Tampilkan postingan dengan label Arteleri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arteleri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Juli 2013

HIMARS (The high-mobility artillery rocket system)

HIMARS adalah akronim dari The high-mobility artillery rocket system atau Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi, merupakan anggota baru dari keluarga multiple-launch rocket system (MLRS). HIMARS adalah sistem roket artileri yang sangat mobile  yang menawarkan daya tembak layaknya MLRS dari atas chassis roda. HIMARS dikembangkan oleh Lockheed Martin dibawah program advanced concept technology demonstration (ACTD), digagas pada tahun 1996.
Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi
HIMARS adalah sistem roket artileri yang sangat mobile dengan daya tembak sekelas MLRS

Tujuan dibuatnya HIMARS adalah untuk memborbardir dan mengalahkan artileri, konsentrasi pertahanan udara, truk, baja ringan dan kendaraan angkut personel, serta pasukan dukungan dan konsentrasi pasokan. HIMARS memiliki kemampuan meluncurkan roket lalu kemudian bergerak menjauh dari daerah tersebut dengan kecepatan tinggi sebelum pasukan musuh menemukan lokasi peluncuran.


Pesanan dan Pengiriman HIMARS


Pada bulan Januari 2000, Lockheed Martin diberikan kontrak EMD (engineering and manufacturing development) untuk menyediakan enam unit peluncur HIMARS. Dua unit peluncur HIMARS di pesan dalam waktu 2 tahun oleh Korps Marinir AS untuk evalusi penggunaan.
HIMARS menembakkan roket
HIMARS menembakkan roket

Pada Maret 2003, Angkatan Darat dan Korps Marinir AS menandatangani kontrak untuk produksi rendah tingkat awal (LRIP) dari 89 peluncur HIMARS untuk Angkatan Darat dan 4 untuk Korps Marinir AS (USMC). Kontrak LRIP kedua muncul pada bulan Januari 2004, 25 unit untuk Angkatan Darat dan 1 untuk USMC. Kontrak ketiga kembali diberikan pada Januari 2005, 35 HIMARS untuk AD dan 1 untuk marinir.

Pada November 2004, HIMARS berhasil menyelesaikan tes awal operasional dan evaluasi (IOT & E).Tiga prototipe HIMARS berhasil dioperasikan dengan baik dalam pertempuran selama Operasi Pembebasan Irak.
"HIMARS menembakkan roket lalu bergerak ke wilayah lain dengan kecepatan tinggi"
Secara resmi, HIMARS mulai beroperasi pada bulan Juni 2005 di bawah komando Artileri Medan 27, Korps Airborne 18 di Fort Bragg, North Carolina. Kontrak penuh pertama diberikan pada bulan Desember 2005. Total, direncanakan 900 unit akan melengkapi Angkatan Bersenjata AS.
Himars menembakkan amunisi MLRS dengan jangkauan 300km
Himars menembakkan amunisi MLRS dengan jangkauan 300km

Korps Marinir pertama AS yang dilengkapi dengan HIMARS, Batalion 2 dari Resimen Marinir 14, dikerahkan ke Irak pada Juli 2007.

Pada September 2006, Uni Emirat Arab memesan 20 peluncur HIMARS lengkap dengan amunisi ditambah dengan 101 ATACMS block 1A, 101 ATACMS block 1A Unitary, 104 MLRS, 130 GMLRS dan 130 GMLRS unitary rocket. HIMARS pertama diterima UEA pada akhir 2009 dan pada 2011 total biaya pesanan UEA untuk HIMARS mencapai 752 juta dolar.

Pada Januari 2007, Lockheed Martin memperoleh kontrak lebih lanjut untuk memproduksi 44 unit HIMARS untuk Angkatan Darat AS dan 16 unit untuk korps marinir.

Pada bulan September 2007, Kongres AS telah diberitahu tentang rencana penjualan 18 peluncur HIMARS ditambah 32 Unitary GMLRS dan 30 MLRS practice rocket ke Singapura. Peluncur HIMARS pertama dikirim pada bulan Juli 2010. Ini ditugaskan dalam armada Angkatan Bersenjata Singapura (SAF) pada September 2011.
Parade HIMARS menembakkan rudal ATACMS
Parade HIMARS menembakkan rudal ATACMS

Kontrak kembali diserahkan pada Januari 2009, 57 unit untuk Angkatan Darat AS dan 7 unit untuk Korps Marinir AS.

Pada bulan November 2010, BAE Systems menandatangani kontrak 16,3 juta dolar dengan US Army Tank-Automotive and Armaments Command (TACOM) untuk memasok 44 kendaraan tambahan HIMARS. Kontrak tersebut merupakan tindak lanjut atas kontrak 24 juta dolar pada Juni 2010 untuk 63 kendaraan HIMARS dan kit aplikasinya.
"Proses awal identifikasi target hingga peluncuran hanya membutuhkan waktu sekitar 16 detik"
Pada bulan Januari 2011, Angkatan Darat AS menempatkan kontrak sebesar 139,6 juta dolar dengan Lockheed Martin untuk 44 unit HIMARS, menambah total HIMARS yang dimiliki AD sebelumnya yaitu sebanyak 375. Pengiriman kemungkinan akan diselesaikan pada awal 2013 nanti. AD AS menerima HIMARS yang ke-400 pada September 2011.
sistem roket artileri mobilitas tinggi
HIMARS resmi digunakan AS pertama kali pada Juni 2005


Sistenm Kontrol Penembakan Roket HIMARS

HIMARS tetap mempertahankan fitur self-loading dan otonom yang sama diterapkan pada MLRS. Upgrade dari Improved launcher mechanical system (ILMS) dan electronics of the improved fire control system (IFCS), yang juga terpasang di peluncur M270 MLRS juga dipasang pada HIMARS.

Universal fire control system (UFCS) Lockheed Martin , yang merupakan upgrade evolusi lebih lanjut dari sistem kontrol tembak sebelumnya, telah diselesaikan dan lulus uji coba dan pada 2008 sudah dipasang pada produksi-produksi HIMARS selanjutnya. Sukses uji coba penembakan HIMARS dengan rudal ATACMS (pada Maret 2008) dan roket GMLRS (pada Mei 2008) tidak lain karena dukungan GPS UFCS terbaru.
menembakkan rudal dari kendaraan taktis FMTV
Tiga HIMARS menembakkan rudal dari kendaraan taktis FMTV

HIMARS dioperasikan oleh tiga kru - komandan, pengemudi dan penembak - tetapi dengan sistem kontrol tembak yang berbasis komputer memungkinkan hanya dua atau bahkan seorang kru untuk mengoperasikan HIMARS. Sistem kontrol tembak termasuk video, kontrol keyboard, gigabyte program penyimpanan dan global positioning system (GPS). Komputer kontrol tembak memungkinkan misi tembak dilakukan dalam mode otomatis atau mode manual.

Dalam suatu misi, pos komando dan kontrol akan mengirimkan data target melalui link data yang aman ke komputer on-board HIMARS. Komputer kemudian menontrol peluncur dan memberikan sinyal cepat untuk kru untuk bersiap dan menembak pada nomor yang sudah dipilih. Proses awal identifikasi target hingga peluncuran hanya membutuhkan waktu sekitar 16 detik.


Amunisi HIMARS

Selain amunisi standar MLRS, HIMARS mampu meluncurkan seluruh amunisi dari keluarga MLRS, termasuk roket extended-range, roket praktis reduced-range dan semua varian roket masa depan. HIMARS membawa 6 roket tunggal MLRS dalam 1 pack, atau satu roket army tactical missile system (ATACMS).
Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi
Bobot HIMARS 24.000 pon, setengah dari berat MLRS

Roket extended-range MLRS (ER-MLRS) meningkatkan jangkauan dari 32 km ke lebih dari 45km.
"Pada bulan April 2004, HIMARS berhasil uji tembak roket GMLRS, dengan jangkauan lebih dai 70 km"
Perpanjangan ukuran dari motor roket telah menjadikan pengurangan muatan untuk 518 granat M85, tapi dispersi dari granat ditingkatkan untuk efektivitas yang lebih baik dengan granat yang lebih sedikit.

Pada bulan April 2004, HIMARS berhasil uji tembak roket GMLRS, dengan jangkauan lebih dai 70 km.

Roket GMLRS dari Lockheed Martin memiliki GPS (global positioning system) dan paket bimbingan inersia dan canards kecil di moncong roket untuk meningkatkan akurasi. Roket GMLRS siap pakai pada bulan Desember 2002 dan diproduksi mulai April 2003.
menembakkan rudal jarak jauh dengan dipandu GPS
HIMARS menembakkan rudal jarak jauh dengan dipandu GPS

HIMARS juga mampu menembakkan rudal jarak jarak jauh ATACMS (army tactical missile system). Keluarga ATACMS meliputi Blok 1, Blok 1A dan 1A Blok Unitary. Rudal Blok 1 memiliki jangkauan lebih dari 165 km dan rudal Blok 1A memiliki jangkauan lebih dari 300km. Rudal Blok1A Unitary pertama kali digunakan dalam mendukung Operasi Pembebasan Irak pada Maret/April 2003.
"HIMARS mampu meluncurkan seluruh rudal dari keluarga rudal MLRS, termasuk rudal jarak jauh"
Program untuk mengembangkan rudal Blok II dan rudal Blok IIA dibatalkan pada Februari 2003.


Kendaraan

HIMARS membawa 6 roket dalam 1 pack dengan menggunakan truk kendaraan taktis menengah (FMTV) 6x6 all-wheel drive yang disuplai dari Armor Holdings Tactical Vehicle Systems Division (sekarang BAE Systems Mobility & Protection Systems), Texas.

Truk HIMARS berbobot sekitar 24.000 pon (sekitar 10.886 ton), lebih ringan dibandingkan dengan MLRS M270 yang seberat 44.000 pon (19.958kg).
meluncurkan roket dengan sistem IFCS
HIMARS meluncurkan roket dengan sistem kontrol tembak IFCS

HIMARS dapat ditransportasikan dengan pesawat C-130, yang memungkinkan HIMARS dapat berpindah ke daerah-daerah yang sebelumnya tidak dapat diakses oleh pesawat yang lebih besar seperti C-141 dan C-5 (pesawat militer terbesar di dunia) yang diperlukan untuk mengangkut M270.
Karakteristik HIMARS
Kru3 awak - komandan, pengemudi dan penembak -
ProdusenLockheed Martin, HIMARS Vehicle, BAE Systems
Panjang7m
Lebar2,4m
Tinggi3,2m
Berat24.000 pon (10,886 ton)
Jarak tempuh480 km

Sumber : http://www.artileri.org/2012/08/himars-sistem-roket-artileri-mobilitas-tinggi.html

MERIAM HOWITZER D-30


Howitzer D-30 atau 122 mm D-30 (Grau indeks 2A18), adalah meriam Howitzer Soviet yang pertama kali mulai digunakan pada tahun 1960-an. Ini adalah artileri yang relatif ringan dan cukup efektif. D-30memiliki jangkauan maksimum 15,4 kilometer dan dapat melebihi 21 km bila menggunakan amunisi RAP.

Dengan sistem tiga kaki yang mencolok, D-30 sangat stabil sehingga untuk berputar dalam lingkaran 360 derajat adalah hal yang mudah dan cepat. Meski tak lagi diproduksi di bekas-bekas negara Uni Soviet, D-30 masih diproduksi secara internasional dan masih dalam layanan Angkatan Bersenjata lebih dari 60 negara.

Meriam 2A18 adalah senjata utama dari Howitzer. Beberapa negara seperti Mesir, China dan Suriah memakai dan memproduksi varian Howitzer yang berbeda.

4 personil mengoperasikan Howitzer

Selasa, 27 November 2012

ASTROS II, Sistem Peluncur Roket Multi-Laras Buatan Brasil



ASTROS-II, Kendaraan Modul Peluncur Roket
ASTROS-II, Kendaraan Modul Peluncur Roket.
ASTROS II (Artillery Saturation Rocket System) adalah sistem peluncur roket multi-laras (MLRS: Multiple Launch Rocket System) yang diproduksi oleh perusahaan Avibrás di Brasil. Sistem ini mampu menembakkan roket dengan kaliber 127 mm hingga 300 mm. Unit Astros II dikembangkan dengan basis kendaraan Tectran VBT-2028 6x6 yang memiliki mobilitas tinggi pada berbagai kondisi medan.

Astros II biasanya dikelompokkan dalam baterai artileri yang terdiri dari 13 kendaraan, dengan perincian: 
  • 6 unit kendaraan peluncur roket
  • 6 unit truk pembawa roket
  • 1 unit kendaraan yang dilengkapi radar dan system kontrol peluncuran / penembakkan.
ASTROS-II, Kendaraan Radar dan Sistem Kontrol Tembakan / Peluncuran
ASTROS-II, Kendaraan Radar dan Sistem Kontrol Tembakan / Peluncuran.
Astros II sudah digunakan oleh Angkatan Darat Brasil sejak tahun 1983. Pihak asing yang sudah membuktikan kemampuan sistem peluncur roket ini contohnya adalah Irak. Angkatan Darat Irak menggunakan Astros II pada Perang Teluk, namun pihak Arab Saudi juga menggunakan unit sistem yang sama untuk melawan Irak. Pihak militer Angola juga menggunakan Astros II untuk mengalahkan UNITA. 

ASTROS-II, Proses Supply Ulang Roket
ASTROS-II, Proses Supply Ulang Roket.
Untuk perencanaan hingga tahun 2020, Avibrás tengah mengembangkan Astros AV-300 MT dengan kemampuan meluncurkan berbagai jenis rudal jelajah yang memiliki jangkauan tembak hingga 300 km. Unit Astros generasi baru ini memungkinkan pasukan Angkatan Darat untuk mengintegrasikannya dengan sistem senjata pertahanan udara.

Varian :
  • SS-30 dengan muatan 32 unit roket kaliber 127 mm, jangkauan tembak minimum 9 km, maksimum 30 km
  • SS-40 dengan muatan 16 unit roket kaliber 180 mm, jangkauan tembak minimum 15 km, maksimum 35 km
  • SS-60 (versi buatan Irak diberi nama Sajil-60) dengan muatan 4 unit roket kaliber 300 mm, jangkauan tembak minimum 20 km, maksimum 60 km
  • SS-80 dengan muatan 4 unit roket kaliber 300 mm, jangkauan tembak minimum 22 km, maksimum 90 km
  • SS-150 dengan muatan 4 unit roket kaliber 300 mm, jangkauan tembak minimum 29 km, maksimum 150 km
  • AV-300 MT khusus untuk meluncurkan rudal jelajah dengan daya jangkau 300 km. Saat ini dalam tahap pengembangan
Keseluruhan jenis roket menggunakan hulu ledak berbahan tipe High Explosives.

  • Bobot : 10.000 kg
  • Panjang : 7 meter
  • Lebar : 2,9 meter
  • Tinggi : 2,6 meter
  • Kru : 3 orang
  • Persenjataan Utama : Modul Peluncur Roket
  • Persenjataan Tambahan : 1 unit meriam mesin M2 Browning kaliber 12,7 mm
  • Mesin : 1 unit Mercedes OM422 8 silinder
  • Suspensi : 6x6
  • Jangkauan Operasi : 480 km
  • Kecepatan Maksimum : 90 km/jam
http://prokimal-online.blogspot.com/2012/10/astros-ii-mlrs.html

WR-40 Langusta



WR-40 Langusta
WR-40 Langusta termasuk salah satu sistem persenjataan yang ada dalam daftar belanja pertahanan TNI. Hal ini ditandai dengan kunjungan ke Polandia pada tanggal 23 – 29 Oktober 2010 yang dilakukan oleh sejumlah pejabat TNI untuk melihat langsung uji coba dan kinerja dari sistem peluncur roket Artileri WR-40 Langusta buatan Polandia ini. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara | WR-40 Langusta, Sistem Peluncur Roket Artileri Buatan Polandia.
Modul sistem peluncur roket multi laras (MLRS: Multiple Launch Rocket SystemWR-40 Langusta dibuat oleh Wojskowej HSW S.A, Polandia. Awalnya modul ini diproduksi untuk memenuhi kebutuhan Angkatan Bersenjata Polandia guna menggantikan BM-21 yang sudah lama dan usang. Dengan truck Jelcz P662D.35G-27 sebagai wahana pengangkutnya, MLRS WR-40 Langusta dapat dibawa menjelajahi medan hingga sejauh 650 km. 40 tabung peluncur yang terpasang dibadannya mampu memuntahkan roket sejauh 1,6 km - 42 km dengan sudut tembakan maksimal 30 derajat.

Sama halnya dengan RM-70 Grad Ceko yang dimiliki Marinir TNI AL, WR-40 Langusta buatan Polandia ini juga menggunakan kaliber 122 mm. Keduanya sama-sama hasil pengembangan dari artileri roket MLRS model lama BM-21 buatan Uni soviet (Rusia). Perbedaan yang mencolok pada kedua sistem peluncur roket artileri ini adalah RM-70 Grad dapat melakukan pengisian secara otomatis dengan sistim autoloader sedangkan pengisian ulang roket pada WR 40 Langusta dilakukan secara manual oleh awak unit dengan memakan waktu sekitar 7 menit.

Untuk penyesuaian medan, RM-70 Grad yang memiliki bobot tempur 25 – 30 ton dinilai masih kurang fleksibel di banding WR 40 Langusta karena para awaknya akan bekerja lebih ekstra untuk mencari lokasi yang tepat dijadikan sebagai tempat peluncuran roket kearah lawan. Berbeda dengan WR 40 Langusta dengan panjang yang lebih pendek dan ringan akan memudahkan awaknya mencari posisi atau lokasi untuk memberikan bantuan tembakan ke garis depan.

Selain memberikan payung tembakan terhadap pasukan infanteri kawan WR 40 Langusta juga dapat digunakan sebagai penghambat laju pasukan infanteri lawan dengan menembakkan amunisi yang sudah dimuati ranjau anti personel untuk ditebar dan ditanam di wilayah lawan.

Pada kabin WR-40 Langusta memiliki sistem pengaturan yang tergolong cukup canggih dikelasnya. Semuanya sudah terintegrasi dalam satu pusat kontrol yaitu dari dalam kabin. Di dalamnya terdapat panel pengatur tembakan serta sistem GPS yang dapat membantu memberikan tembakan akurat. Selain itu juga terdapat pengatur tekanan roda otomatis untuk memudahkan kendaraan melintasi medan berat serta tanjakan dengan kemiringan 60 derajat.

Dari segi kebutuhan amunisi roket 122 mm untuk WR 40 Langusta dan RM 70 Grad, Departemen Pertahanan (Dephan) bekerjasama dengan industri strategis Indonesia seperti Lapan dan Pindad untuk melakukan riset pengembangan roket berdiameter 122 mm (Rhan). Meski saat ini daya jelajah roket hasil riset kedua institusi tersebut masih tergolong kurang maksimal yaitu 14 km namun akan terus dikembangkan sampai mencapai jarak yang diharapkan untuk menopang kebutuhan amunisi jenis roket yang dibutuhkan oleh TNI.

Secara taktis keberadaan WR 40 Langusta akan dapat membantu memobilisasi gerak pasukan infanteri untuk menerobos masuk kewilayah lawan dengan cepat serta memberikan payung tembakan yang akurat.

Spesifikasi WR 40 Langusta
  • Awak : 4 - 6 orang
  • Kendaraan angkut : Truck Jelcz P662D.35G-27
  • Sistem gerak : 6×6
  • Mesin : Diesel Iveco Aifo Cursor 8, daya 350 Hp
  • Kecepatan maks : 85 km/jam
  • Jarak operasional : 650 km
  • Berat total : 40 ton
  • Panjang : 8,58 m
  • Tinggi : 2,74 m
  • Lebar : 2,54 m
  • Kaliber roket : 122 mm
  • Jumlah laras : 40 tabung
  • Jarak tembak : 1.6 - 42 km

Jumat, 17 Juni 2011

Howitzer 105 mm KH-178 TNI

howitzer 105 mm KH-178

Batalyon Artileri Medan 9/ Kostrad (Yonarmed 9) 19 April lalu melakukan uji penembakan meriam Howitzer 105 mm terbaru dari Korea jenis KH-178 di lapangan tembak ASR (Air Shooting Range) TNI AU Pandan Wangi Lumajang Jawa Timur. Pembelian meriam ini merupakan lanjutan dari Kontrak Eksport (KE) pembelian alutsista TNI AD dari Korea.

Pengujian melibatkan beberapa personel dari Pusdikarmed Pussenarmed Kodiklat TNI AD maupun personel dari Yonarmed 9/ Kostrad. Kegiatan penembakan ini telah melalui beberapa rangkaian meliputi : pelatihan operator meriam yang telah dilaksanakan di Yonarmed 9/ Kostrad pada tanggal 16-23 Maret 2011 dan Uji Fungsi meriam KH 178 yang telah selesai dilaksanakan di lapangan tembak Batujajar, Bandung pada 5 April 2011

Menurut Brigjen Agung Gde Suardhana meriam 76 MM yang telah lama digunakan Armed digantikan meriam 105 MM KH 178 buatan Korsel yang lebih mutakhir. Pasukan Armed juga akan mendapat tambahan senjata baru yakni roket WR 40 langusta buatan Polandia.

Meriam 105 mm KH 178 tersebut akan ditempatkan di beberapa Satuan Armed antara lain : Yonarmed 9/ Kostrad, Yonarmed 8/ Kostrad dan Yonarmed 15 Dam II/ Sriwijaya.

Rabu, 04 Mei 2011

Langusta WR-40

Langusta WR-40

Langusta WR-40 bisa diproduksi dalam bentuk baru bisa juga upgrade langsung dari BM-21, yang umumnya sudah uzur warisan pembelian eks-Uni Soviet/pakta warsawa.

Upgrade BM-21 ongkosnya sekitar separo dari beli baru WR-40 Langusta. Berpenggerak 6×6 Langusta tangguh dalam cross country, lagian bobot tempurnya berkisar 18-20 ton. Masih feasible untuk topografi alam dan konstruksi jalan di Indonesia. WR-40 bobotnya lebih ringan dari RM-70 karena lebih pendek dan lebih sederhana. RM-70 berpenggerak 8×8 dan memiliki autoloader yang berisi roket suplai yang terletak antara peluncur dan kabin. Jadi jika roket yang ada di dalam tabung launcher telah kosong, bisa secara otomatis diisi kembali dengan roket yang di dalam autoloader secara mekanis. Sedangkan WR-40 untuk pengisian ulang roket ke dalam tabung launcher sepenuhnya manual dari unit kendaraan pendukung yang membawa roket.

Durasi pengisian ulang roket ke dalam 40 tabung peluncur memakan waktu sekitar 7 menit. Langusta bisa diawaki 4 hingga 6 prajurit, bermesin diesel 350 daya kuda Iveco Aifo Cursor 8. Chasisnya menggunakan platfom truk Jelcz P662D.35G-27 6×6. Tekanan angin dalam ban kendaraan dikendalikan secara terpusat dari ruang kabin sehingga mudah disesuaikan dengan kondisi jalan dan medan. Hulu ledak artileri roket umumnya adalah jenis HE-fragmentation dan AP (armour piercing) tetapi bisa juga dimuati ranjau anti personel untuk ditanam ke medan tempur menghambat gerak maju pasukan infanteri lawan.

Hummel 150mm Self-Propelled Howitzer

Hummel 150mm Self-Propelled Howitzer

Pengalaman pasukan Jerman dalam Operation Barbarossa menunjukkan bahwa pasukan Jerman membutuhkan lebih banyak dukungan artileri bagi pasukan tank mereka. Mengingat pasukan tank selalu bergerak dengan dinamis, maka tentu saja dukungan artileri bagi pasukan tersebut tentu saja akan lebih efektif jika dilakukan oleh unit-unit self-propelled gun; sementara pada saat itu pasukan Jerman kekurangan self-propelled gun yang memadai.

Pada tahun 1942 Jerman pun merancang kendaraan tempur artileri yang baru. Semula direncanakan akan menggabungkan howiter IeFH17 kaliber 105mm dengan rangka tank Panzer III. Namun kemudian diputuskan untuk menggunakan senjata yang lebih besar, yaitu howitzer sFH 18 L/30 kaliber 150mm (yang memiliki jarak tembak maksimum lebih dari 13 km). Tetapi senjata yang lebih berat membutuhkan rangka yang lebih kuat pula, dan akhirnya diputuskan untuk menggunakan rangka Geschutzwagen III/IV (kendaraan yang khusus dicpitakan sebagai rangka self-propelled gun atau tank destroyer. Menggunakan banyak komponen dari Panzer III dan Panzer IV. Rangka kendaraan ini ini juga digunakan oleh tank destroyer Nashorn).

Hummel diawaki oleh enam orang. Selain howitzer kaliber 150mm dengan 18 butir amunisi, self-propelled howitzer ini juga dipersenjatai dengan senapan mesin MG34 kaliber 7,92mm sebagai sarana perlindungan diri. Karena hanya mampu membawa amunisi 150mm dalam jumlah terbatas, unit-unit Hummel bisa diikuti oleh kendaraan pengangkut amunisi. Kendaraan pengangkut amunisi itu sendiri adalah Hummel yang tidak dipersenjatai dan dengan lapisan baja lebih tebal. Tercatat sekitar 714 unit Hummel dan 150 unit kendaraan pengangkut amunisi yang diproduksi pada tahun 1942-1944.

Self-propelled howitzer ini pertama kali digunakan dalam Battle of Kursk dan kemudian digunakan hampir di semua front pertempuran yang melibatkan Jerman. Pasukan Jerman menyukai Hummel karena memiliki ruang yang cukup bagi semua awaknya dan kemampuan mobilitas yang cukup tinggi untuk mengikuti gerak maju pasukan tank.

Setelah Perang Dunia II, Rusia merebut sejumlah Hummel dan menggunakannya hingga akhir tahun 1940-an. Beberapa unit Hummel tersebut kemudian diberikan kepada Rumania dan memperkuat militer Rumania sampai tahun 1954.

Selasa, 26 April 2011

FLAK-88 Cannon

FLAK-88 Cannon

Flak 88 adalah Meriam Pertahanan Udara Berat yang biasanya digunakan untuk menembak pesawat pada ketinggian. Sejarahnya berhubungan saat perang dunia pertama, dimana meriam2 dengan Muzzle Velocity yang tinggi mencoba menembak jatuh pesawat yang terbang di ketinggian yang tinggi.

Lalu pada awal 1920-an Jerman mengembangkan meriam bersama Bofors-Swedia, lalu jerman mengadopsinya dengan nama Flak18. Flak36 adalah model yang lebih sederhana dari Flak18 dengan Tiga buah laras.

Flak 88 adalah yang pertama kali melihat pertempuran di Spanyol selama Perang Saudara di tahun 1936, di mana ia membuktikan diri tidak hanya baik senjata anti-pesawat tetapi juga pembunuh tank yang ideal karena muzzle velocity yang tinggi dan karma proyektil yang berat. Terbukti Flak 88 merupakan senjata anti-tank yang sangat baik di Perancis pada tahun 1940, terutama terhadap tank berat Prancis B1-Bis Char dan Mk.II Matilda Inggris. Pada waktu ketika sampai di Afrika Utara itu pembunuh tank yang paling ditakuti, yang dapat mengetuk setiap tangki Sekutu pada jarak lebih dari 1000 meter. Ini lagi membuktikan reputasinya di Rusia, di mana itu adalah senjata hanya mampu menghadapi tank Soviet T-34/76 menengah dan KW-1 tank berat, sebelum kedatangan tank Jerman lebih berat. 88mm Flak senjata juga digunakan sebagai artileri medan - misalnya selama Pertempuran Bulge. Satu-satunya masalah dengan 88mm Flak seri itu tinggi dan berat badan, yang memaksa dalam tindakan untuk mengandalkan kekuatan dan jangkauan daripada penyembunyian. Selama perang senjata 88mm Flak seri digunakan selain Angkatan Darat Jerman oleh Italia dan diambil contoh yang sering digunakan oleh Sekutu termasuk US Army pada akhir 1944 di Eropa Barat. Setelah banyak perang 88mm Flak seri senjata yang digunakan oleh banyak negara termasuk bekas Yugoslavia dan Denmark.

Prototipe Flak 18 dikembangkan sejak 1928 oleh Krupp dari Essen bekerjasama dengan Swedia Bofors, tapi masuk produksi setelah Hitler naik berkuasa pada 1933-1934. Itu adalah terpasang pada kereta salib berputar, yang dilakukan oleh dua trailer poros tunggal, yang memungkinkan untuk menjadi cepat turun. Flak 18 telah barel secuil. Berikutnya model Flak 36 pada dasarnya Flak 18 dengan laras multi-bagian dan jenis transportasi baru trailer. Flak 36 diikuti oleh Flak 37, yang merupakan perbaikan Flak 36 dengan sistem pengendalian kebakaran revisi transmisi data, yang membuat senjata lebih cocok untuk statis daripada menggunakan mobile. Flak Flak 36 dan 37 berbeda satu sama lain oleh kereta. Flak 18 adalah diangkut menggunakan trailer ringan (Sonderanhaenger 201) dan lebih ringan dalam transportasi dari model kemudian, yang digunakan oleh 1200kg Sonderanhaenger 202. Ketiga model yang dipertukarkan dan sering Flak 18 barel yang terpasang pada Flak 37 kereta. Juga selama produksi berbagai perubahan diperkenalkan termasuk trailer baru, berbagai kereta api gerbong datar mount (misalnya dan pertahanan pesisir). Pada bulan Agustus tahun 1944, ada beberapa 10.704 Flak 18, 36 dan 37 senjata dalam pelayanan.

Pada tahun 1942, Flak 41 (Geraet 37) diperkenalkan senjata namun jumlah kecil diproduksi oleh Rheinmetall karena probelms teknis awal. Ini adalah senjata rumit dan pengembangan berlanjut sampai 1943. Itu rentan terhadap masalah dengan amunisi, sejak kasus sering macet pada ekstraksi setelah tembak. Dua jenis senapan barel digunakan - tiga dan empat bagian. contoh pertama digunakan di Tunisia, tetapi karena masalah teknis sebagai berikut debut mereka Flak 41 senjata yang digunakan secara eksklusif dalam Jerman, di mana mereka dapat dipelihara dan diservis dengan baik jika diperlukan. Hanya 157 Flak 41 senjata yang digunakan pada Agustus 1944 dan 318 pada Januari 1945. Saat itu berhasil tanpa masalah itu adalah sepotong artileri yang sangat baik dan dari segi teknis ini dipandang sebagai senjata anti-pesawat terbaik Jerman perang.

Model Terakhir Flak 37/41 merupakan kombinasi dari Flak 41 laras senapan dengan Flak 37 kereta, tetapi karena masalah teknis hanya 13 yang diproduksi.

Rabu, 19 Januari 2011

Archer Tank Destroyer

Archer Tank Destroyer

Archer adalah tank destroyer buatan pabrik Vickers, Inggris. Menggunakan rangka tank Valentine dan meriam 17 pdr (seperti yang dipasang pada varian Sherman Firefly). Tank destroyer ini digunakan oleh pasukan Inggris mulai akhir tahun 1944 hingga tahun 1948-1949, digunakan dalam Perang Dunia II di front Italia dan Eropa Barat.

Usai Perang Dunia II, Mesir memperoleh sejumlah Archer dari Inggris. Ironisnya, Mesir justru menggunakan Archer untuk menghadapi pasukan gabungan Inggris, Perancis, dan Italia dalam Krisis Suez tahun 1956.
Crew : 4
Armament : 1 x 17 pdr gun (39 rounds)
Length : 6.7m
Width : 2.76m
Height : 2.2.5m
Weight : 15,000 kg
Maximum speed : 32km/h
Range : 140 km

Sabtu, 01 Januari 2011

BM-30 Smerch, Si Penebar Maut

BM-30 Smerch

BM-30 Smerch alias tornado, merupakan peluncur roket dari jenis MLRS atau peluncur roket multi laras, yang awalnya diproduksi untuk digunakan oleh angkatan bersenjata Uni Soviet. Sejak keruntuhan negara Uni Soviet, diperkirakan sekitar 106 unit BM-30 Smerch diwarisi oleh artileri angkatan bersenjata Russia. Di tahun 1996, BM-30 Smerch mulai di ekspor ke negara Kuwait sebanyak 27 unit, kemudian di susul oleh Aljazair yang turut mengimpor sebanyak 18 unit. 

Kabar paling baru adalah pembelian peluncur roket ini oleh India yang berencana akan membeli sebanyak 38 unit pada tahun 2008 dan dilanjutkan lagi pada tahun 2010 sebanyak 24 unit, total dari pembelian tersebut bernilai US$ 750 juta.

Sebenarnya BM-30 Smerch yang mempunyai kode 9K58 ini mempunyai dua komponen utama, yaitu kontainer peluncur roket dan truk peluncur 9A52-2 hasil modifikasi chasis truk MAZ-543M, yang mempunyai panjang 12 m lebar 3.05 m dan tinggi 3.05 m. Sedang untuk kontainer peluncur roket, mempuyai daya tampung 12 tabung roket kaliber 300mm dengan berbagai macam hulu ledak, roket-roket ini mampu meluncur sejauh 70 km hingga 90 km, jika ditembakan secara salvo membutuhkan waktu 38 detik untuk meluncurkan ke 12 roket tersebut. Untuk keperluan operasional peluncuran/penembakan roket BM-30 Smerch hanya membutuhkan waktu 3 menit untuk persiapan peluncuran dan 2 menit untuk displacement, semua tugas ini hanya dilakukan oleh 3 orang personel.

Sabtu, 04 Desember 2010

MSTA-S

MSTA-S TANK ARTILLERY RUSIA

Rusia adalah salah satu Negara yang mewarisi sebagian besar kekuatan Uni Soviet wajar saja negara ini kerapkali disebut-sebut menyaingi kekuatan negara adidaya Amerika serikat khususnya dalam bidang inovasi militer.

Salah satu contoh inovasi Rusia dalam bidang militer yaitu Tank MSTA-S yang dirancang khusus untuk menggempur kubu pertahanan musuh ataupun pasukan infanteri dengan mengusung canon howitzer caliber 152 mm, niscaya tank ini menjadi momok menakutkan karena mempunyai daya gempur yang sangat dahsyat. Tank MSTA-S ini mulai dioperasikan pada tahun 1989 yang bermarkas di angkatan darat Rusia.

Selain mengusung meriam caliber 152mm, MSTA-S ini dibuat menyerupai dari body dan chassis Tank T-72 dan T-80 sebagai element tempur utamanya. Disamping itu Tank ini di lengkapi dengan Kubah Anti Serangan Udara dan Senapan Mesin anti serangan udara caliber 12,7 mm serta di operasikan secara otomatis dengan menggunakan remote control, bukan itu saja Tank ini dilengkapi dengan granat asap yang memungkinkan tank ini untuk berkamuflase dalam melakukan aksi menghindar musuh dari tembakan. Tak tanggung-tanggung jumlah amunisi yang bisa diangkut dari tank ini sebanyak 50 butir amunisi caliber 152 dan 300 butir amunisi senapan mesin anti serangan udara caliber 12,5.

Tank MSTA-S dapat menembakan berbagai jenis amunisi caliber 152mm seperti - HE-FRAG (high explosive fragmentation), HE-FRAG dengan base gas bleed, selain itu tank ini juga mampu menembakkan amunisi 3RB30 jammer yang mampu menimbulkan radio intereference atau mengganggu komunikasi pihak lawan. Jarak tembak yang dapat dicapai sejauh 22 km dan dapat men-jam frekuensi antara 1,5 sampai 120 KHz pada radius 700 meter.

Meriam yang digunakan pada MSTA-S adalah meriam caliber 152mm 2A64 yang diproduksi oleh Barrikady State Production Association, Volgograd, Rusia, yang juga memproduksi berbagai jenis meriam artileri kaliber besar untuk angkatan darat dan angkatan laut Rusia. Meriam ini memiliki sudut elevasi dari +68 sampai -3 derajat dengan putaran (traverse) 360 derajat.

Selain itu Tank MSTA-S dilengkapi dengan Proyektil Krasnopol dikembangkan oleh KBP Instrument Making Design Bureau, dari Tula, dan dirancang untuk menghancurkan kendaraan tempur dan posisi/basis persenjataan lawan. Dilengkapi dengan inertial mid-course guidance dan semi-active laser homing. Laser seeker diproduksi oleh LOMO dari St Petersburg. Proyektile dapat mencapai jarak efektif antara 3 sampai 20 km, dan menghantam target pada tembakan pertama tanpa registrasi terlebih dahulu. Krasnopol dipandu dengan pemandu laser 1D15 (1D22) dan memiliki 1A35 shot synchronisation system.

Dalam melakukan suatu penembakan Tank MSTA-S di dahului dengan Pemuatan amunisi ke meriam, kemudian dilakukan pergerakan laras untuk melakukan pentargetan ulang yang keseluruhnya dilakukan sepenuhnya secara otomatis, sehinga Tank ini dapat memiliki kemampuan menembak dengan rata-rata 8 butir amunisi per menit. Satu kali penembakan yang terdiri dari 8 unit MSTA-S dapat memuntahkan proyektil seberat 3 ton kedaerah target dalam waktu satu menit. Sistem kendali lintasan peluru dikoordinasikan dengan sistem kendali penembakan yang terdapat pada kendaraan. Semua amunisi didalam kendaraan dimuat didalam kubah penyimpanan dan dilakukan secara Auto Loader yang bergerak secara otomatis sehingga memungkinkan pemuatan kembali amunisi kedalam meriam tanpa harus menunggu meriam kembali pada posisi pemuatan seperti pada normalnya meriam artileri. Selain menggunakan system auto loader Mekanisme pemuatan secara normal juga tersedia.

Sehingga yang perlu dilakukan oleh setiap personil penembak adalah untuk menjaga posisi pembidikan (panoramic sight) pada titik lintasannya. Komandan meriam juga dapat melakukan pengendalian atas penembakan dan pengendalian peralatan lainnya dan sisanya mendistribusikan peluru yang akan siap di tembakkan.

Rancangan rak amunisi juga memungkinkan untuk meletakan jenis amunisi yang berbeda jenis pada rak yang sama. Mekanisme pemuatan amunisi secara otomatis dapat di lakukan oleh komandan selaku pengendali tembakan akan memilih jenis amunisi yang akan dimuat ke kamar peluru. Selongsong peluru yang sudah terpakai akan dilotarkan secara otomatis untuk mengurangi jumlah gas buang yang ditimbulkan didalam kubah.

Terdapat konveyor yang terpisah dibelakang kubah untuk pemuatan bekal ulang amunisi dari luar kendaraan. Sebelum howitzer mulai berhenti menembak, konveyor proyektil akan berada pada posisi terlipat pada tempatnya dibagian luar kubah, dan konveyor untuk charge (isian amunisi) terlipat didalam turret.

Untuk menunjang daya gerak Tank MSTA-s ini di gerakan dengan mesin 2S19 liquid-cooled, direct injleh mection dan mixed supercharge. Berkecepatan tinggi, 4-putaran, dapat menggunakan berbagai jenis bahan bakar (multi-fuel) dan menghasilkan tenaga maksimum 574 sampai 617 kW (780 sampai 840 tenaga kuda). Kecepatan melintas dijalan raya 60km/jam dengan jarak tempuh 500 km.

Nah, inilah gambaran mengenai Tank MSTA-S yang sangat di banggakan AD Russia dalam menunjang daya gempur Angkatan darat rusia dalam melahap setiap lawannya. Selain itu Tank semacam ini juga memiliki varian baru yang sama persis tetapi beda caliber seperti pada ; 2S19M dengan sistem kendali penembakan dengan komputer dan 2S19M1 dengan caliber 155mm stadar NATO.

ARCHER MOBILE ARTILERY SYSTEM

"ARCHER MOBILE ARTILERY SYSTEM" SI PEMANAH HASIL KERJA SAMA SWEDIA DAN NORWEGIA

Archer adalah sebuah teknologi Mobile artillery baru , yang merupakan proyek bersama antara Swedia dan Norwegia FMV mitra FLO yang di harapkan kedepan pembangunan prototype ini akan selesai pada bulan September 2009 dengan memakan biaya hampir melebihi $70 juta untuk menyelesaikannya.

Dalam Pembuatan “Archer” prinsip penggunaan sistemnya sepenuhnya digerakkan secara otomatis termasuk meriam howitzer 155 mm/L52 yang dikendalikan Remote control yang terpasang di ruang Kendali . body Archer di buat dengan menggunakan Volvo 6x6 Dumper chassis yang di modifikasi sedemikian rupa mulai dari autoloader maupun control sensor tembakan yang memungkinkan keakurasian tembakan.

Berbicara masalah daya gempur “Archer” di lengkapi dengan proyektile GPS Excalibur yang akan memberikan tingkat kapabilitas daya gempur dan membantu memantapkan Nordic pertempuran, tak tanggung-tanggung sebuah “Archer” mampu menembakkan 20 proyektile hanya dalam 2,5 menit dengan jarak jangkau tembakan maksimal 60 km.

Untuk system pengerak artillery ini di sokong oleh Volvo D12A340 12.6 liter 6 cylinder turbo diesel 340 HP yang mampu melesat dengan kecepatan 70 meter /jam dan artillery Archer ini mampu di kendalikan atau di operasikan hanya dengan dua orang saja ( 1 sopir & 1 operator).

Berikut karakteristik lengkap dari si Pemanah hasil kerjasama Norwegia dan Swedia :

Specifications
Weight 30 tonnes
Length 14.1 meters
Width 3.0 meters
Height 3.3-3.9 meters
Crew 4 (1 driver, 3 operators)
Primary
armament Haubits L52 155mm FH77
Secondary
armament BAE Systems AB Remote Weapons Station
Engine
340 hp
Operational
range ~500 km
Speed 70 km/h

* Length: 14.1 metres
* Width: 3.0 metres
* Height: 3.3 - 3.9 metres
* Weight: 30 tonnes
* Speed: 70 km/h
* Range: ~500 km
* Crew: 4 (1 driver, 3 operators) or 2 (1 driver and 1 operator) in case of emergencies
* Armament: 155 mm/L52 gun howitzer
* Rate of fire: 8-9 rounds/min with MRSI (Multiple Round Simultaneous Impact) capability, which means that several shells are released in succession but hit the target simultaneously.
* Range (of artillery fire): 30 km with standard shells, 40 km with base-bleed, 60 km with Excalibur
* Protection level: 7.62 AP, Mines 6 kg (Level 2 STANAG 4569)
* Emergency driving: all wheels - emergency driving equipment (Hutchinson AMVFI) makes it possible to drive with all wheels punctured; it also provides greater protection if the vehicle hits a blast-pressure mine - the same system is used on the all-terrain vehicle Sisu.

THOR

THOR MOBILE WAR MACHINE INGGRIS

Inggris adalah Salah satu negara yang merespon ancaman dan tantangan itu salah satunya adalah Pembuatan mobile tempur THOR dimana mampu di gunakan dengan cepat serta dapat di operasikan dengan mudah baik dari segi taktis ataupun teknis dan dapat di fungsikan dalam peperangan terbuka ataupun melawan ancaman teroris.

THOR terdiri dari empat system rudal yang terpasang di menara, tujuan dari penempatan tersebut adalah mempermudah perhitungan integral selain itu mampu memberikan sistem pengamatan yang stabil, THOR juga di lengkapi dengan kemampuan kamera TV yang di rancang khusus, termasuk kamera termal dan Sensor generasi terbaru yang telah dirancang untuk mendeteksi target dan memudahkan Tracker target ini berfungsi untuk memastikan target yang yang di tuju pada proses pelacakan target. Fitur peluncur di desain sedemikian rupa dengan berat kurang 500kg, dengan demikian THOR dapat mentraking berbagai kendaraan beroda atau melakukan pelacakan target secara konvensional.

Berbicara masalah daya gempur THOR tidak di ragukan lagi, dengan mengusung arsitektur system terbuka penuh dan terletak diatas memungkinkan mampu mensuport berbagai rudal seperti rudal anti baja dan rudal utama seperti Starstreak yang bisa di bilang unik, rudal ini di lengkapi dengan laser serta multi peluru kendali, rudal startrek ini dapat melesat dengan kecepatan Mach 3 dengan jarak jangkau sejauh 6 km, rudal strartek ini lebih di utamakan dalam memberikan perlawanan atau defence anti aircraft missile, pada ujicoba yang sudah di lakukan system ini telah berhasil menunjukan kemajuan yang signifikan dalam penargetan ataupun akurasi tembakan.

Dalam Pengoperasiannya Thor tergolong mudah dalam setiap operasinya thor dapat di kendalikan oleh dua orang saja satu komandan dan satu operator. Thor ini juga dapat di sesuaikan dengan medan pertempuran, selain itu THOR juga dapat di hubungkan dengan system radar yang baik pasif ataupun otomatis sensor.

PZA (Przeciw Lotniczy Zestaw Artyleryjski)

PZA LOARA ANTI AIRCRAFT ARTILLERY SYSTEM

Sudah menjadi fakta umum bahwa banyak negara kedua kini memiliki industri sistem senjata, yang jika disimak ternyata hasilnya jiplakan produk serupa dari negara lain. Polandia, misalnya, sebagai mantan anggota Pakta Warsawa, memiliki industri kemiliteran dengan mayoritas produk bisa dikatakan tiruan atau hasil pengembangan dari sista buatan Rusia.

Salah satu diantara yang cukup dikenal adalah adalah PZA (Przeciwlotniczy Zetsaw Artyleryjski, sista artileri pertahanan udara) Laora. Artileri pertahanan udara hasil pengembangan dasawarsa 1990-an ini mirip Gepard, produk kerja bareng Krauss Maffei-Porsche (untuk sasis), Siemens-Hollandsche Signallapparaten (radar) dan Oerlikon-Contraves AG (modul senjata).

Begitu pun, Laora tidaklah murni buatan Polandia. Oerlikon-Contraves AG (Swiss) menyuplai kanon multilaras, sementara Siemens AG (Jerman) menyiapkan sistem radar penjejaknya. Dikolaborasikan dengan industri lokal Bumar Labedy sebagai penyedia sasis, Radwar untuk urusan radar penjejak dan Huta Stalowa Wola yang secara khusus menangani modul senjata produk lisensi Oerlikon-Contraves AG. Singkat kata, jadilah PZA Laora.

Perusahaan-perusahaan itu digandeng karena Polandia menyakini sista arhanud semacam ini memiliki potensi pasar menggiurkan. Apalagi karena di dalam negeri sista semacam Laora pun amat dibutuhkan. Petinggi militer Polandia rupanya menyadari bahwa primadona perang modern saat ini adalah kekuatan udara, yang mana untuk itu diperlukan sista arhanud yang andal dan bermobilitas tinggi.

Sasis
Sebagai pengusung modul senjata seberat total 675 kg dipilih tank PT (Polska Tank)-91 Twardy yang telah dimodifikasi. Induk PT-91 tak lain tank T-72M1 buatan Uni Soviet. PT-91 adalah buah karya biro perancang OBRUM (Osrodek Badawczo-Rozwojowy Urzadzen Mechanicznych, pusat litbang sistem mekanik) pada 1991. Bumar Labedy menangani urusan produksi massalnya.

Laju PT-91 digerakan mesin diesel tipe S12-U berdaya 850 PK (setara 630 kilo Watt). Tenaga sebesar ini diklaim lebih kuat ketimbang mesin asli yang dipakai pada T-72 M1. Namun karena para petinggi AD Polandia masih kurang sreg dengan kinerja lintas medan PT-91, empat tahun kemudian diluncurkan PT-91A dengan mesin penggerak tipe S-1000 bertenaga 1.000 PK (setara 740 kilo Watt).

Berkat mesin terbarunya itu, tank PT-91 mampu menjelajah jalan raya dengan kecepatan maksimum 60 km per jam hingga sejauh 650 km.

Dikendalikan tiga awak (komandan, pengemudi, juru senjata), tampilan PT-91 cukup sangar. Betapa tidak. Aura bengis akan tersorot dari bobotnya 43,5 ton dan dimensinya dengan panjang 6,67 m, lebar 3,42 m dan tinggi 2,19 m.

Modul senjata
Sebagai senjata pamungkas dipilih kanon berlaras ganda jenis KDA kaliber 35 mm lansiran Huta Stalowa Wola. Aslinya, kanon berkecepatan tembak 550 butir peluru/menit ini buatan Oerlikon-Contraves AG. Kabarnya ia mampu menggasak segala jenis obyek dirgantara yang terbang pada ketingggian 4.000 m dengan kecepatan 1.800 km/jam. Jika perlu kanon KDA dapat pula dipakai menghajar sasaran di darat atau di laut hingga sejauh 3.000 m.

Daya jangkau senjata ini akan bertambah tatkala ia memakai amunisi jenis FAPDS sehingga mampu menggasak sasaran di udara setinggi 6.000 m dan sasaran di darat sejauh 4.000 m.

Panjang tiap laras terpasang kanon KDA 3,15 m. Ia memang dipersiapkan untuk dapat menembakkan beragam jenis amunisi dengan kecepatan hambur awal (muzzle velocity) 4.986 km/jam. Jenis amunisinya mulai dari APDS, FAPDS hingga AHEAD. Tiap laras dibekali 200 butir peluru berbagai tipe untuk arhanud dan 20 peluru untuk menghantam sasaran di darat. Tiap peluru berbobot 1,46-1,56 kg dengan panjang 370-387 mm tergantung jenisnya.

Guna mengantisipasi datangnya serangan dari pasukan infanteri, pada kubah modul senjata utama dipasang senapan mesin ringan jenis PKT kaliber 7,62 mm dan tiga pasang tabung pelontar granat asap. Tak ketinggalan perangkat khusus guna menghadapi perang nuklir-biologi-kimia (nubika).

Kendali penembakan
Perangkat sensor kendali penembakan PZA Loara meliputi radar penjejak sasaran buatan Siemens AG (dipasang di depan kubah senjata), kamera jarak jauh berpanduan sinar infra merah, kamera TV dan alat penentu jarak sasaran berpanduan sinar laser. Berkat seabrek perlengkapan ini, Loara dapat beroperasi dengan efektif di segala kondisi cuaca baik siang maupun malam.

Selain sensor, sista arhanud juga dibekali radar pemerangkap sasaran multisinar tiga dimensi buatan Radwar yang dipasang di belakang kubah senjata. Radar ini mampu mendeteksi keberadaan calon sasaran pada ketinggian 26.000 m (di udara) atau sejauh 6.000 m (di darat) dengan sudut dongak piringan radar hingga 55 derajat.

Dalam perjalanan, piringan radar dapat dilipat merapat pada kubah senjata. Data teknis (terkait sasaran) yang dimiliki radar ini selalu diperbaharui setiap saat hingga ia dapat mengendus sekaligus 64 obyek calon sasaran tembak.

Selasa, 23 November 2010

Meriam FH 2000 TNI

Meriam FH 2000

FH-2000 (Field Howitzer 2000) adalah meriam Howitzer berkaliber 155mm/52 yang dapat ditarik/gandeng menggunakan kendaraan angkut berat, meriam ini dikembangkan oleh Singapore Technologies (ST) untuk kebutuhan AD Singapura.

Jarak tembak maksimum meriam ini mencapai 42 kilometer menggunakan amunisi khusus, uji coba lapangan pertama dilakukan di New Zealand. Pengoperasian meriam diawaki oleh 8 personel dan menggunakan mesin Diesel berdaya 75 hp untuk menggerakkan meriam secara mandiri (self propelled) dengan kecepatan 10 Km/jam tanpa perlu ditarik kendaraan pengangkut.

Meriam ini pernah ditawarkan untuk di ekspor kebeberapa negara, dan TNI mengakuisisinya sebanyak 6 meriam Howitzer FH-2000. Saat ini meriam-artileri tersebut ditempatkan di Resimen II Artileri Medan (Armed)/ 

Desain

Saat Howitzer digunakan platform pendukung penembakan me
nggunakan struktur tripod mekanis. Beban tembakan di transmit ke permukaan tanah melalui tripod ini, isolasi silinder hidrolik dari platform ini cukup handal untuk digunakan.
FH2000 juga dapat mengaplikasi serangkaian sistem pengamatan optik ke elektro-optik. Sistem pengamatan ini bisa dihubungkan kedalam kontrol penembakan di komputeri.

Di bagian belakang
meriam menggunakan mekanisme semi-otomatis, bagian ini terbuka secara otomatis selama counter recoil digunakan. Kontrol elektronik dan hidrolik power mendorong ceklikan ram proyektil masuk ke ruang barel dengan konsistensi tinggi.