Rabu, 05 Januari 2011

Bristol Type 164 Brigand

Bristol Type 164 Brigand

Pada tahun 1942 Angkatan Udara Inggris meminta perusahaan Bristol untuk membuat versi Bristol Type 156 Beaufighter yang bisa terbang lebih cepat untuk misi-misi serangan anti kapal laut. Pada saat tersebut perusahaan Bristol juga sebetulnya telah membuat medium bomber Bristol Type 163 Buckingham, namun hanya diproduksi secara terbatas dan lebih banyak digunakan sebagai pesawat angkut. Team desain Bristol di bawah pimpinan Leslie J.Frise kemudian mengembangkan pesawat tempur baru untuk memenuhi kebutuhan RAF tersebut dengan berdasarkan rancangan Bristol Buckingham. Pesawat tempur itu adalah Bristol Type 164 Brigand yang berhasil melakukan first flight pada tanggal 4 Desember 1944.

Sayangnya pada saat Brigand berhasil melakukan first flight, Perang Dunia II sudah mulai mendekati akhir sehingga akhirnya pesawat ini hanya diproduksi sebanyak 147 unit saja dan mulai digunakan oleh Angkatan Udara Inggris pada tahun 1946. Pada awalnya Brigand dioperasikan oleh RAF Coastal Command pada tahun 1946-1947 sebelum kemudian fungsinya dialihkan sebagai ground attack aircraft. Pesawat tempur ini kemudian digunakan oleh sakdron-skadron RAF di Malaya dan Kenya. Walaupun banyak mengalami masalah teknis karena iklim tropis di Malaya, namun pesawat ini banyak digunakan untuk menghadapi gerilyawan komunis di Malaya sebelum akhirnya digantikan oleh de Havilland Hornet pada tahun 1952-1953. Brigand sendiri kemudian digunakan sebagai pesawat latih sebelum akhirnya dipensiunkan oleh RAF pada tahun 1958.
Selain RAF, Bristol Brigand juga digunakan oleh Angkatan Udara Pakistan.

Specifications (Brigand B1)
Crew : 3
Powerplant : 2 x 2,165 hp Bristol Centaurus 57 radial piston engines
Length : 14.20m
Wingspan : 22.10m
Height : 5.00m
Weight empty : 12,470 kg
Loaded weight : 17,320 kg
Maximum speed : 576 km/h
Range : 3,380 km
Service ceiling : 7,920m
Armament : 4 x 20mm Hispano Mk.V cannons; 16 x RP-3 60-lb rockets; 1 x 22 inch torpedo or up to 907 kg (2,000 lb) of bombs

Sabtu, 01 Januari 2011

B1 Centauro

B1 Centauro

B1 Centauro merupakan panser perusak dengan suspensi 8X8, yang mampu mengemban tugas sebagai kendaraan pertahanan teretorial ringan hingga sedang serta kendaraan intai tempur taktis. Dikembangkan oleh dua konsorsium perusahaan asal Italia; The Consorzio Iveco Fiat - Oto Melara (CIO). Senjata utama yang di gotong varian B1 Centauro adalah Oto Melara 105 mm / 52 caliber gyrostabilised gun sedangkan untuk tambahan masih ada senapan mesin koaksial MG kaliber 7.62 mm dan senapan mesin anti pesawat MG kaliber 7.62 mm yang mampu melontarkan sekitar 4.000 butir amunisi, jika masih dirasa kurang, dua peluncur roket masih sanggup di gotongnya. 

Jumlah kru yang mengoperasikan panser ini adalah 4 orang yang terdiri dari 1 komandan, 1 juru tembak, 1 pengisi amunisi dan terakhir 1 orang pengemudi. Dengan dibekali mesin supercharged V6 diesel 512 hp (382.2 kW) Centauro dapat lari hingga kecepatan 110 km/jam, dengan jarak tempuh maksimum 800 km

B1 Centauro masih mempunyai dua saudara kandung yaitu Freccia yang berfungsi sebagai kendaraan tempur ringan dengan persenjataan Dardo turret dan mampu mengangkut 8 personel plus satu pengemudi dan satu juru tembak. Dan satunya lagi adalah Centauro 120mm, sesuai dengan namanya untuk panser yang satu ini menggotong kanon 120/45 , yang di proyeksikan sebagai pengganti Leopard 1A5 Angkatan Darat Italia. Sampai saat ini operator dari keluarga Centauro ada dua negara yaitu Italia dan Spanyol dengan total jumlah produksi mencapai sekitar 733 unit.

Bofors 57mm Mk110

Bofors 57mm Mk110

Bofors 57mm Mk110, adalah meriam yang masuk dalam jenis Close-in Gun System (CIGS). Dan meriam ini merupakan pengembangan dari meriam pendahulunya yaitu mk3, jika Mk110 di produksi oleh United Defense Inc., maka Mk3 diproduksi oleh Bofors Defence of Sweden yang merupakan anak perusahaan dari United Defense Inc. 

Meriam dengan kaliber 57 mm ini, saat ini banyak di pasang pada kapal-kapal yang berjenis Littoral Combat Ship (LCS) alias kapal yang bertugas menjaga pantai serta kapal-kapal yang masuk dalam kategori DD(X) next-generation destroyer yang saat ini sedang di kembangkan oleh pabrik Raytheon.

Mk110 di desain sebagai meriam yang dapat beroperasi secara otomatis dan mempunyai kemampuan memuntahkan amunisi dari jenis Bofors Mk295 Mod O 3P ammunition secara cepat (rapid fire), meriam ini juga telah di program dengan rapid-switchover ammunition untuk operasi pencegatan di laut, sehingga dalam penggunaannya nanti akan terdiri dari beberapa tahap tembakan mulai dari tembakan peringatan, kemudian di susul dengan tembakan nonexplosive dan yang terakhir (jika sasaran masih bandel) tembakan yang mematikan.

BM-30 Smerch, Si Penebar Maut

BM-30 Smerch

BM-30 Smerch alias tornado, merupakan peluncur roket dari jenis MLRS atau peluncur roket multi laras, yang awalnya diproduksi untuk digunakan oleh angkatan bersenjata Uni Soviet. Sejak keruntuhan negara Uni Soviet, diperkirakan sekitar 106 unit BM-30 Smerch diwarisi oleh artileri angkatan bersenjata Russia. Di tahun 1996, BM-30 Smerch mulai di ekspor ke negara Kuwait sebanyak 27 unit, kemudian di susul oleh Aljazair yang turut mengimpor sebanyak 18 unit. 

Kabar paling baru adalah pembelian peluncur roket ini oleh India yang berencana akan membeli sebanyak 38 unit pada tahun 2008 dan dilanjutkan lagi pada tahun 2010 sebanyak 24 unit, total dari pembelian tersebut bernilai US$ 750 juta.

Sebenarnya BM-30 Smerch yang mempunyai kode 9K58 ini mempunyai dua komponen utama, yaitu kontainer peluncur roket dan truk peluncur 9A52-2 hasil modifikasi chasis truk MAZ-543M, yang mempunyai panjang 12 m lebar 3.05 m dan tinggi 3.05 m. Sedang untuk kontainer peluncur roket, mempuyai daya tampung 12 tabung roket kaliber 300mm dengan berbagai macam hulu ledak, roket-roket ini mampu meluncur sejauh 70 km hingga 90 km, jika ditembakan secara salvo membutuhkan waktu 38 detik untuk meluncurkan ke 12 roket tersebut. Untuk keperluan operasional peluncuran/penembakan roket BM-30 Smerch hanya membutuhkan waktu 3 menit untuk persiapan peluncuran dan 2 menit untuk displacement, semua tugas ini hanya dilakukan oleh 3 orang personel.

Meriam Oto Melara 76 mm TNI

Meriam Oto Melara 76 mm

Meriam Oto Melara 76 mm terhitung sebagai meriam yang banyak di gunakan sebagai meriam utama di berbagai jenis pada kapal perang, meriam yang di produksi oleh perusahaan Otobreda Italia ini walaupun mempunyai kaliber yang tidak begitu besar namun bisa diandalkan, sehingga banyak dipercaya oleh produsen kapal perang di dunia untuk di pasang di atas kapal perang produksi mereka, mulai dari jenis kapal patroli, korvet hingga fregat.

Meriam Oto Melara 76 mm ini mampu menembak dengan kecepatan tinggi (rapid fire) sehingga cocok untuk digunakan sebagai meriam penangkis serangan udara, baik berupa peluru kendali maupun pesawat terbang dan helikopter. Dengan kaliber sebesar 76 mm, juga mampu digunakan sebagai meriam anti kapal permukaan, amunisi yang di pakai meriam ini terdiri dari berbagai jenis, diantaranya adalah jenis amunisi armour piercing, incendiary, directed fragmentation dan lain-lain, sedang untuk jarak tembak tergantung pada sudut tembakan dan material amunisi yang di gunakan, namun secara umum jarak tembak bisa mencapai antara 5.000 meter hingga 20.000 meter.

Otobreda sebagai pabrikan Oto Melara 76 mm, juga mengeluarkan produk Meriam 76 mm dengan kubah anti radar sejak beberapa tahun yang lalu, untuk saat ini salah satu kapal yang sudah menggunakan kubah stealth dari Otobreda adalah kapal perang dari jenis fregat kelas Fridtjof Nansen milik Angkatan Laut Norwegia.

Sedang untuk penggunaan Meriam Oto Melara 76 mm dengan kubah standar TNI AL tercatat sebagai salah satu penggunanya, meriam ini dapat kita jumpai pada empat korvet SIGMA yang baru saja datang ke Indonesia. Tapi jauh-jauh hari sebelumnya, Oto Melara juga sudah menjadi standar persenjataan pada enam fregat TNI-AL kelas Van Spijk yang dibeli bekas dari Angkatan Luat Belanda pada tahun 90-an. Jadi Oto Melara bukan sesuatu yang baru lagi, dan teknologinya sudah dikuasai penuh oleh TNI-AL.

Sekedar informasi, sejak september 2006 lalu Iran telah mengumumkan produksi masal meriam yang di beri nama Fajr 27, yang tak lain dan tak bukan merupakan hasil reverse-engineered meriam Oto Melara 76 mm ini, yang jadi pertanyaan iseng adalah… kapan giliran indonesia bikin reverse-engineered meriam ini?

Tipe : Naval gun
Negara pembuat : Italy
Weight 7500 kg (without ammunition)
12.34 kg (complete round)
Shell 76 mm × 900mm (complete round)
Caliber 62 caliber 76 mm
Elevation -15°/+85°
speed:35°/s (acceleration: 72°/s²)
Traverse 360°
speed: 60°/s (acceleration: 72°/s²)
Rate of fire Compact: 85 round/min
Super Rapid: 120 round/min
Muzzle velocity 925 m/s
Maximum range Compact: 20,000 m (HE round at 45°)
Super Rapid: 30,000 m (HE round at 45°)
Feed system Magazine: Compact: 80 ready rounds on gun mount
Super Rapid: 85 ready rounds on gun mount

Mark 82 bomb

Mark 82 bomb

Mark the 82 (Mk 82) adalah bom GP ber-“drag” rendah tanpa pemandu (dumb bom), yang merupakan bagian dari Seri Mk 80.

Pengembangan dan Penggunaan

Dengan brat nominal 500 lb (227 kg), bom ini adalah bom seri Mk80 terkecil yang sampai saat ini masih digunakan, dan merupakan salah satu bom paling umum yang dipakai di seluruh dunia. Meskipun berat nominal Mk 82 500 lb (227 kg), tetapi pada kenyataannya berat aslinya sangat bervariasi tergantung pada konfigurasinya, dari 510 lb (232 kg) hingga 570 lb (259 kg). Dia memiliki casing baja yang berisi 192 lb (87 kg) dari bahan peledak Tritonal. Mk 82 menawarkan berbagai modifikasi sirip, sekering/hulu ledak, dan retarder untuk berbagai keperluan.

Mk 82 merupakan hululedak untuk bom berpemandu-laser GBU-12 dan JDAM GBU-38.

Saat ini hanya General Dynamics di Garland, Texas yang mendapat sertifikat dari Departemen Pertahanan AS sebagai pembuat bom untuk Angkatan Bersenjata AS.

Mk 82 yang saat ini sedang menjalani desain ulang kecil untuk memenuhi kebutuhan Kongres akan amunisi insensitif.

Varian

• BLU-111/B: Mk-82 yang berisi dengan PBXN-109 (vs H-6); dengan berat 480 lbs. PBXN-109 adalah bahan peledak yang lebih kurang sensitif. BLU-111/B juga merupakan hululedak dari versi A-1 dari Joint Stand-Off Weapon JSOW.

• BLU-111A/B: Digunakan oleh AL AS, BLU-111/B mempunyai lapisan pelindung panas untuk mengurangi kebakaran yang berhubungan dengan panas bahan bakar/mesin pesawat.

• Dirancang BLU-126/B: dibuat atas pemintaan AL AS untuk mengurangi kerusakan kolateral dalam serangan udara. Batas pengiriman dari varian ini akan dimulai selambat-lambatnya Maret 2007. Juga dikenal sebagai Low Collateral Damage Bomb (LCDB). Bom ini adalah BLU-111 dengan bahan peledak yang lebih sedikit. Bahan isi non-eksplosif ditambahkan untuk mempertahankan berat dari BLU-111, sehingga memberikan lintasan turun yang sama ketika dijatuhkan.

• Mark 62 Quickstrike mine: Adalah ranjau laut, yang merupakan konversi dari bom Mk-82.

Mark 83 bomb

Mark 83 bomb

Mark 83 merupakan bagian dari GP Bom berdaya hambat aerodinamis rendah seri Mark-80 yang beroperasi untuk Amerika Serikat.

Pengembangan dan Penggunaan

Berat nominal dari bom ini adalah 1000 lb (454 kg), walaupun berat aktualnya bervariasi antara 985 lb (447 kg) hingga 1030 lb (468 kg), tergantung pada pilihan sekering, parasut penghambatan, sirip dan konfigurasi. Mark 83 adalah casing baja efisien berisi 445 lb (202 kg) bahan peledak Tritonal dengan daya ledak tinggi. Bila diisi dengan bahan peledak tidak-sensitif panas PBXN-109, bom diberi nama BLU-110.

Mk 83/BLU-110 digunakan sebagai hulu ledak untuk berbagai senjata berpemandu-presisi, termasuk bom berpemandu-laser GBU-16 Paveway, GBU-32 JDAM dan ranjau laut Quickstrike.

Bom ini adalah bom yang paling biasa digunakan oleh AL Amerika Serikat.

SLAM ER Missile Systems

SLAM ER Missile Systems

Standoff Land Attack Missile - Expanded Response (SLAM-ER), sebuah upgrade evolusioner dari SLAM yang sudah terbukti dalam peperangan, adalah misil siang/malam, adverse weather over-the-horizon, misil serangan presisi

Sejarah

Akar Slam-ER kembali ke misil anti-kapal Harpoon original yang dipakai oleh armada pada akhir tahun 1970-an. Karena munculnya kebutuhan operasional, misil untuk penyerang darat dikembangkan sebagai turunan Harpoon. SLAM dikembangkan dan digunakan dalam waktu kurang dari 48 bulan dan telah berhasil digunakan oleh F/A-18 dan A-6 pada operasi Desert Storm bahkan sebelum pengujian operasional telah dimulai. Potensi SLAM memicu pengembangan lebih lanjut untuk kemampuan standoff, untuk meningkatkan jarak jangkau, akurasi, penetrasi hulu-ledak, sudut selam dan perencanaan misi. Karena AL AS fokus pada persenjataan pesisir, Inisiatif program Slam-ER diresmikan pada bulan Desember 1994 ketika Asisten Sekretaris AL untuk Riset, Pengembangan dan Akuisisi memberi ijin untuk melanjutkan pengembangan teknik dan manufaktur dan mempercepat produksi Slam-ER dan pemakaiannya ke armada.

Deskripsi

Slam-ER memenuhi persyaratan AL untuk Senjata Luar Wilayah Pertahanan Standoff Presisi Berpemandu. SLAM-ER meningkatkan efektivitas tempur sistem senjata, menyajikan serangan efektif, jarak jauh, presisi; menjadi pilihan untuk misi serangan terencana maupun dadakan. Yang paling signifikan di antara pengembangan senjata ini adalah: sangat akurat, sistem pandu berbantuan-GPS; meningkatkan karakteristik kinerja aerodinamik misil yang memungkinkan jangkauan lebih baik dan lebih efektif untuk menyerang target; bagian meriam/moncong didesain ulang untuk meningkatkan daya penetrasi dan letalitas; dan interfacenya lebih user-friendly untuk Man-in-the-Loop control dan perencanaan misi. SLAM-ER akan menjadi senjata pertama yang memiliki fitur Automatic Target Acquisition (ATA), sebuah terobosan teknologi revolusioner yang akan meng-otomatis-kan dan meningkatkan akuisisi target, dan mengatasi hamper semua countermeasures dan hambatan kondisi lingkungan.