Jumat, 17 Desember 2010

XM26 LS

XM26 LS

Pabrikan C-More Systems mencoba menyempurnakan konsep Masterkey dengan menghadirkan XM26 LSS ( Lightweight Shotgun Systems ). Jika pada Masterkey operator kesulitan memompa shotgun karena posisi slide yang ada di depan, C-more merancang XM26 untuk di operasikan dengan sistem bold Action, sehingga waktu reaksi mengokang menjadi jauh lebih cepat. Tidak cuman itu, XM26 juga menawarkan sistem pengisian peluru menggunakan kota magasen agar operator bisa melakukan pengisian peluru jauh lebih cepat dibanding harus mengisikan peluru satu per satu pada shotgun macam Masterkey. Soal peluru, XM26 juga bisa diisikan dengan peluru penjebol pintu, peluru pejal buckshot atau peluru berisikan CS gas untuk kendali huru-hara. Sejauh ini, sejumlah kecil XM26 sudah dirilisi untuk pasukan AS Afganistan, terutama dari 10th Mountain Division.

Kapasitas peluru: 5
Kaliber 12 Geuge
Berat sistem 1,22 Kg

Minggu, 12 Desember 2010

AEROSPATIALE AS 366G Dauphin

AEROSPATIALE AS 366G Dauphin

Dauphin awalnya dirancang sebagai SA 360, sebuah helikopter bermesin tunggal dengan roda pendarat pesawat tetap yang pertama terjadi pada tanggal 2 Juni 1972. Desain hanya datang usia dengan roda pendarat kembar ditarik dan mesin untuk meningkatkan kehandalan dalam kelautan dan Search-dan-Rescue (SAR) operasi, prototipe yang pertama kali diterbangkan pada 24 Januari 1974. Tipe telah menikmati kesuksesan luar biasa di seluruh dunia, operator yang paling penting menjadi US Coast Guard yang helikopter, yang ditunjuk HH-65, yang diproduksi secara lokal di Amerika Serikat.

Tiga Dauphins bergabung dengan IAF Mei 1985, Angkatan Laut pengadaan dana untuk mengoperasikan rudal dari kapal Angkatan Laut. Bertugas untuk patroli maritim dan SAR, Dolphins (karena mereka dikenal di IAF) berada di bawah komando Angkatan Laut, walaupun ditempatkan di sebuah pangkalan IAF dan dioperasikan oleh skuadron helikopter maritim IAF's. Pada misi terbang bersama perahu rudal Angkatan Laut awak dua orang itu ditambah dengan seorang insinyur penerbangan dan seorang perwira Angkatan Laut untuk mengoperasikan radar pencarian helikopter dan berkoordinasi dengan pusat operasi tempur perahu '. The Dolphins sudah pensiun pada tahun 1997, digantikan oleh Panther Aerospatiale, sebuah Dolphin ditingkatkan.

Spesifikasi: Aerospatiale SA 366 Dauphin (Dolphin)
Jenis: dua awak patroli maritim dan helikopter SAR.
Mesin: 2 * Avco LTS Lycoming-101-750.
Kinerja: Kecepatan max - 257kmh, langit-langit - 2600m, rentang - 465km.
Bobot: kosong - 2717kg, berat max - 4048kg.
Dimensi: diameter rotor - 11.94m, panjang - 13.88m, tinggi - 3.98m.
Persenjataan: tidak ada.

T-50 GOLDEN EAGLE

T-50 GOLDEN EAGLE

T-50 Golden Eagle adalah pesawat latih supersonik buatan Amerika-Korea. Dikembangkan oleh Korean Aerospace Industries dengan bantuan Lockheed Martin. Program ini juga melahirkan A-50, atau T-50 LIFT, sebagai varian serang ringan.

Walaupun militer Amerika Serikat tidak ada rencana untuk membeli pesawat ini , tapi penamaan militer amerika secara resmi diminta untuk pesawat ini guna menghindari konflik penamaan dikemudian hari.

Pengembangan

Program T/A-50 dimaksudkan sebagai pengganti dari berbagai pesawat latih dan serang ringan. Ini termasuk T-38 dan F-5B untuk pelatihan dan Cessna A-37BClose Air Support; yang dioperasikan AU Republik Korea.[rujukan?] Program ini pada awalnya dimaksudkan untuk mengembangkan pesawat latih secara mandiri yang mampu mencapai kecepatan supersonik untuk melatih dan mempersiapkan pilot bagi pesawat KF-16 (F-16 versi korea). T-50 mmembuat Korea Selatan menjadi negara ke-12 yang mampu memproduksi sebuah pesawat tempur jet yang utuh. Beberapa produk korea lainnya adalah KT-1 produk Samsung Aerospace (sekarang bagian dari KAI), dan produk lisensi KF-16. Sebagian besar sistem utama dan teknologinya disediakan oleh Lockheed Martin, secara umum bisa disebut T/A-50 mempunyai konfigurasi yang mirip dengan KF-16.

Pengembangan pasawat ini 13% dibiayai oleh Lockheed Martin, 17% oleh Korea Aerospace Industries, dan 70% oleh pemerintah Korea Selatan. KAI dan Lockheed Martin saat ini melakukan program kerjasama untuk memasarkan T-50 untuk pasar internasional.

Program induknya, dengan nama kode KTX-2, dimulai pada 1992, tapi Departemen Keuangan dan Ekonomi menunda program KTX-2 pada 1995 karena alasan finansial. ( with the initial design of the aircraft, in 1999. It was renamed T-50 Golden Eagle in February 2000, with the final assembly of the first T-50 taking place between 15 January, 2001.) Penerbangan pertama T-50 terjadi pada Agustus 2002, dan pengujian tugas operasional pertama mulai Juli 28 sampai 14 Agustus, 2003. Angkatan Udara Korsel menandatangani kontrak produksi untuk 25 T-50 pada Desember 2003, dan pengiriman dijadwalkan pada 2005 sampai 2009.

Varian

Varian lain dari T-50 Golden Eagle termasuk pesawat serang ringan A-50, dan pesawat yang lebih canggih FA-50. The A-50 variant is an armed version of the T-50 as a stable platform for both free-fall and precision-guided weapons. FA-50 is an A-50 modified with an AESA radar and a tactical datalink which are not yet specified. As part of the A-37 retirement-out program to be completed by 2015, sixty A-50's will be in service for the South Korean air force by 2011.

Persenjataan

Kanon 20 mm General Electric M61 Vulcan dengan 205 peluru diumpankan linear tanpa sambungan (linkless linear feed) yang bisa dipasang internal tepat di belakang kokpit. Sebuah rudal udara keudara pencari panas AIM-9 Sidewinder bisa dipasangkan pada setiap rel di ujung sayap, dan rudal-rudal yang lain bisa dipasang di cantelan bawah sayap.[9] Senjata udara ke darat yang kompatibel diantaranya adalah rudal AGM-65 Maverick, peluncur roket LAU-3 dan LAU-68 , bom kluster CBU-58 and Mk-20, dan bom multiguna Mk-82, Mk-83, dan Mk-84 . Tiga tangki bahan bakar minyak eksternal bisa juga dipasang dipesawat ini.

Operator

Republik Korea

Spesifikasi

Karakteristik umum

Kru: 2
Panjang: 42 ft 7 in (12.98 m)
Lebar sayap: 30 ft 1 in (9.17 m)
Tinggi: 15 ft 8.25 in (4.78 m)
Berat kosong: 14,200 lb (6,441 kg)
Berat maksimum lepas landas: 26,400 lb (11,985 kg)
Mesin: 1× General Electric F404 afterburning turbofan
Dorongan kering: 11,925 lbf (53.07 kN)
Dorongan dengan afterburner: 17,775 lbf (79.1 kN)

Performa

Kecepatan maksimum: Mach 1.4
Jarak jangkau: 1,150 mi ()
Batas tertinggi servis: 48,000 ft (14,630 m)

Persenjataan

Guns: 1× M61A1 Vulcan 20 mm Gatling gun
Rockets: LAU-3/68

Missiles:

Air-to-air: 2× AIM-9 Sidewinder
Air-to-ground: 6× AGM-65 Maverick
Bombs: 5× CBU-58 cluster, 9× Mk 82, 3× Mk 83/MK 84, and 9× Mk 20.

USS Independence (LCS-2)

USS Independence (LCS-2)
USS Independence (LCS-2) adalah prototipe untuk kapal dari kelas Independence littoral combat ship, di mana angkatan laut Amerika Serikat akan mempunyai kapal dari kelas ini sebanyak 6 buah. Dan kapal ini diproduksi oleh konsorsium General Dynamics untuk angkatan laut Amerika Serikat pada program littoral combat ship. Dan kapal kelas USS Independence (LCS 2) ini akan bersaing dengan Lockheed Martin yang merancang USS Freedom (LCS 1).
Kapal ini merupakan kapal tempur angkut ringan yang dapat berperan dalam berbagai kemampuan dengan cara pemasangan modul misi. Kapal dirancang dengan bentuk trimaran yang dapat melaju dengan kecepatan lebih dari 40 knot ( 74 km/jam atau 46 mil/jam) dan saat ini telah diserahkan kepada pihak angkatan laut Amerika Serikat pada akhir tahun 2009 yang lalu.

Desin dari USS Independence (LCS-2) ini berdasarkan pada trimaran kecepatan tinggi (Benchijigua Express) yang dibangun oleh Austral (Henderson Australia). Kapal permukaan ini mempunyai panjang 127 meter dengan jumlah pelaut sebanyak 40 orang. Dan kapal ini sebenarnya masih dapat dipacu sampai kecepatan 50 knot ( 90 km/jam atau 60 mil/jam) dengan radius sejauh 10.000 mil laut (19.000 km).
Kapal ini dapat memuat muatan sampai volume 11.000 meter kubik dan untuk pesawat helikopter tersedia dek seluas 1.030 meter persegi sehingga dapat mendukung pengoperasian 2 helikopter SH-60 Sea Hawk, beberapa UAV atau satu buah helicopter CH 53 Sea Stallion.
Kapal ini juga membawa beberapa persenjataan sehingga mempunyai kemampuan untuk membela diri. Namun demikian tidak seperti kapal tempur tradisional yang lainnya yang membawa persenjataan tetap seperti meriam dan peluru kendali. Modul misi kapal ini dapat disusun untuk satu paket misi untuk suatu waktu. Modul dapat terdiri dari pesawat berawak, pesawat tak berawak, off board sensor dan lain sebagainya.
USS Independence (LCS-2) ini berintegrasi dengan LOS Mast, Sea Giraffe 3D radar dan SeaStar Safire FLIR.Bagian samping dan depan bentuknya menyudut untuk mengurangi profil radar. Sebagai tambahan yang berupa helikopter dari keluarga H-60 yang berguna untuk angkut udara, SAR, anti kapal selam, dan anti kapal permukaan dengan adanya rudal dan torpedo yang dibawa oleh helikopter tersebut.
Sistem pertahanan rudal Raytheon Evolved SeaRAM dipasang pada bagian atas atap hangar. SeaRAM dikombinasikan dengan sensors dari Phalanx 1B close-in weapon system dengan 11 peluncur peluru kendali untuk Rolling Airframe Missile (RAM), dibuat sistem yang bekerja secara otomatis.
Northrop Grumman pernah mendemontrasikan gabungan sensor baik on dan off-board sistem di Integrated Combat Management System (ICMS) yang dipakai di Independence.

Dan secara umum rincian spesifikasinya adalah sebagai berikut :
Nama : USS Independence (LCS-2)
Pembangun : Austal (Henderson, Australia)
Diluncurkan : 26 April 2008
Mulai beroperasi : 16 Januari 2010
Status : aktif mulai thun 2010.
Pangkalan : San Diego.

Karakteristik umum :
Kelas dan tipe : Independence, littoral combat ship
Berat : 2.176 ton kosong dan 2.784 ton penuh.
Panjang : 127,4 m (418 kaki).
Tinggi : 31.6 m (104 kaki)

Propulsion: 2× MTU Friedrichshafen 20V 8000 Series diesel engines, 2x General Electric LM2500 gas turbines[3], 2x American VULKAN light weight multiple-section carbon fiber propulsion shaftlines, 4x Wärtsilä waterjets[4], retractable bow-mounted azimuth thruster, 4× diesel generators
Speed: 44 knots (51 mph; 81 km/h)
Range: 4,300 nm at 18 knots
Capacity: 210 metric tons (206 long tons, 231 short tons)
Complement: 40 core crew (8 officers, 32 enlisted) plus up to 35 mission crew
Sensors and
processing systems:

* SAAB Sea GIRAFFE 3D air and surface search radar
* Sperry Marine BridgeMaster E navigational radar
* AN/KAX-2 electro-optical sensor with TV and FLIR
* Northrop Grumman ICMS (Integrated Combat Management System)

Electronic warfare
and decoys:

* ITT Corporation ES-3601 ESM system
* 4× SRBOC decoy launchers for chaff and infrared decoys
* BAE Systems NULKA active radar decoy system

Armament:

* 1x BAE Systems Mk 110 57 mm gun
* 4× .50-cal guns (2 aft, 2 forward)
* 1x Raytheon SeaRAM CIWS
* Other weapons as part of mission modules

Aircraft carried:

* 2× MH-60R/S Seahawk
* MQ-8 Fire Scout

KRI Krait (827)

KRI Krait (827)

Membuat kapal perang (KRI) berbahan dasar aluminium yang sukses dilakukan di Batam bukanlah sesuatu pekerjaan yang muda. Selain dikejar waktu, KRI itu haruslah sesuai standar marine class.

Bukan saja persoalan waktu, biaya yang diploting dalam anggaran Mabes TNI-AL tidaklah mencukupi untuk membuat sebuah kapal bagus berstandar internasional itu. Buktinya, dalam proses pembuatan saja sudah tiga kali gambar (design) kapal tersebut diganti, hanya untuk suatu alasan yang lumrah, yakni anggaran tak mencukupi.

Desain awal, seharunya kapal perang itu berkecepatan 32 knot. Itu berarti mesin yang dibutuhkan haruslah mesin 2.700 HP (horse power) x 2. Namun, harga mesin sebesar itu mencapai kurang lebih Rp8 miliar sampai Rp10 miliar untuk satu buah mesinnya.

Desain yang telah susah payah dibuat, kemudian diganti dengan merancang kapal berkecepatan di bawahnya, yakni ukuran 1,250 HP x 3 dengan kecepatan 28 knot. Lagi-lagi tersandung pendanaan. Karena selisih harganya tak sedemikian signifikan. Rancangan kapal kembali dirubah terutama pada hull (bawah air) kapal tersebut. ”Dengan perubahan itu, para desainer kapal itu harus bekerja ekstra dan berhati-hati,” kata perwira pengawas (pawas) pembangunan Fasharkan Mentigi Kapten Gatot Arijanto ketika ditemui Batam Pos, belum lama ini.

Akibat terkendala dana tersebut, ia bersama jajarannya kembali mengajukan proposal ulang dengan desain berkapasitas lebih kecil, yakni kecepatan kapal mencapai 20 knot, dengan desain mesin 1250 HP x 2, yakni mesin MAN buatan Jerman berstandar marine class. Setelah mendapat persetujuan Mabes TNI-AL dengan rancangan yang ada, kendala lain terus muncul, yakni tenaga kerja lapangan yang akan membuat kapal tersebut dari titik nol. Perlu shipyard yang berpengalaman dan mampu menyelesaikan pekerjaan kapal tersebut.

Dilakukanlah survei keliling di seluruh shipyard yang ada di Batam. Dari keseluruhan yang dikunjungi, hanya sekitar empat hingga enam shipyard yang sanggup mengerjakan kapal tersebut, namun tak semunya memiliki lisensi seperti yang diharapkan. Alumni teknik perkapalan Universitas Hang Tuah Surabaya itu, mengaku nekat menggandeng PT Batam Express Shipyard (BES) yang nota bene perusahaan galangan milik anak bangsa.

Bersama pimpinan tertinggi Fasharkan Mentigi Uban, yakni Kolonel Sugeng dan dua anak buahnya masing-masing Lettu Syahrul dan Agus Santoso, memutuskan untuk tetap menyelesaikan pekerjaan tersebut. ”Ditetapkan PT BES sebagai pelaksana pekerjaan itu bukanlah tanpa kendala,” kata dia. Pasalnya, PT BES belum pernah membuat kapal perang (KRI) terutama kapal yang memiliki linggi (haluan) yang agak ekstrim serta memiliki spesifikasi khusus.

Sumber daya manusia (SDM) lokal yakni putra-putri Indonesia yang berada di shipyard PT BES yang diawasi Fasharkan Mentigi selama 14 bulan secara bahu-membahu melaksanakan proyek itu. KRI made in Indonesia berbahan aluminium itu adalah kapal pertama yang mampu dikerjakan anak bangsa. Walau buatan dalam negeri, material pembuat kapal itu umumnya didatangkan dari luar negeri. ”Untuk plat aluminium ukuran 4 milimeter sampai 30 milimeter harus dibeli dari Italia, Yunani, bahkan Afrika Selatan. Mesinnya dibeli di Jerman. Sedangkan jaringan elektrikal (Schendier) dari Prancis,” ujar Gatot.

KRI Krait sendiri memiliki sistem pendukung pengaman untuk peluncuran rudal ke permukaan (SSM), radar marting (penandaan) yang bisa membaca nama kapal musuh. Walau terus mengalami banyak perubahan yang kadang membingungkan, namun Direktur PT BES Djuhairi Dahlan kepada Batam Pos, mengaku tetap optimis kapal produksi putra-putri Indonesia itu bakal sukses diselesaikan.

Program alih teknologi antara PT BES dan Fasharkan Mentigi untuk menyelesaikan KRI tersebut akhirnya tercapai. ”Hanya satu tujuan, yakni menunjukkan pada negara lain bahwa Indonesia juga mampu mendesain, membuat, dan memiliki kapal perang berbahan aluminium,” imbuh Djuhairi.

Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso disaksikan KSAL Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno meresmikan dua unit Kapal Perang RI (KRI) jenis Patroli Cepat (PC-40) yang dibuat oleh Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (Fasharkan) TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau. Dua kapal yang diresmikan di Dermaga Fasharkan Mentigi, Rabu (7/1/2009), itu adalah KRI Krait-827 dan KRI Tarihu-829.

Upacara peresmian dua KRI tersebut selain ditandai dengan penaikan bendera merah putih, ular-ular perang dan lencana perang di KRI juga ditandai dengan penyematan tanda jabatan oleh Panglima TNI kepada Komandan KRI Krait-827 Kapten Laut (P) Agus Darmawan dan Komandan KRI Tarihu-829 Kapten Laut (P) Tonny Sumarno.

Zastava M93 Black Arrow

Zastava M93 Black Arrow

Zastava M93 Black Arrow merupakan rifle penembek tepat (Sniper) jarak jauh dan anti-material. Dibangun dan dikeluarkan oleh pembuat senjata terkemuka Republik Serbia iaitu Zastava Arms.

Pengenalan

M93 Black Arrow dibangunkan menggunakan sistem bolt-action yang diadaptasi dari sistem rifle terkenal Tentera Nazi semasa perang dunia ke 2 iaitu Mauser M48. Sistem Mauser M48 telah lama berkhidmat dalam ketenteraan Serbia dan dipercayai sebagai yang terbaik didunia. M93 Black Arrow telah mula digunakan oleh Tentera Serbia dan Tentera Republik Macedonia sejak tahun 1998.

Ciri-ciri & spesifikasi

a) Berat : 14 - 16 kg mengikut variasi peluru yang digunakan.

b) Panjang Keseluruhan : 1500 - 1670 mm mengikut variasi peluru yang digunakan.

c) Jenis Peluru : DSHK 12.7 x 108 mm dan Browning 12.7 x 99 mm (Standard NATO)

d) Jarak tembakan effektif : 1850 meter

e) Jarak penglihatan : 1800 meter jika menggunakan optik jenis 8 x 32 (8 kali pembesaran imej)

Douglas SBD-Dauntless

Douglas SBD-Dauntless

Dive bomber andalan AL dan Korps Marinir AS selama Perang Dunia II. Dengan pesawat pembom inilah AL AS meraih kemenangan besar dalam Battle of Midway, menenggelamkan empat kapal induk Jepang.

Para awak pesawat ini menjulukinya sebagai pesawat yang "Slow But Deadly"

Spesfikasi :
Crew : 2
Length : 10.08 m
Wingspan : 12.65 m
Height : 4.14 m
Weight : 2,905 kg empty ; 4,843 kg loaded
Powerplant : 1 x 1,200 hp Wright R-1820-60 radial engine
Maximum speed : 410 km/h
Range : 1,240 km
Service ceiling : 7,780 m
Armament :
2 x 0.50 cal machine guns
2 x 0.30 cal machine guns
up to 1,020 kg of bombs

Consolidated B-32 Dominator

Consolidated B-32 Dominator

Sebetulnya B-32 dipesan dan dikembangkan pada saat yang bersamaan dengan pengembangan B-29. Makanya lihat aja ekornya, mirip B-17/B-29 kan? Juga kokpitnya yang mirip B-24.

Namun pengembangannya mengalami masalah pada sistem persenjataan dan kokpit. Pesawat ini sebetulnya dirancang memiliki radio controlled turret gun dan pressurized cabin seperti pada B-29, namun ternyata Consolidated tidak bisa mengembangkan seperti apa yang diterapkan Boeing pada B-29. Walhasil B-32 menjadi tanggung, dengan sistem persenjataan bela diri sama seperti B-24 namun dengan kemampuan angkut bom sama dengan B-29.

Tapi karena B-29 operasional terlebih dahulu (dan cukup sukses), nasib B-32 yang tersendat-sendat pengembangannya pun berakhir. Hanya sempat dibuat sebanyak 115 unit dan baru dikirim ke skadron pembom pada bulan Maret 1945. Hanya sempat digunakan dalam 2-4 kali misi pemboman saja.

Spesifikasi B-32
Crew : 10
Powerplant : 4 x 2,300hp Wright R-3350-23 Duplex Cyclone
Wingspan : 41.15m
Leght : 25.33m
Height : 9.98m
Empty weight : 27,340kg
Loaded weight : 50,576kg
Maximum speed : 587km/h
Range : 4,815km
Service ceiling : 11,000m
Armament :
20 x 0.50 cal machine guns
up to 9,100kg of bombs