Minggu, 01 Mei 2011

SH-60B/F Seahawk

SH-60B/F Seahawk

Semasa 1970-an, AL AS mulai mencari helikopter baru untuk menggantikan SH-2 Seasprite. Helikopter ini digunakan AL AS sebagai platform bagi Light Airbone Multi-Purpose System (LAMPS) Mk I yang sesuai dengan maritime warfare. Teknologi sensor dan avionik yang dikembangkan akhirnya menghasilkan LAMPS Mk II suite. Akan tetapi SH-2 tidak cukup besar untuk mengangkut perangkat yang dibutuhkan AL.

Pertengahan 1970-an AD mengkaji helikopter Boeing-Vertol YUH-61 untuk Utility Tactical Transport Aircraft System (UTTAS). Berbasis AL adalah persyaratan pada spesifikasi UTTAS AD karena dengan prinsip commonality biaya bisa diturunkan. Sikorsky dan Boeing-Vertol memasukkan proposal untuk versi AL dari helikopter UTTAS AD pada April 1977 untuk dikaji. Sementara itu, AL juga mengkaji helikopter yang sedang diproduksi oleh Bell, Kaman, Westland, dan MBB. Akan tetapi semuanya terlalu kecil untuk misis yang diharapkan. Awal 1978, AL memilih rancangan Sikorsky S-70B yang dinamai SH-60 B Sea Hawk.

Sea hawk berevolusi dari Sikorsky UH-60A Black Hawk yang dioperasikan oleh AD AS. SH-60B secara dramatis mengalami peningkatan dalam hal pemeliharaan dan keandalan. Helikopter ini bisa dibilang paling maju dalam hal keselamatan dan daya bertahan dibandingkan dengan helikopter manapun dalam daftar AL AS. SH-60B Seahawk lebih dikenal dengan sebutan helikopter LAMPS Mk III. Helikopter ini memiliki standarisasi kemampuan untuk mendeteksi, mengklaisifikasi, mengalokasi, dan mencegat kapal maupun kapal selam.

Setelah SH-60B mulai dioperasi, AL mulai mengembangkan varian SH-60F untuk menggantikan SH-3 Seaking. Contoh pertama SH-60F terbang pada 19 Maret 1987. Sh-60F merupakan versi berbasis kapal induk dari SH-60B. Satu perbedaan utama, SH-60B dirancang dioperasikan dari fregat dan destroyer serta memberikan perlindungan di lingkar luar armada. Sedangkan SH-60F memberikan perlindungan di lingkar dalam dan dioperasikan dari dek kapal induk armada AL AS, baik yang konvensional maupun yang nuklir.

Perbedaan utama lainnya adalah berkisar bagaimana menjalankan misi ASW. Sementara SH-60B meluncurkan sonobuoys dan beroperasi sebagai unit mandiri, SH-60F bekerja secara tandem dengan SH-60F lainnya, terbang diatas satu titik dan menurunkan dipping sonar untuk mendengarkan kapal selam.

Spesifikasi :
Awak : pilot, kopilot + 1 sensor operator (SH-60B), pilot, kopilot + 2 sensor operator (SH-60F)
Mesin : 2 x General Electric T-700-GE-401C hp turboshaft
Dimensi : panjang 22,15 m; lebar (diameter rotor) 18,9 m; tinggi 5,13 m
Bobot : 6.191 kg (kosong), 9.182 kg
Kecepatan 234 km/jam
Jangkauan : 966 km
Persenjataan : 3 x torpedo Mark 46 / Mark 50 torpedo; AGM-119B Penguin anti-ship missile (SH-60B0; AGM-114 Hellfire missile; 1 door gun
Avionik : Bendix AN/AQS-13f Dipping Sonar (SH-60B); ASQ-81 Magnetic Anomaly Detector (SH-60F); 25 sonar buoys (SH-60B); 14 sonar buoys (SH-60F); APS-124 search radar (SH-60B); ALQ-142 ESM (SH-60B); AAS-44 FLIR Forward Looking InfraRed (SH-60B); ARR-84 sonarbouy receiver doppler navigation aids GPS TACAN; ALE-139 chaf/flare dispensers.

HMS Colossus ( R15 )

HMS Colossus ( R15 )

Ketika pada PD 2 AL Inggris kehilangan kapal induk HMS Prince of Wales dan Repulse, upaya untuk mengganti kekuatan laut yang sangat vital segera dilaksanakan oleh pemerintah Inggris. Kapal angkut pesawat yang kemudian diproduksi adalah kapal induk ringan, Colossus. Setelah diproduksi sejumlah Colossus, kemudian dikirm ke kawasan Timur Jauh dan misi tempur di Perang Korea.

HMS Colossus yang menjadi salah satu andalan kekuatan AL Inggris di Pasifik Fleet dioperasikan hingga tahun 1946, kemudian dijual ke Prancis dan diganti namanya menjadi Arromanches dimana Arromanches mulai memperkuat AL Prancis sejak akhir 1940-an dan dibayar tunai AL pada tahun 1951. Ini, kemudian ditransfer pula pesawat tempur Seafire agar AL Prancis bisa segera membentuk skuadron tempur pertama.

Sebagai kelanjutan bantuan dari InggrisOleh AL Prancis, Arromanches dioperasikan dalam misi tempur di Vietnam ( Indocina War 1948 ). AL Prancis lalu memodifikasi Arromanches hingga bisa dimuati pesawat tempur anti kapal selam Brequet Alize dan dilibatkan kembali dalam perang Indocina 2 (1968) dan juga terlibat di Krisis Suez.

Kapal induk Arromanches kemudian setelah berhasil melakukan modifikasi ulang sehingga mampu membawa 24 helikopter ASW dan dipensiunkan oleh AL Prancis pada tahun 1974 setelah mengabdi selama 30 tahun di Prancis dan Inggris . HMS Colossus ( R15 ) dibuat di Newcastle oleh Vickers Armstrong Limited dan mulai beroperasi pada tahun 1944. HMS Colossus memiliki bobot sebesar 13.000 ton dan mampu membawa 33 pesawat.

AAI Corporation RQ-7 Shadow

AAI Corporation RQ-7 Shadow

Tidak seperti kebanyakan UAV, yang lepas landas dan mendarat di landasan pacu seperti pesawat biasa. RQ-7 Shadow diluncurkan ke udara hingga ketinggian 30 kaki dengan menggunakan peluncur hidrolik dan ketika mendarat ia harus mengait sebuah mekanisme penghenti seperti yang di lakukan pesawat tempur ketika mendarat di atas kapal induk
RQ-7 di operasikan oleh AD dan Korps Marinir AS, bertugas mengirimkan full-motion video, baik siang maupun malam hari dengan jarak hingga 75 mil.

UAV ini dapat melayang selama sembilan jam, memiliki kecepatan jelajah 90 knot dan dapat mencapai ketinggian 15.000 kaki. RQ-7 di dorong oleh baling-baling yang gerakkan oleh mesin berbahan bakar bensin, secara keseluruhan memiliki berat 460 pound dengan bentangan sayap sepanjang 20 kaki.

EA-6B Prowler

EA-6B Prowler

Setiap kali pengerahan kekuatan kapal induk, hamper bisa dipastikan pesawat EA-6B Prowler dilibatkan. Terutama untuk melindungi unit armada permukaan dan pesawat lain dengan cara mengacaukan radar dan komunikasi musuh. Prowler bisa dibilang sebagai bagian integral dari basis pertahanan armada. Solo karier Prowler dimulai sejak dilakukannya restrukrisasi asset Departemen Pertahan di tahun 1995. Saai itu EF-111 Raven dipensiunkan sehingga tinggal Prowler sebagai satu-satunya pengacau radar bagi Departemen Pertahanan.

Prowler merupakan asset nasional yang tidak hanya dikerahakan dari darat tapi juga dari kapal induk. Kemampuan Prowler untukmemonitor spektrum elektromagnetik dan secara aktih melemahkan penggunaan radar dan komunikasi lawan tak tertandingi oleh platform apapun didunia.

Awak Prowler terdiri dari satu pilot dan perwira elektronik penangkal.jantung dari EA-6B adalah ALQ-99 Tactical Jamming System. Termasuk didalamnya receiver, procecor, dan pod jammer dalam konfigurasi berbagai misi yang diusung sebagai perangkat eksternal. Prowler memiliki USQ-113 Communication Jammer. Bagian pertama system pertahanan udara musuh yang menangkal serangan adalah radar Early Warning (EW). System pertahanan udara yang mengandalkan EW ini mengidikasi arah dan lokasi pasukan AS yang mendekati musuh. Prowler yang dikerahkan dengan kemampuan serang dan megeluarkan sinyal pengacau ke radar EW kemampuan musuh untuk mendektesi kehadiran bisa berkurang besar. EA-6B dapat menembakkan rudal HARM yang dipandu dengan energi radiasi hingga misi tercapai dengan hancurnya radar musuh.

Prowler dikembangkan dari pesawat serbu dua kursi A-6 Intruder. Kerangka dasarnya diperpanjang dan diperkuat untuk mengakomodasi kokpit empat kursi. Produksi EA-6B sudah dihentikan sejak 1991 setelah rampungnya 170 pesawat. Masa pension Prowler akan dimulai tahun 2010 setelah menjalankan karier lebih dari 40 tahun mendukung AL AS, K orp Marinir AS dan AU AS.

Spesifikasi :
Role Electronic Warfare
Manufacturer Grumman
Northrop Grumman
First flight 25 May 1968
Introduced July 1971
Status Active Primary users U.S. Navy
U.S. Marine Corps
Number built 170
Unit cost $52 million
Developed from Grumman A-6 Intruder
General characteristics
• Crew: four (one pilot, three electronic countermeasures officers)
• Length: 59 ft 10 in (17.7 m)
• Wingspan: 53 ft (15.9 m)
• Height: 16 ft 8 in (4.9 m)
• Wing area: 528.9 ft² (49.1 m²)
• Empty weight: 31,160 lb (15,130 kg)
• Max takeoff weight: 61,500 lb (27,900 kg)
• Powerplant: 2× Pratt & Whitney J52-P408A turbojet, 10,400 lbf (46 kN) each
Performance
• Maximum speed: 566 knots (651 mph, 1,050 km/h)
• Cruise speed: 418 kt (481 mph, 774 km/h)
• Range: 2,022 mi (tanks kept) / 2,400 mi (tanks dropped)[citation needed] (3,254 km / 3,861 km)
• Service ceiling: 37,600 ft (11,500 m)
• Rate of climb: 12,900 ft/min (65 m/s)
• Wing loading: 116 lb/ft² (560 kg/m²)
• Thrust/weight: 0.34
Armament
• Up to 4 AGM-88 HARM antiradar missiles
• Up to 5 ALQ-99 Tactical Jamming System (TJS) external pods
• Up to 5 300 gallon external drop tanks
Avionics
• ALQ-99 on board receiver (OBS), ALQ-99 pod mounted jamming system (TJS)
• USQ-113 communications jamming system

KRI Boiga-825

KRI Boiga-825

KRI Boiga-825 jenis PC-40 (Patroli Cepat). KRI Boiga-825 merupakan salah satu kapal patroli produksi dalam negeri yang dibuat di Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (Fasharkan) Manokwari milik TNI Angkatan Laut.

Dapat dikatakan pengembangan kapal patroli PC-36 dan PC-40 merupakan program Dislitbangal yang sangat mengesankan. Pada tahun 2000 Dislitbangal menyelesaikan prototipe kapal patroli ringan dengan konstruksi lambung berbahan fiberglass dan menerapkan desain kapal berteknologi siluman (stealth).

KRI Boiga memiliki panjang 40 meter, panjang garis air 34,50 meter, lebar 7,30 meter dan berbobot 100 Gross Ton (GT), tangki bahan bakar 35 ton, kecepatan maksimum 29 knot, kecepatan jelajah 26 knot, endurance 4 hari serta jarak jelajah 2.311 NM.

Pemberian nama KRI Boiga-825 didasarkan pada Surat Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Laut tentang Ketentuan Pokok Pemberian Nama Kapal-kapal Perang Republik Indonesia yang menyatakan, untuk jenis kapal patroli cepat menggunakan nama-nama ikan atau binatang kecil yang buas.

Nama Boiga diambil dari nama latin ular Tiung Cincin, yakni Boiga Dendrophilia. Ular ini salah satu jenis ular ganas yang hidup di kawasan hutan bakau di semua kepulauan di Indonesia.
Kapal ini digerakkan oleh tiga mesin pokok masing – masing berkekuatan 1100 HP, mampu melaju hingga 31 knot. Dengan kecepatan jelajah 15 knot kapal ini bisa berlayar hingga lima hari dengan 20 orang ABK. Bagian haluannya dilengkapi dengan dudukan senjata untuk meriam 20 mm.

Douglas F3D (F-10) Skyknight

Douglas F3D (F-10) Skyknight

Pada tahun 1945 Angkatan Laut AS mengumumkan bahwa mereka membutuhkan sebuah pesawat jet tempur berbasis di kapal yang dilengkapi radar sehingga dapat dioperasikan sebagai night fighter. Memenuhi kebutuhan US Navy tersebut, maka pabrikan Douglas kemudian membuat F3D Skyknight yang terbang pertama kali pada tanggal 23 Maret 1948 dan akhirnya diproduksi sebanyak 265 unit.

Mulai dioperasikan Angkatan Laut dan Korps Marinir AS pada tahun 1951, F3D Skyknight dilengkapi sistem radar AN/APQ-35 buatan Westinghouse. Sistem radar tersebut terdiri dari search radar tipe AN/APS-21, fire control radar tipe AN/APG-26, serta tail warning radar tipe APS-28. Karena sistem radar yang cukup rumit itulah maka F3D diawaki dua orang : pilot dan operator radar. Sebagai persenjataan utama, F3D dipersenjatai dengan empat pucuk kanon kaliber 20mm. Selain itu terdapat pula cantelan senjata di sayap pesawat yang dapat membawa bom sampai seberat 1.816 kg.

F3D tediri dari dua varian utaman, F3D-1 dan F3D-2. F3D-1 tidak digunakan di medan tempur dan lebih banyak digunakan untuk melatih awak F3D. Sementara varian F3D-2 (yang dilengkapi dengan sistem radar AN/APQ-36) banyak digunakan dalam Perang Korea sebagai night fighter atau melaksanakan misi-misi serangan darat pada malam hari ke posisi pasukan komunis. Selama Perang Korea tercatat enam pesawat musuh yang berhasil ditembak jatuh oleh F3D (satu Polikarpov Po-2 dan lima MiG-15) tanpa kehilangan satu pesawat pun.

Setelah Perang Korea, F3D banyak digunakan sebagai sarana untuk pengujian rudal udara ke udara AIM-7 Sparrow. F3D bahkan bisa dikatakan merupakan pesawat tempur Angkatan Laut AS pertama yang dipersenjatai dengan rudal tersebut. Sebanyak 38 unit F3D kemudian dikonversi menjadi pesawat pembawa rudal (12 unit F3D-1 menjadi F3DM-1 dan 26 unit F3D-2 menjadi F3DM-2). Sejumlah F3D-2 juga kemudian dikonversi menjadi pesawat tempur elektronik F3D-2Q dan pesawat latih F3D-2T.

Pada tahun 1962 kode F3D diubah menjadi F-10, sebagai hasil dari standarisasi sistem penamaaan pesawaat militer oleh Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS. F3D-1 pun berubah nama menjadi F-10A dan F3D-2 menjadi F-10B, sementara F3D-2Q menjadi EF-10B. EF-10B kemudian ikut ditugaskan dalam Perang Vietnam sampai dengan tahun 1969 dan menjadi satu-satunya jet tempur AS era Perang Korea yang masih digunakan dalam Perang Vietnam.
Seluruh F3D milik Angkatan Laut dan Korps Marinir AS dipensiunkan pada tahun 1970.

Specifications (F3D-2)
Crew : 2
Powerplant : 2 x 15kN / 3,400 lb-thrust Westinghouse J33-WE-36 turbojet engines
Length : 13.85m
Wingspan : 15.24m
Height : 4.90m
Weight empty : 6,813 kg
Maximum take-off weight : 12,151 kg
Maximum speed : 852 km/h
Range : 2,212 km
Service ceiling : 11,200m
Armament : 4 x 20mm cannons and up to 1,816 kg of bombs

Battleship Kelas Caio Duilio

Battleship Kelas Caio Duilio

Kelas Caio Duolio dibangun dari basis battleship Droudnought pertama Italia dari kelas Dante Alighieri. Sesuai dengan perkembangan kebutuhan pada era 1910-an AL Italia merasa perlu membangun kapal perang berukuran besar. Untuk itulah mereka lantas mencomot kelas Dante Alighieri sebagai basis pembangunan. Tercatat ada dua kelas yang coba dikembangkan yaitu Caio Duilio dan Conte di Cavour. Keduanya berhasil lolos dari kerusakan selama PD 1. Pada era 1930-an Pemerintah Italia menggelar proses modernisasi bagi Caio Duilio dan Conte di Cvour namun yang duluan selesai adalah Caio Duilio.

Beberapa oin perombakan yang diterapkan baik di Caio Duilio dan Conte di Cavour selanjutnya diterapkan pada battleship Italia kelas Littorio. Biarpun dikerjakan bareng namun bila disimak sebenarnya ada sejumlah perbedaan fasilitas tambahanada kedua battleship. Perbedaan yang paling mudag diketahui adalah komposisi dan penempatan senjata sekunder serta meriam antipesawat. Sebagai gambaran, pada Cavour senjata sekunder mengandalkan meriam caliber 4-7 inci [120 mm] dan ditempatkan pada sisi samping kapal. Sementara untuk Caio Duilio posisi yang sama dihuni oleh meriam berkaliber lebih besar yaitu 5.3 inci [135 mm].

Bergerak kesoal senjata anti pesawat, pada Cavour mengandalkan meriam berkonfigurasi ganda dengan caliber 100mm. konfigurasi ini berubah pada Caio Duilio dan Andrea Doria. Fungsi meriam caliber 100 mm digantikan oleh 10 pucuk meriam caliber lebih rendah yaitu 305 inci [90 mm]. selain persenjataan, pada tampilan fisik juga terdapat sedikit perubahan. Bila dilihat, struktur kubah anjungan terasa lebih tinggi dibandingkan dengan Cavour.

Menyerang Inggris

Beruntung bagi AL Italia saat pecah PD II program modernisasi battleship kelas Caio Duilio rampung dan diluncurkan dari galangan Juni 1940. Sementara Andrea Doria selesai Oktober 1940. Berkat Caio Duilio, September 1940 armada AL Italia melaksanakan serbuan terhadap konvoi armada Al Inggris dikawasan Mediterania. Dua bulan kemudian Caio Duilio mengalami kerusakan parah akibat serangan udara dari pesawat AL Inggris yang berpangkalan dikapal induk di Taranto.

Pembenahan dilakukan kemudian dan kapal aktif dalam armada AL Italia. Antara Desember 1941 dan Januari 1942, Caio Duilio dan Andrea Doria dikerahkan untuk mengawal konvoi iring-iringan suplai militer Italia ke kawasan Afrika Utara. Februari 1942keduanya diikutkan dalam serangan yang gagal ke armada AL Inggris disekitar Malta.

Pertengahan PD II kekompakkan Pakta Aksis mulai pecah. Pihak Nazi menganggap Italia termasuk kekuatan militernya tidak becus. Hal ini langsung berpengaruh pada kesiapan armada AL Italia. Maret 1942 Caio Duilio dan Andrea Doria ditarik dari dinas aktif. Keduanya ikut diserahkan ketangan Sekutu saat Italia resmi menyerah September 1943 setahun kemudian tepatnya Juni 1944 kedua battleship dikembalikan dan digunakan Italia sebagai kapal latih. Baik Caio Duilio maupun Andrea Doria resmi dihapus pada era 1950-an.

Spesifikasi
Klasifikasi : battleship
Asal ; Italia
Populasi : 2 (Caio Duilio dan Andrea Doria)
Mulai dibangun : 1934-1940
Jumlah awak : 1.485
Bobot standar : 26.430-25.930 ton; bobot tempur 29.930-28.880 ton
Dimensi : panjang 186.9 m; beam 28 m; draught 8.9 m
Propulasi ; 8 tabung uap buatan Yarrow; jumlah baling-baling 2 unit
Kapasitas bahan bakar ; lebih dari 2.000 ton
Kemampuan : kecepata 27 knot; jarak jangkau 3.573 nm pada kecepatan 12 knot
Persenjataan ; 10 meriam caliber 12,6 inchi [320 mm]; 12 meriam caliber 5.3 inchi [135 mm]; 10 meriam antipesawat caliber 3.5 indhi [90 mm]; 15 meriam antipesawat caliber 37 mm; 16 meriam antipesawat caliber 20mm.

ARL-44 Heavy Tank

ARL-44 Heavy Tank

Menjelang akhir tahun 1930-an, heavy tank yang dimiliki oleh Perancis adalah Char B1. Kelemahan utama tank ini adalah persenjataan utama berupa meriam kaliber 75mm yang memiliki elevasi terbatas sehingga pada tahun 1938 dimulai proyek untuk membuat heavy tank baru ARL-40. Namun heavy tank baru ini tidak sempat memasuki tahap produksi karena pada tahun 1940 Perancis dikuasai oleh Jerman.

Selama masa pendudukan Jerman, Perancis tetap melakukan pengembangan tank tersebut secara rahasia dan ketika Perancis berhasil bebas dari pendudukan Jerman pada tahun 1944 maka proyek heavy tank tersebut kembali dilanjutkan. Namun ternyata desain tank tersebut sudah sangat ketinggalan jaman mengingat pada awalnya proyek tersebut dimulai pada akhir tahun 1930-an, sementara teknologi tank dan kendaraan lapis baja sudah berkembang dengan pesat pada pertengahan Perang Dunia II.

Pada awal tahun 1945 militer Perancis menyatakan bahwa spesifikasi tank ARL-40 sudah tidak memadai lagi untuk memenuhi kebutuhan pasukan tank Perancis. Pihak militer Perancis bahkan menyebutkan bahwa membuat tank dengan spesifikasi sesuai dengan desain ARL-40 adalah sia-sia belaka, mengingat tank tersebut didesain pada akhir tahun 1930-an. Berdasarkan permintaan militer Perancis inilah maka kemudian dirancang sebuat proyek heavy tank baru yang memiliki kemampuan di atas ARL-40. Heavy tank tersebut adalah ARL-44.

Walaupun demikian, tank ARL-44 pada dasarnya masih menggunakan teknologi tank Perancis pada akhir tahun 1930-an. ARL-44 masih menggunakan suspensi yang sama dengan tank Char B1, hanya saja ARL-44 memiliki lapisan baja sampai setebal 120mm dan dipersenjatai dengan meriam DCA45 kaliber 90mm (yang merupakan pengembangan dari meriam anti serangan udara yang biasa digunakan pada kapal-kapal perang Angkatan Laut Perancis). Hal ini dikarenakan militer Perancis meminta tank itu untuk segera diproduksi, sementara industri tank Perancis masih belum pulih akibat masa pendudukan Jerman.

Pada awalnya direncanakan untuk membuat sebanyak 300 unit tan ARL-44, namun pada akhirnya hanya sekitar 60 unit diproduksi pada tahun 1946-1950. ARL-44 dikenal memiliki banyak masalah pada masa opersionalnya. Hal ini tidak mengherankan karena sebetulnya tank ini dibuat secara terburu-buru dan walaupun ketika memasuki tahap produksi bisa dikatakan Perancis sudah tidak membutuhkan lagi heavy tank, namun tank ini tetap dibuat secara terbatas. Salah satu alasan ARL-44 tetap diproduksi adalah untuk membangkitkan semangat nasional masyarakat Perancis yang sedang kembali membangun negara mereka usai Perang Dunia II.

ARL-44 hanya digunakan oleh pasukan Perancis sampai tahun 1953 karena pada tahun tersebut Perancis menerima tank M47 Patton dalam jumlah besar sebagai bagian dari bantuan militer AS.

Specification
Crew : 5
Armament :
Main : 1 x 90mm gun
Co-axial : 1 x 7.5mm machine gun
Bow : 1 x 7.5 mm machine gun
Combat weight : 48,000 kg
Length : 10.52 m
Width : 3.40 m
Height : 3.20 m
Powerpack : 575 hp Maybach HL230 petrol engine
Maximum road speed : 35.75 km/h
Range : 150 km