Jumat, 01 Oktober 2010

F-22 Raptor

F-22 Raptor

Tipe Pesawat tempur siluman
Produsen Lockheed Martin Aeronautics
Boeing Integrated Defense Systems

Terbang perdana 19 November 1990

Diperkenalkan 15 Desember 2005

Status Aktif
Pengguna Amerika Serikat

F-22 Raptor adalah pesawat tempur siluman buatan Amerika Serikat. Pesawat ini awalnya direncanakan untuk dijadikan pesawat tempur superioritas udarauntuk digunakan menghadapi pesawat tempur Uni Soviet, tetapi pesawat ini juga dilengkapi peralatan untuk serangan darat, peperangan elektronik, dan sinyal intelijen. Pesawat ini melalui masa pengembangan yang panjang, versi prototipnya diberi nama YF-22, tiga tahun sebelum secara resmi dipakai diberi nama F/A-22, dan akhirnya diberi nama F-22A ketika resmi mulai dipakai padaDesember 2005. Lockheed Martin Aeronautics adalah kontraktor utama yang bertanggungjawab memproduksi sebagian besar badan pesawat, persenjataan, dan perakitan F-22. Kemudian mitranya, Boeing Integrated Defense Systemsmemproduksi sayap, peralatan avionik, dan pelatihan pilot dan perawatan.
Advanced Tactical Fighter (ATF) merupakan kontrak untuk demonstrasi dan program validasi yang dilakukan Angkatan Udara Amerika Serikat untuk mengembangkan sebuah generasi baru pesawat tempur superioritas udara untuk menghadapi ancaman dari luarAmerika Serikat, termasuk dikembangkannya pesawat kelas Su-27 era Soviet.
Pada tahun 1981, Angkatan Udara Amerika Serikat memetakan syarat-syarat yang harus dipenuhi sebuah pesawat tempur baru yang direncanakan untuk menggantikan F-15 Eagle. ATF direncanakan untuk memadukan teknologi modern seperti logam canggih danmaterial komposit, sistem kontrol mutakhir, sistem penggerak bertenaga tinggi, dan teknologi pesawat siluman.
Proposal untuk kontrak ini diajukan pada tahun 1986, oleh dua tim kontraktor, yaituLockheed-Boeing-General Dynamics dan Northrop-McDonnell Douglas, yang terpilih pada Oktober 1986 untuk melalui fase demonstrasi dan validasi selama 50 bulan, yang akhirnya menghasilkan dua prototip, yaitu YF-22 dan YF-23.
Pesawat ini direncanakan untuk menjadi pesawat Amerika Serikat paling canggih pada awal abad ke-21, karena itu, pesawat ini merupakan pesawat tempur paling mahal, dengan harga US$120 juta per unit, atau US$361 juta per unit bila ditambahkan dengan biaya pengembangan. Pada April 2005, total biaya pengembangan program ini adalah US$70 miliar, menyebabkan jumlah pesawat yang direncanakan akan dibuat turun menjadi 438, lalu 381, dan sekarang 180, dari rencana awal 750 pesawat. Salah satu faktor penyebab pengurangan ini adalah karena F-35 Lightning II akan memiliki teknologi yang sama dengan F-22, tapi dengan harga satuan yang lebih murah.
YF-22 'Lightning II'
YF-22 merupakan pesawat pengembangan yang menjadi dasar untuk pembuatan F-22 versi produksi. Namun, ada beberapa perbedaan signifikan antara keduanya, yaitu perubahan posisi kokpit, perubahan struktur, dan banyak perubahan kecil lainnya.[3]Kedua pesawat ini sering tertukar pada foto-foto, umumnya pada sudut pandang yang sulit untuk melihat fitur-fitur tertentu. YF-22 diberikan julukan Lighting II oleh Lockheed, nama ini bertahan sampai pertengahan 1990-an. Untuk beberapa waktu, pesawat ini juga sempat diberi julukan SuperStar and Rapier. Namun F-35 kemudian secara resmi mendapat nama Lighting II pada 7 Juli 2006.[
YF-22 mendapatkan kontrak ATF setelah memenangkan kompetisi terbang mengalahkan YF-23 buatan Northrop-McDonnell Douglas. Pada April 2002, pada saat pengetesan, prototip pertama YF-22 jatuh ketika mendarat di Pangkalan Udara Edwardsdi California. Sang tes pilot, Tom Morgenfeld, tidak terluka. Penyebab jatuh ini adalah kesalahan pada perangkat lunak.
Produksi

Proses produksi F-22.
F-22 versi produksi pertama kali dikirim ke Pangkalan Udara Nellis, Nevada, pada tanggal14 Januari 2003. Pengetesan dan evaluasi terakhir dilakukan pada 27 Oktober 2004. Pada akhir 2004, sudah ada 51 Raptor yang terkirim, dengan 22 lagi dipesan pada anggaran fiskal 2004. Kehancuran versi produksi pertama kali terjadi pada 20 Desember2004 pada saat lepas landas, sang pilot selamat setelah eject beberapa saat sebelum jatuh. Investigasi kejatuhan ini menyimpulkan bahwa interupsi tenaga saat mematikan mesin sebelum lepas landas menyebabkan kerusakan pada sistem control
Pembelian
Awalnya Angkatan Udara Amerika Serikat berencana memesan 750 ATF, dengan produksi dimulai pada tahun 1994. Pada tahun 1990 Major Aircraft Review merubah rencana menjadi 648 pesawat udara yang dimulai pada tahun 1996. Tujuan akhirnya berubah lagi pada tahun 1994, menjadi 442 pesawat memasuki masa pakai pada tahun2003 or 2004. Laporan Kementrian Pertahan pada tahun 1997 merubah pembelian menjadi 339. Pada tahun 2003, Angkatan Udara mengatakan bahwa pembatasan pembiayaan kongresional yang ada sekarang membatasi pembelian menjadi 277. Pada tahun 2006, Pentagon mengatakan akan membeli 183 pesawat, yang akan menghemat $15 milyar tapi akan menaikkan pembiayaan per pesawat. Rencana ini telah mendapat persetujuan de facto dari Kongres dalam bentuk rencana pembelian beberapa tahun, yang masih membuka peluang untuk pemesanan baru melewati titik tersebut. Lockheed Martin telah mengatakan bahwa pada FY(Fiscal Year/Tahun Fiskal) 2009 mereka sudah harus tahu apakah lebih banyak pesawat akan dibeli, untuk pemesanan barang-barang long-lead.
Pada April 2006, biaya F-22A ditaksir oleh Government Accountability Office menjadi $361 juta per pesawat. Biaya ini mencerminkan total biaya program F-22A total program cost, dibagi jumlah jet yang akan dibeli oleh Angkatan Udara. Sejauh ini, Angkatan Udara telah menginvestasikan sebanyak $28 milyar dalam riset, pengembangan, dan percobaan Raptor. Uang itu, yang disebut sebagai "sunk cost," telah dibelanjakan dan terpisah dari uang yang digunakan untuk pengambilan keputusan di masa depan, termasuk pembelian kopi dari jet tersebut.

Saat semua 183 jet telah dibeli, $34 milyar akan dibelanjakan untuk pembelian pesawat udara ini sebenarnya. Ini akan menghasilkan biaya sekitar $339 juta per pesawat udara berdasarkan biaya total program. Kenaikan biaya dari satu tambahan F-22 adalah sekitar $120 juta. Jika Angkatan Udara akan membeli 100 buah tambahan F-22 hari ini, tiap pesawat akan berharga lebih rendah dari $117 juta dan akan terus jatuh dengan tambahan pembelian pesawat.
F-22 bukan pesawat paling mahal yang pernah ada; kekhasan itu sepertinya berpulang pada B-2 Spirit yang secara kasar bernilai $2.2 milyar per unit; walaupun kenaikan biaya di bawah 1 milyar US Dollar. Untuk lebih adilnya, pemesanan B-2 berubah dari ratusan menjadi beberapa lusin ketika Perang Dingin berakhir sehingga harga per unitnya melangit. F-22 menggunakan lebih sedikit bahan penyerap radar daripada B-2 atau F-117 Nighthawk, dengan harapan biaya perawatan yang akan menjadi lebih rendah.
Pergerakan
Mesin turbofan ganda Pratt & Whitney F119-PW-100 F-22 memiliki kemampuanpengarah daya dorong. Pengarah ini bisa mengatur perputaran axis pitch sampai sekitar 20°. Daya dorong maksimum mesin ini masih dirahasiakan, namun diperkirakan sekitar 35.000 lbf (156 kN) per turbofan. Kecepatan maksimum pesawat ini diperkirakan sekitar Mach 1,2 ketika dalam supercruise tanpa senjata eksternal. Dengan afterburner, menurut Lockheed Martin, kecepatannya "lebih dari Mach 2,0" (2.120 km/jam).
F-22 juga bisa bermanuver dengan sangat baik pada kecepatan supersonik maupunsubsonik. Penggunaan pengarah daya dorong membuatnya bisa berbelok secara tajam, dan melakukan manuver ekstrim seperti Manuver Herbst, Kobra Pugachev, danKulbit. F-22 juga bisa mempertahankan sudut menyerang konstan yang lebih besar dari 60°. Ketinggian terbang juga mempengaruhi serangan. Dalam latihan militer di Alaska pada Juni 2006, para pilot F-22 menyebut bahwa kemampuan terbang pada ketinggian yang lebih tinggi dari pesawat lain merupakan salah satu faktor penentu kemenangan mutlak F-22 pada latihan tersebut.

Avionik
F-22 menggunakan radar AN/APG-77 AESA yang dirancang untuk operasi superioritas udara dan serangan darat, yang sulit dideteksi pesawat lawan, menggunakan apertur aktif, dan dapat melacak beberapa target sekaligus dalam cuaca apapun. AN/APG-77 mengganti frekuensinya 1.000 kali setiap detik, membuatnya juga sangat sulit dilacak. Radar ini juga dapat memfokuskan emisi terhadap sensor lawan, membuat pesawat lawan mengalami gangguan.
Informasi pada radar ini diproses oleh dua prosesor Raytheon, yang masing-masing dapat melakukan 10,5 miliar operasi per detik, dan memiliki memori 300 megabyte. Perangkat lunak pada F-22 terdiri dari 1,7 juta baris koding, yang sebagian besar memproses data yang ditangkap radar. Radar ini memiliki jarak jangkau sekitar 125-150 mil, dan direncanakan untuk dimutakhirkan dengan jarak maksimum sekitar 250 mil.

F-22 juga memiliki beberapa fungsi yang unik untuk pesawat seukurannya. Antara lain, pesawat ini memiliki kemampuan deteksi dan identifikasi musuh yang hampir setara dengan RC-135 Rivet Joint Kemampuan "mini-AWACS" ini membuat F-22 sangat berguna di garis depan. Pesawat ini bisa menandakan target untuk pesawat F-15 dan F-16, dan bahkan dapat mengetahui pesawat apa yang pesawat kawan sedang targetkan, jadi bisa membuat agar pesawat kawan tidak mengejar target yang sama.
Bus data yang digunakan pesawat ini diberi nama MIL-STD-1394B, yang dirancang khusus untuk F-22. Sistem bus ini dikembangkan dari sistem komersial FireWire (IEEE-1394),[ yang diciptakan oleh Apple dan sering ditemukan pada komputer Apple Macintosh. Sistem bus data ini juga akan digunakan pada pesawat tempur F-35 Lightning II
Persenjataan
F-22 dirancang untuk membawa peluru kendali udara ke udara yang tersimpan secara internal di dalam badan pesawat agar tidak mengganggu kemampuan silumannya. Peluncuran rudal ini didahului oleh membukanya katup persenjataan lalu rudal didorong kebawah oleh sistem hidrolik. Pesawat ini juga bisa membawa bom, misalnya Joint Direct Attack Munition (JDAM) dan Small-Diameter Bomb (SDB) yang lebih baru. Selain penyimpanan internal, pesawat ini juga dapat membawa persenjataan pada empat titik eksternal, tetapi apabila ini dipakai akan sangat mengurangi kemampuan siluman, kecepatan, dan kelincahannya. Untuk senjata cadangan, F-22 membawa meriam otomatis M61A2 Vulcan 20 mm yang tersimpan di bagian kanan pesawat, meriam ini membawa 480 butir peluru, dan akan habis bila ditembakkan secara terus-menerus selama sekitar lima detik. Meskipun begitu, F-22 dapat menggunakan meriam ini ketika bertarung tanpa terdeteksi, yang akan dibutuhkan ketika rudal sudah habis.

Kemampuan siluman
Pesawat tempur modern Barat masa kini sudah memakai fitur-fitur yang membuat mereka lebih sulit dideteksi di radar dari pesawat sebelumnya, seperti pemakaianmaterial penyerap radar. Pada F-22, selain pemakaian material penyerap radar, bentuk dan rupa F-22 juga dirancang khusus, dan detil lain seperti cantelan pada pesawat dan helm pilot juga sudah dibuat agar lebih tersembunyi. F-22 juga dirancang untuk mengeluarkan emisi infra-merah yang lebih sulit untuk dilacak oleh peluru kendali "pencari panas".
Namun, F-22 tidak tergantung pada material penyerap radar seperti F-117 Nighthawk. Penggunaan material ini sempat memunculkan masalah karena tidak tahan cuaca buruk. Dan tidak seperti pesawat pengebom siluman B-2 Spirit yang membutuhkan hangar khusus, F-22 dapat diberikan perawatan pada hangar biasa. Selain itu, F-22 juga memiliki sistem yang bernama "Signature Assessment System", yang akan menandakan kapan jejak radar pesawat sudah tinggi, sampai akhirnya membutuhkan pembetulan dan perawatan.
Pemakaian afterburner juga membuat emisi pesawat lebih mudah ditangkap oleh radar, ini diperkirakan adalah alasan mengapa pesawat F-22 difokuskan untuk bisa memiliki kemampuan supercruise.
Karakteristik umum
 Kru: 1
 Panjang: 62 kaki 1 in (18,90 m)
 Lebar sayap: 44 kaki 6 in (13,56 m)
 Tinggi: 16 kaki 8 in (5,08 m)
 Area sayap: 840 kaki² (78,04 m²)
 Airfoil: NACA 64A?05,92 akar, NACA 64A?04,29 ujung
 Berat kosong: 31.670 lb (14.365 kg)
 Berat terisi: 55.352 lb (25.107 kg)
 Berat maksimum lepas landas: 80.000 lb (36.288 kg)
 Mesin: 2× Pratt & Whitney F119-PW-100 Turbofan pengarah daya dorong pitch, 35.000 lb (155,7 kN) masing-masing
Performa
 Kecepatan maksimum: ≈Mach 2,42 (2.575 km/jam) pada altituda/ketinggian tinggi[19]
 Kecepatan jelajah: Mach 1,72[18] (1.825 km/h) pada altituda/ketinggian tinggi
 Jarak jangkau ferri: 2.000 mi (1.738 nm, 3.219 km)
 Batas tertinggi servis: 65.000 kaki (19.812 m)
 Laju panjat: rahasia (tidak diketahui umum)
 Beban sayap: 66 lb/kaki² (322 kg/m²)
 Dorongan/berat: 1,26
 Maximum g-load: −3/+9 g
Persenjataan
 Meriam: 1× 20 mm (0,787 in) M61A2 Vulcan gatling gun di pangkal sayap kiri, 480 butir peluru
 Udara ke udara:
 6× AIM-120 AMRAAM
 2× AIM-9 Sidewinder
 Udara ke darat:
 2× AIM-120 AMRAAM dan
 2× AIM-9 Sidewinder dan salah satu:
 2× 1.000 lb JDAM atau
 2× Wind Corrected Munitions Dispensers (WCMDs) atau
 8× 250 lb GBU-39 Small Diameter Bomb
Avionik
 Radar: 125-150 mil (200-240 km) terhadap target 1 m² (perkiraan)[

Jeanne d'Arc (R 97)

Jeanne d'Arc (R 97)

Designation: Jeanne d'Arc (R 97)
Classification Type: Conventionally-Powered Helicopter Cruiser
Ship Class: Jeanne d'Arc (CVH)
Country of Origin: France
Initial Year of Service: 1964
Number in Class: 1
Jeanne d'Arc (R 97) dapat diklasifikasikan sebagai kapal induk secara umum, walaupun desainnya diutamakan untuk helikopter dan secara resmi diklasifikasikan sebagai “helicopter cruiser”. Dia tidak mempunyai dek penerbangan, dek-nya hanya berupa dek helikopter pada bagian buritan. Saat ini, kapal ini masih beroperasi untuk AL Perancis, walaupun rencananya akan dipensiunkan pada 2011. Fungsi utama kapal ini adalah untuk training pilot dan dapat difungsikan untuk misi ofensif dengan sistem helikopter multiperan yang dimilikinya.

Desain kapal ini mempunyai superstruktur di tengah dengan sebuah cerobong di bagian belakang superstruktur ini. Dia mempunyai sebuah haluan datar dan bagian buritannya merupakan dek penerbangan (helikopter) luas yang dapat mengakomodasi hingga 3tiga helikopter secara bersamaan. Hangar-nya terdapat di bawah dek dan dapat menyimpan 10 helikopter dari berbagai tipe dan ukuran. Helikopter ini termasuk Puma, Super Frelon, Alouette III dan Gazelle yang dapat digunakan untuk misi transportasi, pengintaian ataupun penyerangan. Tenaga kapal ini dihasilkan oleh empat mesin konvensional yang mampu menghasilkan 10.000 tenaga kuda. Kapal ini diawaki oleh 777 yang berperan sebagai sailor officer dan air men.
Kapal ini mempunyai kemampuan pertahanan diri yang terbatas jika dibandingkan dengan kapal cruiser modern, tetapi kapal ini memiliki 6 launcher misil anti-kapal permukaan-ke-permukaan Exocet 38, satu di bagian ujung depan superstruktur, yang lainnya di bagian samping. Kapal ii juga dilengkapi dengan dua meriam 100mm yang terpasang di bagian depan superstruktur. Untuk pertahanan jarak dekat, kapal ini dilengkapi dengan empat buah senapan mesin anti-pesawat 12.7mm.
Jeanne d’Arc mulai dibuat pada 1959 (sebagai “La Resolue”) dan diluncurkan pada 1961. Dia mulai dioperasikan pada 1964 dengan diganti nama menjadi Jeanne d'Arc, setelah dipensiunkannya kapal Cruiser Jeanne d’Arc yang dibuat pada 1930an. Dia mempunyai homeport di Brest, France. Dia menjadi kapal ketiga yang diberinama sesuai dengan pemimpin militer mitos Perancis
Specifications: Jeanne d'Arc (R 97)
Dimensions:
Length: 597ft (181.97m)
Beam: 79ft (24.08m)
Draught: 25ft (7.62m)
Performance:
Surface Speed: 26kts (30mph)
Submerged Speed: 0kts (0mph)
Range: (12,070km)
Structure:
Complement: 777
Displacement: 10,575tons
Power:
Engine(s): 4 x turbines producing 10,000hp each.
Weapons Suite:
6 x Exocet 38 surface-to-surface anti-ship missiles
2 x 100mm cannons (initially 4 turrets)
4 x 12.7mm anti-aircraft machine guns
Air Arm:
Up to ten aircraft that can include any of the following:
2 x Aerospatiale Puma Helicopters
2 x Aerospatiale Gazelle Helicopters
2 x Alouette III Helicopters
8 x Super Frelon Helicopters

B-2 Spirit Stealth Bomber, USA

B-2 Spirit Stealth Bomber, USA

Data Kunci
Lebar sayap---172ft
Tinggi---17ft
Panjangnya---69ft
Flying Wing Konfigurasi
Bahan komposit
Maksimum Take-Off Weight---£ 336,000
Payload---£ 40.000

Northrop Grumman adalah kontraktor utama untuk pembom Angkatan Udara Amerika Serikat B-2 Spirit stealth. B-2 adalah panjang rendah diamati, strategis, jangka, pembom berat mampu menembus canggih dan padat perisai pertahanan udara. Hal ini mampu menyerang semua misi-ketinggian hingga 50.000 kaki, dengan jangkauan lebih dari 6.000 nm unrefuelled dan lebih dari 10.000 nm dengan satu pengisian bahan bakar, memberikan kemampuan untuk terbang ke titik manapun di dunia dalam beberapa jam.
Its profil khas yang unik berasal dari 'sayap terbang' konstruksi. Tepi terkemuka sayap yang miring di 33 ° dan tepi trailing memiliki bentuk ganda-W. Hal ini diproduksi di fasilitas-fasilitas Northrop Grumman di Pico Rivera dan Palmdale di California.
21 B-2s telah dikirim ke Pangkalan Angkatan Udara Whiteman di Missouri, yang pertama pada bulan Desember 1993. Dalam tiga tahun pertama pelayanan, B-2s operasional mencapai tingkat keandalan 90% serangan mendadak.Sebuah penilaian yang diterbitkan oleh USAF menunjukkan bahwa dua B-2s bersenjata dengan persenjataan presisi dapat melakukan pekerjaan dari 75 pesawat konvensional.
Sebuah sistem hanggar baru diangkut telah dikembangkan yang memungkinkan B-2 yang akan dikerahkan ke lokasi di luar negeri ke depan.

Para hangar adalah 126ft panjang, lebar dan tinggi 55ft 250ft. Yang pertama hangar telah didirikan di Diego Garcia di Samudera Hindia.
Sebelum perkembangan ini, B-2s harus kembali ke Whiteman AFB setelah misi, untuk pemeliharaan fitur stealth pesawat. B-2 demikian digunakan untuk pertama kalinya selama Operasi Kebebasan Irak di Maret / April 2003. Pada bulan Maret 2005, skuadron B-2 ditempatkan untuk pertama kalinya ke Pangkalan Angkatan Udara Andersen di Guam dalam mendukung Komando USAF Pasifik.
Pada tanggal 23 Februari 2008, sebuah B-2 jatuh tidak lama setelah lepas landas dari Andersen AFB di Guam, kecelakaan pertama dalam sejarah pesawat. Kedua pilot aman dikeluarkan dari pesawat, yang tidak membawa amunisi. Sebuah investigasi USAF ke penyebab kecelakaan itu sedang berlangsung. B-2 armada dilandaskan sambil menunggu hasil penyelidikan, namun dikembalikan ke layanan pada bulan April 2008. Sebuah investigasi USAF merilis sebuah laporan kecelakaan pada bulan Juni 2008 yang menyimpulkan bahwa kecelakaan disebabkan oleh kelembaban di unit transduser port. Sensor ini dikirim terdistorsi informasi ke sistem data udara.
Northrop Grumman telah mengembangkan lapisan penyerap radar baru untuk melestarikan stealth B-2's karakteristik sementara secara drastis mengurangi waktu perawatan. Bahan baru, yang dikenal sebagai bahan alternatif frekuensi tinggi (AHFM), disemprotkan oleh empat robot yang dikendalikan secara independen.
B-2, setelah sepuluh tahun kerja, akhirnya mencapai kemampuan operasional penuh pada bulan Desember 2003.
Upgrade Program
Northrop Grumman, kontraktor utama B-2's, memimpin tim industri yang bekerja pada modernisasi-B 2. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa misi kerajinan tetap sepenuhnya mampu melawan ancaman yang berkembang di seluruh dunia.Berbagai program upgrade bekerja pada peningkatan lethality B-2's, kemampuannya untuk menerima informasi target diperbarui selama misi, dan kemampuannya untuk mengumpulkan, memproses dan menyebarluaskan informasi medan pertempuran dengan komandan pasukan gabungan atau responden pertama lokal di seluruh dunia.
Pada bulan Juni 2007, Northrop Grumman dianugerahi kontrak untuk mengembangkan kemampuan komunikasi satelit EHF dan meng-upgrade komputer arsitektur untuk B-2. Upgrade Lockheed Martin termasuk unit pengolahan terpadu (IPU). Penerbangan pengujian dengan sistem baru dijadwalkan akan dimulai pada akhir 2009.
Angkatan Udara Amerika Serikat dan Northrop Grumman Corporation menyelesaikan meninjau sistem desain perangkat lunak baru dan arsitektur komputer selama Juli 2008. Arsitektur baru ini memungkinkan pengolahan baru B-2's unit terpadu (IPU) untuk berkomunikasi dengan aplikasi pengolahan pesawat.
Arsitektur baru ini menyediakan lingkungan berkecepatan tinggi penanganan data yang dibutuhkan untuk melaksanakan masa depan B-2 kemampuan seperti sistem komunikasi satelit EHF, dan juga menyediakan B-2 kemampuan untuk menghancurkan target bergerak.
B-2 Cockpit
kokpit mengakomodasi dua awak. Hal ini dilengkapi dengan warna, sembilan tabung, penerbangan sistem instrumentasi elektronik (EFIS), yang menampilkan penerbangan, mesin dan data sensor dan sistem avionik dan senjata status.
Pilot dapat memilih untuk mengaktifkan pilihan yang tepat penerbangan dan peralatan misi untuk mode take-off, mode untuk masuk ke mode perang dan mendarat dengan menggunakan sebuah saklar tiga-cara sederhana.
Senjata
Pesawat ini membawa semua senjata internal dan dilengkapi dengan dua senjata terpisah bay di tengah pesawat. B-2 memiliki kapasitas untuk membawa sampai £ 40.000 senjata, termasuk senjata konvensional dan nuklir, amunisi presisi panduan, bom gravitasi dan berbagai senjata maritim.
Setiap teluk senjata dilengkapi dengan sebuah peluncur putar dan dua bom rakitan-rak. Dalam tes, B-2 berhasil dirilis B-61 dan B-83 mk84 bom nuklir dan konvensional dari roket peluncur putar, dan mk82-87 dan senjata konvensional CBU dari rak bom. The B61-11 adalah menembus bumi-bom nuklir untuk digunakan melawan terkubur dan mengeras target. B83 adalah bebas strategis-jatuh bom nuklir.

B-2 juga dapat membawa AGM-129 rudal jelajah maju, yang merupakan rudal jelajah strategis dengan berbagai diperkirakan sampai 1.500 mil.
16 JDAM dipandu satelit (mesiu serangan langsung gabungan) rudal dapat dibawa. Northrop Grumman adalah mengubah perakitan bom B-2 rak untuk konfigurasi 'baru' pintar, yang akan meningkatkan jumlah JDAMs yang dapat dibawa ke maksimum 80. Pesawat juga akan dilengkapi dengan senjata stand-off bersama (JSOW), bersama udara-ke-permukaan rudal stand-off (JASSM) dan amunisi dispenser angin-kompensasi (WCMD) dan akan mampu mengangkut sampai 80 115kg kecil diameter bom (SDB).
Pada bulan Juni 2007, Northrop Grumman dianugerahi kontrak untuk mengintegrasikan penetrator Boeing persenjataan besar-besaran (MOP) senjata pada B-2. MOP adalah panduan GPS, berisi 2.400 kg (£ 5.300) bahan peledak dan dirancang untuk menembus mengeras, terkubur target. B-2 mampu membawa dua senjata MOP, satu di setiap teluk senjata.
Sebuah sistem antarmuka generik senjata (GWIS) telah dipasang sebagai bagian dari 30 blok upgrade. The GWIS adalah paket perangkat lunak terpadu digital, yang memungkinkan B-2 untuk membawa senjata campuran yang berbeda-off berdiri dan amunisi serangan langsung terhadap serangan mendadak tunggal, memungkinkan pesawat untuk menyerang sampai empat jenis target dalam misi tunggal.

Berdasarkan kontrak diberikan kepada Northrop Grumman pada bulan Februari 2008, USAF telah memulai program untuk memberikan B-2 kemampuan untuk menyerang sasaran bergerak, menggunakan senjata presisi panduan seperti bom diameter II kecil. Kontrak tersebut melibatkan upgrade menampilkan dan mode radar.
Penanggulangan
B-2 membawa Lockheed Martin penerima radar peringatan, sebuah Northrop Grumman defensif sistem bantuan dan Lockheed Martin AN/APR-50 sistem manajemen defensif (DMS).
Radar
The radar Raytheon AN/APQ-181 mogok rahasia, operasi di band J (Ku band), adalah sebuah radar multi-mode dengan daerah tujuan menghindari berikut dan daerah.Pengujian di Edwards Air Force Base telah menunjukkan daerah yang handal berikut pada ketinggian ke 200ft.
Pada bulan April, 2009 Northrop Grumman Corporation disampaikan kepada Angkatan Udara AS pertama operasional bomber B-2 Spirit stealth harus dilengkapi dengan radar baru dimodernisasi. Pesawat ini resmi diserahkan ke angkatan udara pada di Whiteman Air Force Base, rumah operasional armada B-2 dan 509 Bom Wing.

Pesawat diperbarui akan digunakan oleh angkatan udara untuk melakukan pengujian tambahan bidang radar, dan data dikumpulkan dari keputusan ini akan mendukung keputusan tangkas masa depan.
B-2 radar program modernisasi menggantikan sistem radar pesawat yang asli dengan satu yang mencakup perbaikan teknologi yang terjadi sejak B-2 awalnya dirancang pada awal tahun 1980.
Pada bulan November 2002, Raytheon dianugerahi kontrak untuk mengembangkan AESA baru Ku-band (aktif secara elektronik array scan) untuk antena radar B-2 untuk menghindari gangguan dengan sistem satelit komersial setelah 2007.Penerbangan tes dengan radar baru dimulai pada bulan Oktober 2007 dan akan terus berlanjut di 2008. Pemasangan antena baru pada B-2 armada harus diselesaikan pada tahun 2010.
Navigasi dan komunikasi
navigasi suite B-2's Rockwell Collins termasuk sistem navigasi udara taktis tcn-250 (TACAN) dan sistem instument arahan vir-130A.
Peralatan komunikasi yang disediakan oleh Rockwell Collins. Sebuah strategi dan taktik militer Milstar sistem komunikasi satelit relay dipasang di blok 30 pesawat.
Pesawat telah ditingkatkan dengan link komunikasi Link 16.
Mesin
Pesawat ini didukung oleh empat General Electric F118-GE-100 turbofan engine internal dipasang di dalam tubuh sayap.
Mesin memiliki sistem kontrol temperatur gas buang untuk meminimalkan tanda tangan termal.
Mesin, peringkat 77kN, memberikan kecepatan subsonik tinggi dan berat maksimum lepas landas kotor £ 336.500 In-flight gigi pengisian bahan bakar dipasang di garis tengah atas pesawat di belakang kokpit.

PT-76 TNI-AL

PT-76 : Kisah Tank Amfibi Tua TNI-AL

Pengakuan kedaulatan atas kemerdekaan Negara Republik Indonesia oleh Kerajaan Belanda pada akhir tahun 1949 menandai berakhirnya Periode Perang Kemerdekaan 1945-1949. Pengakuan kedaulatan itu sendiri merupakan hasil dari Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda, antara Pemerintah Indonesia dengan Kerajaan Belanda. Salah satu klausulnya menyebutkan bahwa Kerajaan Belanda berkewajiban untuk mengembalikan seluruh wilayah pendudukannya kepada Pemerintah Republik Indonesia, termasuk Papua Barat atau Nederlands Nieuw Guinea. Di sini disebutkan bahwa Belanda akan mengembalikan Papua Barat kepada Indonesia selambat-lambatnya dalam jangka waktu setahun setelah pengakuan kedaulatan.
Namun ternyata hingga 9 tahun setelah pengakuan kedaulatan, Pemerintah Belanda tidak juga merealisasikan klausul tersebut. Demi memperjuangkan kembalinya Irian Barat, Indonesia menempuh berbagai jalur diplomasi, termasuk melalui UNO (United Nations Organization/Persatuan Bangsa-Bangsa). Namun berbagai upaya tersebut mengalami jalan buntu, sehingga Indonesia kemudian mengumandangkan Tri Komando Rakyat (Trikora) yang intinya menuntut pengembalian Irian Barat ke Ibu Pertiwi sesegera mungkin. Belanda meresponnya dengan memperkuat militer di Irian Barat termasuk mendatangkan kapal induk Hr.Ms. Karel Doorman. Menanggapi hal tersebut, Indonesia memutuskan menyelesaikan masalah Irian Barat melalui kekuatan militer sebagai pendukung jalur diplomasi.
Sementara itu di bidang militer, Indonesia menyadari bahwa kondisi Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) tidaklah seimbang jika dibandingkan dengan Belanda. Untuk itulah Indonesia berupaya mendatangkan sejumlah peralatan militer, baik pembelian baru maupun “second hand”, dari berbagai negara sejak tahun 1958. Upaya pertama ditempuh dengan pendekatan kepada negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat, namun tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Hal tersebut dikarenakan “kentalnya rasa solidaritas” mereka terhadap Belanda yang juga merupakan anggota Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO/North Atlantic Treaty Organization) yang berbasis di Eropa Barat.

NATO yang dipimpin Amerika merupakan kekuatan penangkal terhadap ancaman militer dari Pakta Warsawa yang dipimpin Uni Soviet. Sejak era Perang Dingin (cold war) dimulai tahun 1949, dua kekuatan adidaya dunia tersebut senantiasa bersaing mengembangkan pengaruh dan kekuatan militernya di seluruh belahan dunia. Celakanya, Indonesia yang menganut politik bebas aktif turut terseret dalam perseteruan dua raksasa tersebut. Kemenangan Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam Pemilu 1955 dipandang sebagai ancaman bagi dominasi Amerika di Asia Timur, sehingga mau tidak mau lebih memilih “mendukung” Belanda, walau jelas-jelas telah melanggar kesepakatan dalam KMB. Oleh sebab itu maka pembelian peralatan militer oleh Indonesia yang dipandang membahayakan Belanda terkesan dihambat.
Menghadapi kondisi yang “menghimpit” tersebut, memaksa Indonesia “melirik” negara-negara Blok Timur, seperti Uni Soviet, RRC dan Yugoslavia. Sejak tahun 1960 mengalirlah sejumlah besar peralatan militer modern asal Uni Soviet ke Indonesia, dan salah satunya adalah tank amfibi ringan PT-76 (Plavayushtshiy Tank-76).
Kelahiran PT-76
PT-76 pertama kali diperkenalkan kepada publik dan diproduksi secara massal oleh Uni Soviet sejak tahun 1954. Desain dasarnya sebenarnya telah dirancang sejak pertengahan Perang Dunia II. Kendaraan lapis baja berawak 3 orang ini berfungsi utama sebagai kendaraan intai tempur di jajaran AB Uni Soviet dan 23 negara lainnya. Kondisi geografis Uni Soviet serta Eropa bagian tengah dan timur yang banyak memiliki rawa-rawa, danau dan sungai besar mendasari pembuatan tank amfibi ini.


Soviet bermaksud menjadikan PT-76 sebagai ranpur terdepan yang akan menjebol pertahanan NATO dari garis belakangnya. Kesuksesan Rommel dalam melabrak pertahanan Sekutu di hutan Ardennes, Perancis, dan Amerika saat memotong kekuatan militer Korea Utara di semenanjung Korea, merupakan obsesi Soviet. Rangka dasar PT-76 kelak banyak memunculkan dan menjadi ilham bagi pembuatan kendaraan-kendaraan tempur (ranpur) lainnya, seperti BTR-50, panser angkut meriam gerak sendiri ASU 85 dan kendaraan angkut peluncur rudal Frog-2.
PT-76 secara fisik memiliki bobot dalam keadaan kosong 13,5 ton dan dalam keadaan siap tempur 14,5 ton. Agar mampu beroperasi di perairan dalam maka tank ini hanya memiliki lapisan baja yang tipis, yaitu 14 mm di bodi dan 17 mm di turet, tidak seperti tank sejenis di kelasnya. Sementara itu untuk mengurangi beban penumpang, maka komandan tank juga merangkap sebagai pengamat medan, awak meriam dan operator radio. Dimensi baku PT-76 jika diukur tanpa meriam memiliki panjang 6,91 m, lebar 3,14 m dan tinggi 2,21 m, kemudian ketinggian dari tanah ke kolong tank (ground clearance) adalah 0,37 m. Jika diukur dengan panjang meriam serta ketinggian senapan penangkis serangan udara yang terdapat di PT-76 maka dimensinya menjadi: panjang 7,62 m, lebar 3,14 m dan tinggi 3,70 m.
Tenaga penggerak PT-76 dihasilkan dari mesin diesel 4 silinder jenis V-6 yang berkekuatan 240 tenaga kuda atau 1.800 rpm. Bahan bakar yang dibutuhkan adalah 250 liter solar (HSD) kemudian 60 liter air sebagai pendingin radiator serta menggunakan pelumas mesin jenis DCO.50 sebanyak 45 liter. Ini membuat PT-76 mampu melaju dengan kecepatan hingga 45 km/jam di jalan raya sepanjang 260 km, 30 hingga 35 km/jam di jalan biasa dan 25 km/jam di jalan bergelombang sejauh 210 km. Kelebihan PT-76 ini terletak pada kekuatan mesinnya, karena mampu memberikan kemampuan berenang yang baik ke arah muka sebesar 11 km/jam untuk jarak 70 km dengan waktu tempuh 8 jam. Sedang jika bergerak ke belakang, memiliki kecepatan hingga 5 km/jam. Itulah sebabnya mengapa PT-76 dipandang memiliki kualifikasi sebagai tank pendarat amfibi.
Kelebihan lain dari PT-76 adalah mampu mendaki ketinggian di kemiringan hingga 38 derajat ataupun penghalang tegak setinggi 1,06 m, mampu berjalan stabil pada medan yang memiliki kemiringan hingga 18 derajat, melintasi parit selebar hingga 2,8 m atau melintasi turunan hingga sedalam 0,75 m dengan besar tekanan pada permukaan 0,49 kg/cm persegi dan dengan perbandingan daya terhadap bobot sebesar 17,5 daya kuda/ton. Sementara itu sudut masuk saat tank akan berenang di laut, danau atau sungai besar adalah 30 derajat dan saat keluar ke permukaan sudut dongak moncongnya adalah 25 derajat. Sistem tenaga kelistrikan PT-76 bersumber pada 2 buah accu (aki) yang masing-masing bertegangan 12 Volt. Sebagai sarana komunikasi, PT-76 menggunakan radio tipe R-123.
Persenjataan Yang Dimiliki
Tank PT-76 secara standard dipersenjatai dengan 2 jenis senjata, yaitu sepucuk meriam berkecepatan rendah jenis D-56TM kaliber 76,2 mm dan sepucuk senapan mesin koaksial jenis SG-43 kaliber 7,62 mm. Sebagai tambahan, PT-76 juga dapat diperlengkapi dengan sepucuk senapan mesin penangkis serangan udara jenis DShK kaliber 12,7 mm yang ditempatkan di kubah yang memiliki sistem penggerak ganda, yaitu manual dan elektrik, yang mampu berputar penuh 360 derajat dalam tempo 20 detik. Meriam D-56TM memiliki panjang laras 3,315 m dan mampu menembak beruntun sebanyak 40 kali dengan kecepatan antara 8 hingga 15 tembakan per menit serta memiliki daya jangkau tembakan hingga 4 km.


Pada penembakan tunggal, meriam jenis ini mampu menjangkau jarak sejauh 12,8 km. Meriam ini memiliki sudut dongak tertinggi hingga 40 derajat dan sudut terendah saat menunduk adalah 4 derajat. PT-76 mengangkut amunisi meriam sebanyak 40 butir campuran yang terdiri atas amunisi jenis HE (high Explosive), HEAT (High Explosive Anti Tank) dan HVAP (High Velocity Armour Piercing). Sementara itu senapan mesin koaksialnya yang berbobot 13,8 kg dibekali 1000 butir peluru dan tersimpan dalam 4 magasen. Senapan mesin SG-43 mampu menembak secara beruntun 350 tembakan per menit dengan jarak efektif 2 hingga 2,5 km. Senapan mesin ini terletak di sebelah kanan meriam. Kemudian sebagai pertahanan diri para awak PT-76 juga dibekali dengan 18 buah granat tangan. Khusus pada tugas-tugas operasional di malam hari, awak senapan mesin ditunjang dengan teropong bidik jenis TSK 66.
Retrofit PT-76
Tank amfibi PT-76 secara resmi masuk ke dalam jajaran kesatuan kavaleri APRI sejak tahun 1962. Namun karena berkemampuan amfibi maka sebagian besar tank ini lebih banyak dioperasikan oleh Batalyon Panser Amfibi Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL), atau yang sekarang dikenal sebagai Batalyon Kendaraan Pendarat Amfibi Korps Marinir TNI AL. Awalnya ranpur ini dipersiapkan untuk menunjang pelaksanaan operasi kampanye militer terbesar dalam sejarah Indonesia, yaitu Operasi Jayawijaya, yang akan digelar dalam rangka pembebasan Irian Barat. Pada perkembangan selanjutnya, PT-76 secara aktif dilibatkan dalam berbagai kegiatan operasi keamanan di dalam negeri dan operasi militer seperti Dwikora (1964-1965) di perbatasan Indonesia–Malaysia, Operasi Seroja (1975-1979) di Timor Timur dan Operasi Pemulihan Keamanan Terpadu di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (2002-2005).


Hingga memasuki era millennium ini, tank antik eks Rusia ini masih aktif dioperasikan oleh TNI AL dalam berbagai kegiatan penugasan dan latihan. Namun sesungguhnya kondisi PT-76 saat ini sangat berbeda dengan kondisi awalnya yang masih “asli” Rusia. Hal ini disebabkan adanya penggantian sejumlah mesin utama dan persenjataan dari produk Rusia ke produk negara-negara Barat. Keadaan tersebut tidak terlepas dari perkembangan situasi politik yang terjadi. Pada tahun 1965 meletus peristiwa berdarah G-30-S yang diduga didalangi oleh PKI, yang berujung dibubarkannya partai tersebut dan dinyatakan sebagai partai terlarang. Kebijakan pemerintah Indonesia itu kontan menuai protes keras dari Uni Soviet dan sekutu-sekutunya, dan akhirnya dilakukanlah embargo suku-cadang bagi PT-76. Embargo tersebut sempat menyulitkan pemeliharaan dan perawatan tank amfibi ini, hingga terpaksa dilakukan kanibalisasi. Namun mengingat PT-76 masih dipandang sebagai ranpur yang berperan penting dalam menunjang kegiatan operasi keamanan, untuk itu ditempuhlah kebijakan untuk mengganti mesin dan persenjataannya atau istilah kerennya “retrofit”.
Retrofit atau kegiatan peremajaan dimulai sejak tahun 1990 pada sejumlah Tank PT-76 yang masih layak pakai. Peremajaan dan modifikasi PT-76 antara lain meliputi: – Penggantian mesin diesel 4 silinder V-6 Rusia yang berkekuatan 240 daya kuda dengan mesin diesel 2 Tak 6 silinder jenis DDA V-92 T Turbo Charge seberat 1200 kg buatan Amerika Serikat yang berkekuatan 290 daya kuda. Penggantian ini memungkinkan PT-76 melaju di jalan raya dengan kecepatan hingga 58 km/jam, di jalan biasa 35 km/jam dan di medan terbuka 40 km/Jam. Meskipun demikin kecepatan saat berenang, baik ke arah muka maupun belakang, sama dengan spesifikasi “aslinya”. – Penggantian meriam D-56TM yang memiliki alur dan galangan berjumlah 32 buah, dengan meriam berkecepatan tinggi seberat 519 kg jenis Cockerill Mk.III A-2 kaliber 90 mm buatan Belgia. Meriam baru ini memiliki panjang laras 3,248 m dengan jumlah alur dan galangan 60 buah serta dibekali 36 butir peluru berbagai jenis. Meriam buatan Belgia ini memiliki jangkauan tembakan sejauh 2,2 km dan pada penembakan tunggal mampu mencapai 6 km. Adapun sudut dongak meriam ini 36 derajat dan tunduk 6 derajat. Sementara itu senapan mesin DShK diganti dengan FN GPMG kaliber 7,62 mm buatan Belgia. Meskipun telah berusia tua dan mengalami serangkaian peremajaan, namun PT-76 terbukti merupakan ranpur yang handal dan “bandel”. Kiranya cukup beralasan jika PT-76 Indonesia dijuluki “Battle Proven” alias Jago Perang yang melegenda di lingkungan Korps Marinir TNI AL.

Invincible Class Aircraft Carriers, United Kingdom

Invincible Class Aircraft Carriers, United Kingdom


Kapal induk pertama kelas HMS Invincible dibuat oleh Vickers Shipbuilding and Engineering (sekarang BAE Systems Marine) di Barrow-in-Furness. Kapal ini diresmikan pada 1980. Dua kapal induk saudaranya HMS Illustious dan HMS Ark Royal dibuat di Swan Hunter Shipbuilders di Wallsend, yang diresmikan pada 1982 dan 1985.
Setelah berakhirnya Perang Dingin, peran primer Kapal induk berbobot 20.600 ton ini dirubah dari kontrol laut menjadi maritime force projection (proyeksi kekuatan bahari), penyerangan maritime, maneuver littoral dan untuk komando dan kontrol operasi darat. Kapal induk ini sekarang mengangkut satu Tailored Air Group (TAG), yang terdiri dari pesawat Joint Force Harrier (JFH), serta Helikopter Sea King dan Merlin.
Kapal Induk Kelas Invincible ini mampu mengangkut 1.000 awak termasuk 350 awak udara dan 80 opsir, serta dapat ditambah dengan 500 orang mariner.
Kapal induk ini dipersenjatai dengan sebuah launcher kembar Sea Dart, yang dipasang di bagian depan kapal, dekat dengan ski ramp pada dek penerbangan. Akan tetapi, seluruh sistem misil di kapal induk ini dan kedua saudaranya telah dibuang untuk memperluas dek penerbangan, menambah kapasitas pesawat dan agar pesawat RAF Harrier GR.7/9 dapat lepas landas dari kapal ini. HMS Invincible selesai dikembangkan kembali pada Maret 2003. Sedangkan Illustrious pada November 2004 di Babcock’s Rosyth yard.
Pada Maret/April 2003, HMS Ark Royal digunakan untuk task force UK untuk mensupport Operation Iraqi Freedom. Di atasnya diangkut helikopter Merlin HMA1 dan Sea King ASaC Mk 7, operasi pertama untuk kedua helikopter ini.
HMS Invincible telah didekomisikan pada Agustus 2005, akan tetapi kapal ini masih beroperasi di bawah AL Inggris sampai 2010.
Sistem Komando
Sistem data pertempuran kapal induk ini adalah BAE Systems ADIMP dengan link komunikasi Link 10, Link 11 dan Link 14. Setelah dikembangkan kembali, HMS Invincible mempunyai sistem pertempuran yang setara dengan Illustrious dan Ark Royal, dengan konsol multi-fungsi dan display warna panel-datar. Sistem komunikasi satelit yang aman, Astrium (formerly Matra Marconi) SCOT, mempunyai kapasitas untuk mengatasi kecepatan data sampai 2Mb/dtk.
BAE Systems diupgrade setara dengan sistem data pertempuran milik Illustrious dan Ark Royal dengan link 16, kontrol peralatan perang anti-udara dan arah pesawat, dan sebuah kemampuan tracking IFF (Interrogation Friend or Foe) yang baru.
Meriam
Kapal Induk Invincible awalnya dipersenjatai dengan launcher kembar Sea Dart, yang kemudian dibuang. Kapal induk ini sekarang mempunyai tiga Thales Nederland (dulunya Signaal) Goalkeeper CIWS yang mempunyai kecepatan tembal 4.200 rounds per menit dengan jarak 1.500 meter.
Kapal ini juga dilengkapi dengan dua GAM-B01, meriam 20mm, dari Oerlikon-Contraves and BAE SYSTEMS, yang mempunyai jarak tembak 2km dan kecepatan tembak 1.000 rounds per menit.
Countermeasures
Kapal induk ini dilengkapi dengan sistem jamming Thales Defence Type 675(2) dan sebuah sistem pengukuran pendukung elektronik UAT(8) yang juga disuplai oleh Thales Defence (dulunya Racal).
Sistem decoy kapal ini adalah Royal Navy’s Outfit DLJ dengan Sea Gnat. Di sini terdapat delapan 130mm launcher six-barrel yang diproduksi oleh Hunting Engineering. Chemring and Pains Wessex memproduksi Sea Gnat chaff dan infra-red decoys.
Pesawat
Tailored Air Group (TAG) tersidiri dari sampai 24 pesawat yang termasuk di dalamnya sembilan kombinasi dari pesawat RAF/RN Joint Force Harrier GR7/GR9. Pesawat Royal Navy FA2 Sea Harrier telah ditarik dari operasi dari Maret 2004 dam skuadron terakhir dipensiunkan pada Maret 2006.
TAG termasuk campuran dari helikopter, tergantung perannya: Sea King ASaC Mk 7 helikopter peringatan awal serangan udara, Sea King dan Chinook helikopter pendukung dan Merlin HM.1 helikopter anti-kapal selam.

Landasan pada dek penerbangan sepanjang 170m dengan ski ramp 12 derajat. Di dalam dek hangar, pesawat terikat pada lantai dengan rantai pengaman dengan pengapit tension. Strachan and Henshaw dikontrak untuk memasang penggantian sistem pengangkat pesawat. Selex Sensors & Airborne Systems (sebelumnya Galileo Avionica) dikontrak untuk mensuplai radar SPN-720 untuk pendaratan pesawat Harrier GR9 pada Februari 2005. Sistem radar, sebuah sistem TACAN (Tactical Air Navigation) baru digunakan mulai April 2008.
Sensor
Radar kontrol oenembakan BAE Systems Type 909 G/H-band, yang mampu melakukan tracking target dan illuminasi untuk Misil Sea Dart, telah dibuang dan diganti dengan antena radar pencari permukaan BAE Systems Type 996 yang dipasang sangat tinggi pada menara di antara dua lobang asap.
Propulsi
Kapal induk ini dilengkapi dengan mesin COGAG (Combined Gas turbine And Gas turbine), yang terdiri dari empat mesin turbin gas Rolls-Royce Olympus TM3B yang menghasilkan tenaga 97.000 hp, dengan kecepatan 28 knots. Pada kecepatan ekonomis 19 knots, jarak tempuh kapal ini adalah 7.000 mil.


Project 1143 Krechyet

Project 1143 Krechyet
Kiev class

Kapal induk kelas Krechyet sepanjang 273 meter mensuport kapal selam misil strategis, kapal permukaan dan pesawat naval milik Rusia. Untuk memenuhi sistem klasifikasi kapal baru dari AL, kapal-kapal kelas ini dikategorikan sebagai heavy aircraft carrying cruisers. Kapal kelas Krechyet mampu untuk menghadapi peperangan kapal permukaan, kapal selam dan anti-udara. Dengan sebuah dek penerbangan seluas 14.700 meter persegi, kabel penanggkap pendaratan pesawat, dan sebuah haluan ski-jump, airwing kapal induk terdiri dari 14 interseptor vertical launched Yak-41M (Freestyle), 8 pesawat tempur Yak 38 (Forger), 10 Ka-27 PLO (Helix), 2 helikopter SAR Ka-27 PS (Helix) dan 4 helikopter Ka-27 RLD (Helix). Dua elevator starboard mengangkat pesawat dari dek hangar ke dek penerbangan. Dilengkapi dengan sistem misil anti-kapal Bazalt, kapal induk jenis ini mempunyai lancher misil permukaan-ke-permukaan. Sistem pertahanan udara jenis kapal induk Krechyet terdiri dari 24 launcher misil vertikal Klinok dan 192 misil anti-udara.
Kapal-kapal Proyek 1143 dibuat di Chernomorsky Plant. Tiap kapal mempunyai beberapa aransemen berbeda. Unit kedua, yang diluncurkan dengan nama Minsk, kapasitas pesawat ditingkatkan 50%, sebuah perubahan aransemen pada dek hangar pesawat. Selama proses pengembangan, dek penerbangan dibuat elingkar dan deflektor angina dipasang di depan. Unit ketiga dan keempat didesain untuk membawa pesawat generasi baru seperti pesawat VTOL supersonic Yak-36P (Yak-141) (dibatalkan) dan helicopter Ka-27, sebagai tambahan untuk pesawat Yak-38 dan helikopter Ka-25.
Unit keempat hasil proyek ini, Baku (yang akhirnya dirubah namanya menjadi Admiral Gorshkov, kadang-kadang dianggap berbeda kelas dengan unit-unit yang lain. Pengembangannya terdiri dari radar array terfase, instalasi peperangan elektronik ekstensif, dan ruangan komando dan kontrol yang diperluas. Dek penerbangan diperpanjang ke depan 5 meter melebihi tiga unit sebelumnya. Modifikasi lain termasuk tambahan 4 launcher SS-N-12 SLCM (total menjadi 12), penghilangan launcher SUW-N-1 untuk roket balistik anti-kapal/anti-kapal selam FRAS nuklir dan penghilangan misil permukaan-ke-udara SA-N-3 dan 10 pipa torpedo 21-inch. Kapal induk ini dilengkapi dengan sebuah sistem peperangan anti-kapal selam terintegrasi Udav-1 dengan 60 roket anti-kapal selam.
Negosiasi antara Rusia dan India dimulai pada 1994 untuk penjualan Admiral Gorshkov yang telah dinonaktifkan sejak 1991. Pada januari 1999 kesepakatan diperoleh untuk penjualan tersebut. Admiral Gorshkov dilaporkan akan dimodifikasi secara penuh dengan biaya $500-650 juta untuk dapat mengangkut pesawat konvensional seperti Su-27K Flanker-D dan MiG-29K Fulcrum-D. Modifikasi ini juga termasuk penambahan haluan lereng ski-jump take-off , dan pembongkaran beberapa launcher misil untuk memperluas lereng tersebut. Modifikasi ini dilakukan di Severodvinsk.
Specifications
Designer: Nevskoye Planning and Design Bureau
Builder: Chernomorsky [Nikolayev South]
Displacement (tons): 36,000 tons standard; 38,000 tons standard [Gorshkov]; 43,000-43,500 tons full load; 45,000-45,500 tons full load [Gorshkov]
Speed (kts): 32 knots
Dimensions (m): 249.5-257.0 meters long waterline; 273.0-274.0 meters long overall; 32.6-32.7 meters waterline beam; 3.0 meters flight deck width; 9.5 meters draft standard; 12.0 meters draft mean full load
Propulsion: 8 turbopressurized boilers; 4 steam turbines; 200,000 shp; 4 shafts
Crew: 1,200-1,600 (including air group)
Armament:
Missiles:
KIEV, MINSK 2 SA-N-3 Goblet twin launchers; 2 SA-N-4 Gecko twin launchers; 8 SS-N-12 Sandbox tubes
NOVOROSSIYSK 2 SA-N-3 Goblet twin launchers; 12 SA-N-9 8-cell vertical launchers; 8 SS-N-12 Sandbox tubes
GORSHKOV 24 SA-N-9 8-cell vertical launchers;12 SS-N-12 Sandbox
Guns:
KIEV, MINSK, and NOVOROSSIYSK 4 76.2-mm/59-cal AA (2 twin); 8 30-mm/65-cal AK-630 close-in (8 multi-barrel)
GORSHKOV 2 100-mm/70-cal DP (2 single); 8 30-mm/65-cal AK-630 close-in (8 multi-barrel)
Torpedoes: 10 21-in (533-mm) torpedo tubes
Aircraft: 12 or 13 Yak-38 Forger VSTOL; 14 to 17 Ka-25 Hormone or Ka-27/29 Helix

BTR-50 P : Panser Amfibi Paruh Baya

BTR-50 P : Panser Amfibi Paruh Baya

BTR-50 adalah salah satu alutsista (alat utama sistem senjata) milik TNI-AL yang sudah berusia lanjut alias paruh baya. Umur panser amfibi (pansam) ini bila ditakar memang cukup sepuh, sebab sudah beroperasi di Tanah Air sejak 1962. Pansam BTR-50 dibeli dari Uni Soviet bersamaan dengan tank amfibi legendaris Marinir, yakni PT-76. Kedua alat tempur ini memang di impor dalam menyongsong operasi Trikora. Di negeri asalnya, BTR-50 mulai beroperasi sejak 1955.
Meski sudah berusia 48 tahun, BTR-50 hingga kini tetap masih dioperasikan dengan dilakukan retrofit pada spare part yang sering mengalami keausan akibat pengunaan antara lain hull/body Arm & wheel hub, Track idler, Hub Idler, Rear, Shock Absorber, Superior Whee, Sprocket, Wheel, Track, Suspension, Front Shock Absorber melalui kerjasama antara Balitbang Dephan dengan PT. Pindad. Selain retrofit BTR-50 kini juga dilengkapi instrumen tambahan seperti alat pemadam kebakaran, sistem elektrik, alat pangtur suhu, alat kombinasi antar bagian, GPS (Global Positioning System), dan night google vision.

BTR-50 P (Browne Transporter 50 Palawa) punya kiprah panjang dalam sejarah operasi militer di Tanah Air. Beragam operasi amfibi sudah dilalui, seperti operasi Seroja di Timor Timur sampai operasi pendaratan menumpas GAM di Aceh. Karena usia yang tua, pansam ini kerap dituding sebagai penhantar maut bagi para awaknya. Setidaknya sudah 2 kali BTR-50 mengalami kecelakaan di laut, pertama saat operasi pendaratan amfibi saat operasi Seroja di tahun 70-an. Dan yang kedua saat Latihan Armada Jaya XXVII. Sebuah BTR 50 P yang mengangkut 15 prajurit marinir tenggelam di pantai Tanjung Jangkar di kedalaman 30 meter setelah bergerak menuju pantai 1300 meter dari KRI Teluk Kau-504. Bagian buritan pansam ini bergoyang dan tergulung ombak sehingga tenggelam. Sebanyak 8 prajurit Marinir selamat dan tujuh prajurit lainnya meninggal dunia.
Pansam BTR-50 P merupakan andalan jajaran kavaleri Korps Marinir TNI AL, malah terlihat lebih dianndalkan ketimbang tank amfibi AMX-10 yang usianya jauh lebih muda dan modern. Panser ini berbobot 15 ton dan pada tahun 1990-an telah mengalami modernisasi pada sistem penggerak, sistem senjata, dan sistem sensor. Modernisasi sistem penggerak berupa pergantian mesin yang berbobot lebih ringan namun bertenaga lebih besar dari mesin aslinya. Sistem senjata berupa penambahan dudukan senapan mesin ringan untuk menjamin perlindungan bagi prajurit yang keluar dari panser.

Pada umumnya BTR-50 berasal dari dua Negara yaitu BTR-50 P Rusia dan BTR-50 PK Ukraina. Untuk mengamankan NKRI BTR yang ada dilingkungan Marinir berjumlah 82 unit. Awalnya, kabin berkapasitas 20 orang pasukan bersenjata lengkap tak punya penutup atas. Baru pada tahun 1960 dengan alasan guna mendongkrak proteksi penumpang maka varian BTR-50 PK dilengkapi tutup kabin (hatch). Varian terakhir inilah yang sampai sekarang dipakai Korps Marinir TNI-AL.
BTR-50 berkapasitas solar penuh (full tank) sekitar 260 liter dan memiliki kemampuan melakukan penjelajahan 260 km. Satu liter solar, mampu mendorong sejauh 1 km dengan kecepatan 44 Km per jam. Itu kalau berada di jalan raya. Sedangkan di medan off-road, kecepatannya 25 Km per jam. Sedang di laut pansam ini mengandalkan dua unit water-jet. Kedua piranti ini sanggup menghela badan ranpur dengan kecepatan 10 Km per jam. Uniknya, kendaraan ini bisa juga berenang mundur pada kecepatan 5 Km per jam. Selain itu BTR-50 mampu menerjang ombak berketinggian maksimal 1,5 meter.

Saat ini dalam tiap operasi, BTR-50 memuat 16 orang personel, ditambah tiga orang kru. Ketiga kru tersebut adalah komandan kendaraan, pengemudi, dan penembak. Selain itu, juga dilengkapi oleh dua jenis senjata. Sayangnya, kendaraan ini tidak ada AC-nya. Untuk memperpanjang usia pakainya, BTR-50 tak lagi mengandalkan komponen orisinilnya. Sebab, pasca Peristiwa G-30S, suku cadang mendadak jadi langka. Alhasil perombakan lumayan besar diterapkan pada jeroan BTR 50. Menu utama perombakan adalah soal dapur pacu. Mesin diesel yang tadinya tipe V 6 asli Rusia, diganti dengan GM 6V-92T diesel keluaran AS.
Selain di Indonesia dan Rusia, BTR-50 juga banyak dipakai negara-negara eks blok Timur. Cina bahkan memproduksi versi lain dari BTR-50. Meski kodratnya sebagai kendaraan amfibi, BTR-50 juga aktif berperang di medan gurun pasir. Hal ini terbukti saat Mesir melancarkan perang Yom Kippur melawan Israel. BTR-50 aktif digunakan militer Mesir untuk melakukan operasi penyeberangan pasukan.
Spesifikasi
- Crew : 2+20
- Armamament : 1 x 7.62 mm machine gun
- Ammunition : 1,250 x 7.62mm
- Length : 7.08 m
- Width : 3.14 m
- Height : 1.97 m
- Weight : 14,200kg
- Engine : Model 6-cylinder in line water cooled diesel developing 240 hp at 1,800 rpm
- Max Road Speed : 44 kmh

B-1B LANCER

B-1B LANCER

Berdasarkan pembom B-1A, B-1B ini dikembangkan oleh Rockwell International di tahun 1980-an, ketika 100 dari pesawat yang diproduksi untuk mendukung misi nuklir dan ditempatkan di Komando Udara Strategis (SAC) basa. Pada tahun 1990-an, B-1B itu beralih ke senjata konvensional-misi.
Misi KEMAMPUAN nuklir
Dari tahun 1985 hingga 1997, B-1B mendukung misi nuklir dengan kemampuan sebagai berikut:
* High-speed Mach 1,25 penerbangan
* Gross berat lepas landas £ 477,000
* The AGM-69A nuklir jarak pendek serangan rudal (SRAM)
* Westinghouse sintetis aperture radar dan avionik ofensif-defensif sistem
Misi konvensional Kemampuan
Dengan berakhirnya perang dingin, B-1Bs yang dikonversi untuk mendukung amunisi konvensional, dan 32 dari mereka adalah pensiunan yang dimulai pada 2001 B-68 yang tersisa 1Bs mempertahankan kecepatan, muatan dan kemampuan penargetan bersama dengan konvensional baru berikut perangkat tambahan, yang diperkenalkan secara bertahap oleh Boeing:
* Hardware dan software tambahan untuk mengakomodasi berbagai senjata konvensional seperti gravitasi 24 Mk84 bom, 84 Mk82 bom bom konvensional atau 30 unit.
* Global positioning system (GPS) navigasi, amunisi serangan langsung gabungan (JDAM), anti-jam radio, dan ALE-50 diderek umpan penanggulangan
* New misi komputer, angin kompensasi amunisi dispenser (WCMDs), bersama senjata stand-off (JSOW), bersama udara-ke-permukaan rudal stand-off (JASSM), dan kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis senjata secara simultan dari tiga senjata bay.
Masa depan meliputi kemampuan radio digital baru, layar kokpit dan sensor perbaikan perbaikan sistem penanggulangan elektronik, radar warning receiver, kereta eksternal kemampuan dan senjata baru.
Combat Layanan dan Penghargaan
B-1B telah dibedakan oleh tempur berikut kegiatan dan penghargaan:
* Combat operasi termasuk Desert Fox (Irak, 1998), Allied Force (Kosovo, 1999), Enduring Freedom (Afghanistan, 2001 +), Irak Kebebasan (2003 +)
* Yang sangat tinggi presisi dipandu rasio per tempur menjatuhkan amunisi sortie – dari rasio maksimal 1% dari sorties memberikan 22% dari senjata di Irak dipandu Kebebasan (1:22) untuk rasio minimum 5% dari sorties memberikan 70 % dari JDAM senjata di Afghanistan (5:70)
* 100 rekor dunia untuk kecepatan, muatan, dan jarak