Senin, 27 September 2010

KRI Malahayati (362)

KRI Malahayati (362)
KRI Malahayati (362) merupakan kapal kedua dari kapal perang jenis Perusak Kawal Berpeluru Kendali kelas Fatahillah milik TNI AL. Dinamai menurut Malahayati, salah seorang Laksamana wanita.

KRI Malahayati merupakan sebuah fregat yang dibuat oleh galangan kapal Wilton-Fijenoord, Schiedam, Belanda pada tahun 1980 khusus untuk TNI-AL.

Bertugas sebagai armada pemukul dengan kemampuan antikapal permukaan, antikapal selam dan antipesawat udara.

Termasuk dalam kelas Fatahillah bersama KRI Malahayati antara lain KRI Fatahillah (361), dan KRI Nala (363).

Data Teknis
KRI Malahayati memiliki berat 1.4500 ton. Dengan dimensi 83.85 meter x 11.1 meter x 3.3 meter. Ditenagai oleh 2 mesin diesel jelajah bertenaga 8.000 bhp dengan kecepatan jelajah 21 knot dan 1 boost gas turbine dengan22.360 shp yang sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 30 knot. Diawaki oleh maksimal 82 pelaut.

Persenjataan
KRI Malahayati dipersenjatai dengan berbagai jenis persenjataan modern untuk mengawal wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Termasuk diantaranya adalah :

4 peluru kendali permukaan-ke-permukaan [Aerospatiale]] MM-38 Exocet dengan jangkauan maksimum 42 Km, berkecepatan 0,9 mach, berpemandu active radar homing dengan hulu ledak seberat 165 Kg.
1 meriam Bofors 120/62 berkaliber 120mm (4.7 inchi) dengan kecepatan tembakan 80 rpm, jangkauan 18.5 Km dengan sistem pemandu tembkan Signaal WM28.
2 kanon Penangkis Serangan Udara Rheinmetall kaliber 20mm dengan kecepatan tembakan 1000 rpm, jangkauan 2 KM untuk target udara.
12 torpedo Honeywell Mk. 46, berpeluncur tabung Mk. 32 (324mm, 3 tabung) dengan jangkauan 11 Km kecepatan 40 knot dan hulu ledak 44 kg. Berkemampuan anti kapal selam dan kapal permukaan.
Mortir anti kapal selam Bofors 375mm laras ganda.

Sensor dan elektronis
KRI Malahayati dilengkapi radar Racal Decca ARPA BridgeMaster250 untuk surface search dan Signaal DA 05 untuk air and surface search. Radar pemandu tembakan Signaal WM 28. Sistem sonarnya menggunakan Signaal PHS 32 (Hull Mounted). Sistem pengecoh menggunakan 2 Knebworth Corvus 8-tubed launchers dan 1 T-Mk 6 torpedo decoy. Electronic Support Measures (ESM) dari tipe DR-3000 (Dalam proses pemasangan) menggantikan Susie yang telah uzur. Pemandu tembakan optronik dari jenis Liod Mk1.

Operasi
Pada tanggal 15-28 Agustus 2002 KRI Malahayati ikut serta dalam latihan Dalla-2002 di Laut Jawa. Dalam kesempatan ini KRI Malahayati menembakkan sebuah rudal Exocet.

Boeing 737 Surveillance – Jet Pengintai TNI-AU

Boeing 737 Surveillance – Jet Pengintai TNI-AU

Tampilannya tak beda jauh dengan pesawat komersial biasa, akan tetapi kemampuannya sangat luar biasa. Pesawat Boeing-737 milik TNI Angkatan Udara ini mampu mengamati seluruh gerak-gerik di atas perairan Indonesia yang luasnya mencapai 8,5 juta kilometer persegi.
Sesuai dengan tugasnya, tiga pesawat Boeing-737 Maritime Patrol yang berbasis di Skadron Udara 5 Pangkalan Udara (Lanud) Hasanuddin, Makassar, ini setiap hari melakukan pengamatan udara dan maritim (air and maritime surveillance) di seluruh wilayah perairan Indonesia. Secara bergantian ketiganya mengamati secara sistematik ruang udara, permukaan daratan, maupun perairan, lokasi, atau tempat, sekelompok manusia atau obyek-obyek lain, baik secara visual, aural, fotografis, elektronis, maupun dengan cara lain.
“Tugas kami hanya mendeteksi. Hasil deteksi yang diperoleh disampaikan ke komando atas, yang akan menentukan tindakan selanjutnya. Bila perlu hasil deteksi itu dikoordinasikan dengan TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Darat, Kepolisian RI, atau instansi terkait,” ungkap Kapten (Pnb) Sumanto, Komandan Flight Operasi Skadron 5.
Peran pengamatan udara itu penting bagi Indonesia untuk dapat dimanfaatkan mencegah pengambilan ikan secara ilegal oleh nelayan asing, dan untuk menggagalkan penyelundupan kayu, serta minyak yang sampai sekarang masih marak di perairan Indonesia.
Skadron 5 yang berpangkalan di Lanud hasanuddin, Makassar, menerima tiga Boeing B737-200 2X9 Surveiller untuk menggantikan Grumman UF-1 Albatross. Pesawat berjulukan Camar Emas ini diberi registrasi AI-7301, AI-7302, dan AI-7303. Pengiriman pesawat yang dipesan April 1981 ini dilakukan secara maraton mulai dari 20 Mei 1982, 30 Juni 1983, dan 3 Oktober 1983. dengan kekuatan tiga pesawat, berarti tiap pesawat harus melakukan pengintaian sepertiga wilayah Indonesia.
Dari segi performa, Camar Emas tidak kalah garang dengan pesawat pengintai yang telah terkenal seperti E-8-J-STARS (Joint Surveillance and Target Attack Radar System), E-3 Sentry AWACS, Bariev A-50 Mainstay AWACS, DC-8-72F SARIGUE NG, P-3C Orion atau radar terbang masa datang Australia B737-700 Wedgetail –versi New Generation B737 yang dikonversi untuk kepentingan intelijen. Tidak percaya? Intip saja alat pengendus yang diusung.
Dihidungnya ada radar double agent AN/APS-504 (V)5. selain berfungsi konvensional, radar ini bisa diset mendeteksi sasaran di permukaan atau di udara. Jarak pindainya luar biasa, 256 Nm (Nano Meter)
Navigasi dan komunikasinya juga kompak. Saat ini B737 dilengkapi sistem navigasi INS LTN-72R terintegrasi dengan GPS. Karena memainkan peran penting dalam air intelligence, komunikasi tidak saja masuk kategori wajib, tapi juga harus mempunyai tingkat aksesbilitas tinggi. Untuk B737, saluran telepon bisa terhubung langsung dengan komando pusat. Tampilan instrumen yang menawan (pilot color high resolution display), makin mempercanggih suasa kokpit.

Tugas pokok Skadron 5 adalah, melakukan pengintaian udara strategis dan pengawasan maupun pengamanan terhadap semua objek bergerak di permukaan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) dan jalur lalu lintas damai. Informasi yang dihasilkan B737 sangat penting dalam masa perang dan damai. Kegiatan eksploitasi informasi dalam hubungannya dengan air power terdiri dari tiga hal. Yaitu informasi, reconnaissance, dan surveillace. Hubungan ketiga faktor ini dengan intelijen sangat erat.
Maritime Patrol ini dilengkapi peralatan SLAMMR (Side Looking Airborne Multi Mission Radar), suatu alat sensor dengan daya deteksi yang sangat kuat pada suatu daerah yang sangat luas. Dengan SLAMMR, Boing-737 ini mampu mendeteksi wilayah perairan seluas 85.000 mil persegi per jam. Di tambah lagi peralatan navigasi Internal Navigation System dan Omega Navigation System serta peralatan komunikasi modern.
Tiga pesawat Boeing-737 itu berbasis di Skadron Udara 5 Lanud Hasanuddin, Makassar, sejak 1 Juni 1982. Tahun 1993, ketiganya menjalani up-grade di tempat kelahirannya di Seattle, Amerika Serikat. Sehingga mengalami peningkatan kemampuan pada SLAMMR Real Time, Infra Red, Search Radar, serta sistem navigasi dan komunikasi yang diintegrasikan dengan DPDS (Data Processing Display System).
Dengan kemampuan yang dimiliki itu, Boeing-737 Maritime Patrol melakukan tugas pengawasan dan pengintaian di perairan Nusantara, Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), serta alur laut kepulauan Indonesia (ALKI). Di samping itu, mengawasi daerah musuh tanpa harus terbang di atas wilayahnya.
Dalam melaksanakan tugasnya, Maritime Patrol didukung 64 kru, yang terdiri dari dua orang instruktur/kapten pilot, 12 co-pilot, 16 juru mesin udara (engineering), lima juru muat udara (load master), 10 operator console, 14 observer, tiga juru foto udara, dan dua flight surgeon.
Dengan jumlah pesawat yang masih terbatas untuk memantau wilayah kita yang sangat luas, Skadron Udara 5 dituntut mampu mengoptimalkan alat utama sistem senjata (alutsista) yang ada. “Dalam kondisi seperti ini kita tidak kenal menyerah. Berbekal basis pengetahuan yang dimiliki, kami mencoba mengombinasikan dengan pengalaman yang dihadapi dalam pemeliharaan di lapangan. Pengalaman itu kemudian menjadi pengetahuan yang baru bagi kami, untuk memperpanjang usia pakai peralatan,” kata Kepala Dinas Pemeliharaan Skadron Udara 5, Kapten (Tek) Ifan BM.
Tanggal 14 September 1993, pesawat Boeing 737 AI-7301 kembali dari AS setelah mengalami peningkatan kemampuan dengan modifikasi. Adapun kemampuan yang ditingkatkan adalah Slammr Real Time, Infra Red Detection System (IRDS), Search Radar, sistem navigasi dan komunikasi yang terintegrasi dengan DPDS (Data Proccessing Display System). Sedangkan untuk pesawat AI-7303 modifikasi dilakukan di IPTN (sekarang PT DI) Bandung. Terakhir kita melihat kiprah pesawat ini saat turut mencari lokasi jatuhnya pesawat Adam Air di laut Sulawesi. (dikutip dari www.kompas.com)
Spesifikasi Boeing 737-200 2X9 Surveiller
Dimensions
Wingspan 28.35 m (93 ft 01 in)
Tail Height 11.23 m (36 ft 84 in)
Overall Length 30.53 m (100 ft 16in)
Cabin Width (floor level) 3.3 m ( 10 ft 8 in)
Cabin Length 28.2 m ( 92 ft 8 in)
Design Weights
Maximum Taxi Weight 53 297 kg (117 498 lbs)
Maximum Landing Weight 47 627 kg (104 998 lbs)
Maximum Zero Fuel Weight 43 090 kg (94 996 lbs)
Operating Empty Weight 29 400 kg (64 815 lbs)
Design Weights
Power P & W JT8D-17A
Cruising Speed 760 km/h ( 410 kts)
Cruising Altitude 10 668 m (35 000 ft)
Range 2 414 km (1 500 miles)
Passenger Capacity 107
Fuel Capacity Volume 19 544 l (15 635 kg)

Senin, 20 September 2010

KRI DR Soeharso

KRI DR Soeharso

KRI DR Soeharso (990) (sebelumnya bernama KRI Tanjung Dalpele (972)) adalah kapal jenis Bantu Rumah Sakit (BRS). Awalnya kapal ini berfungsi sebagai Bantu Angkut Personel (BAP) bernama KRI Tanjung Dalpele (972), karena perubahan fungsi maka pada tanggal 17 September 2008 di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, dikukuhkan oleh KASAL saat itu Laksamana TNI Slamet Soebijanto.[1]

Sejarah
Pada saat bernama KRI Tanjung Dalpele (972), kapal ini adalah kapal serba guna yang berfungsi sebagai kapal bantu angkut personel (BAP), kapal bantu rumah sakit (BRS) serta dapat mendaratkan dua heli jenis Super Puma.

Kapal ini diklasifikasikan sebagai kapal LPD (Landing Platform Dock). Nama Dalpele diambil dari sebuah tanjung yang terletak di pulau paling timur gugusan pulau di Provinsi Papua. Nama tanjung tersebut diabadikan sebagai nama KRI karena di tempat itu para sukarelawan yang terdiri atas putra-putri terbaik Indonesia rela mengorbankan jiwa ketika berlangsungnya operasi Komando Trikora untuk membebaskan Irian Barat. Kapal produksi Daesun Shipbuilding and Eng.Co.Ltd Pusan Korea Selatan ini tiba di Indonesia 21 September 2003.

Desain
Kapal ini berbobot 11.394 ton kosong dan 16.000 ton berisi penuh. Kapal sepanjang 122 meter, lebar 22 m, dan draft 6,7 m ini mempunyai geladak yang panjang dan luas sehingga mampu mengoperasikan dua buah helikopter sekelas Super puma sekaligus.

Kapal ini juga dilengkapi sebuah hanggar untuk menampung helikopter satu lagi dan juga melakukan perawatan terhadap helikopter. Sebagai kapal rumah sakit, telah disediakan 1 ruang UGD, 3 ruang bedah, 6 ruang poliklinik, 14 ruang P-jang Klinik dan 2 ruang perawatan dengan kapasitas masing-masing 20 tempat tidur.

Kapal ini memiliki 75 anak buah kapal (ABK), 65 staf medis dan mampu menampung 40 pasien rawat inap. Jika dalam keadaan darurat, KRI DR Soeharso juga dapat menampung 400 pasukan dan 3000 penumpang.

Dalam fungsinya sebagai kapal angkut, kapal ini mampu mengangkut 14 truk/tank dengan bobot per truk/tank 8 ton, 3 helikopter tipe Super Puma, 2 Landing Craft Unit (LCU) tipe 23 M dan 1 hovercraft.
dan 2 buah senapan Mesin 12,7 mm.

Tenaga penggeraknya adalah mesin diesel.

Komandan kapal
Letkol Laut (P) Prasetyo (2003-2007)
Letkol Laut (P) Purwanto (2007 - sekarang)
Persenjataan :

Meriam Bofors SAK 40 mm/70 : 1 pucuk, kecepatan tembakan 240 rpm,
dengan jangkauan maksimum 12,6 km (6,8 mil laut) dengan berat amunisi 0,96 kg,
anti kapal, pesawat udara, helikopter, rudal balistik, rudal anti kapal.

Kanon Penangkis Serangan Udara (PSU) Rheinmetall 20 mm : 2 pucuk, kecepatan tembakan 1000 rpm,
dengan jangkauan efektif 2 km dengan hulu ledak 0,24 kg,
anti pesawat udara, helikopter.

Angkutan :14 truk/tank dengan bobot per truk/tank 8 ton; 2 LCU; 400 prajurit pendarat

Aviasi :2 helikopter NAS-332 Super Puma

KCR Mandau class

KCR Mandau class

KRI MANDAU 621

KRI Mandau (621) merupakan kapal perang patroli utama Indonesia dari jenis Kapal Cepat Rudal (KCR) dan merupakan kapal pertama dari kapal kelas Mandau. Kapal ini dibuat di Galangan kapal Tacoma SY, Masan, Korea Selatan pada tahun 1979. Kapal lain dalam kelas yang sama adalah KRI Mandau (621), KRI Rencong (622), KRI Badik (623), dan KRI Keris (624).

KRI Badik (623)
PERSENJATAAN
Torpedo
Kapal ini tidak dilengkapi dengan torpedo dan persenjataan anti-kapal selam lainnya.
Peluru kendali
Awalnya KRI Mandau menggunakan Rudal Aerospatiale MM-38 Exocet sebanyak 4 pucuk (2 x 2), yang memiliki jangkauan maksimum 42 km (23 mil laut) dengan kecepatan 0,9 mach, berhulu ledak 165 kg, berpemandu active radar homing, bersifat jelajah inersia, sea-skimmer. Sejak ada kerja sama alih teknologi dengan China Exocet maka mulai diganti dengan rudal C-802 buatan SACCADE.
Meriam
* Meriam Bofors 57 mm/70 : 1 pucuk, kecepatan tembakan 200 rpm, berjangkauan maksimum 17 km (9,3 mil laut) dengan berat amunisi 2,4 kg, anti kapal, pesawat udara, helikopter, rudal balistik, rudal anti kapal, berpemandu tembakan Signaal WM28.
* Meriam Bofors 40 mm/70: 1 pucuk, kecepatan tembakan 300 rpm, dengan jangkauan maksimum 12 km (6,6 mil laut) dengan berat amunisi 0,96 kg, anti kapal, pesawat udara, helikopter, rudal balistik, rudal anti kapal.
* Kanon Penangkis Serangan Udara (PSU) Rheinmetall 20 mm: 2 pucuk, kecepatan tembakan 1000 rpm, dengan jangkauan efektif 2 km dengan berat amunisi 0,24 kg, anti pesawat udara, helikopter
SPESIFIKASI
Berat benanam: 255 ton standar
290 ton beban penuh
Panjang: 53,58 m (175.79 kaki)
Lebar: 8,00 m (26.25 kaki)
Draft: 1,63 m (5.35 kaki)
Tenaga penggerak: 2 M504 Diesel, 1425 hp , melalui 2 shaft ke 2 propeler ,dan 1 turbin GE LM 1500
Kecepatan: 41 knot
Jarak tempuh: 2.100 nm pada 14 knot,
Awak kapal: 43 orang
Sensor dan Radar: Radar MR-302/Strut Curve
Radar kontrol tembakan MR-123 Vympel/Muff Cob
Persenjataan elektronik dan umpan: Sonar MG-322T
Decoy PK-16 decol RL

Hindustan (HAL) Tejas,India

Hindustan (HAL) Tejas / Light Combat Aircraft (LCA) Light Multi-Role Fighter


India memulai proyek Light Combat Aircraft (LCA) pada 1983. Secara resmi diberi nama Tejas (Bahasa Sansekerta dari cahaya) pada 2003. Pesawat ini dikembangkan sebagai pesawat ringan dan ekonomis pengganti pesawat MiG-21 milik Au India yang menua. Di bawah petunjuk Aeronautical Development Agency (ADA) India, kontraktor utama Hindustan diberi kewenangan penuh untuk mendisain dan pembuatan LCA. HAL juga bertanggung jawab untuk mengkoordinasi beberapa laboratorium pemerintah, institusi pendidikan, sub-kontraktor.

Hasil dari pengembangan ini adalah desain sayap delta yang mempunyai teknologi modern tingkat lanjut termasuk sistem kontrol fly-by-wire, sistem avionic terintegrasi, penggunaan bahan komposit, dan display “glass cockpit”. Fitur canggih lainnya termasuk radar multi-mode, pod pelacakan laser dan sistem FLIR, sistem navigasi “ring laser gyro inertial”, deretan alat tempur elektronik komprehensif, dan sistem komunikasi yang resistan jamming.

Sayangnya, program Tejas mengalami banyak penundaan yang menyebabkan lamanya pengembangan sedikitnya satu dekade. Masalah pertama adalah ketika desain telah diselesaikan pada 1990, komisi pemerintah menemukan banyak kekurangan pada area teknologi kritis. Sehingga pemerintah memutuskan untuk membuat dua demonstrator teknologi untuk meyakinkan terselesaikannya masalah teknologi. Pesawat pertama dari demonstrator teknologi ini diselesaikan pada 1995, tetapi kesulitan pada sistem kontrol penerbangan dan pembuatan komponen komposit structural menyebabkan pesawat ini belum dapat terbang.

Masalah besar lainnya adalah pada 1998 ketika tes nuklir India menyebabkan AS memberi sanksi pelarangan penjualan mesin turbofan General Electric F404 kepada India. Sanksi ini juga menyebabkan berhentinya bantuan dari Lockheed Martin dalam pengembangan sistem kontrol penerbangan. India memutuskan untuk melanjutkan program ini kendati banyaknya masalah yang dihadapi dan memutuskan untuk membuat mesin jet sendiri untuk menggantikan F404. Keputusan ini menyebabkan timbulnya masalah lain karena penundaan produksi dan bertambahnya biaya untuk mengembangkan mesin Kaveri baru. Masalah ini semakin diperparah dengan keputusan pembelian kembali mesin F404 tambahan untuk produksi awal Tejas, setelah AS membatalkan sanksinya. Diharapkan mesin Kaveri dapat mulai dipakai pada 2010.

Demonstrator teknologi pertama (TD-1) akhirnya dapat terbang pada 2001. Selanjutnya diikuti dengan TD-2 dan dua pesawat purwarupa (PV-1 and PV-2). Pesawat-pesawat ini digunakan untuk melakukan ujicoba dan menguji teknologi canggih yang akan digunakan pada Tejas. Fase tes kedua telah dimulai pada akhir 2006 dengan ditandai penerbangan pertama pesawat purwarupa produksi PV-3. Tes lain yang telah dilakukan termasuk model angkatan laut (naval) PV-4 dan model trainer PV-5. Tes penerbangan untuk integrasi senjata dilakukan pada awal 2007 tetapi pesawat ini tidak akan mulai beroperasi hingga 2010.



HISTORY:
First Flight: (TD-1) 4 January 2001
Service Entry: planned for 2010

CREW: one: pilot

ESTIMATED COST: $21 million

AIRFOIL SECTIONS:
Wing Root: unknown
Wing Tip: unknown

DIMENSIONS:
Length: 43.27 ft (13.20 m)
Wingspan: 26.88 ft (8.20 m)
Height: 14.42 ft (4.40 m)
Wing Area: 412.6 ft² (38.4 m²)
Canard Area: not applicable

WEIGHTS:
Empty: 12,125 lb (5,500 kg)
Normal Takeoff: 18,740 lb (8,500 kg) [clean]
Max Takeoff: 27,560 lb (12,500 kg)
Fuel Capacity: internal: 795 gal (3,000 L); external: 1,055 gal (4,000 L)
Max Payload: 8,820 lb (4,000 kg)

PROPULSION:
Powerplant: (prototypes) one General Electric F404-F2J3 or F404-IN20 turbofan; (production) one GTRE GTX-35VS Kaveri turbofan
Thrust: (F404-F2J3) 18,100 lb (80.50 kN); (F404-IN20) 18,700 lb (83.18 kN); (GTX) 20,200 lb (89.86 kN)

PERFORMANCE:
Max Level Speed: at altitude: 1,195 mph (1,920 km/h) at 36,000 ft (11,000 m), Mach 1.8; at sea level: unknown
Initial Climb Rate: unknown
Service Ceiling: 50,000 ft (15,250 m)
Range: 460 nm (850 km)
g-Limits: +9 / -3.5

ARMAMENT:
Gun: one 23-mm GSh-23 twin-barrel cannon (220 rds)
Stations: eight external hardpoints
Air-to-Air Missile: R-77/AA-12 Adder, R-73/AA-11 Archer, BVRAAM
Air-to-Surface Missile: up to two conventional cruise missiles, anti-ship missiles
Bomb: laser-guided bombs, conventional bombs, cluster bombs
Other: rocket pods

KNOWN VARIANTS:
LCA-TD-1: First technology demonstrator equipped with a General Electric F404-F2J3 turbofan
LCA-TD-2: Second technology demonstrator
LCA-PV-1 and PV-2: Single-seat prototype vehicles
LCA-PV-3: Single-seat prototype vehicle that should be at or very close to production form, equipped with in-flight refueling capability
LCA-PV-4: Single-seat prototype vehicle for a naval variant
LCA-PV-5: Two-seat trainer prototype vehicle
Tejas: Production model for the Indian Air Force
Trainer: Two-seat trainer model
Navy model: A navalized version with strengthened landing gear and a redesigned forward fuselage to be used aboard a future Indian aircraft carrier
MCA: Planned Medium Combat Aircraft derived from the LCA, supposed to possess greater stealth characteristics and thrust-vectoring capability

KNOWN COMBAT RECORD: not yet in service

KNOWN OPERATORS:
India, Bharatiya Vayu Sena (Indian Air Force)
India (Indian Naval Air Squadron)
j3fr1 is offline

F-5 Tiger TNI AU

F-5 Tiger TNI AU

F-5A/B Freedom Fighter dan F-5E/F Tiger II adalah bagian dari keluarga pesawat tempur supersonik ringan yang dirancang dan diproduksi oleh Northrop, di Amerika Serikat, sejak tahun 1960-an. Ratusan pesawat ini masih dipakai oleh berbagai angkatan udara di dunia sampai abad ke-21, dan pesawat ini juga menjadi dasar untuk pengembangan beberapa pesawat lainnnya. Produksi pesawat F-5A dan F-5E berakhir pada tahun 1972 dan 1987.

Pengembangan pesawat ini berawal sebagai pesawat tempur ringan Northtrop yang dibiayai oleh swasta, pada tahun 1950-an. Generasi pertama F-5 Freedom mulai dipakai pada tahun 1960-an. Sampai 1972, lebih dari 800 pesawat diproduksi untuk negara sekutu Amerika Serikat pada Perang Dingin, sementara Angkatan Udara Amerika Serikat membeli sekitar 1100 pesawat.

Generasi kedua, keluarga F-5E Tiger II, juga banyak digunakan oleh negara sekutu Amerika Serikat, dan di Amerika Serikat sendiri dipakai sebagai pesawat latih tempur. Jumlah Tiger II yang diproduksi sampai tahun 1987 mencapai 1400 buah. Pesawat F-5 yang masih dipakai sampai tahun 1990-an dan 2000-an telah melalui banyak modifikasi pembaruan.

Perancangan dan pengembangan
Pesawat F-5 yang digunakan oleh Amerika Serikat sebagai pesawat musuh dalam latihan.
Pesawat F-5 Norwegia.Pesawat ini awalnya dirancang oleh Northrop, dengan nama N-156, sebagai pesawat tempur ringan, harga rendah, dan dengan perawatan mudah. Pesawat ini dirancang untuk menggunakan mesin modifikasi dari General Electric J85, yang awalnya dibuat untuk digunakan pada pesawat kecil McDonnell ADM-20 Quail yang dibawa sebagai drone oleh pesawat pengebom B-52. Angkatan Darat Amerika Serikat tertarik untuk menggunakan pesawat ini sebagai pesawat serang darat, namun penggunaan pesawat bersayap tetap merupakan tugas Angkatan Udara Amerika Serikat, dan Angkatan Udara AS tidak menyetujui pemakaian N-156.

Walaupun belum diterima di Angkatan Udara AS, F-5 ternyata sukses digunakan oleh para sekutu Amerika Serikat. Tetapi, F-5 tetap tidak digunakan oleh Amerika Serikat untuk pemakaian di garis depan. Angkatan Udara AS hanya mengadopsi T-38 Talon, versi pesawat latih dari F-5, yang menjadi pesawat latih supersonik pertama. Selain itu, pesawat ini juga menjadi dasar untuk pengembangan YF-17, yang kemudian berkembang menjadi F/A-18 Hornet.Apocalypse Now menampilkan 4 pesawat F-5 menjatuhkan bom napalm di medan tempur, walaupun digambarkan sebagai pesawat Amerika Serikat, sebenernya yang digunakan adalah pesawat Angkatan Udara Philipina.
Top Gun menampilkan beberapa F-5Es dan F-5Fs sebagai pesawat khayalan MiG-28 melawan US Navy F-14 Tomcat Angkatan Laut Amerika Serikat . Beberapa pesawat masih berwarna hitam yang biasanya berperan sebagai "Aggressor" di United States Navy Fighter Weapons School.
Film Thirteen Days menampilakan pesawat F-5, kemungkinan menggunakan pesawat milik Philipina.

Spesifikasi (F-5E Tiger II)
Data dari Quest for Performance[2]

Karakteristik umum
Kru: 1
Panjang: 47 ft 4¾ in (14,45 m)
Lebar sayap: 26 ft 8 in (8,13 m)
Tinggi: 13 ft 4½ in (4,08 m)
Area sayap: 186 ft² (17,28 m²)
Airfoil: NACA 65A004.8 root, NACA 64A004.8 tip
Berat kosong: 9.558 lb (4.349 kg)
Berat maksimum lepas landas: 24.664 lb (11.187 kg)
Mesin: 2× General Electric J85-GE-21B turbojet
Dorongan kering: 3.500 lbf (15,5 kN) each
Dorongan dengan afterburner: 5.000 lbf (22,2 kN) each
Zero-lift drag coefficient: 0,0200
Drag area: 3,4 ft² (0,32 m²)
Aspect ratio: 3,86
Bahan bakar internal: 2.563 L
Bahan bakar eksternal: 1.040 L per tanki eksternal

Performa
Kecepatan maksimum: 917 knot (1.700 km/jam)
Radius tempur: 760 nm (1.405 km)
Jarak jangkau ferri: 2.010 nm (3.720 km)
Atap servis: 51.800 ft (15.800 m)
Tingkat panjat: 34.400 ft/min (175 m/s)
Lift-to-drag ratio: 10,0

Persenjataan
Senjata api: 2× meriam Pontiac M39A2 20 mm, 280 butir/meriam
Rudal:
Total sampai 3.200 kg munisi
AIM-7 Sparrow
AIM-9 Sidewinder
AGM-65 Maverick
AIM-120 AMRAAM

Bom:
M129 Leaflet
500 lb (225 kg) Mk82
2.000 lb (900 kg) Mk84
CBU-24/49/52/58 munisi kluster

Aurora Strategic Reconnaissance (Pesawat Pengintai)

Aurora Strategic Reconnaissance (Pesawat Pengintai)

Nama “Aurora” pertama kali muncul pada sebuah dokumen anggaran tahun 1985 yang menyebutkan proyek ini akan menerima $80 juta pada tahun fiscal 1986 dan $2,2 miliar tahun fiscal 1987. Setelah nama tersebut muncul tepat setelah TR-1, banyak orang menyimpulkan bahwa program tersebut merupakan program pesawat berkecepatan tinggi untuk menggantikan SR-71. Pada awal 1979, AU AS mulai mempelajari sebuag “pesawat yang berkecepatan 4Mach dan mampu beroperasi pada ketinggian 200.000 kaki yang dapat mengikuti pesawat pengintaian strategis Lockheed SR-71 pada tahun 1990an”.
AU, NASA dan beberapa kontraktor pesawat terbang mulai mendesain pesawat yang mampu terbang dengan kecepatan 5 Mach pada sekitar awal dan pertengahan 1980an, kemungkinan akan mensuplai informasi untuk pengembangan konsep pesawat ini. Kesulitan utama pada proyek ini adalah pengembangan mesin pesawat yang mampu memberikan kekuatan yang dapat menghasilkan kecepatan 5 Mach dan pengembangan struktur pesawat yang mampu bertahan pada suhu tinggi akibat kecepatan yang sangat tinggi.
Jika informasi di atas tidak ada, maka Auora akan seperti pesawat berkecepatan 3 Mach XB-70 Valkyrie atau National Aerospace Plane (NASP) X-30 milik NASA yang dibatalkan programnya. Kedua pesawat itu mempunyai bentuk segitiga dengan sayap delta. Keduanya melawan panas akibat kecepatan tinggi itu dengan mensirkulasi bahan bakar sepanjang permukaaan. Sementara XB-70 dilengkapi dengan mesin jet konvensional, X-30 memakai mesin ramjet atau scramjet canggih yang menggunakan bahan bakar cryogenic untuk dapat beroperasi pada kecepatan sampai 5 Mach.
Dengan perkembangan teknologi avionic ini dan adanya dana dari AS, banyak orang menganggap bahwa AU AS telah dapat mengembangkan, membuat dan menguji pesawat besar berkecepatan tinggi ini pada awal 1990an. Segera setelahnya, laporan mengenai ledakan “sonic” keras dan penampakan pesawat aneh di atas Inggris dan Kalifornia Selatan mulai muncul permukaan. Beberapa orang menganggap beberapa laporan ini adalah bukti keberhasilak AU AS membuat pesawat berkecepatan sangat tinggi ini yang menggunakan suatu mesin “exotic”.
Pemerintah AS sampai sekarang masih menyangkal keberadaan pesawat yang bernama Aurora atau sejenisnya ini untuk menggantikan pesawat SR-71. Setelah bukti-bukti yang mendukung keberadaan Aurora hanya merupakan dugaan kosong, hanya ada sedikit alasan untuk membantah pernyataan pemerintah AS.

HISTORY:
First Flight: possibly late-1980s
Service Entry: existence unconfirmed

CREW: possibly two: pilot and systems officer

DIMENSIONS:
Length: 115 ft (35 m)
Wingspan: 65 ft (20 m)
Height: 19 ft (6 m)
Wing Area 3,200 ft2 (300 m2)
Canard Area: not applicable

WEIGHTS:
Empty: 65,000 lb (29,480 kg)
Typical Load: unknown
Max Takeoff: 157,000 lb (71,215 kg)
Fuel Capacity: internal: 88,000 lb (39,920 kg); external: not applicable
Max Payload: 4,000 lb (1,815 kg)

PROPULSION:
Powerplant: possibly turbofan engines for subsonic flight and
ramjets, scramjets, or pulse detonation engines for supersonic flight
Thrust: unknown

PERFORMANCE:
Max Level Speed: at altitude: possibly Mach 5 to Mach 8 (some suggest up to Mach 20); at sea level: unknown
Initial Climb Rate: unknown
Service Ceiling: 131,000 ft (40,000 m)
Range: 8,000 nm (15,000 km)
g-Limits: unknown

ARMAMENT:
Gun: none
Stations: none
Air-to-Air Missile: none (although some suggest a long-range AAM like the AIM-54 Phoenix might be carried)
Air-to-Surface Missile: none
Bomb: none
Other: cameras, IR sensors, other recon sensors

KNOWN VARIANTS:
Aurora: Possible high-speed advanced reconnaissance platform

KNOWN COMBAT RECORD: existence unconfirmed
KNOWN OPERATORS: United States (US Air Force)

SUPER ETENDARD

SUPER ETENDARD


Super Etendard adalah pesawat tempur tempat duduk-tunggal untuk kapal induk yang pertama kali dikenalkan pada 1978. Pesawat ini merupakan pengembangan dari Etendard IVM. Berdasarkan pengalaman selama Perang Korea (1950-1953), Perancis membuat desain pesawat interseptor ringan. Definisi ini dengan cepat terasimilasi menjadi program untuk pembuatan bomber ringan yang cuga dapat berfungsi untuk superioritas udara. Pada saat yang sama NASA mengumumkan kebutuhan akan LWTSF (Light Weight Tactical Strike Fighter). Sebagai tanggapannya, Perusahaan Dassault memperkenalkan pesawat Mirage dan Etendard-nya.
Untuk memenuhi kebutuhan program nasional dan NATO, Dassault membuat desain aerodinamis dari “Super- Mystère” dan menggunakannya pada pesawat yang lebih kecil dengan mesin yang dapat mencapai kecepatan transonik tanpa “afterburner”. Hal ini memicu perkembangan desain Mystère XXII (Etendard II), Mystère XXIV (Etendard IV) dan Mystère XXVI (Etendard VI), pengembangan yang luar biasa sehingga take-off dan pendaratan menjadi mungkin pada kecepatan yang lebih rendah.
Entendar IV M adalah pesawat versi kapal induk pertama yang dikembangkan oleh Dassault, sedangkan Dassault Super Etendard adalah versi yang dimodernisasi dari Etendard IV M. Modifikasi utama dari pesawat ini adalah pengembangkan sistem senjata dengan pemasangan sistem manajemen tempur dan navigasi modern. Purwarupa pesawat nin melakukan penerbangan pertama pada Oktober 1974 di Istres.
AL Perancis meresmikan pesawat ini pada 1977 dan sebanyak 71 pesawat sekarang telah beroperasi di kapal induk Foch dan Clemenceau. Pesawat ini dipersenjatai dengan Misil Exocet dan diterbangkan oleh pilot-pilot Argentina (14 pesawat) selama perang Malvinas dengan Inggris pada 1982 dan menunjukkan efektifitas tempurnya. Super Etendard akan digantikan oleh pesawat tempur multi-peran Rafale pada awal abad ke-21.


Specifications
Country of Origi: France
Builde: DASSAULT-BREGUET
First fligh: May 1958 Etendard IV; October 1990 (Upgraded Super Etendard)
In-service in the French Navy: 1964 Etendard IV; June 1993 (Upgraded Super Etendard)

Similar Aircraft:
• Fantan A
• Mitsubishi F-1
• Mirage F1
• Yak-38 Forger

Crew: One
Role:
• strike
• fighter
Span: 31 ft, 6 in / 9.60 meters
Length: 47 ft / 14.31 meters
Height: 3.85 meters
Range: 750-1080 nautical miles
Endurance: 1h45 to 2h15 with réservoir supplémentaire

Speed:
• Mach 1,3 (@ 11 000 m)
• Mach 0,97 (@ low altitude)
Ceiling: 45,000 feet / 13700 meters
Weight: 11.90 tonnes (6.25 à vide).
In-Flight Refueling: Yes
Internal Fuel: 2612 kg
Payload: 2100 kg w/full int fuel
Power plant / Thrust: SNECMA 8 K50 jet engine / 5 t

Armament:
• two 30-mm guns
• Air-to-ground middle range missile (ASMP)
• Exocet air-to-surface Aerospatiale missile
• Matra Magic 2 air-to-air missile
• AS30 air-to-surface laser-guided missile
• rockets
• free fall and parachute drag bombs
• laser-guided bombs
Systems:
• radar Anémone
• nacelle Atlis
• détecteur Sherloc
• brouilleur Barracuda
• Drax radar detector
• Barracuda and Phimat jamming pods
• leurres Alkan 5081
• rear flare dispenser
Special equipment :6 Oméra 31 cameras (100, 150, 200 and 600 mm)

Drop Tanks:
• 600 L drop tank with 479kg of fuel for 99nm of range
• 625 L drop tank with 499kg of fuel for 103nm of range
• 1100 L drop tank with 879kg of fuel for 182nm of range
Engine: 1 SNECMA 8K50 @ 5 tonnes thrust
Sensors: Agave radar, RWR, ballistic bombsight
User Country
• Argentina
• France
Number of units produced: 85 (all types of Super Etendard included)
French Navy inventory: 52 Super Etendard in two squadrons; 5 Etendard IV P

BTR-80 Korps Marinir TNI-AL

BTR-80

Sejarah

BTR-80 dibuat oleh Arzamas machinery Construction Plant, Nizhny Novgorod, Rusia, dirancang untuk membawa personil dimedan tempur dan memberikan dukungan tembakan jarak dekat. Juga untuk melakukan pengintaian, dukungan tempur dan misi patroli. Mulai digunakan AD Rusia akhir 1980an dan telah teruji diberbagai pertempuran, termasuk misi perdamaian PBB.

BTR-80 adalah pengangkut personel lapis baja beroda 8×8 yang dirancang Uni Soviet. Produksi dimulai pada tahun 1986, untuk menggantikan versi-versi sebelumnya, yaitu BTR-60 dan BTR-70. Soviet merancang BTR-80 berdasarkan BTR-70. Kendaraan ini menggunakan mesin diesel V-8 turbo 260-hp.

Korps Marinir TNI-AL mengakusisi 12 BTR-80A. Kendaraan baja tersebut bertugas dengan Detasemen Kavaleri di dalam Brigade Marinir I. BTR-80 Indonesia dipersenjatai dengan senapan mesin 14.5 mm dan 7.62 mm.
BTR-80A memiliki daya angkut sepuluh orang, terdiri komandan, pengemudi, penembak, serta tujuh orang pasukan. Persenjataan di antaranya dilengkapi fasilitas perlindungan serangan senjata NBC (nuklir, biologi, kimia), sistem penembakan otomatis senjatanya, serta sistem kamuflase.
Persenjataan standar terdiri mitraliur 2A72 (kaliber 30 mm dengan daya tembak 330 butir peluru per menit, yang dapat menembus baja tipis), senapan mesin PKT (kaliber 7,62 mm x 39 dengan untaian 2.000 butir peluru, jarak tembak 1.500 m), serta enam pelontar granat asap.
Varian dan Pengembangan

Beberapa pengembangan dari BTR-80, antara lain, BREM-K Ran Harkan; BMM versi ambulan; RkhM-4-01 Ran Intai anti-radiasi dan Nubika; dan 2S23 Nona SVK 120mm self-propelled gun, yang mulai digunakan AD Rusia sejak 1990.

Versi yang lebih besar adalah BTR-90 dengan peningkatan proteksi lapis baja, dilengkapi dengan persenjataan kanon otomatis 2A42 kaliber 30mm dengan kemampuan membawa sista rudal anti- tank Konkurs.
Bulan Juli 2005, perusahaan Polandia, Bumar, mendapat kontrak dari pemerintah Irak untuk memasok 115 unit BTR-80 APC rekondisi, ex-AD Hongaria untuk pengiriman 2006. Bangladesh juga memesan tambahan dari Rusia 60 unit BTR-80 APC untuk misi perdamaian PBB.
BTR-80 Amfibi
BTR-80 sepenuhnya adalah ranpur amfibi. Pada bagian kabin terdapat tujuh ball-swivel firing ports, empat pada sisi kanan dan tiga pada sisi kiri, sama halnya dengan port diatas hatches dari kompartemen penembakan. Hatches memiliki pintu lapis baja pada kedua sisi kendaraan. Kendaraan ini juga memiliki perlindungan Nubika, system pemadam kebakaran otomatis, perlengkapan penyamaran, pompa bilge dan winch self- recovery.

Persenjataan
BTR-80 dipersenjatai dengan kubah senapan mesin BPU-1, untuk senjata KPTV kaliber 14.5mm dan Senapan mesin coaxial PKT kaliber 7.62mm. Kubah dapat berputar 360° dengan sudut elevasi 60° guna melakukan pertahanan udara.
Jarak tembak senjata sekitar 2km, dan jarak tembak kaliber 7.62mm sejauh 1.5km. Amunisi yang dapat dibawa 500 butir untuk KPVT dan 2.000 butir untuk PKT. Enam pelontar granat asap masing-masing tiga per sisi senjata utama.

SPESIFIKASI
Jumlah awak 10 (3+7)
Bobot: 13,600 kg +3%
Power-to-weight ratio: 19.1 hp/t
Mesin Disel 7403 four-stroke 8-cylinder, liquid cooled, 260 hp
Roda: pneumatic, tubeless
Suspensi independent on traverse levers
Panjang keseluruhan 7.65 m
Lebar 2.9 m
Tinggi 2.35 m
Jejak roda 2.41 m
Clearance 475 mm
Radius berputar kendaraan 13.2 m
Kecepatan maksimum di jalan raya: 80 km/jam
Kecepatan maksimum di medan sulit 20 – 40 km/hour
Amphibi 9 km/hour
Jarak tempuh di jalan raya: 600 km
Jarak tempuh medan sulit 200 – 500 km
Jarak tempuh ampibi 12 hours
Kemiringan menanjak 30 derajat
Kemiringan menyamping 25 derajat
Halangan vertical 0.5 m
Halangan parit 2 m

UAV Bombardier CL-327 "Guardian"

Bombardier CL-327 "Guardian"

CL-327 “Guardian” adalah pengembangan dari CL-227 “Sentinel”. Sentinel berpartisipasi dalam program MAVUS AL pada pertengahan 1990an, dengan beberapa demonstrasi di laut, mendarat di USS Vandegrift dan membuat beberapa pendekatan otomatis. Sentinel yang dimodifikasi, yang dikenal dengan “Puma”, diusulkan kepada pihak militer AS untuk program TUAV pada 1996.
Guardian mulai diproduksi terbatas pada 1996, satu di antaranya sekarang beroperasi untuk Royal Australian Army. Guardian adalah salah satu dari tiga UAV yang dipilih untuk berpartisipasi dalam program demonstrasi UAV VTOL (Vertical Take Off Landing) Angkatan Laut AS pada 1998. Lebih dari 50 jam penerbangan telah dilakukan, walaupun terjadi kecelakaan pada Juni 1998 ketika tangki bahan bakarnya terpisah dari pesawat yang menyebabkan pesawat kekurangan bahan bakar dan akhirnya hilang. Beberapa masalah terjadi saat pengembangannya, menyebabkan penundaan pengujian di atas kapal pada 1999. Karena dianggap tidak memenuhi spesifikasi, akhirnya Guardian dikeluarkan dari kompetisi VTUAV AL pada September 1999.

CL-327 “Guardian” mempunyai sebuah mesin turboshaft Williams WTS117-5 yang menghasilkan 125 shp, yang memutar rotor “counter-rotating” 3,96m. Berat Take Off kotor-nya adalah 350 kg, dengan berat kosong 150kg. Daya tahan terbang (untuk sekali terbang) adalah 6,25 jam, dan kecepatan maksimumnya adalah 155 km/jam.

CL-327 Specification

Country of Origin: Canada
Missions: Surveillance; Reconnaissance; Communications relay; Environmental inspection; Border patrol; Drug enforcement operations; Target acquisition / designation; Battle damage assessment; EW platform

Engine: 1 Williams International WTS-125 turboshaft 125 shp flat rated at 100 shp
Height: 6 ft 0 in 1.84 m
Rotor diameter: 13 ft 1 in 4.00 m
Gross takeoff mass: 770 lbs. 350 kg
Empty weight: (no payload, no fuel) 330 lbs. 150 kg
Payload carrying capacity: 220 lbs. 100 kg
Maximum endurance: 6.25 hours
Time on station at 100 km: 4.75 hours
Maximum speed: 157 km/h / 85 kts
Climb rate: 7.6 m/sec / 1,500 ft/min
Ceiling: 5,500 m / 18,000 ft

Sensor: Combined EO/IR; Communications relay; Active ESM payload; Synthetic Aperture Radar (SAR)

Datalink: Primary (C-Band), Directional, Omni-directional; Back-up (L-Band), Omni-directional, used for launch & recovery

Guidance and navigation: GPS and inertial; Automatic flight patterns; Autonomous flight
Reversionary modes; Waypoint navigation; Automatic target tracking

Image Exploitation: Geo-location; Target location error <60 m (GPS accuracy dependent); Freeze, pan, rotate images; Automatic target tracking

KRI Hasannudin 366 TNI-AL

KRI Hasannudin 366

KRI Hasanuddin dengan nomor lambung 366 merupakan kapal kedua dari kapal perang jenis Perusak Kawal Berpeluru Kendali kelas SIGMA milik TNI AL. Nama KRI Hasanuddin diambil dari nama Sultan Hasanuddin, Raja Gowa XVI.

KRI Hasanuddin merupakan sebuah korvet modern yang dibuat oleh galangan kapal Schelde, Belanda yang mulai pada tahun 2005 khusus untuk TNI-AL. KRI Hasanuddin akan bertugas sebagai kapal patroli dengan kemampuan anti kapal permukaan, anti kapal selam dan anti pesawat udara.

Kapal kelas SIGMA ini mulai dikerjakan pada Oktober 2004, dan akan siap tugas pada tahun 2007.

Sistem desain
SIGMA dirancang utnuk menerima sistem modul di berbagai area, hal ini menyebabkan kapal ini mempunyai keluwesan yang tinggi dalam pengaturannya dengan biaya yang rendah. Korvet ini dilengkapi dengan perlengkapan komunikasi dan pertempuran yang lengkap di dalam ruang yang luas untuk menampung akomodasi 80 orang, sebuah dek helikopter dan propulsi diesel propeler ganda.Kemampuan propulsi dan keseimbangan yang tinggi dari kapal ini (dilengkapi dengan gulungan penyetabil pasif) membuatnya cocok untuk operasi pencarian dan patroli di perairan teritorial indonesia. Fungsi dasar dari kapal ini adalah Patroli maritim Zona Ekonomi Ekslusif (EEZ), Penggetar, Pencarian dan penyelamatan (SAR) dan anti kapal selam. Dek helikopter mampu menampung sebuah helikopter dengan berat maksimum 5 ton dilengkapi dengan fasilitas lashing point dan sistem pengisian BBM .Operasi helikopter mampu dilakukan pada malam hari maupun siang hari.Kapal ini dibuat menurut Lloyds Register Class untuk unrestricted service dan distujui oleh prinsipal kelautan yang bonafid.

Tenaga penggerak
Kapal kelas sigma ini dilengkapi dua buah mesin diesel V28-33D STC (sequintial turbo charging) diproduksi oleh MAN Diesel (Jerman) berkonfigurasi V 20 silinder. Mesin berkekuatan 8900 kW ini masing-masing menggerakan sebuah baling-baling yang bisa diatur kemiringan bilahnya melalui sebuah gir pengurang putaran satu tingkat. Mesin berbobot 46 ton ini berukuran panjang x lebar x tinggi = 7330 x 2100 x 3180 mm

Persenjataan
Sebagai bagian dari armada patroli KRI Hasanuddin dipersenjatai dengan berbagai jenis persenjataan untuk meronda wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Termasuk diantaranya adalah :

Peluru kendali darat ke udara: MBDA Mistral dalam peluncur Tetral laras 4, Jangkauan efektif 6 km
Peluru kendali anti kapal: MBDA Excocet MM40 block 2, Jangkauan efektif 70 km
Kanon utama: Oto-Melara Super rapid kaliber 76 mm, kecepatan tembakan 120 rpm,jarak maksimum 16 km (Posisi A)
Kanon anti serangan udara: 2 x 20 mm DENEL Vector G12 (Posisi B)
Torpedo: 3A 244S Mode II/MU 90 dilengkapi dengan 2 peluncur torpedo B515

Sensor dan elektronis
Sistem Perang: Thales TACTICOS
Radar utama: MW08 3D multibeam surveillance radar
Radar senjata: LIROD Mk2 tracking radar
Data Link: LINK Y Mk2 datalink system
Sonar: Thales Kingklip medium frequency active/passive ASW hull mounted sonar
Elektronik Komunikasi: Thales/Signaal FOCON
Sistem Pengecoh: TERMA SKWS
Platform integrasi utama: Imtech UniMACs 3000 Integrated Bridge System

Karir (ID)
Mulai dibuat: 24 Maret 2005
Diluncurkan: 16 September 2006
Ditugaskan: November 2007
Status: Masih bertugas
Karakteristik umum
Berat benanam: 1.700 Ton
Panjang: 90,71 metres (297,6 ft)
Lebar: 13,02 metres (42,72 ft)
Draft: 3,60 metres (11,81 ft)
Kecepatan: 28 knot
Awak kapal: 80 orang

Duro Dakovic M95 Degman,Kroasia

Duro Dakovic M95 Degman,Kroasia

MBT milik Kroasia Duro Dakovic M95 Degman merupakan produksi lokal yang mempunyai banyak kesamaan dengan T-72 milik Rusia, tetapi memiliki banyak fitur yang telah dikembangkan. M95 sendiri merupakan versi pengembangan dari M84 Degman milik Yugoslavia.

Turret dan Hull dibuat dengan baja kuat. Tank ini juga bisa beradaptasi dengan explosive reactive armor. Awak tank ini tiga orang, dengan pengisian peluru secara otomatis. Dengan sistem komputer kontrol penembakan, tank ini dapat menembak target baik di siang atau malam hari dan baik target bergerak maupun diam.

Specifications
Designation: Duro Dakovic M95 Degman
Length: 33.27 ft | 10.14 m
Width: 11.78 ft | 3.59 m
Height: 7.19 ft | 2.19 m
Engine(s): 1 x 12-cylinder diesel generating 1,000hp. There is also an optional 1,200hp diesel engine.
Weight: 49.1 tons (US Short) | 44,500 kg
Max Speed: 43 mph | 70 km/h
Max Range: 435 miles | 700 km
Armament: 1 x 125mm main gun; 1 x 7.62mm coaxial machine gun; 1 x 12.7mm anti-aircraft machine gun; 2 x 6 smoke dischargers
Ammunition: 42 x 125mm projectiles; 2,000 x 7.62mm ammunition; 360 x 12.7mm ammunition; 12 x smoke grenades
NBC Protection: Yes
Night Vision: Yes
Crew: 3
Operators: Croatia

Grumman E-2 Hawkeye Airborne Early Warning And Control Aircraft

Grumman E-2 Hawkeye Airborne Early Warning And Control Aircraft


Deskripsi:
Walaupun AL AS sudah mempunyai keinginan sangat lama untuk platform pengintaian dan survey udara, ternyata membutuhkan waktu yang lama untuk mewujudkan sebuah pesawat pengintai yang dapat beroperasi pada kapal induk. Meskipun demikian, diperlukan beberapa tahun lagi agar komputer mempunyai kekuatan yang cukup sehingga mampu mencari (tracking) dan memproses lebih dari satu target pada satu waktu. Keinginan ini akhirnya terwujud ketika Grunman dinyatakan sebagai pemenang kontrak AL untuk membuat pesawat peringatan awal dan kontrol udara (airborne early warning and control=AWACS).
Desain Grumman terdapat mesin turboprop kembar yang dipasang di bawah sayap yang dipasang-tinggi. Bodi pesawat yang panjang dapat diawaki oleh lima orang, termasuk tiga spesialis misi. Terdapat “radom” berputar besar yang dipasang pada tiang di atas “juncture” sayap. Untuk mengatasi aliran udara di sekitar “radome”, pada ekornya terpasang empat sirip pada ekor horizontal dengan dihedral signifikan. Desain ini pertama kali terbang pada 1960, awalnya dikenal sebagai W2F-1, tetapi kemudian diberi nama E-2A Hawkeye sebelum mulai beroperasi.
AL menerima 59 pesawat E-2A pada 1967, tetapi segera diupgrade menjadi E-2B standar dengan pemasangan komputer prosesing yang lebih kuat dan peralatan pengisian bahan bakar udara. Tak berapa lama kemudian, Grumman mulai memproduksi model E-2C baru yang termasuk di dalamnya sustem avionic yang jauh lebih canggih dan mesin yang lebih bertenaga. Pesawat-pesawat ini terus diupgrade secara kontinu dengan radar dan sensor baru, sistem avionic yang lebh canggih, peralatan processing yang lebih baik dan upgrade software yang memungkinkan pesawat ini untuk melakukan tracking terhadap 250 target dan mengkontrol 30 pesawat interceptor pada waktu bersamaan.
Dalam rangka untuk melindungi armada AS, E-2 juga digunakan oleh agen badan hukum untuk melacak peredaran narkoba. E-2 juga popular di AL Prancis dan beberapa negara lain. Sekitar 150 pesawat E-2C Hawkeyes sedang dibuat dengan produksi berkecepatan rendah (low-rate production). Sebuah varian baru yang disebut E-2D dengan peralatan elektronik baru juga sedang dalam proses pengembangan.

HISTORY:
First Flight: (W2F-1) 21 October 1961, (E-2C) 20 January 1971
Service Entry: (E-2A) 19 January 1964; (E-2C) November 1973

CREW: 2 pilots, 1 radar operator, 1 air control officer, 1 combat information center officer

ESTIMATED COST: $51 million

AIRFOIL SECTIONS:
Wing Root: NACA 63A216
Wing Tip: NACA 63A414

DIMENSIONS:
Length: 57.56 ft (17.54 m)
Wingspan: 80.58 ft (24.56 m)
Height: 18.31 ft (5.58 m)
Wing Area: 700.0 ft2 (65.03 m2)
Canard Area: not applicable

WEIGHTS:
Empty: 37,945 lb (17,210 kg)
Normal Takeoff: unknown
Max Takeoff: 51,815 lb (23,505 kg)
Fuel Capacity: 19,015 lb (8,625 kg)
Max Payload: unknown

PROPULSION:
Powerplant: two Allison T56-425 turboprops
Thrust: 9,820 ehp (7,322 kW)

PERFORMANCE:
Max Level Speed: at altitude: 390 mph (625 km/h); at sea level: unknown
cruise speed: 310 mph (500 km/h)
Initial Climb Rate: unknown
Service Ceiling: 36,955 ft (11,275 m)
Range: typical: 1,500 nm (2,780 km); ferry: 1,540 nm (2,850 km)
Endurance: 6 hr 15 min
g-Limits: unknown .

ARMAMENT: None

KNOWN VARIANTS:
W2F-1: Original designation for the E-2
E-2A: Initial production model; 59 built
TE-2A: E-2 trainers modified from E-2A airframes; 2 converted
E-2B: Designation for upgraded E-2A airframes modified with an improved computer and inflight-refueling capability
E-2C: Improved model with far more capable avionics; over 150 built by 2000
TE-2C: Trainer model based on the E-2C; 2 built
E-2C+: Upgrade currently being applied to US aircraft including improvements to the radar, software updates, and installation of more powerful engines
E-2D: New build model equipped with an improved radar system, new workstations, better satellite communications gear, and advanced cockpit displays; 75 to be built from 2009 to 2020
E-2T: Former E-2B aircraft upgraded for use by Taiwan; 6 converted
C-2 Greyhound: Ship-to-shore transport aircraft derived from the E-2 airframe

KNOWN COMBAT RECORD:
Vietnam War (USN, 1965-1972)
Lebanon (Israel, 1982)
Libya - Operation El Dorado Canyon (USAF, 1986)
Iraq - Operation Desert Storm (USN, 1991)
Bosnia - Operation Deliberate Force (USAF, 1995)
Afghanistan - Operation Enduring Freedom (USN, 2001-present)
Iraq - Operation Iraqi Freedom (USN, 2003-present)

KNOWN OPERATORS:
Egypt, Al Quwwat al Jawwiya il Misriya (Egyptian Air Force)
France, Aéronautique Navale (French Naval Air Arm)
Israel, Tsvah Haganah le Israel - Heyl Ha'Avir (Israeli Defence Force - Air Force)
Japan, Nihon Koku-Jieitai (Japan Air Self Defence Force)
Singapore (Republic of Singapore Air Force)
Taiwan, Chung-Kuo Kung Chuan (Republic of China Air Force)
United States (US Navy)

Garibaldi Aircraft Carrier, Italy

Garibaldi Aircraft Carrier, Italy

Kapal utama AL Italia adalah kapal induk MM Garibaldi, yang dibuat oleh Fincantieri di Genoa, dan diresmikan pada 1985. Garibaldi (C551) digolongkan sebagai CVS-Aircraft Carrier ASW (Anti-submarine Warfare=Anti Kapal Selam). Kapal induk ini mampu mengangkut 18 helikopter atau satu skuadron pesawat tempur jenis vertical atau short take-off and landing (VSTOL).
Kapal induk ini mampu mengangkut peralatan anti-kapal selam, dapat mengkomandoi dan mengontrol pasukan AL dan aero-AL, pengintaian/menyurvey daerah sekitar, pengawalan konvoy, komando transportasi dan support logistic bagi armada yang ada.

System Pertempuran
Sistem komando dan kontrol kapal ini adalah IPN20 yang disuplai dari Selex Sistemi Integrati (dulunya Alenia Marconi Systems). IPN 20 mengumpulkan informasi dari sensor-sensor kapal dan dari komunikasi dan jaringan data untuk menyusun dan menampilkan situasi taktis. Sistem komunikasinya termasuk komunikasi satelit, Link 11 dan Link 14. Kapal ini telah diupgrade dengan Link 16 dan Wide Area Network (WAN) baru.

Misil
Sistem misil permukaan-ke-permukaan jarak-jauh milik kapal ini adalah MBDA (sebelumnya Alenia) Otomat yang dipasang pada dek meriam di buritan kapal, dua launcher di sisi kiri kapal dan dua pada bagian kanan kapal. Misil ini mempunyai sistem kendali radar yang dipersenjatai dengan hulu ledak 210 kg dan dengan jarak jangkau 120 km.
Sistem misil permukaan-ke-udara MBDA Albatros merupakan pertahanan jarak-dekat. Launcher 8-cell Albatros dipasang di atap dek di depan dan buritan kapal. Sistem ini menggunakan misil Aspide. Aspide mempunyai pencari-radar semi-aktif dengan jarak jangkau 14 km. 48 buah Aspide dapat diangkut. Kontrol penembakan Albatros diatur oleh tiga pengarah elektro-optikal/radar Selex NA 30 yang termasuk di dalamnya kamera inframerah dan penjari-jarak laser, seperti halnya radar kontrol penembakan Selex RTN 30X.

Meriam
Kapal induk ini dipersenjatai dengan tiga 40mm/70mm meriam kembar dari Oto Melara. Meriam ini mempunyai kecepatan tembak 300rounds/menit ke target udara dengan jarak 4km dan target permukaan dengan jarak 12km. Sistem kontrol senjata Meriam ini meliputi tiga sistem Selex NA 21.


Torpedo

Dua launcher torpedo pipa-tripel ILAS 3 dari WASS (Whitehead Alenia Sistemi Subaqua) dipasang pada kapal induk ini. Pipa 324mm dapat menembakkan torpedo Honeywell Mark 46 atau A290.

Pesawat Terbang
Dek penerbangan kapal ini sepanjang 174m dan lebar 30,5m, dan di depannya terdapat lereng “sky jump” 4 derajat sepanjang 15m. Kapal dapat mengakomodasi 18 helikopter, seperti Agusta Sikorsky SH-3D Sea King atau Agusta Bell AB212. Sebagai alternative, kapal ini dapat mengakomodasi pesawat Harrier II 16 AV-8B atau campuran dari helikopter dan pesawat Harrier. Dek penerbangan ini telah diupgrade untuk dapat mengakomodasi helikopter EH101.

Countermeasures
Sistem penerima peringatan radar dan jamming kapal ini adalah Elettronica Nettuno SLQ-732. Umpan (decoy) torpedonya adalah SLQ-25 Nixie.
Kapal ini mempunyai dua Oto Melara SCLAR Naval Decoy Launcher Systems yang melepas “chaff dispensers”, infrared decoys atau illuminating flares. SCLAR adalah sebuah sistem 105mm 20-barrel dan menghasilkan pengaburan/”confusion”, pengacauan dan “seduction mode jamming”.
Kapal induk ini juga dilengkapi dengan sebuah sistem anti torpedo SLAT yang dikembangkan oleh Eurslat, sebuah konsorsium yang terdiri atas WASS (Whitehead Alenia Sistemi Subaqua), DCN dan Thales Underwater Systems (formerly Thomson Marconi Sonar)


Sensor

Radar pencari udara jarak-jauh milik kapal ini adalah Selex Sistemi Integrati MM/SPS-768 (RAN 3L) yang beroperasi pada band D yang mempunyai jarak di atas 200 km. Radar pengintaian/survey jarak-jauh tiga-dimensi Raytheon AN/SPS-52C beroperasi pada band E yang mempunyai jarak 400km. Radar pencari permukaan dan udara jarak-menengah Selex SPS-774 beroperasi pada band E dan F mempunyai jarak melebihi 150km. Sistem Selex Sensors & Airborne mensuplai radar pencari udara dan targeting MM/SPS-702, radar navigasi MM/SPN-749 dan radar kontrol pesawat MM/SPN-728 yang beroprasi pada band I.
Sonar pencari aktiw “bow-mounted” DE 1160 LF disuplai oleh Raytheon.

Propulsi
Sistem propulsi kapal induk ini adalah aransemen combined gas turbine and gas turbine (COGAG). Sistem ini didasari pada 4 mesin turbin gas LM2500 yang dikembangkan oleh FiatAvio di Turin di bawah perjanjian lisensi dari perusahaan AS General Electric (GE). LM2500 menghasilkan tenaga 81,000hp. Sistem propulsi ini menghasilkan kecepatan maksimal 30knot dan pada kecepatan ekonomis (20knot), jarak jangkaunya adalah 7.000 mil nautical.

M1 Abrams,US

M1 Abrams,US

M1 Abrams adalah tank tempur utama (main battle tank, MBT) Angkatan Darat Amerika Serikat dan Marinir Amerika Serikat, dengan tiga versi utama yang dipakai secara bertahap mulai pada tahun 1980: M1, M1A1, dan M1A2. Versi terbaru M1A2 memiliki perlindungan dan peralatan elektronik baru. Tank ini diberi nama dari Jenderal Creighton Abrams, mantan Kepala Staf Angkatan Darat dan komandan Resimen Lapis Baja 37 AS.

Tank M1 Abrams menggantikan tank M60 Patton dan M48A5. Tetapi M1 sempat aktif dipakai bersama dengan tank M60A3 selama lebih dari 10 tahun, karena tank M60A3 baru mulai dipakai dua tahun sebelum kemunculan M1.

Karakteristik umum
Kru 4 (Komandan, penembak, pengisi, pengemudi)
Panjang 7,92 m
Lebar 3,64 m
Tinggi 2,43 m
Berat 63,0 ton
Perlindungan dan persenjataan
Perlindungan Chobham,
RHA
Senjata utama M256 120 mm
Senjata sekunder 1× .50 (12.7 mm) M2 Browning,
2× 7.62 mm M240
Mobilitas
Mesin turbin AGT-1500,
transmisi Renk HSWL 354
1500 hp (1119 kW)
Suspensi torsion bar
Kecepatan 72 km/h
Power/berat 24 hp/ton
Jarak jangkauan 465 km (279 mi)

Eurofighter Typhoon

Eurofighter Typhoon

Eurofighter Typhoon adalah sebuah pesawat tempur multi peran delta-canard bermesin ganda super lincah, dirancang dan dibuat oleh sebuah konsorsium negara-negara Eropa yang dibentuk pada 1983. Dalam rancangan dia menyerupai pesawat tempur modern Eropa lainnya, Dassault Rafale Prancis dan Saab Gripen Swedia. Karena kombinasi kelincahan, fasilitas stealth dan sistemnya yang modern dia dipandang luas sebagai pesawat tempur hebat.

Tipe Pesawat tempur multi-peran
Produsen Eurofighter GmbH

Terbang perdana 27 Maret 1994

Diperkenalkan 2003

Status Aktif
Pengguna Britania Raya
Jerman
Italia
Spanyol

Jumlah produksi 114 (Februari 2007)[1]

Acuan dasar British Aerospace EAP

Pada 1979 BAE Inggris dan MBB Jerman membuat proposal European Combat Fighter. Pada Oktober 1979 Dassault Perancis bergabung dan studi tiga negara ini dinamakan European Combat Aircraft (ECA) , pada saat ini nama Eurofighter pertama kali digunakan . Pada 1981 Proyek ini berakhir karena beberapa hal, Perancis memaksa untuk menjadi pemimpin pada proyek ini. Inggris menginginkan mesin RB199 yang digunakan sedangkan Perancis lebih menyukai Snecma M88 .
Kemudian tiga perusahaan yang bermitra membuat Tornado dalam Panavia yaitu BAE, MBB, dan Aeritalia meluncurkan program Agile Combat Aircraft (ACA), pada April 1982. Program ini menghasilkan pesawat demostrator ACA yaitu Experimental Aircraft Programme (EAP) pada 1983.
Pada 1983 Inggris, Perancis, Jerman, Itali dan Spanyol meluncurkan program Future European Fighter Aircraft (FEFA). Pesawat ini memiliki kemampuan take Off dan landing dengan jarak pendek (STOL) dan perang diluar jangkauan mata (beyond visual range, (BVR)). Pada 1984 Perancis memasukan kebutuhannya akan versi kapal induk dan menginginkan posisi sebagai pemimpin dalam program ini. Inggris , Jerman Barat dan Itali memilih untuk keluar dari program dan memulai program EFA baru.
Di Turin pada 2 Agustus 1985, Itali, Jerman Barat, dan Inggris setuju untuk melanjutkan Eurofighter. Pengumuman ini mengkonfirmasi bahwa Perancis dan Spanyol memilih untuk tidak menjadi anggota proyek. Dikemudian hari dengan tidak mempedulikan desakan dari Perancis, Spanyol bergabung kembali pada September 1985. Perancis secara resmi mengundurkan diri dari Proyek Eurofighter dan melanjutkan proyeknya sendiri yang dikemudian hari menjadi Dassault Rafale.
Pada tahun 1986 EAP terbang untuk pertama kalinya, pekerjaan mendesain dalam 5 tahun kedepan menggunakan data dari EAP. Pembelian awal adalah: Inggris 250 pesawat, Jerman 250, Itali 165, dan Spanyol 100. Prosentase bagian produksi mengikuti jumlah pembelian - British Aerospace (33%), Daimler-Benz (33%), Aeritalia (21%), dan Construcciones Aeronáuticas SA (CASA) (13%).
Pada 1986 juga didirikan Eurofighter Jagdflugzeug GmbH untuk mengatur proyek ini dan EuroJet Turbo GmbH, aliansi dari Rolls-Royce, MTU Aero Engines, FiatAvio (sekarang Avio), and ITP untuk mengembangkan mesin EJ200.
Dalam pengembangan banyak sekali pertentangan, misalnya pada 1990 terjadi perdebatan besar dalam pemilihan radar, Inggris, Spanyol, dan Itali menginginkan ECR-90 (Ferranti Defence Systems) sedangkan Jerman menginginkan memakai radar MDS2000 (Hughes, GEC-Marconi, AEG). Polemik berakhir setelah Inggris menggaransi bahwa GEC boleh membeli Ferranti Defence Systems, sehingga membuat GEC tidak lagi mendukung pengembangan MDS2000.


Eurofighter Typhoon di Farnborough Air Show, 2006
Akhirnya Peter Weger kepala tes pilot Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) dapat menerbangkan prototipe pesawat ini (kemudian dikenal sebagai Eurofighter EF 2000) pada 27 Maret 1994 di Bavaria setelah ditahun 90-an kita melihat pertentangan-pertentangan hebat dalam pembangunan pesawat ini. Pertentangan itu meliputi banyak hal, contohnya adalah masalah pembagian pekerjaan, spesifikasi pesawat dan bahkan partisipasi tiap negara dalam proyek ini.
Ketika kontrak produksi final ditandatangani pada 1997, pembelian total adalah sebagai berikut: Inggris 232, Jerman 180, Itali 121, and Spanyol 87. Produksi kemudian juga dialokasikan menurut jumlah pembelian: British Aerospace (37%), DASA (29%), Aeritalia (19.5%), dan CASA (14%).
Ringkasan Produksi
Negara Tahap 1 Tahap 2 Tahap
Austria 0 18* 0 18
Jerman 44 68 68 180
Italia 29 46 46 121
Arab Saudi 0 48 24 72
Spanyol 20 33 34 87
Inggris 55 89 88 232
TOTAL 148 302 260 710

Jumat, 17 September 2010

Alvis Stormer TNI-AD

Alvis Stormer : Tank APC Modern TNI-AD

Indonesia bisa dibilang telah menjadi pelanggan setia produk militer besutan Alvis. Sejak dekade tahun 60-an, beragam alat tempur kavaleri TNI-AD didatangkan, salah satunya berasal dari Inggris. Alvis menjadi pemasok yang cukup strategis, produsen alat tempur asal Inggris ini telah memasok beragam tipe panser, seperti Ferret, Saracen, dan Saladin. Walau telah berusia lebih dari 50 tahun, ketiga panser tadi masih operasional lewat program upgrade.
Memasuki era 90-an, TNI-AD kembali kedatangan alat tempur besutan Alvis. Yakni tank ringan Scorpion dan tank APC (armored personel carrier) Stormer, kedua tank ini didatangkan pada medio tahun 1997 hingga 1999. Hadirnya Scorpion dan Stormer memang disiapkan sebagai arsenal kaveleri utama, dimana andalan TNI-AD sebelumnya yakni tank AMX-13 kanon 75 mm dan AMX-13 VCI/APC sudah dianggap terlalu tua untuk dijadikan andalan, meski varian AMX-13 sudah di upgrade total oleh TNI-AD dan hingga kini masih memperkuat beberapa batalyon kaveleri.

Menurut informasi dari lembaga riset ADF, Indonesia setidaknya memiliki 40 unit Stormer dari beragam versi. TNI-AD diketahui memiliki versi tank jembatan (bridge layer), recovery vehicle, ambulance, logistic vehicle, dan versi commando. Sedangkan masih ada beberapa versi yang tak dimiliki oleh TNI-AD, seperti versi penyapu ranjau (mine layers), air defence dengan rudal atau kanon 30 mm, dan versi pelontar mortir 81/120 mm. Pada versi commando yang dimiliki TNI-AD, Stormer sebatas dilengkapi senjata berupa kanon 12,7 mm dan 7,62 mm.

Stormer mempunyai beberapa keunggulan, diantaranya mampu mendukung proteksi personel pada kondisi perang NBK (nuklir, biologi, dan kimia) lewat penambahan perangkat khusus. Stormer dilengkapi pula dengan passive night-vision equipment. Walaupun sejatinya Stormer bukan tank amfibi, tank ringan ini dilengkapi dengan amphibious kit untuk melaju di air secara terbatas.

Penampilan Stormer versi Commando dalam sebuah defile di Surabaya
Stormer adalah tank angkut personel yang sangat ideal untuk kondisi geografis di Indonesia. Hal ini terlihat dari bobotnya yang hanya 12,7 ton. Mobilitas Stormer pun terbilang tinggi, tank dengan 2 kru dan kapasitas angkut pasukan 12 personil ini dapat diangkut dengan mudah oleh pesawat angkut sekelas C-130 Hercules. Sebuah Hercules dapat memuat 1 unit Stormer.

Di lingkungan TNI-AD, Stormer disiapkan dalam satu paket gelaran dengan tank Scorpion. Penempatan kedua tank ini dibawah satuan kavaleri Kostrad, yakni pada Yon Kav 8 di Divisi Infrantri 2 Kostrad (Jawa Timur) dan Yon Kav 9 di Divisi Infantri 1 Kostrad (Jawa Barat). Selain Indonesia, negara jiran Malaysia diketahui juga menggunakan Stormer dengan jumlah 45 unit, Oman membeli 4 unit dan tentunya AD Inggris dengan 151 unit. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi Stormer
Negara pembuat : Inggris
Berat : 12.7 tonnes
Panjang : 5.27 m
Lebar : 2.76 m
Tinggi : 2.49 m
Kru : 2 + 12
Mesin : Perkins 6 litre, 6 cylinder diesel 250 hp (186 kW)
Transmisi : David Brown TN15D
Suspensi : Torsion bar
Jarak tempuh : 640 Km
Kecepatan Max : 80 km per jam

AIM-9 Sidewinder TNI-AU

AIM-9 Sidewinder TNI-AU

Meski secara teknologi TNI AU tak ketinggalan dalam update pengadaan pesawat tempur, lain halnya dengan persenjataan yang melengkapi pesawat tempur. Akibat anggaran pembelian yang serba ngepas, TNI AU hingga kini hanya dibekali rudal udara ke udara secara terbatas.
Rudal andalan TNI AU tak lain adalah sidewinder. Rudal pemburu panas ini mulai hadir sejak awal tahun 80-an. Dari beberapa tipe pesawat tempur yang dimiliki, diketahui hanya tiga jenis pesawat tempur yang mampu menggotong sidewinder, yakni F-5 Tiger, F-16 Fighting Falcon dan Hawk 100/200

Ada dua tipe sidewinder milik TNI AU, yakni AIM-9 P2 dan AIM-9 P4 sidewinder. Paket rudal AIM-9 P2 dibeli bersamaan dengan pengadaan 16 pesawat tempur F-5 E/F Tiger yang pertama datang pada 21 April 1980.
Sedangkan tipe AIM-9 P4 dibeli bersamaan dengan pembelian 12 pesawat tempur F-16 A/B Fighting Falcon pada tahun 1989. Rudal sidewinder untuk pertama kal ditembakkan pada tahun 1989 di selatan Samudra Hindia. Rudal diluncurkan dari dua F-5 yang lepas landas dari lanud Ngurah Rai, Bali.

Apa perbedaan antara AIM-9 P2 dan AIM 9 P4? Letak perbedaannya cukup mencolok, dengan AIM 9 P2 mengharuskan pilot menempatkan musuh di depannya agar rudal dapat menuju pesawat musuh. Sebab rudal ini hanya akan menuju panas yang dikeluarkan dari exhaust.
Sebaliknya rudal AIM 9 P4, meski sama-sama mengarah ke panas tetapi rudal ini akan membidik panas yang ditimbulkan oleh perbedaan suhu akibat gesekan bodi pesawat dengan udara. Dengan demikian AIM 9 P4 bisa ditembakkan meskipun pesawat musuh datang dari depan dalam posisi berhadapan. Dari perbedaan teknis ini mengubah cara dan konsep pertempuran udara (dog fight).

Rudal buatan Raytheon Company, AS ini memiliki banya varian, tipe terbarunya adalah AIM 9X yang mulai digunakan militer AS tahun 2003 lalu. Untuk tipe AIM 9 P4 milik TNI AU memiliki kecepatan luncur 2.5 Mach dalam tempo waktu 2,2 detik. Jangkauan rudal efektif adalah 17,7 Km dengan lama misi 60 detik. Bobot sidewinder sendiri sekitar 78 Kg.