39 rounds)
Length : 6.7m
Width : 2.76m
Height : 2.2.5m
Weight : 15,000 kg
Maximum speed : 32km/h
Range : 140 km

Crossbow

Crossbow

Crossbow adalah senjata tradisional pada abad pertengahan, walaupun desainnya dianggap berasal dari jaman sebelumnya. Biar bagaimanapun, yang pasti senjata ini memegang peranan penting pada peperangan, khususnya di abad pertengahan. Muncul pertama kali dengan Yunani Kuno, Roma dan Cina, crossbow memanfaatkan sebuah tegangan tali busur yang dipertahankan posisinya sampai pemakai melepaskan tegangan tali busur, melepaskan anak panah ke arah sasaran. Senjata ini muncul dalam berbagai bentuk, baik senjata tangan kecil hingga persenjataan artileri berat (ballista).

Crossbow terdiri dari busur yang kuat dan anak panah di kawasan peran pribadi artileri. Kekuatan senjata ini cukup baik dan sangat akurat, menghasilkan daya tembus efektif berkat tingginya energi kinetis saat anak panah dilepas dan pasukan dapat dengan mudah dilatih menggunakan senjata ini dalam seminggu. Sebagai perbandingan, longbow (busur panah besar) Inggris yang kuat, pasukan perlu latihan 1 tahun untuk mengasah kemampuan akurasinya. Kekurangan terbesar dalam penggunaan crossbow adalah dalam lambatnya pengisian ulang anak panah. Longbow dalam satu menit dapat menembakkan 10 panah sementara crossbow akan memerlukan 1 menit penuh mengisi dan menembakkan satu anak panah (bolt).

Pengisian ulang anak panah memakan lebih banyak waktu sesuai dengan jumlah energi yang diperlukan untuk membuat senjata semakin mematikan. Kemudian senjata ini memiliki “rack-and-pinion cranequin cranking” yang memungkinkan pasukan untuk memanfaatkan prinsip-prinsip dasar fisika dengan mengoperasikan tuas tenaga tangan untuk menarik senar-busur ke tempatnya. Fitur lain menggunakan ikat pinggang, engsel, tuas dan sistem cord-and-pulley yang dikenal dengan “windlasses”.

Crossbowman pada abad pertengahan dapat digunakan dalam peran bertahan maupun menyerang. Barisan crossbowman dapat digunakan sebagai penembak garis depan, mundur kebelakang untuk mengisi anak panah, kemudian kembali lagi ke garis depan untuk menembakkan anak panahnya. Dengan mode ini yang berkelanjutan, tingkat akurasi penembakan musuh dapat tercapai.

Kombinasi mematikan lainnya Crossbowman beberapa unit telah dipasang dengan perisai besar di belakang mereka, yang memungkinkan operator untuk api itu crossbow, putar sekitar untuk menghadapi perisai di musuh dan kembali. Letal kombinasi lain, adalah peran crossbowman sebagai “mounted souldier”, memberikan kekuatan pada crossbow dasar dengan mobilitas dan kekuatan dari elemen medan peperangan “mounted”. Amunisi crossbow dapat terdiri dari anak panah berujung baja tajam dengan berbagai desain, yang berarti bahaya bagi musuh yang terkena.

Meskipun crossbow terus dimodernisasi sampai saat ini, sistem tidak lagi dipakai karena kalah jauh dari persenjataan modern, dan sebagian besar digunakan untuk berburu dan latihan akurasi.

Designation: crossbow
Classification Type: Bow Weapon
Introduction: Not Available
Dimensions: Various
Weight: Various; depends on design
Crew: 1
Users: Various. Chief operators include Saracens, China, Ancient Rome, Greece, areas of modern Italy, France and Britain among others.
Variants:
• Arbalest - Heavy Crossbow; Late medieval crossbow derivative with windlass cocking mechanism.
• Oxybeles - Ancient Greek example of early crossbow technology.
• Ballista - Torsion-powered oversized crossbow derivative.
• Repeating Crossbow - Automatic Reload Mechanism.
• Bowgun - Handheld System; designed to fire spherical ammunition of various makes.
• Lian Nu - Chinese multi-shot crossbow

F4F Wildcat

F4F Wildcat

F4F Wildcat yang masih bersaudara dengan F6F Hellcat juga diandalkan untuk menghadapi pesawat-pesawat Zero Jepang. Meskipun kecepatan Wildcat masih berada di bawah Zero tetapi kemampuan manuvernya sangat mumpuni sehingga pilot-pikot senior US NAVY bisa mudah menghancurkan Zero. Sebagai pesawat penyergap yang dioperasikan US Navy, Wildcat dipersenjatai sejumlah senapan mesin Browning caliber 12.7 mm dan dua bom berbobot 45 kg. Kehandalan Wildcat terbukti setelah pilot US Navy, Letnan Edward O’Hare berhasil menembak jatuh 5 pesawat Zero dan sekaligus menjadi ace pertama di kalangan US Navy. 

Specifications (F4F):
Engine: 1200hp Pratt & Whitney R-1830-36 Twin Wasp, 14-cylinder radial piston engine
Weight: Empty 5760 lbs, Maximum Takeoff 7950 lbs.
Wing Span: 38ft. 0 in.
Length: 28ft. 9in.
Height: 9ft. 2.5in.
Performance:
Maximum Speed at 20,000ft: 318mph
Cruising Speed: 155mph
Service Ceiling: 39,500ft
Initial Climb Rate: 1950 feet/min.
Range: 770 miles
Armament:
Six 12.7-mm (0.50 in) Browning machine guns (FM-2 had four guns);
Two 100-lb bombs (FM-2 could carry two 250-lb bombs).
Number Built: 7,885 (All production variants)