Tampilkan postingan dengan label UAV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UAV. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 November 2012

Drone Neuron



UCAV Drone Neuron
UCAV Drone Neuron

Pabrikan pesawat asal Perancis, Dassault Aviation menyatakan telah memperlihatkan pesawat tempur tak berawak rancangan asli Eropa, Neuron, kepada para mitra industrinya dari enam negara Eropa di Paris, Jumat (20/1/2012). Drone ini akan mulai menjalani uji terbang pada bulan Juni mendatang.

Kendaraan Udara Tempur Tak Berawak (UCAV) seberat lima ton, dengan desain sayap delta itu, dirancang untuk melengkapi negara-negara Eropa dengan armada drone yang setara dengan milik Amerika Serikat yang telah terbukti efektif di berbagai medan pertempuran.

Dassault memimpin program pembuatan Neuron ini, yang dilakukan bersama dengan produsen pesawat Saab dari Swedia, Alenia dari Italia, RUAG dari Swiss, Hellenic Aerospace Industry dari Yunani, dan raksasa industri dirgantara Eropa, EADS.

Menurut Dassault, uji terbang akan dilakukan mulai pertengahan tahun ini selama dua tahun. Baru setelah itu akan diputuskan apakah pesawat ini akan diproduksi massal untuk memenuhi kebutuhan militer regional. Sekilas, bentuk Neuron mengingatkan pada pesawat pengebom B-2 Spirit buatan AS.
http://prokimal-online.blogspot.com/2012/01/drone-neuron-pesawat-tempur-tanpa-awak.html

Senin, 12 September 2011

RQ-3A DarkStar Tier III Minus

RQ-3A DarkStar Tier III Minus

UAV Tier III Minus, yang lebih deikenal dengan julukan DarkStar, adalah satu dati dua UAV altitude dan enduransi tinggi yang sedang dikembangkan untuk DARO (Defense Airborne Reconnaissance Office) oleh Advanced Research Projects Agency (ARPA). Departemen Pertahanan AS membatalkan progran UAV DarkStar pada Februari 1999 karena pemotongan anggaran. Diberi pilihan antara stealth atau jarak, AU AS lebih memilih Global Hawk (jarak) dari pada Darkstar (stealth).

Program Tier III Minus adalah program pertama yang dilakukan di bawah "Section 845 Authority". Otoritas ini melancarkan jalan kolaborasi antara industri-pemerintah yang sebelumnya belum pernah dilakukan dengan mengesampingkan peraturan pengadaan/procurement Dewan Pertahanan. Tier Three Dark Star datang dengan spesifikasi dalam satu halaman yang menunjukkan kehebatan altitude, enduransi dan penjejakan (stealth) untuk dengan biaya $10 juta (tahun fiskal 1994) untuk 11-20 unit.

Sistem DarkStar adalaj UAV dengan altitude dan enduransi tinggi yang dikembangkan untuk pengintaian pada area dengan pertahanan ketat. Secara fisik, bentang sayapnya sedikit lebih lebar dari setengah bentang sayap Global Hawk dan panjangnya hanya sepertiganya. Stasiun operator daratnya dikembangkan oleh Raytheon/E-Systems yang mengkombinasikan perencanaan misi, komando dan kontrol, komunikasi dan kontrol kualitas penggambaran area ke dalam sebuah dua stasiun yang dapat berpindah tempat. Dikembangkan tingkat stealth tinggi, tujuan operasional DarkStar adalah agar dapat berhasil dan selamat dalam melakukan penetrasi ke wilayah dengan pengamanan ketat. Melengkapi Tier II Minus, Tier II Plus akan dikembangkan untuk UAV jarak jauh dalam operasi pengintaian dengan tingkat pengamanan rendah-medium. Kedua UAV ini dapat lepas landas, terbang dan mendarat secara otomatis penuh, dan dapat diganti misinya secara dinamis selama dalam penerbangan. Tier II Minus dapat beroperasi hingga 500 mil laut dari tempat lepas landas dan dapat terbang selama 8 jam dengan ketinggian 45.000 kaki, dengan membawa beban sensor radar bidik kamera sitetis atau elektro-optik. DarkStar dapat mengangkut beban 1.000 pound.

Sistem sensornya mirip dengan Global Hawk, kecuali lebih sedikit bandwith-nya karena kebutuhan jaringan komunikasi dalam jarak yang lebih pendek. Sebagai tambahan DarkStar dapat membawa beban radar atau EO, tidak seperti Global Hawk yang mampu membawa keduanya sekaligus.

Sebuah team dari Lockheed/Boeing memimpin pengembangan sistem Tier III Minus. Setiap perusahan bertanggung jawab terhadap 50 persen program. Boeing Military Aircraft Division, Seattle, bertanggung jawab untuk pengembangan dan uji sayap dan subsistem sayap. Lockheed Martin Skunk Works, Palmdale, bertanggung jawab pada desain dan pengembangan bodi pesawat dan subsistemnya, perakitan akhir, integrasi dan uji sistem. Sebuah mesin turbo-fan, yang disediakan oleh Williams International, menghasilkan tenaga untuk UAV ini.

DarkStar melakukan penerbangan pertamanya pada Maret 1996. Pada penerbangan kedua terjadi kecelakaan karena kesalahan modelling aerodinamis. Pada 22 Desember 1996, Wakil Menteri Pertahanan untuk Akuisisi dan Teknologi, Paul G Kaminski, menyetujui revisi terhadap program UAV DarkStar. Revisi program ini merupakan hasil dari review independen atas kecelakaan yang terjadi tersebut.

Minggu, 01 Mei 2011

AAI Corporation RQ-7 Shadow

AAI Corporation RQ-7 Shadow

Tidak seperti kebanyakan UAV, yang lepas landas dan mendarat di landasan pacu seperti pesawat biasa. RQ-7 Shadow diluncurkan ke udara hingga ketinggian 30 kaki dengan menggunakan peluncur hidrolik dan ketika mendarat ia harus mengait sebuah mekanisme penghenti seperti yang di lakukan pesawat tempur ketika mendarat di atas kapal induk
RQ-7 di operasikan oleh AD dan Korps Marinir AS, bertugas mengirimkan full-motion video, baik siang maupun malam hari dengan jarak hingga 75 mil.

UAV ini dapat melayang selama sembilan jam, memiliki kecepatan jelajah 90 knot dan dapat mencapai ketinggian 15.000 kaki. RQ-7 di dorong oleh baling-baling yang gerakkan oleh mesin berbahan bakar bensin, secara keseluruhan memiliki berat 460 pound dengan bentangan sayap sepanjang 20 kaki.

Sabtu, 09 April 2011

SAIC/ATI Vigilante

SAIC/ATI Vigilante

Ikut berpartisipasi dalam demonstrasi VTOL UAV AL pada 1998, Vigilante dimulai sebagai optionally piloted vehicle (OPV) yang dapat diterbangkan dengan tiga mode, yaitu diawaki, remote pilot atau sistem kontrol misi/autopilot pintar. Dikembangkan secara bersama oleh SAIC (Science Applications International Corporation) dan ATI (Advanced Technologies Inc.), Vigilante didasarkan pada desain helikopter ekperimental Ultrasport Model 496 (dikembangkan oleh divisi American Sportscopter milik ATI), dua tempat duduk dengan sebuah mesin Hirth 95hp yang mampu mengangkut beban 260 kg. Pada awalnya, pesawat ini dibuat untuk Ballistic Missile Defense Organization (BMDO) dan Jet Propulsion Laboratory (JPL) yang menghasilkan pesawat tanpa awak stabil untuk memonitor pengujian misil anti-balistik. Diberi kode Vigilante 496, setelah dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan AL.

Karena banyaknya masalah kendali penerbangan pada Vigilante 496 di tahun 1998, ATI dan SAIC melakukan pengembangan pada UAV ini dengan kode baru Vigilante 500, model dengan kendali penerbangan yang disempurnakan, dengan bodi yang lebih kecil untuk mengurangi “drag” (gaya seret), perbaikan efisiensi dan untuk mengurangi cross section pada radar. 

Mesin berbehan bakar besar yang dibutuhkan AL juga sedang direncanakan, dan pesawat ini diberi nama ulang menjadi Vigilante 600. Vigilante diharapkan mempunyai ketahanan terbang selama 16 jam, dengan radius operasi 925 km dan kecepatan maksimal 250 km/jam. SAIC akhirnya memutuskan untuk tidak menandatangani proposal untuk kompetisi VTUAV karena jumlah kontrak yang terlalu kecil. Akan tetapi Vigilante akan digunakan sebagai pesawat demonstrasi terbang NASA untuk menguji penerbangan helikopter “swashplateless" dan memperoleh penghargaan dalam program Revolutionary Concepts (REVCON).

Minggu, 20 Maret 2011

SMART EAGLE II - ELANG MEKANIS SERBA BISA

SMART EAGLE II - ELANG MEKANIS SERBA BISA

Selaku wahana pengamatan berjarak jangkau menengah Smart Eagle II (selanjutnya disebut SE-II) pertama kali muncul di depan publik pada penghujung tahun 2005. SE II merupakan salah satu komponen dari seperangkat sistem pengamatan via udara tanpa awak yang terdiri atas wahana udara (air vehicle), muatan (payload), dan stasiun pengendali (ground control station).

Dimensi fisik SE II adalah sebagai berikut. Panjang badan total mencapai 3,6 meter sementara lebar rentang sayap 4,8 meter dan tinggi (dari permukaan tanah hingga ujung sirip ekor) sekitar satu meter. Dengan bobot kosong 65 kilogram dan bobot maksimum tinggal landas (maximum take-off weight) 100 kilogram, SE II sanggup terbang selama hampir enam jam seraya mengusung beban muatan seberat 20 kilogram. Tempo terbang ini mencakup dua jam untuk menuju dan pulang dari tempat operasi serta empat jam untuk beraksi. Bermodal bahan bakar bensin sebanyak 20 liter, SE II dapat terbang sejauh 150 kilometer dan setinggi 30 kilometer dengan kecepatan jelajah normal (cruise speed) 120 kilometer per jam. Namun dalam kondisi darurat kecepatan terbang SE II dapat digenjot hingga 150 kilometer perjam agar bisa menjangkau lokasi sejauh 300 kilometer.

Kinerja
SE II dapat dimodifikasi agar sanggup mengusung aneka jenis muatan yang disimpan dalam ruang pada bagian tengah bawah badan pesawat berdiameter 26 sentimeter. Muatan dapat berupa seperangkat kamera pengamat berstabilisator giro (gyro-stabilized device) dan sarana tayang hasil pengamatan. Skala perbesaran optis tampilan obyek bidik (zooming optical scale) kamera ini 25 kali. Jika perlu arah bidik kamera dapat dilengkapi alat penjejak sasaran yang dipandu sinar laser (laser beam range finder) berjangkauan 10 kilometer. Atau bisa juga berupa seperangkat kamera pengamat berstabilisator giro dan sensor citra termal (thermal image sensor) yang juga dibantu alat penjejak sasaran berpanduan sinar laser. Berkat keduanya, SE II mampu mendeteksi satu obyek berukuran empat meter persegi dalam jarak tiga kilometer.

Segala gerak gerik SE II dikendalikan oleh dua operator di stasiun pengendali. Operator pertama mengatur olah terbang dan operator kedua mengoperasikan perangkat pengamat. Komunikasi umum antara SE II dengan stasiun pengendali dilakukan lewwat alat komunikasi tanpa kabel (wireless communication device) yang bekerja pada frekuensi 2,4 Giga Hertz. Untuk mengirim sinyal perintah operasi kepada SE II dipakai perangkat komunikasi yang bekerja pada gelombang elektromagnetik berfrekuensi UHF (Ultra High Frequency) sementara untuk menerima data hasil pengamatan dipakai perangkat komunikasi yang bekerja pada pita gelombang elektromagnetik tipe S (S-band).

Sistem kendali penerbangang SE II memanfaatkan sistem fly by wire dan untuk keperluan navigasi mengandalkan perangkat penentu lokasi Global Positioning System (GPS). Agar data hasil pengamatan SE II juga dapat disaksikan pihak di luar stasiun pengendali pada waktu yang bersamaan maka disertakan unit penerima data mobil (mobile receiver unit). Guna menjalankan seluruh kegiatan operasional ini dibutu*kan tenaga listrik sebesar lima kilo Watt yang dipasok oleh dua unit pembangkit tenaga listrik bergerak skala kecil (mobile genset). Selain itu unit operasional SE II juga melibatkan unit perawatan dan penyedia suku cadang. Seluruh sistem operasional SE II dapat disiagakan kedelapan awaknya dalam waktu dua jam.

spesifikasi
length : 3.6 meter
width : 4.8 meter
height : 1 meter
empty weight 65 kilogram
maximum take-off weight : 100 kilogram
could fly for 6 hrs with max 20 kg weight
petrol consumption 20 liter, could fly for 150 kilometer as high as 30 kilometer
normal cruise speed 120 kilometer per hr
But in emergency the speed could be increased to 150 kilometer perhour so it could fly up to the distance of 300 kilomet

Jumat, 18 Maret 2011

RUSTOM

RUSTOM PESAWAT MATA-MATA BARU INDIA

India, Minggu, mengatakan telah menyelesaikan uji coba penerbangan perdana sebuah pesawat mata-mata tak berawak bikinan sendiri, yang telah dikembangkan sebagai bagian dari upaya negara itu untuk mengurangi impor peralatan militer.

"Pesawat itu terbang dalam cara yang tepat seperti yang direncanakan, mencapai ketinggian 3.000 kaki (900 meter), tetap terbang selama 30 menit dan merampungkan semua persyaratan misinya," kata juru bicara Organisasi Riset dan Pengembangan Pertahanan, Ravi Kumar Gupta, dibuat mengenai penerbangan hari Sabtu itu.

Menurut beberapa pejabat, pesawat mata-mata itu, yang dinamai Rustom, Rustom yang artinya prajurit, UAV ini Dilengkapi dengan kamera dan senjata, Rustom dibangun untuk memata-matai pejuang musuh. memiliki waktu penerbangan maksimal 15 jam dan merupakan prototipe yang militer ingin kembangkan ke model yang lebih maju.

Israel, yang tahun 2005 menandatangani perjanjian senilai 220 juta dollar AS (sekitar Rp 1,96 triliun) untuk menjual 50 pesawat mata-mata tak berawak kepada India, tetap salah satu pemasok terbesar pesawat mata-mata ke negara itu. India telah mempercepat usaha untuk memperoleh peralatan militer, termasuk dengan pembelian pesawat mata-mata, sejak serangan di Mumbai tahun 2008 oleh sejumlah gerilyawan yang telah menyebabkan 166 orang tewas dan lebih dari 300 orang terluka.

Amerika Serikat secara tetap menggunakan pesawat mata-mata yang ditempatkan di pangkalan di Afganistan untuk menyerang gerilyawan Taliban dan pejuang terkait Al Qaeda di wilayah suku di bagian barat laut Pakistan.

Rabu, 09 Februari 2011

AQM-34L COMPASS BIN

AQM-34L COMPASS BIN [FIREBEE II]

Drone intai AQM-34L dikembangkan dari drone target subsonic bermesin jet BQM-34A yang diproduksi pada 1960. Pesawat ini adalah seri remotely piloted vehicles (RPV) yang digunakan untuk pengintaian selama Perang Vietnam. Ryan memodifikasi Firebee standar agar dapat terbang secara otomatis, ter-pre-program dan mampu melakukan misi pengintaian jarak jauh. Dua puluh delapan varian dengan tujuan spesifik telah dikembangkan untuk mengumpulkan informasi inteligen fotografis, inframerah dan elektronik; untuk membawa peralatan electronic countermeasures dan berperan sebagai decoy untuk menyelidiki pertahanan musuh.

AQM-34L diluncurkan dan dikontrol dari pesawat direktor DC-130 dan terbang pada ketinggian rendah untuk memfoto daerah Vietnam Utara. Setelah misi selesai, UAV ini diarahkan ke tempat aman dan didaratkan dengan parasut. Selama konflik Vietnam, lebih dari seribu UAV milik Ryan diluncurkan dan membuat 3,435 misi dengan jarak jangkau total 1.400 nm. Misi-misi-nya didukung oleh para teknisi dan spesialis Ryan.

SPECIFICATIONS
Span: 12 ft. 11 in.
Length: 22 ft. 11 in.
Height: 6 ft. 7 in.
Weight: 2,062 lbs. loaded
Armament: None
Engine: Continental J69-T-29 of 1,700 lbs. thrust

PERFORMANCE
Maximum speed: 580 mph.
Stalling speed: 203 mph.
Range: 600 miles
Service Ceiling: 51,300 ft.

Selasa, 12 Oktober 2010

General Atomic GNAT-750 Lofty View

General Atomic GNAT-750 Lofty View

GNAT-750 merupakan sistem UAV pendukung dan intai tahan lama taktis yang telah terbang sejak tahun 1989. Predator merupakan perkembangan dari versi GNAT-750. Sistem GNAT menawarkan kombinasi dari daya tahan lama, kapasitas angkut besar, kemudahan penggunaan dan biaya pemeliharaan, sehingga membutuhkan biaya per-jam terbang sangat rendah. GNAT-750 dapat terbang hingga selama 48 jam tanpa perlu mendarat untuk pengisian bahan bakar. Memiliki keringgian operasional maksimal 25.000 kaki dan kecepatan naiknya 1100 kaki per menit. Badan pesawatnya 16 kaki, berat lepas landas kotor, termasuk beban 330 lbs dan bahan bakar, adalah 1.140 pound.

General Atomic GNAT-750 mungkin adalah salah satu UAV yang paling lama teruji di lapangan saat ini. Beberapa GNAT-750 telah diluncurkan ke Bosnia, Kroasia, Albania dan untuk memantau pangkalan udara, pertahanan, tempat persembunyian pasokan dan gerakan pasukan. Sukses ini dinodai oleh kebutuhan untuk relay data dari UAV ke pesawat berawak RG-8 Schweitzer yang hanya bisa tinggal di stasiun selama sekitar dua jam pada suatu waktu. Meskipun RG-8 memiliki waktu 8 jam penerbangan, 6 dari tiap 8 jam telah digunakan untuk relay data. Sementara GNAT-750 memiliki daya tahan terbang 24-30 jam, pesawat relay-nya sangat membatasi efektivitas keseluruhan dari sistem.

CIA mengoperasikan GNAT 750-45 Lofty View yang dilaporkan dapat membawa 450-500 pound beban yang terdiri dari sebuah radar aperture sintetis dengan resolusi satu kaki, tiga EO atau sensor IR di turret dagu dan antena data-link satelit band-luas. SAR, dengan azimut 150 derajat dan elevasi 40 derajat, dapat meng-cover 8000-petak kaki di ketinggian 25.000 kaki. Kombinasi waktu jelajah yang panjang, sebuah susunan sensor multiple, dan kemampuan data-link memungkinkan untuk mengirimkan data secara real-time dalam bentuk video bergerak.

Characteristics:

Length, ft: 17.5/20.75/21
Wing Span, ft: 35.3/42.2/42
Gross Weight, lbs: 1131/1650/1650
Payload Weight, lbs: 143/510/650
Fuel Capacity, lbs: 426/500/500
Fuel Type: AVGAS
Engine: Make 1xRotax 582/912/912; Power, hp 64.4/80/80
Structure: Fiberglass
Guidance: Navigation
Data Link(s): 5250-5475 MHz dn; 5625-5850 MHz up Data Rate(s)

Performance:

Endurance, hrs: 30/42/42
Radius, nm: 1075/1475/1475
Max Speed, kts: 110/135/149
Stall Speed, kts: 59/51/56
Altitude, ft: 16,000/20,000/20,000
Takeoff Means Conventional: (2450/2200/2200 ft runway reqd)
Navigation: Preprogrammed (points)/autonomous/direct control

Sensor(s): Versatron EO/IR

UAV IAI RQ-2 Pioneer

IAI RQ-2 Pioneer

Designation: IAI RQ-2 Pioneer
Classification Type: Reconnaissance, Surveillance, and Targeting Aquisition Unmanned Aerial Vehicle
Contractor: AAI Corporation - USA / Pioneer UAVs, Incorporated / Israel Aircraft Industries (IAI) - Israel
Country of Origin: Israel
Initial Year of Service: 1986
Number Built: 20
Seri UAV RQ-2 Pioneer merupakan salah satu UAV pertama yang beroperasi untuk militer AS. Dalam bentuk awalnya, UAV ini melayani kapal perang dengan spotting artileri, tetapi kemudian dirubah perannya untuk observasi udara pada medan perang. Walaupun tidak secepat dan sekuat UAV generasi baru, Pioneer menjadi dasar pembuatan UAV lain bagi AS.

Desain RQ-2 mempunyai bodi yang mirip dengan pesawat terbang dengan peralatan terpasang di depan dan satu mesin piston gasoline Sachs 2-stroke, 2-cylinder menghasilkan 26 tenaga kuda. Sayapnya terpasang tinggi dan berada di bagian belakang bodi pesawat dengan “twin-boom” memanjang ke arah belakang yang terhubung dengan papan horizontal dan sirip vertikal kembar. Bagian bawah UAV ini dipasang secara statis.

Pioneer dikembangkan berdasarkan perjanjian bersama antara Israel Aircraft Industries (IAI) dan AAI Corporation. UAV ini dirancang untuk melakukan berbagai macam misi suvey dan pengintaian dan dapat diluncurkan melalui ketapel maupun landasan pacu (runway) di daratan dan dengan ketapel maupun roket di lautan. Sedangkan pendaratannya dilakukan dengan kait atau jaring penangkap. Lama penerbangan bervariasi tergantung pada beban yang dibawa, tetapi beberapa jam penerbangan dapat dilakukannya. Kekuatan Pioneer terletak pada kemampuannya untuk mengirimkan informasi real-time melalui video melalui sebuah line-of-sight (LOS) data link.

UAV Pioneer pernah beroperasi Perang Teluk Persia pada 1991, Somalia, Kosovo dan Irakdi bawah kendali Angkatan Bersenjata AS. UAV ini juga diketahui beroperasi untuk Israel dan Singapura.

Specifications: IAI RQ-2 Pioneer

Dimensions:
Length: 13.12ft (4.00m)
Width: 17.06ft (5.20m)
Height: 3.28ft (1.00m)

Performance:
Max Speed: 124mph (200kmh; 108kts)
Max Range: 115miles (185km)
Climb Rate: Not Available
Ceiling: 15,092ft (4,600m; 2.9miles)

Structure:
Crew (Controller): 2
Hardpoints: 0
Empty Weight: 0lbs (0kg)
MTOW: 452lbs (205kg)

Power:
Engine(s): 1 x Sachs 2-stroke, 2-cylinder gasoline piston engine developing 26hp.

Sabtu, 02 Oktober 2010

UAV AQM-34N Firebee

AQM-34N Firebee

Pada pertengahan 1960an, Ryan Aeronautical Co. menjawab kebutuhan untuk sistem pengintaian dan pengumpulan data intelejen tanpa menempatkan anggota pasukan dalam bahaya. Jawaban itu berupa lebih dari 20 variasi berbeda dari model “unmanned subsonic target drone” 147 Firebee. Model 147H (diberi nama AQM-34N) dioperasionalkan dengan unit pengintaian Strategic Air Command pada akhir 1960an. Dengan sebuag bentang sayap yang lebih besard dari Firebee asli, pesawat ini dapat beroperasi di atas 60,000 kaki. Pesawa ini menjadi keluarga Model 147 pertama uang membawa bahan bakar di sayapnya (“wet wings”) yang menghasilkan jarak jangkau hingga 2.400 mil. Beberapa alat elektronik, manuverabilitas, dan sistem observabilitas rendah (seperti stealth) termasuk di dalamnya untuk mengurangi tingkat deteksi dari pesawat interseptor dan misil permukaan-ke-udara. Antara Maret 1967 dan Juli 1971 misi dengan AQM-34N diluncurkan dari pesawat DC-130 dan terbang di bawah “preprogrammed control in and out” pada daerah musuh. Beberapa hilang di China dan ditampilkan dalam foto propaganda saat itu.

SPECIFICATIONS

Span:32 ft.
Length: 30 ft.
Height: 6 ft. 8 in.
Weight: 3,830 lbs. maximum
Armament: None
Engine: J69-T-41A turbojet with 1,920 lbs. thrust
PERFORMANCE
Maximum speed: 420 mph
Range: More than 2,400 miles
Service Ceiling: 65-70,000 ft.

Jumat, 01 Oktober 2010

UAV General Atomics MQ-9 Reaper

General Atomics MQ-9 Reaper

MQ-9 "Reaper"("M" = multiperan; "Q" = Pesawat tanpa awak; "9" = kode seri) menawarkan AU AS senjata udara tanpa awak level tinggi yang mampu melakukan penyerangan instan dan akurat. Dari luar, UAV ini mirip dengan UAV seri Predator, tetapi lebih besar, mempunyai tenaga lebih besar dan mempunyai kemampuan pengiriman amunisi. Sistem MQ-9 sangat portabel dan dapat mendarat pada medan yang sulit seperti halnya pesawat Lockheed C-130.

MQ-9 diresmikan pada 2004 dan mempunyai peran penting bagi AS dalam usaha "War on Terrorism". Reaper mampu membawa dan mengirimkan amunisi dari dua hardpoint eksternal yang dapat berisi misil anti-tank Hellfire dan bom seri JDAM GBU-12 dan GBU-38. Pada intinya, Reaper difungsikan sebagai “huter/killer”, mempunyai kemampuan setara dalam misi pengintaian di stratosfer dan dalam misi penyerangan pada target yang dibutuhkan.


Pengoperasian MQ-9 dilakukan dengan menggunakan peralatan darat dan stasiun perlengkapannya. Seorang yang terkualifikasi menerbangkan Reaper dengan menggunakan kontrol joystik dengan bantuan kamera-hidung warna dan sistem pelaporan penerbangan lain yang dimiliki Reaper. Sampai saat ini ada 9 MQ-9 Reaper yang beroperasi untu AU AS.


Specifications: General Atomics MQ-9 Reaper

Dimensions:
Length: 36.09ft (11.00m)
Width: 65.94ft (20.10m)
Height: 36.09ft (11.00m)

Performance:
Max Speed: 230mph (370kmh; 200kts)
Max Range: 1,878miles (3,022km)
Climb Rate: Not Available
Ceiling: 50,000ft (15,240m; 9.5miles)

Structure:
Crew: 0
Hardpoints: 4
Empty Weight: 3,695lbs (1,676kg)
MTOW: 10,494lbs (4,760kg)

Power:
Engine(s): 1 x Honeywell TPE331-10GD turboprop engine generating 900shp.

Weapons Suite:
Mission-specific ordnance can include any combination of the following:
2 x AGM-114 Hellfire anti-tank missiles
2 x GBU-12 Joint Direct Attack Munitions (JDAM)
2 x GBU-38 Joint Direct Attack Munitions (JDAM)

Senin, 20 September 2010

UAV Bombardier CL-327 "Guardian"

Bombardier CL-327 "Guardian"

CL-327 “Guardian” adalah pengembangan dari CL-227 “Sentinel”. Sentinel berpartisipasi dalam program MAVUS AL pada pertengahan 1990an, dengan beberapa demonstrasi di laut, mendarat di USS Vandegrift dan membuat beberapa pendekatan otomatis. Sentinel yang dimodifikasi, yang dikenal dengan “Puma”, diusulkan kepada pihak militer AS untuk program TUAV pada 1996.
Guardian mulai diproduksi terbatas pada 1996, satu di antaranya sekarang beroperasi untuk Royal Australian Army. Guardian adalah salah satu dari tiga UAV yang dipilih untuk berpartisipasi dalam program demonstrasi UAV VTOL (Vertical Take Off Landing) Angkatan Laut AS pada 1998. Lebih dari 50 jam penerbangan telah dilakukan, walaupun terjadi kecelakaan pada Juni 1998 ketika tangki bahan bakarnya terpisah dari pesawat yang menyebabkan pesawat kekurangan bahan bakar dan akhirnya hilang. Beberapa masalah terjadi saat pengembangannya, menyebabkan penundaan pengujian di atas kapal pada 1999. Karena dianggap tidak memenuhi spesifikasi, akhirnya Guardian dikeluarkan dari kompetisi VTUAV AL pada September 1999.

CL-327 “Guardian” mempunyai sebuah mesin turboshaft Williams WTS117-5 yang menghasilkan 125 shp, yang memutar rotor “counter-rotating” 3,96m. Berat Take Off kotor-nya adalah 350 kg, dengan berat kosong 150kg. Daya tahan terbang (untuk sekali terbang) adalah 6,25 jam, dan kecepatan maksimumnya adalah 155 km/jam.

CL-327 Specification

Country of Origin: Canada
Missions: Surveillance; Reconnaissance; Communications relay; Environmental inspection; Border patrol; Drug enforcement operations; Target acquisition / designation; Battle damage assessment; EW platform

Engine: 1 Williams International WTS-125 turboshaft 125 shp flat rated at 100 shp
Height: 6 ft 0 in 1.84 m
Rotor diameter: 13 ft 1 in 4.00 m
Gross takeoff mass: 770 lbs. 350 kg
Empty weight: (no payload, no fuel) 330 lbs. 150 kg
Payload carrying capacity: 220 lbs. 100 kg
Maximum endurance: 6.25 hours
Time on station at 100 km: 4.75 hours
Maximum speed: 157 km/h / 85 kts
Climb rate: 7.6 m/sec / 1,500 ft/min
Ceiling: 5,500 m / 18,000 ft

Sensor: Combined EO/IR; Communications relay; Active ESM payload; Synthetic Aperture Radar (SAR)

Datalink: Primary (C-Band), Directional, Omni-directional; Back-up (L-Band), Omni-directional, used for launch & recovery

Guidance and navigation: GPS and inertial; Automatic flight patterns; Autonomous flight
Reversionary modes; Waypoint navigation; Automatic target tracking

Image Exploitation: Geo-location; Target location error <60 m (GPS accuracy dependent); Freeze, pan, rotate images; Automatic target tracking

Jumat, 17 September 2010

UAV Eagle Eye

Eagle Eye UAV


UAV Bell Eagle Eye mempunyai penampilan seperti pesawat konvensional pada umumnya dengan rotor di setiap ujung sayapnya yang memungkinkan manuver naik atau turun dan melayang. Bell Helicopter Textron Incorporation (BHTI) mulai terlibat dalam program UAV dengan membuat gorong-gorong angin untuk model V-22, menggunakan suku cadang helikopternya seperti mesin, as gardan, gear box dll, dan membuat UAV rotor miring Eagle Eye.

Eagle Eye mempunyai bentang sayap 15.2 kaki, panjang 17.9 kaki dan tinggi 5.7 kaki, dengan berat 2.000 pound (tergantung beban yang dibawa). Uji terbang pertama (hanya melayang) dilakukan di fasilitas BHTI di Dallas, Texas, pada 1992.

Setelah berhasil dalam uji terbang pertama (melayang), team pemerintah dan kontraktor pindah ke Yuma Proving Grounds (YPG) untuk uji terbang lanjut di kuartal ketiga 1993. Uji terbang tersebut berhasil dan Eagle Eye terbang dengan mode helikopter, diubah melalui mode transisi ke mode pesawat. 35 penerbangan telah dilakukan dengan total lama terbang 15 jam. Kecepatan maksimal yang dapat dicapai adalah 159 knots pada ketinggian 1.550 kaki di atas rata-rata permukaan laut.

Pemerintah tidak lagi membutuhkan UAV Vertical Take Off and Landing (VTOL) dan kemudian membatalkan perjanjian seluruh demonstrasi/pengambangan UAV Vertical Take Off and Landing (VTOL). BHTI melanjutkan pengembangan Eagle Eye bersama dengan R&D.

Pada musim semi 1998, pemerintah kembali menginginkan demonstrasi UAV VTOL dan mengontrak BHTI untuk mendemonstrasikan kualitas dan performa penerbangan Eagle Eye. Demonstrasi ini dilakukan dalam dua fase. Fase Pertama berupa demonstrasi penerbangan dengan landasan terbang darat dan Fase Kedua berlandasan laut (kapal laut). Fase kedua berhasil dilaksanakan pada April 1998 di Yuma Proving Ground.. UAV ini terbang lebih dari 43 kali dengan 55.5 jam terbang dan berhasil mencapai kecepatan 200 knots, dengan ketinggian 14.600 kaki. Fase Kedua dilaksanakan pada 1999 dan dilakukan di sebuah kapal perang kecil. Purwarupa pertama hancur dalam sebuah kecelakaan, tetapi purwarupa kedua berhasil melalui program uji ini. 

Keberhasilan dalam program uji ini membuat UAV ini masuk dalam program “Deepwater” pada 2002 dan pembuatan UAV dengan ukuran sebenarnya, dan disebut dengan TR918, dengan mesin turboshaft Pratt & Whitney Canada P200/55.

Bell telah mempromosikan Eagle Eye selama satu dekade untuk mendapatkan pembeli, dan pada musim panas 2002 penjaga pantai AS memesan UAV ini sebagai bagian program Deepwater.

AL dan Korps Marinir AS juga menunjukkan ketertarikan dan beberapa dari negara lain. Di musim panas 2004, Bell berhasil membuat hubungan dengan Sagem di Perancis dan Rheinmetall Defense Electronics di Jerman untuk menjual varian Eagle Eye di Eropa. Bell akan menyediakan suku cadang mentahnya, sementara partner di Eropa akan menyediakan “payload” dan suku cadang lain sesuai dengan kebutuhan konsumen, dan kemudian Bell akan melakukan integrasi sistem.

Specifications
Manufacturer: Bell Helicopter - Textron, Texas
AV Type: Tilt Rotor
Length: 17.9/5.46 (ft/m)
Height: 5.7/1.73 (ft/m)
Wingspan: 15.2/4.63 (ft/m)
Rotospan (diameter): 9.5/2.90 (ft/m)
Take-Off Gross Weight: 2250/1020 (lbs/kg)
Empty Weight: 1300/590 (lbs/kg)
Fuel Weight: 750/340 (lbs/kg)
Payload Weight: 200/90 (lbs/kg)
Speed (kts): Max 200+, Cruise 0-200
Altitude: 20,000/6,100 (ft/m)
Endurance: 8 hours
Radius of Operation: 110/200 LOS (nm/km)
Engine: Allison 250-C20 GT 420 shp
Fuel: Heavy.JP
Landing Gear: Wheeled/Retractable
Flight Control: Automated/Dual Redundant
Take Off/Landing: VTOL/STOL
AV Data Link(s): S-Band/UHF (TCDL future)
Payload: FLIR - EO/IR - SAR

UAV Condor

Condor






Condor buatan Boeing adalah pesawat yeng beroperasi dengan kendali jarak jauh bermesin ganda, mempunyai sayap yang lebih lebar (200 kaki) dari Boeing 747 dan dapat beroperasi sampai di atas ketinggian 65.000 kaki selama beberapa hari. Condor mencapai ketinggian maksimal 67.028 kaki pada tahun 1988. Ketinggian ini adalah rekor ketinggian untuk pesawat baling-baling yang tidak terpecahkan hingga 1997, ketika UAV Pathfinder milik NASA mencapai ketinggian 67.350 kaki. Biaya pembuatan Condor mencapai sekitar $20 juta. Tetapi dengan kemampuan terbang kada ketinggian dan lama waktu terbang seperti itu, UAV ini mempunyai jarak jangkau global, dan dapat digunakan untuk melakukan misi survey militer hingga pengiriman obat.

Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) mendukung uji terbang Condor dalam konfigurasi militer. Konsumen potensial melihat UAV ini sebagai satelit murah dengan waktu terbang lama. Dengan $20 juta, Condor dapat menjadi sistem satelit suatu negara yang murah.