Daewoo K-1 dan K-2
Senapan serbu (assault rifle) K-1 dikembangkan pada tahun 1983 oleh suatu pabrik di Korea Utara yang bernama 'Daewoo Precision Industry Ltd.' (satu divisi dari perusahaan DAEWOO International Corp.) sebagai pengganti dari senapan standar 'license-copy' (beli license untuk menciptakan senjata serupa) M16A1. Versi perbaikan dari K-1 adalah K-2 yang dikembangkan pada tahun 1987. Berikut data teknis Daewoo K-1 dan K-2...
//K-1
Caliber : 5.56 x 45mm NATO
Panjang keseluruhan : 838mm (popor dibuka)/ 653mm (popor dilipat)
Panjang laras : 263 mm
Berat : 2.87 kg (tanpa peluru terisi penuh)
Kapasitas peluru : 30 peluru
Kecepatan tembak : 800 peluru per menit
Jarak efektif : 250 meter
//K-2
Caliber : 5.56 x 45mm NATO
Panjang keseluruhan : 980mm (popor dibuka)/ 730mm (popor dilipat)
Panjang laras : 465 mm
Berat : 3.26 kg (tanpa peluru terisi penuh)
Kapasitas peluru : 30 peluru
Kecepatan tembak : 750 peluru per menit
Jarak efektif : 500 meter
Di blog ini akan menguraikan segala info persenjataan militer baik yang ada dalam lingkungan TNI maupun yang lainnya dari berbagai negara
Rabu, 09 Februari 2011
Battleship class New Mexico
Battleship class New Mexico
Secara garis besar desain battleship kelas New Mexico merujuk pada rancang bangun battleship kelas Pennsylvania. Tentu saja pembangunannya tidak meniru 100%. Salah satu bagian yang berbeda terletak pada senjata utama. Untuk yang satu ini kelas New Mexico sudah mengandalkan meriam tipe terbaru, MK IV caliber 14 inci/5 cal (356mm). Selain senjata utama, urusan system proteksi internal juga tergolong lebih baik daripada kelas Pennsylvania.
Bicara arsenal antipesawat, peningkatan kemampuannya baru benar-benar terasa dasyhat ketika dilakukan pembenahan menjelang Jepang menyerang Pearl Habor. Tercatat setiap kali kapal mendapat imbuhan 36 sampai 56 pucuk kanon kalober 40mm serta 14 sampai 44 pucuk kanon caliber 20mm. Masih tentang senjata antipesawat, USS Idaho (BB42) punya keunikan tersendiri. Kapal ini merupakan satu-satunya battleship kelas New mexico yang dilengkapi meriam sekunder fungsi ganda (DP-Dual Purpose). Ada 10 pucuk meriam DP caliber 5inci (127mm) yang terpasang dalam bentuk model laras tunggal.
Pasifik dan Atlantik
Pada tahun 1942, Washington memindahkan New Mexico (BB40), Mississipi (BB41) dan Idaho (BB42) ke Pasifik. Antara Mei sampai Juli 1943 ketiganya ikut mendukun pendaratan Marinir AS ke kepulauan Aleutian. Mississipi terlibat dalam pertempuran laut “Battle of Surigao” yang berlangsung di teluk Leyte.
Pada fase awal PD II pecah, petinggi AL AS memakai ketiganya sebagai elemen penggemppur armada laut Sekutu di samudra Atlantik.
Selama pertempuran di wilayah Pasifik ketiganya sempat mengalami kerusakan lumayan serius akibat serangan udara maupun bunuh diri Kamikaze, Jepang namun semuanya lolos dari perang hingga berakhir.
Spesifikasi
Klasifikasi : Battleship
Asal : AS
Populasi : 3 ( New Mexico (BB40), Mississipi (BB41) dan Idaho (BB42) )
Selesai : 1917-1919
Awak : 1.323 orang
Bobot tempur : 36.000 ton
Dimensi : panjang 190.2m ; beam 29.7m : draught 10.4m
Propulasi : 6 tabung uap Bureau Express ; turbin buatan Westinghouse ; jumlah baling-baling 4 unit
Kemampuan : kecepatan 21.5 knot
Persenjataan : 12meriam 14 inci (356mm) ; 12-20 meriam 5 inci (127mm) ; 4 meriam antipesawat 3 inci (76mm)
Dassault Etendard IV
Dassault Etendard IV
Pada tahun 1950-an pesawat jet tempur yang dioperasikan oleh Angkatan Laut Perancis adalah jet tempur Aquilon, yang merupakan pesawat tempur de Havilland Sea Venom yang dibuat secara lisensi oleh perusahaan SNCASE. Pada saat yang bersamaan, Dassault juga sedang mengembangkan pesawat tempur baru yang diberi nama Etendard II dan merupakan hasil pengembangan dari Dassault Mystere. Semula Etendard ditawarkan kepada Angkatan Udara Perancis, namun kemudian ditolah karena AU Perancis lebih memilih Mirage III.
Setelah ditolak oleh AU Perancis, program pesawat tempur Etendard II dibatalkan oleh Dassault. Namun mengingat AL Perancis juga sedang mencari pesawat tempur sebagai pengganti Aquilon, maka kemudian Dassault mengembangkan pesawat tempur baru dengan berdasarkan rancangan pesawat Etendard II yang ditolak oleh AU Perancis. Pesawat tempur tersebut kemudian diberi nama Etendard IV dan berhasil melakukan first flight pada tahun 1958. Etendard IV dibuat sebanyak 90 unit dan dioperasikan oleh Angkatan Laut Perancis sejak tahun 1962.
Ada dua varian dari pesawat tempur ini, yaitu Etendard IVM yang merupakan strike fighter aircraft dan Etendard IVP yang merupakan pesawat tempur intai taktis. Sebagai pesawat tempur, kemampuan Etendard IV tidak terlalu spektakuler dan bahkan akhirnya lebih banyak ditugaskan sebagai attack and strike aircraft. Sementara untuk tugas-tugas fighter akhirnya AL Perancis membeli F-8 Crusader dari Amerika Serikat.
Pada tahun 1974 Dassault mengembangkang pesawat tempur Super Etendard yang merupakan hasil pengembangan Etendard IV dan mulai dioperasikan oleh Angkatan Laut Perancis pada tahun 1978. Walaupun demikian, Etendard IV tetap digunakan oleh Angkatan Laut Perancis dalam sejumlah operasi militer seperti operasi militer Perancis di Chad untuk menghadapi serangan pasukan Libya dan operasi pasukan perdamaian di Lebanon Selatan pada tahun 1982-1984. Varian Etendard IVM akhirnya dipensiunkan pada tahun 1991, sementara Etendard IVP masih digunakan sampai dengan tahun 2004 dan sempat digunakan dalam operasi militer NATO di Bosnia pada tahun 1994-1995.
Specifications (Etendard IVM)
Crew : 1
Powerplant : 1 x 43.16 kN SNECMA Atar 08B afterburning turbojet engine
Length : 14.40m
Wingspan : 9.60m
Height : 3.79m
Weight empty : 5,900 kg
Maximum take-off weight : 10,200 kg
Maximum speed : 1,099 km/h
Range : 3,300 km with external fuel tanks
Service ceiling : 15,500m
Armament : 2 x 30mm ADEN cannons; up to 1,360 kg (3,000 lb) of bombs, rockets, or missiles
Dassault Mirage III
Dassault Mirage III
Mirage III adalah salah satu pesawat tempur buatan Perancis yang sukses secara operasional maupun komersial. Pesawat tempur dengan sayap delta ini dibuat lebih dari 1.400 unit dalam berbagai varian dan digunakan oleh 20 negara. Negara-negara pengguna Mirage III adalah Abu Dhabi, Argentina, Australia, Belgia, Brazil, Chili, Kolumbia, Mesir, Perancis, Gabon, Israel, Lebanon, Libya, Pakistan, Peru, Afrika Selatan, Spanyol, Swiss, Venezuela, dan Zaire.
Sejarah Mirage III berawal pada tahun 1953 ketika pemerintah Perancis mengumumkan bahwa mereka membutuhkan pesawat tempur baru yang dapat digunakan sebagai all-weather interceptor dengan kemampuan terbang mencapai kecepatan Mach 1,8 dalam keadaan level flight dan dapat terbang mencapai ketinggian 18.000 hanya dalam waktu enam menit. Untuk memenuhi kebutuhan militer Perancis maka kemudian Dassault mengajukan rancangan Mystere-Delta 550.
Mystere-Delta 550 adalah hasil pengembangan dari pesawat tempur MD.452 Mystere dengan desain delta wing dan menggunakan dua mesin turbojet Arsmtrong Siddeley MD30R Viper. Desain delta wing ini sebetulnya mengakibatkan kemampuan manuver pesawat menjadi sedikit berkurang, dan mebutuhkan landasan yang lebih panjang dan kecepatan tinggi saat melakukan pendaratan. Namun desain delta wing ini juga mengakibatkan pesawat mudah untuk dibuat, mampu terbang dengan kecepatan tinggi, serta memiliki daya tampung bahan bakar yang lebih banyak.
Prototype Mystere-Delta 550 berhasil melakukan first flight pada tanggal 25 Juni 1955 dan setelah mengalami sejumlah pengembangan maka pesawat ini kemudian berganti nama menjadi Mirage I pada akhir tahun 1955. Hasil uji coba terbang Mirage I sebetulnya cukup memuaskan, namun pesawat ini berukuran terlalu kecil sehingga hanya mampu membawa persenjetaan berupa sepucu peluru kendali udara ke udara saja. Sebagai akibatnya, maka Mirage I tidak pernah memasuki tahap produksi dan prototype pesawat ini kemudian dihancurkan.
Berbekal pengalaman dari hasil pengembangan Mirage I, maka Dassault kemudian membuat pesawat yang berukuran lebih besar dan diberi nama Mirage II. Semula pesawat ini akan menggunakan mesin turbojet Turbomeca Gabizo. Namun kemudian diputuskan bahwa Mirage II akan menggunakan mesin turbojet SNECMA Atar yang jauh lebih bertenaga. Mesin SNECMA Atar sendiri pada dasarnya banyak menggunakan teknologi yang diperoleh dari hasil mempelajari mesin turbojet BMW 003 buatan Jerman yang berhasil direbut oleh Perancis pada akhir Perang Dunia II. Pada akhirnya desain Mirage II tidak pernah dibuat dan Dassault langsung melompat untuk mengembangkan pesawat tempur yang berukuran lebih besar dan diberi nama Mirage III.
Prototype Mirage III berhasil melakukan first flight pada tanggal 17 September 1956. Angkatan Udara Perancis ternyata puas akan hasil uji coba pesawat ini dan kemudian memutuskan agar Mirage III segera memasuki tahap produksi. Mirage III pun mulai digunakan oleh Angkatan Udara Perancis pada tahun 1961 dan terus mengoperasikan pesawat ini sampai akhirnya digantikan oleh Mirage pada tahun 1978-1982.
Walaupun merupakan pesawat tempur buatan Perancis, namun kehandalan dan kemampuan tempur Mirage III justru terlihat ketika dioperasikan oleh Angkatan Udara Israel. Israel menggunakan Mirage III secara besar-besaran dalam Perang Enam Hari tahun 1967, namun perang tersebut juga mengakibatkan Perancis melakukan embargo militer terhadap Israel dan kemudian mengakibatkan beralihnya penyuplai persenjataan terbesar Israel dari Perancis kepada Amerika Serikat. Walaupun demikian, Mirage III AU Israel masih digunakan dalam War of Attrition tahun 1970 dan Perang Yom Kippur tahun 1973. Mirage III eks AU Israel kemudian banyak dijual kepada Angkatan Udara Argentina pada akhir tahun 1970-an dan ikut bertempur dalam Perang Falkland melawan Inggris pada tahun 1982.
Selain Israel dan Argentina, Mirage III juga banyak digunakan oleh Angkatan Udara Afrika Selatan selama terlibat perang perbatasan dengan Angola. Karena menghadapi embargo militer sehubungan dengan praktek politik Apartheid, AU Afrika Selatan kemudian banyak melakukan peningkatan kemampuan Mirage III mereka dan menjadi pesawat tempur Atlas Cheetah. AU Afrika Selatan mengoperasikan Cheetah sampai dengan tahun 2008 dan kemudian digantikan oleh JAS-39 Grippen.
Saat ini negara-negara yang masih mengoperasikan Mirage III adalah Argentina, Kolumbia, Gabon, Libya, Pakistan, dan Zaire. Mirage III milik AU Pakistan banyak yang merupakan bekas pakai AU Australia, Lebanon, dan Spanyol yang diperoleh pada awal tahun 1990-an. AU Pakistan melakukan peningkatan kemampuan Mirage III melalui Project Rose (Retrofit Of Strike Element) sehingga Mirage III mereka masih akan terus dioperasikan sampai dengan tahun 2015 sebelum kemudian akan digantikan oleh pesawat tempur JF-17 Thunder hasil kerja sama Pakistan dengan RRC.
Specifications (Mirage III E)
Crew : 1
Powerplant : 1 x 58.9 kN SNECMA Atar 09C afterburning turbojet engine
Length : 15.00m
Wingspan : 8.22m
Height : 4.50m
Weight empty : 7,050 kg
Maximum take-off weight : 13,500 kg
Maximum speed : 2,350 km/h
Range : 2,400 km
Service ceiling : 17,000m
Armament : 2 x 30mm ADEN cannons; 2 x AIM-9 Sidewinder or Matra R550 Magic air-to-air missiles; up to 4,000kg (8,800lb) of bombs, rockets, or air-to-surface missiles
KRI Sanca ( 815 )
KRI Sanca ( 815 )
KRI Sanca (815) merupakan kapal TNI AL jenis bot Patroli Pantai .KRI Sanca merupakan usaha dari TNI AL dan pemerintah mengurangi ketergantungan dari pihak asing dalam masalah Alutsista.KRI Sanca di Produksi oleh Fasharkan Monokwari, Papua.
Kapal ini di buat dari bahan fiberglass mampu beroperasi di kawasan air dangkal yang tidak mampu di jangkau oleh kapal perang lainya.
KRI Sanca mempunyai panjang 36 meter dilengkapi dengan sepucuk meriam Oerlikon 20 mm/70 yang mampu memuntahkan 250 - 320 biji peluru permenit. Jarak jangkuan meriam adalah sejauh 4.3 kilometer dengan berat peluru .1 kilogram.
Meriam Oerlikon 20 mm/70 ini merupakan senjata pertahanan udara jarak-dekat terhadap pesawat dan Helikopter Selain itu ia merupakan senjata untuk menghancurkan kapal-kapal kecil (terbatas).
Selain itu ia juga dilengkapi dengan 1 - 2 pucuk mesingan 12.7 mm sebagai senjata pendukung.
KRI Sanca mampu bergerak dengan kecepatan 31 knot.
Sud-Ouest S.O.450 Vautour II
Sud-Ouest S.O.450 Vautour II
Sud-Ouest S.O.450 Vautour II pada awalnya diracanga sebagai medium bomber dan prototype pesawat ini berhasil melakukan first flight pada tanggal 16 Oktober 1952 dan mulai digunakan secara operasional pada 1958. Pesawat ini hanya dibuat sebanyak 140 unit dan selain dioperasikan oleh Angkatan Udara Perancis, pesawat ini juga digunakan oleh Angkatan Udara Israel.
Ada tiga varian dari pesawat tempur ini, yaitu :
Varian attack aiircraft Vautour II. Diproduksi sebanyak 30 unit, 25 unit di antaranya kemudian dijual kepada Israel.
Varian bomber Vautour II. Diproduksi sebanyak 40 unit. 36 unit dioperasikan oleh Angkatan Udara Perancis dan sisanya dijual kepada Israel untuk kemudian diubah menjadi pesawat intai taktis.
Varian night fighter Vautour IIN. Varian ini dilengkapi dengan radar dan dibuat sebanyak 70 unit. Sebanyak 63 unit digunakan oleh AU Perancis dan sisanya dijual kepada Israel. Varian vautour IIN milik Israel kemudian diubah menjadi attack aircraft setelah AU Israel menerima Mirage IIIC.
Vautour II dioperasikan oleh AU Perancis dari tahun 1958 sampai dengan tahun 1973 dan kemudian digantikan oleh Mirage F1. Pesawat ini tidak pernah digunakan dalam pertempuran oleh AU Perancis, namun ikut digunakan dalam Perang Enam Hari tahun 1967. AU Israel mengoperasikan Vautour II dari tahun 1957 dan pada tanggal 6 Juni 1967 sebuah Vatour II milik AU Israel dengan pilot Kapten Ben-Zion Zohar berhasil menembak jatuh sebuah Hawker Hunter milik Irak dan menjadi satu-satunya air kill yang dicatat oleh pesawat tempur ini.
AU Israel mengoperasikan Vautour II sampai dengan tahun 1970 sebelum kemudian digantikan oleh A-4 Skyhawk dan F-4 Phatom II.
Specifications (Vautour IIA)
Crew : 1
Powerplant : 2 x 34.3 kN SNECMA Atar 101E-3 turbojet engines
Length : 15.57m
Wingspan : 15.09m
Height : 4.50m
Weight empty : 10,000 kg
Maximum take-off weight : 20,000 kg
Maximum speed : 1,105 km/h
Range : 3,200km
Service ceiling : 15,000m
Armament : 4 x 30mm DEFA cannons; internal weapon bay for 6 x 454 kg (1,000 lb) bombs or 240 x 68mm rockets; underwing pylons for up to 4,000 kg (8,800 lb) of bombs, rockets, or missiles
Fouga CM.170 Magister
Fouga CM.170 Magister
Fouga CM.170 Magister adalah salah satu pesawat latih jet pertama yang diproduksi dan digunakan secara operasional. Prototype pesawat ini berhasil melakukan first flight pada tanggal 23 Juli 1952 dan mulai digunakan secara operasional pada tahun 1956. Pesawat latih jet ini cukup sukses secara komersial dan digunakan oleh 24 negara, termasuk Perancis, Israel, Belgia, Irlandia, dan Brazil. Selain varian CM.170 Magister, pesawat ini juga dibuat dalam varian CM.175 Zephyr yang merupakan pesawat latih jet yang dapat dioperasikan dari atas kapal induk dan digunakan oleh Angkatan Laut Perancis.
Walaupun dirancang sebagai pesawat latih, namun Fouga Magister dapat pula difungsikan sebagai pesawat tempur ringan seperti yang dilakukan oleh Angkatan Udara Israel dalam Perang Enam Hari tahun 1967. Pesawat ini juga digunakan oleh beberapa team aeorabtik seperti Silver Swallows dari Korps Udara Irlandia, Diables Rouges (The Red Devils) Angkatan Udara Belgia, dan Esquadrilha da Fumaca (Smoke Squadron) Angkatan Udara Brazil.
Negara pengguna terakhir Fouga Magister adalah Belgia yang baru mempensiunkan pesawat ini pada tahun 2007.
Specifications (CM.170-1 Magister)
Crew : 2
Powerplant : 2 x 3.92 kN Turbomeca Marbore IIA turbojet engines
Length : 10.06m
Wingspan : 12.15m
Height : 2.80m
Weight empty : 2,150 kg
Maximum take-off weight : 3,200 kg
Maximum speed : 715 km/h
Range : 925 km
Service ceiling : 11,000m
Armament : 2 x 7.62mm machine guns; up to 140 kg (310 lb) of bombs or rockets
Atlas Cheetah
Atlas Cheetah
Atlas Cheetah merupakan pesawat tempur digunakan oleh Angkatan Udara Afrika Selatan dimulai pada 1986 hingga 2008. Ia pertama kalinya dibangun sebagai program peningkatan utama atas pesawat Dassault Mirage III oleh Atlas Aircraft Corporation (kemudian Denel) dari Afrika Selatan. Tiga versi telah dikeluarkan, yaitu pesawat dua kursi Cheetah D, dan satu tempat duduk Cheetah E dan Cheetah C
penggunaannya telah dihentikan akibat penerimaan dan pengoperasian 26 pesawat Saab JAS 39 Gripen (17C/9D) yang telah diperoleh dari Swedia.
Karakteristik umum
* Awak kapal: one, pilot
* Panjang: 15.55 m (51.0 kaki)
* Lebar sayap: 8.22 m (26.97 kaki)
* Tinggi: 4.50 m (14.76 kaki)
* Area sayap: 35 m² (376.7 kaki ²)
* Berat kosong: 6,600 kg (14,550 lb)
* Berat perjalanan maksimum: 13,700 kg (30,200 lb)
* Mesin: 1 × Snecma atar 9K50C-11 turbojet, 7,200 kgf (71 kN, 15,900 lbf)
* Luas kanard: 17.87 kaki ² (1.66 m²)
* Kecepatan maksimum:
o Di ketinggian: Mach 2.2 (1,460 mph, 2,350 km / j)
o Di permukaan laut: Mach 1.13 (865 mph, 1,390 km / j)
* Jarak: 700 mil laut (1.300 km)
* Jarak maksimum: 1.400 mil laut (2.600 km)
* Lelangit layanan 55,755 kaki (17.000 m)
* Beban sayap: 250 kg / m² (52 lb / ft ²)
* Dorongan / berat: 15,873 lb (70.6 kN) dengan afterburner
* Maksimum daya-g: Tidak diketui
Persenjataan
* Meriam: 2 × meriam DEFA 552 kaliber 30 mm dengan 125 peluru setiap meriam
* Roket: 4 × pod roket Matra dengan 18 × roket SNEB 68 mm 19 × roket SNEB 68 mm dan 66 galon (250 liter) bahan bakar
* Rudal: 2 × Python 3 AAM, V4 R-Darter (rudal BVR), U / Darter, V3C Darter
* Bom: 8,800 lb (4.400 kg) kapasitas persenjataan pada lima hardpoint, termasuk 250 kg bom panduan laser, bom panduan GPS
Langganan:
Postingan (Atom)


