Kamis, 20 Januari 2011

LVTP-7 Korps Marinir TNI-AL

LVTP-7 : Pendarat Amfibi Korps Marinir TNI-AL

“Mendarat dan menang..,” itulah misi utama Marinir di seluruh dunia dalam menjalankan tugas sebagai pasukan pendarat, pembuka gerbang untuk operasi militer lanjutan. Bagi Korps Marinir TNI AL adalah hal lumrah untuk berjibaku dan mempertaruhkan nyawa dalam tiap operasi pendaratan militer di seluruh wilayan Nusantara.

Tapi “beban berat” Korps Marinir yang malang melintang dalam berbagai konflik, mulai dari Dwikora, Timor Timur sampai Aceh kebanyakan masih mengandalkan kendaraan tempur (ranpur) amfibi berusia paruh baya. Ambil contoh ranpur BTR-50 dan PT-76 yang sudah eksis menjadi alutsista Korps Marinir sejak awal tahun 60-an. Salah satu sukses misi tempur pendaratan adalah ketersediaan ranpur pengangkut personel (armoured personel carrier/APC) yang handal.

Untuk urusan ranpur pendarat amfibi, sudah empat dekade Marinir TNI AL selalu mengandalkan BTR-50. Walau sudah diretrofit, tetap pada hekekatnya BTR-50 adalah ranpur tua. Penggunaan ranpur tua pun membawa risiko yang tak kecil, sudah beberapa kali terjadi insiden yang menewaskan prajurit Korps Marinir. Memang ada ranpur pendarat lain yang bisa jadi alternatif, sebut saja AMX-10 dan BVP-2, keduanya memang lebih modern tapi sayang tak bisa membawa personel lebih banyak dari BTR-50, dimana BTR-50 bisa membawa 20 personel bersenjata lengkap.

Barulah pada tahun 2010, muncul “solusi” mujarab untuk Korps Marinir dengan hadirnya ranpur LVTP (Landing Vehicle Tracked)-7. LVTP-7 dirancang dengan desain roda rantai, bisa dibilang masuk kelas tank amfibi. Ranpur ini tergolong unik, sebab LVTP-7 terlihat bongsor dengan bobot mencapai 30 ton. Jadilah LVTP-7 sebagai ranpur amfibi dengan bobot terberat yang dimiliki Korps Marinir. Bobot ranpur ini tentu bukan tanpa alasan, LVTP-7 sanggup membawa 25 personel bersenjata lengkap plus 3 awak.

Selayaknya ranpur pembawa personel, asupan persenjataan pada LVTP-7 tergolong terbatas, pastinta tak dirancang untuk menghancurkan MBT (main battle tank). Tapi tetap ada sisi unik yang melengkapi persenjataan pada ranpur ini, maklum Amerika Serikat selalu mengandalkan varian LVTP-7 dalm tiap gelar operasi amfibi, bahkan tak cuma operasi amfibi, ranpur yang juga dijuluki AAV (Assault Amphibian Vehicle)-7 ini juga hadir di medan konflik berpasir, seperti di Somalia dan wilayah Irak.

Sebagai senjata andalan, LVTP-7 mempercayakan kehandalan SMB (senapan mesin berat) browning M2HB kaliber 12,7 mm. Secara teori ranpur ini biasa memuat hingga 1200 peluru kaliber 12,7 mm. Tapi bisa juga SMB ditukar dengan pelontar granat kaliber 40 mm dengan tipe peluru M430 berkategori HEDP (high explosive dual purpose). Sedangkan untuk perlindungan, ranpur ini dilengkapi smoke discharger kalibr 40 mm. LVTP-7 memilikki lapian baja standar 5 cm.

Sebagai penggerak, LVTP-7 menggunakan mesin General Motors 8V53T yang ditempatkan pada kompartemen depan, serupa dengan ranpur AMX-10 dan BVP-2. Dengan daya maksmal yang disemburkan sebesar 400 hp dan dukungan sistem transmisi FMC-400-3 dengan empat percepatan, ranpur ini dapat dipacu hingga kecepatan 64 Km per jam di darat dengan jarak tempuh 480 Km. Sementara saat berenang, berkat sepasang waterjet di kiri dan kanan mampu menghasilkn daya dorong hingga kecepatan 14 Km per jam.

LVTP-7 milik Korps Marinir TNI-AL berasal dari Korea Selatan, pabrik pembuatnya pun bukan FMS, melainkan dibuat berdasarkan lisensi oleh Samsung Techwin. Indonesia memperoleh ranpur ini lewat program hibah, dari yang awalnya direncanakan bakal 35 unit, hingga saat ini baru hadir 10 unit LVTP-7 di Jakarta.

Walau dari segi jumlah sangat minim, LVTP-7 buatan Korea Selatan ini semuanya sudah di upgrade ke versi AAV-7A1. LVTP-7 sangat pas dioperasikan dari kapal jenis LPD (Landing Platform Dock), seperi KRI Surabaya dan KRI Makassar. Presiden SBY pun sempat menjajal melakukan pendaratan amfibi di pantai lampung menggunakan ranpur amfibi ini. Beberapa operasi tempur yang sudah dilewati LVTP-7 yakni pada perang Malvinas (digunakan Marinir Argentina), perang Teluk dan perang Irak.

Spesifikasi LVTP-7
Pabrik : FMC Corporation
Produksi Perdana : 1972
Berat : 30 ton
Panjang : 7,94 meter
Lebar : 3,27 meter
Tinggi : 3,26 meter

Lockheed F-80 Shooting Star

Lockheed F-80 Shooting Star

Lockheed F-80 Shooting Star adalah pesawat jet tempur pertama yang digunakan oleh Angkatan Udara AS. Terbang pertama kali pada tanggal 8 Januari 1944, pengembangan pesawat ini menghadapi banyak kendala sehingga terlambat untuk digunakan dalam Perang Dunia II. Selain menghadapi banyak kendala, pengembangan jet ini juga berbahaya sehingga sempat mengakibatkan beberapa orang tewas. Salah satu yang tewas dalam upaya pengembangan pesawat ini adalah Mayor Richard Bong, top ace Angkatan Udara AS dalam Perang Dunia II.

F-80 menjadi andalan AS pada masa-masa awal perang dingin. Pada tahun 1948 pesawat ini diterjunkan dalam Berlin Airlift untuk melindungi pesawat-pesawat angkut AS dan Inggris dan ancaman pesawat-pesawat Uni Soviet. F-80 juga banyak digunakan oleh Angkatan Udara AS dalam Perang Korea dan pada tanggal 8 November 1950 Letnan Russel J. Brown yang menerbangkan F-80 berhasil menembak jatuh sebuah MiG-15 dalam sebuah dog fight yang merupakan pertempuran pertama antara pesawat jet dalam sejarah.

Walaupun cukup sukses dalam masa-masa awal Perang Korea, namun kehadiran MiG-15 akhirnya menggusur F-80 dari tugas-tugas pertempuran udara dan digantikan oleh F-86 Sabre. F-80 tetap digunakan untuk tugas-tugas serang darat dan pengintaian sampai Perang Korea berakhir.

Selain Angkatan Udara AS, F-80 Shooting Star juga digunakan oleh Brazil, Chili, Kolumbia, Ekudor, dan Peru. F-80 juga dikembangkan menjadi pesawat jet latih T-33. Varian T-33 ini terbukti lebih sukses secara komersial dan digunakan oleh lebih dari tiga puluh negara, termasuk Indonesia.

Specifications (F-80C)
Crew : 1
Powerplant : 1 x 2,449 kg / 5,400 lb-thrust Allison J33-A-35 turbojet engine
Length : 10.49m
Wingspan : 11.81m
Height : 3.43m
Weight empty : 3,819 kg
Maximum take-off weight : 7,646 kg
Maximum speed : 956 km/h
Range : 1,328 km
Service ceiling : 14,265m
Armament : 6 x 12.7mm machine guns and up to 908 kg of bombs or rockets

KRI Waigeo 861

KRI Waigeo

Kapal KRI Waigeo milik Indonesia merupakan kapal kelas bot patroli. KRI Waigeo memenuhi kebutuhan Indonesia dan berperan mempertahankan Indonesia dari kapal-kapal musuh. KRI Waigeo merupakan variasi yang dibangun dengan menggunakan teknologi Indonesia oleh PT PAL SY, Surabaya.

KRI Waigeo memiliki 22 orang anak kapal termasuk pejabat. KRI Waigeo dilengkapi untuk misi patroli.

Kapal KRI Waigeo sepanjang 32 m memiliki kecepatan bertempur di 20 mil nautikal. KRI Waigeo memiliki bobot 150 ton.
MERIAM

Meriam utama KRI Waigeo yang dipasang pada dek depan, adalah meriam 140 mm dengan dua senapan mesin 7.62mm.
Dorongan

Kapal KRI Waigeo memiliki dua mesin disel yang dihubungkan ke dua gandar yang menghasilkan kecepatan tempur 20 knot.

General Purpose Bombs

General Purpose Bombs

General-purpose bomb (GP Bomb=bom serba guna) adalah bom yang dijatuhkan dari udara yang dimaksudkan sebagai gabungan antara perusakan dari ledakan, penetrasi dan fragmentasi akibat ledakan.

KARAKTERISTIK
Bom serba guna (GP Bomb) menggunakan menggunakan sebuah selongsong logam tebal dengan isi (biasanya TNT, Compotition B, atau Tritonal) sekitar 50% dari total berat bom (Inggris menggunakan istilah “medium case” atau “medium capacity” (MC) untuk bomb semacam ini). GP Bomb adalah senjata yang biasa digunakan untuk pesawat fighter-bomber dan pesawat tempur karena bom ini berguna untuk berbagai jenis taktis dan relatif murah.

GP Bomb biasanya diidentifikasi dari beratnya (misalkan 500 lb, 250 kg). Dalam berbagai kasus ini hanya nominal atau kaliber saja, berat sebenarnya tiap senjata dapat bervariasi tergantung pada “retardation” (penghambatan (ledakan)), penggabungan, bawaan dan sistem kendalinya. Sebagai contoh, berat aktual bom M117 AS secara nominal 750 lb (340 kg), tetapi berat tipikalnya 820 lb (374kg).

Sebagian besar moderin GP Bomb didesain untuk untuk mengurangi daya hambat aerodinamis untuk pesawat pembawanya.

Untuk serangan altitude rendah, ada bahaya bagi pesawat yang dapat terkena efek ledakan bomnya sendiri. Untuk mengatasi masalah ini, GP bomb kadang dilengkapi dengan parasut penghalang ledakan atau sirip khusus yang dapat mengurangi kecepatan turunnya bom agar pesawat mempunyai waktu lebih untuk menghindari efek ledakan.

GP bomb dapat dilengkapi dengan berbagai macam jenis sumbu (hulu ledak?) dan sirip untuk berbagai kegunaan. Sebagai contoh adalah sumbu “daisy cutter” yang digunakan di pesenjataan AS era Perang Vietnam, sebuah desain probe yang diperluas untuk memastikan bom akan terdetonasi ketika terjadi kontak (walaupun dengan daun-daunan), sehingga bom tidak tertimbun di bumi atau lumpur yang mengakibatkan berkurangnya efektivitas bom.

GP Bomb kadang digunakan sebagai hulu ledak untuk amunisi berpengendali yang lebih canggih. Pemakaian berbagai tipe pencari dan sirip yang dikontrol secara elektik hingga pemakaian pengendali laser (laser guided bomb) seperti seri bom Paveway milik AS, bom berkendali elektro-optik dan yang terbaru adalah bom berpengendali GPS (seperti JDAM milik AS).

KRI Pandrong (801)

KRI Pandrong (801)

KRI Pandrong (801) adalah kapal patroli milik TNI AL. KRI Pandrong adalah kapal FPB-57 generasi pertama bikinan PT.PAL yang disebut FPB57 Nav I, generasi terbaru dinamakan FPB57 Nav V yang diperkenalkan pada tahun 2000 (KRI Todak). KRI Pandrong sendiri diresmikan pada tahun 1992 bersama saudaranya KRI Sura (802) setahun kemudian.
Kapal yang mempunyai 49 awak kapal ini mempunyai ukuran 58.1 m x 7.62 m x 2.73 m ( 190.6 kaki x 25 kaki x 9 kaki).Kecepatan maksimum 28.1 knot dan berbobot penuh 425 ton.

Senjata
Meriam utama kapal perang KRI Pandrong ini adalah meriam Bofors SAK 57 mm/70 berpemandu tembakan Signaal LIROD Mk.2, Meriam SAK 40mm/70 serta dua Kanon Penangkis Serangan Udara (PSU) Rheinmetall 20 mm.

Tenaga Penggerak
Kapal KRI Pandrong mempunyai dua mesin disel yang menghasilkan 8,260 bhp secara bersamaan dan dengan dibantu dua buah "shaft", kapal ini mampu melaju sampai kecepatan 28.1 mil nautikal.

Rencana pengembangan
Beberapa rencana pengembangan atas kelas Pandrong dan kelas Todak adalah akan dilengkapinya dengan rudal anti kapal C 802 buatan Tiongkok yang berjangkauan maksimal 130 km. Ada pula rencana untuk tahun 2008 dimana akan dilakukan penggantian mesin dengan menggunakan mesin pendorong bertenaga lebih tinggi dan pemakaian bahan bakar lebih irit.

Tank FT-17

Tank FT-17

FT-17 adalah tank ringan buatan pabrik Renault, Perancis. Mulai diproduksi pada tahun 1916 dan digunakan dalam dinas militer aktif tahun 1917. Tank ini adalah tank pertama dengan persenjataan yang ditempatkan dalam turret yang dapat berputar secara penuh 360 derajat dan merupakan tank modern pertama di dunia.

Renault FT-17 diawaki dua orang : driver dan commander (yang juga merangkap sebagai gunner dan loader). Pada dasarnya tank ini terdiri dari dua varian dasar, yaitu machine gun tank (dipersenjatai sepucuk senapan mesin Hotchkiss M1914 kaliber 8mm dengan 4.800 butir peluru) dan gun tank (dipersenjatai sepucuk meriam Puteaux SA18 kaliber 37mm dengan 237 butir peluru). Tank ringan seberat 7 ton ini menggunakan mesin Renault 4 silinder berkekuatan 39 tenaga kuda. Dengan mesin tersebut, tank ini mempunyai kecepatan maksimum 7km/jam dan dengan jarak tempuh 65km.

Pertama kali digunakan oleh Perancis dalam Perang Dunia I, tank ini juga banyak digunakan oleh negara-negara lainnya. Secara total sekitar 3.500 unit FT-17 berhasil dibuat dan selain digunakan oleh Perancis juga digunakan oleh Amerika Serikat, Afghanistan, Brazil, Cina, Cekoslovakia, Estonia, Finlandia, Jerman (dalam Perang Dunia I, beberapa unit FT-17 berhasil direbut Jerman dari tentara Perancis), Iran, Jepang, Lithuania, Rusia, Belanda, Polandia, Romania, Spanyol,, Swedia, Swiss, Turki, Norwegia, dan Yugoslavia.

Kamov Ka-27 Helix

Kamov Ka-27 Helix

Heli Kamov Ka-27 yang merupakan pengembangan dari Ka-25 memiliki sejumlah kelebihan seperti fulsage lebih besar, mesin berdaya lebih besar, dan mampu diopersaikan sebagai heli SAR serta patrol antikapal selam. Sebagai heli antikapal selam perangkat elektronik yang dimiliki Ka-27 antara lain radar pencari sasaran, Osminog yang dioperasikan secara computerized, radar pelacak sasaran kedalaman laut VGS-3 Ros-V dan radar pelacak sasaran pengganti peran sonar Izumrud serta radio Sonobuay serta APM- 73V Bor MAD

System radio komunikasi yang dimiliki Ka-27 merupakan perangkat yang cukup canggih. Perangkat ini bisa dioperasikan untuk komunikasi antar kapal perang onduk serta helikopterdan helicopter lainnya. pada jarak 200km. saat helicopter yang berpatroli menemukan lokasi kapal selam musuh, komando tempur yang berda dikapal segera mengordinasikan formasi untuk melakukan serangan secara serentak. Untuk keperluan menghantam kapal selam Ka-27 dipersenjatai sejumlah senjata diantaranya torpedo AT-1MV ASW atau rudal APR-2ASW, delaan bom laut PLAB-250-120 atau bom laut KAB-250 PL> sementara untuk melacak sasaran keberadaan kapal selam, selain radar pencari sasaran, Ka-27 juga dilengkapi ditektor pencari RGB-16 sebanyak 36 unit.

Role Anti-submarine helicopter
Manufacturer Kamov
First flight 24 December 1973
Introduction 1982
Primary users Soviet Navy
Russian Navy
Ukrainian Navy
Indian Navy
Unit cost $1,500,000
Developed from Kamov Ka-25
Variants Kamov Ka-31

General characteristics
• Crew: 1-3, plus 2-3 specialists
• Length: 11.30 m (37 ft 1 in)
• Rotor diameter: 15.80 m (51 ft 10 in)
• Height: 5.50 m (18 ft 1 in)
• Empty weight: 6,500 kg (14,300 lb)
• Loaded weight: 11,000 kg (24,200 lb)
• Useful load: 4,000 kg (8,800 lb)
• Max takeoff weight: 12,000 kg (26,400 lb)
• Powerplant: 2× Isotov turboshaft engines, 1,660 kW (2,225 shp) each
Performance
• Maximum speed: 270 km/h (145 knots, 166 mph)
• Cruise speed: 205 km/h (110 knots, 126 mph)
• Range: 980 km (530 nm, 605 mi)
• Service ceiling: 5,000 m (16,400 ft)
Armament
Ka-27
• 1 × torpedoes (AT-1M, VTT-1, UMGT-1 Orlan, APR-2 Yastreb) or 36 RGB-NM & RGB-NM-1 sonobouys
Ka-29TB
• 1 × mobile forward firing GShG-7.62 minigun with 1800 rounds,
• 1 × 30 mm 2A42 cannon with 250 rounds (flexible semi-rigid mount, optional/removable with ammunition carried in cabin)
• four external hardpoints for bombs, rockets, gunpods, munitions dispensers, special four round missile launchers for the 9K114 Shturm
• contrary to some reports the internal weapon load is not retained and is replaced by an armoured passenger compartment for up to sixteen troops
Avionics
• Radar, MAD or dipping sonar, sonobuoys

Grumman F9F Cougar

Grumman F9F Cougar

F9F Cougar adalah hasil pengembangan dari F9F Panther yang dikembangkan menjadi pesawat jet dengan swept wing. Jet tempur ini terbang pertama kali pada tanggal 20 September 1951 dan total dibuat sebanyak 662 unit dalam berbagai varian, termasuk varian jet intai taktis dan pesawat latih.





F9F Cougar tidak sempat digunakan dalam Perang Korea. Jet tempur ini kemudian dimodfikasi sehingga mampu dipersenjatai dengan versi awal rudal udara ke udara AIM-9 Sidewinder. Angkatan Laut dan Korps Marinir AS menggunakan pesawat tempur ini sampai dengan tahun 1960 dan kemudian digunakan sebagai kekuatan pasukan cadangan sampai dengan tahun 1962. F9F Cougar juga dibeli oleh Angkatan Laut Argentina yang mengoperasikan pesawat ini dari tahun 1962 sampai dengan tahun 1971.
Jika varian tempur F9F Cougar hanya digunakan Angkatan Laut AS sampai dengan tahun 1962, maka varian latih dari jet tempur ini (TF-9J) justru memiliki masa operasional yang lebih panjang. TF-9J masih digunakan US Navy sampai dengan tahun 1974. Bahkan TF-9J ini sempat diturunkan dalam Perang Vietnam di tahun 1966-1967 dan menjadi satru-satunya varian F9F Cougar yang pernah digunakan dalam pertempuran.

Specifications (F9F-8)
Crew : 1
Powerplant : 1 x 38 kN / 8,500 lb-thrust Pratt & Whitney J48-P-8A turbojet engine
Length : 12.90m
Wingspan : 10.50m
Height : 3.70m
Weight empty : 5,382 kg
Maximum take-off weight : 11,232 kg
Maximum speed : 1,041 km/h
Range : 2,111 km
Service ceiling : 12,800m
Armament : 4 x 20mm cannons and up to 908 kg of bombs or rockets