Convair F-102 Delta Dagger
Convair F-102 Delta Dagger adalah jet tempur all weather interceptor pertama yang memiliki kecepatan terbang supersonik dan pesawat tempur USAF pertama yang menggunakan desain delta wing. Jet tempur ini berhasil melakukan first flight pada tanggal 24 Oktober 1953, namun baru digunakan oleh Angkatan Udara AS pada tahun 1956. F-102 Delta Dagger dibuat sekitar 1.000 unit dalam berbagai varian. Selain Angkatan Udara AS, jet tempur ini juga dioperaskan oleh Angkatan Udara Yunani dan Turki.
F-102 dirancang untuk menggantikan F-89 Scorpion. Prototype jet tempur ini masih menggunakan mesin turbojet Westinghouse yang ternyata kurang bertenaga dan membatasi kecepatan pesawat pada kecepatan subsonik, padahal USAF menginginkan pesawat ini memiliki kecepatan supersonik. Untuk mengatasi masalah tersebut akhirnya diputuskan untuk mengganti mesin Westinghpouse J40 dengan mesin turbojet Pratt & Whitney J57, walaupun hal ini berarti harus merubah desain pesawat. Perubahann tersebut antara lain penambahan panjang pesawat serta modifikasi pada air intake dan sayap. Hal inilah yang mengakibatkan F-102 baru diterima oleh skadron-skadron operasional USAF pada tahun 1956.
F-102 adalah salah satu jet tempur pertama yang tidak dipersenjatai dengan kanon dan sepenuhnya mengandalkan pada roket dan rudal. Persenjataan F-102 ditempatkan pada tiga weapon bay di bagian bawah pesawat. Sebagai interceptor, jet tempur ini dipersenjatai dengan dua peluncur roket kaliber 70mm (masing-masing berkapasitas 12 roket) dan enam rudal udara ke udara AIM-4 Falcon. Ada dua varian utama F-102, yaitu varian interceptor fighter F-102A dan varian jet latih TF-102A. Sementara varian F-102B tidak jadi diproduksi dan selanjutnya dikembangkan menjadi F-106 Delta Dart.
Selama digunakan oleh Angkatan Udara AS, F-102 sempat memperkuat 26 skadron tempur USAF di seluruh dunia. Walaupun fungsi utama F-102 adalah sebagai interceptor yang disiagakan untuk mengahadapi serangan udara Uni Soviet, namuan sejumlah F-102 sempat dikirim untuk bertempur dalam Perang Vietnam. Dalam Perang Vietnam, F-102 bertugas untuk mengawal pesawat pembom B-52 Stratofortress dan secara terbatas melakukan misi-misi serangan darat. Angkatan Udara AS kehilangan 15 unit F-102 karena berbagai sebab dalam Perang Vietnam, salah satunya karena tertembak oleh rudal AA-2 Atoll ketika terlbat dog fight dengan MiG-21 Fihsbed Angkatan Udara Vietnam Utara.
Angkatan Udara AS menggunakan F-102 sampai dengan tahun 1973, sementara unit-unit Air National Guard baru mempensiunkan pesawat ini pada tahun 1979. Sekitar 200 unit F-102 kemudian dikonversi menjadi drone QF-102 dan digunakan sebagai sasaran tembak dalam latihan dan uji robal sistem rudal Patriot. Versi drone QF-102 terakkhir kali digunakan pada tahun 1986.
Mantan presiden AS George W.Bush adalah pilot F-102 saat bertugas di Texas Air National Guard pada tahun 1972-1973.
Pada tahun 1970-an, sejumlah F-102 bekas pakai USAF diberikan kepada Angkatan Udara Yunani dan Turki. Ironisnya, kedua angkatan udara tersebut kemudian sama-sama mempergunakan jet tempur tersebut dalam konflik di Siprus pada tahun 1974. Turki dan Yunani sama-sama mempensiunkan F-102 pada akhir tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an.
Specifications (F-102A)
Crew : 1
Powerplant : 1 x 76.5 kN / 17,200 lb-afterburning thrust Pratt & Whitney J57-P-25 turbojet engine
Length : 20.84m
Wingspan : 11.62m
Height : 6.46m
Weight empty : 8,630 kg
Maximum take-off weight : 14,288 kg
Maximum speed : 1,328 km/h
Range : 2,173 km
Service ceiling : 16,460m
Armament : 24 x 70mm rockets and 6 x AIM-4 Falcon air-to-air missiles
Di blog ini akan menguraikan segala info persenjataan militer baik yang ada dalam lingkungan TNI maupun yang lainnya dari berbagai negara
Rabu, 19 Januari 2011
Azarakhsh
Azarakhsh
Pesawat Azarakhsh generasi pertama dipercaya berasal dari pesawat modifikasi F-5E buatan Amerika Serikat (dirilis di Iran) dan memiliki dimensi 10-15% lebih panjang. Produksi besar-besaran dimulai pada akhir 1997 dan sejauh 2001, terdapat enam buah pesawat ini telah berada dalam inventarisasi. Diperkirakan sejumlah 30 pesawat akan dikeluarkan dalam waktu tiga tahun mendatang
Pada April 1997, Brigadir Jendral Arasteh, Wakil Ketua untuk Staf Jenderal Angkatan Bersenjata menyatakan Iran telah berhasil mereka, membangun dan menguji pesawat tempur pertamanya. Pada ujung 1997, Iran mulai mengeluarkan secara besar-besaran pesawat. Pada pertengahan 2000, empat pesawat dipercaya sedang menjalani tes operasi, dengan harga produksi pesawat sekitar 10 pesawat setahun
Iran ini tidak lagi mengungkapkan informasi tambahan mengenai pesawat, maka kemampuan sebenarnya pesawat ini tidak diketahui. Dipercayai menyerupai pesawat Northrop F-5 yang dimodifikasi , dan diklaim 10% -15% lebih panjang dibandingkan pesawat asal. Pesawat Azarakhsh juga dikatakan menggunakan radar N-019 Topaz yang telah ditingkatkan kemampuannya.
Pada 17 Mei, 2000, Pemimpin Komandan Angkatan Udara telah mengatakan bahwa pesawat Azarakhsh telah mencapai tingkat produksi besar-besaran. Pada 6 Agustus, 2007, Menteri Pertahanan Mostafa Mohammad-Najjar berkata, "Azarakhsh kini berada pada tingkat produksi industri dan produksi besar-besarannya akan dimulai pada masa depan. "
Pada 5 Agustus, 2007, Azarakhsh berhasil melakukan tes penerbangan
Pesawat Azarakhsh generasi pertama dipercaya berasal dari pesawat modifikasi F-5E buatan Amerika Serikat (dirilis di Iran) dan memiliki dimensi 10-15% lebih panjang. Produksi besar-besaran dimulai pada akhir 1997 dan sejauh 2001, terdapat enam buah pesawat ini telah berada dalam inventarisasi. Diperkirakan sejumlah 30 pesawat akan dikeluarkan dalam waktu tiga tahun mendatang
Mampu membawa 1000 kg bom di sayapnya, menggunakan misil air to ground buatan local Zulfiqar dan Shabaz-1/2 serta diperkirakan memakai misil Sidewinders dan Chinese PL-5 serta menggunakan mesin buatan General Electric J-85 dan menggunkan radar buatan Rusia.
Battleship kelas Richelieu
Battleship kelas Richelieu
Richelieu merupakan gambaran battleship sejati yang pernah dibangun Prancis. Kapal ini perwujudan keputusan Paris pada tahun 1935 untuk membangun kapal perang besar yang berbobot 35.000 ton. Berbeda dengan Dunkerque, tujuan pembangunan Richelieu lebih condong kearah strategis ketimbang kebutuhan taktis lapangan. Fungsinya difokuskan buat mengimbangi armada battleship yang dibangun Negara-negara Eropa.
Secara umum, desain Richelieu adalah versi pembesaran dari fast-battleship kelas Dunkerque. Perkuatan dilakukan pada system proteksi. Hamper 37% dari keseluruhan bobot tersita untuk membangun lapisan pertahanan kapal yang dirancanguntuk menahan gempuran proyektil caliber 381 mm. biarpun dek belakang cuma dihuni meriam-meriam sekunder dan antipesawat, Prancis merasa perlu melengkapinya dengan menara pengarah. Posisi dibuat segaris dengan cerobong mesin supaya asap tidak menerpa ruang pengarah.
Dihantam Inggris
Ketika Prancis dikuasai Nazi Juni 1940 Richelieu berada dalam kondisi siap diluncurkan. Oleh karena para awak berhasil membawanya kabur ke Dakar. Sementara saudara kembarnya Jean Bart yang telah diluncurkan beberapa bulan sebelum Nazi dating, buru-buru mencari tempat aman dati St. Nazaire ke Casablanca.
Sebulan setelah pelariannya, Richelieu menjadi target AL Inggris. Para petinggi Sekutu takut kedua battleship jatuh ke tangan AL Nazi. Richelieu mendapat serangan dari pesawat AL Inggris yang berpangkalan di kappa induk HMS Hermes. Dalam serangan, sebuah torpedo berhasi menjebol lambung dan mengakibatkan kapal tenggelam di perairan dangkal.
Kondisi tadi tidak membuat Richelieu lumpuh total. Oleh karena Inggris lalu mengirim armada kapal perang buat menggempur ulang. Salah satu kapal yang terllibat adalah battleship HMS Resolutiaon. Beruntung serangan kedua tak mengakhiri nasib Richelieu. Sebaliknya para pejuang Prancis berhasil mengambil alih kapal dan memperbaiki, bahkan memperkuat persenjataan antipesawat. Setelah sempat menjadi bagian dari kekuatan Armada Timur AL Inggris, Richelieu dikembalikan ke Prancis. Kapal ini sempat dilibatkan dalm konflik Indo-Cina dan baru dipensiiunkan dari dinas aktif tahun 1956.
Nasib Jean Bart sedikit banyak mirip dengan Richelieu. November 1942, kapal ini dikeroyok armada kapal perang AL AS. Delapan proyektil caliber 16 inci (406mm) dari battleship USS Massachusetts sempat mampir ke dek Jean Bart. Pasca perang Prancis berhasil membangun kembali Jean Bart dan memakainya dalam konflik Terusan Suez, 1956. Kapal ini baru dipensiunkan tahun 1961.
Spesifikasi
Klasifikasi : Battleship
Asal : Prancis
Populasi : 3 (Richelieu, Jean bart dan Clemenceau )
Mulai dibangun : 1935
Selesai : 1940-1952
Awak : 1.670 (Richelieu), 2.143 (Jean Bart)
Bobot tempur : 47.500 ton (Richelieu), 49.850 ton (Jean Bart)
Dimensi : panjang 248 m ; beam 33 m (Richelieu) 35.5 m ( Jean Bart) ; draught 10.7 m (Richelieu) 9.9 m (Jean Bart)
Propulasi : 6 tabung ua Indret ; turbin bersistem reduksi buatan Parson ; jumlah baling-baling 4 unit
Kemampuan : kecepatan 30-32 knot ; jarak jangkau 8.500 nm pada kecepatan 14 knot
Persenjataan : 8 meriam 15 inci (380mm) ; Sembilan meriam Dual Purpose (DP) 6 ini (152mm) ; 12 meriam antipesawat 3.9 inci (100mm) ; 16 kanon antipesawat 37mm ; delapan senapan mesin berat anti pesawat 13.2 mm
Rabu, 05 Januari 2011
T-45A/C Goshawk
T-45A/C Goshawk
Sejak dimulai dioperasikan oleh AL AS dan Marinir AS pada tahun 1992, ratusan unit Goshawk menjadi pesawat latih favorit berkat kemampuannya yang prima. Militer AS memesan sekitar 230 T-45A/C dan semua unit sudah diterima oleh AL AS dan Marinir hingga 2009. Sebagai pengganti pesawat latih TA-4J Skyhawk dan T-2C Buckeye, Goshawk sesuai dengan rencananya akan dioperasikan oleh militer AS hingga 2035. Meskipun dioperasikan untuk pesawat latih dalam keadaan perang atau situasi darurat, Goshawk bisa dipasangi persenjataan karena dibawah kedua sayapnya terdapat dudukan untuk memasang bom, roket dan tangi BBM cadangan. Sejumlah keunggulan Goshawk hingga layak menyandang julukan full carrier capability antara lain terletak pada bagian kokpit, sister avionic, mesin dan persenjataan.
Kokpit Goshawk untuk kepentingan latihan sangat nyaman menggunakan system pendingin khusus yang dihasilkan dari mesin (engine air bleed system). Sementara untuk latihan, semua pergerakan pesawat bisa dimonitor langsung baik oleh pelatih maupun pilot yang dilatih melalui video kamera sehingga proses latihan langsung bisa dianalisis begitu usai terbang. Tersedia pula perangkat untuk memonitor kondisi cuaca dan udara, serta system pengoperaian dan akurasi senjata yang bekerja secara computerized.
Role Naval trainer aircraft
Manufacturer McDonnell Douglas
Boeing
BAE Systems
First flight 16 April 1988
Introduced 1991
Primary user United States Navy
Number built 207 as of 2008
Developed from BAE Hawk
General characteristics
• Crew: 2 (student, instructor)
• Length: 39 ft 4 in (11.99 m)
• Wingspan: 30 ft 10 in (9.39 m)
• Height: 13 ft 5 in (4.08 m)
• Wing area: 190.1 ft² (17.7 m²)
• Empty weight: 10,403 lb (4,460 kg)
• Max takeoff weight: 14,081 lb (6,387 kg)
• Powerplant: 1× Rolls-Royce Turbomeca F405-RR-401 (Adour) turbofan, 5,527 lbf (26 kN)
Performance
• Maximum speed: 560 knots, (645 mph, 1,038 km/h) at 8,000 ft
• Range: 700 nmi (805 mi, 1288 km)
• Service ceiling: 42,500 ft (12,950 m)
• Rate of climb: 8,000 ft/min (40.6 m/s)
Armament
• Usually none. One hardpoint under each wing can be used to carry practice bomb racks, rocket pods, or fuel tanks. A centerline hardpoint can carry a cargo pod for crew baggage.
Pada system avionic mutakhir yang dimiliki oleh Goshawk diantaranya system yang berfungsi mengontrol penerbangan secara aman, stabil, dan presesi (Attilude and Heading Reference System, AHRS) yaitu AN/USN-2. Perangkat avionic lainnya adalah radio komunikasi yang bisa dioperasikan secara khusus dan tidak terdektesi lawan Rockwell Collin AN/ARN-144 VHF, radar altimeter Honeywell AN/APn-194 yang sanggup mengontrol ketinggian terbang secara akurat, perangkat navigasi untuk kepentingan SAR yang sanggup member sinyaldari bawah laut jika terjadi kecelakaan LN-100G serta terintregasi dengan GPS.
AK-74
AK-74 (atau sering juga dikenal dgn AKM)
Tipe Senapan serbu
Negara asal Uni Soviet
Sejarah pemakaian
Masa penggunaan 1974 –
Sejarah produksi Perancang Mikhail Kalashnikov
Tahun 1974
Varian AK-74M, AKS-74, AKS-74U, RPK-74
Spesifikasi Berat 3,3 kg Panjang 943 mm Panjang Laras 415 mm
Magazen 5.45 x 39 mm
Mekanisme Operasi gas, bolt berputar Rata² tembakan 600 – 650 butir/menit
Kecepatan peluru 900 m/s
Jarak efektif 500 m
Amunisi Magazen box 30-butir Alat bidik Bidikkan besi
Tipe Senapan serbu
Negara asal Uni Soviet
Sejarah pemakaian
Masa penggunaan 1974 –
Sejarah produksi Perancang Mikhail Kalashnikov
Tahun 1974
Varian AK-74M, AKS-74, AKS-74U, RPK-74
Spesifikasi Berat 3,3 kg Panjang 943 mm Panjang Laras 415 mm
AK-74 adalah senapan serbu yang merupakan modernisasi dari AKM. Senapan ini menggunakan peluru yang lebih kecil dengan kaliber 5.45 x 39 mm. pertama kali dibuat tahun 1974. Senapan ini mulai diproduksi masal pada tahun 1976. Varian terbaru senapan ini, AK-74M, adalah senapan serbu standar angkatan bersenjata Rusia sejak awal tahun 1976-an.
Magazen 5.45 x 39 mm
Mekanisme Operasi gas, bolt berputar Rata² tembakan 600 – 650 butir/menit
Kecepatan peluru 900 m/s
Jarak efektif 500 m
Amunisi Magazen box 30-butir Alat bidik Bidikkan besi
Alfa class Nuclear Submarine
Alfa class Nuclear Submarine
KS kelas Alfa(project 705) merupakan kapal selam nuklir penyerang buatan Uni Soviet. Pada masanya, KS ini adalah KS tercepat dan memiliki kemampuan menyelam paling dalam. Hal ini dimungkinkan berkat pemakaian reaktor nuklir berkekuatan tinggi, hull berbahan titanium, dan desain yang mampu meminimalisir hambatan(drag) dengan baik.
Proyek KS ini pertama kali dicetuskan pada tahun 1957, atau hanya 4 tahun setelah kapal selam nuklir pertama operasional. Tujuannnya jelas, menciptakan kapal selam pemburu yang mampu mengejar dan menghabisi armada kapal induk Amerika yang merupakan ancaman terbesar bagi AL Soviet pada waktu itu. Pemakaian bahan titanium dapat menghemat ketebalan dinding dan bobot hull, sehingga diharapkan KS ini hanya memiliki bobot 1500 ton. Namun pada 1963, desain KS ini mengalami perubahan desain. Hal ini berefek pada bertambahnya jumlah kompartemen, jumlah kru, dan bobot yang sekarang menjadi 2.300 ton. Meskipun begitu, KS ini mampu mencapai rekor kecepatan maksimal 44,7 knot. Sebuah kecepatan yang luar biasa, mengingat KS nuklir zaman sekarang pun hanya bisa mencapai kecepatan ± 35 knot saja.
Mengetahui ancaman yang sangat letal ini, tentu saja Amerika tidak tinggal diam. Negara ini lalu mengembangkan arsenal ASW secara besar-besaran, termasuk program ADCAP bagi torpedo Mk.46 dan Mk.48.
Walaupun begitu, rupanya kecepatan bagai pedang bermata 2 bagi KS ini. Dalam kecepatan tinggi, KS ini sangat berisik sehingga mudah terdeteksi perangkat sonar pasif. Hal ini sebenarnya bisa dieliminir dengan mengurangi kecepatannya. Akan tetapi, tentu saja KS ini akan kehilangan keunggulannya jika memilih alternatif itu. Perangkat sensor yang rumit dan reaktor yang kurang reliable karena masih menggunakan metal cair sebagai pendingin merupakan kelemahan lain KS ini. Untuk reaktornya, KS ini memerlukan pemanas tambahan untuk menjaga agar pendinginnya tidak ‘membeku’. Hal ini pun masih harus dipantau secara khusus jika tidak mau mengalami kerusakan reaktor. Untuk meminimalisir resiko, reaktor pun harus terus dihidupkan meskipun KS sedang merapat di dok! Rumitnya mengurus reaktor ini pun dapat dilihat di statistik, dimana 4 dari 7 KS yang diproduksi harus mengalami masalah pada bagian ini.
Saat ini, AL Rusia sendiri sudah memensiunkan kapal ini. Alfa class terakhir dipensiunkan pada 1995, di mana sebelumnya kapal ini bertugas sebagai kapal selam uji. Perannya kini dilanjutkan oleh Akula I, II, dan III sebagai tulang punggung armada kapal selam pemburu AL Rusia.
Displacement (tons):
2,310-2,900 tons Surfaced
3,800-4,320 tons Submerged
Speed (kts):
14 knots surfaced
43-45 knots submerged
Endurance:
1,175 full power hours
30-50 days stores endurance
Operating Depth
1,150-2,000 feet Maximum Safe Depth
1,400-3,900 feet Never-Exceed Depth
1,700-?,??? feet Crush Depth
Dimensions (m):
79.5-81.4 meters long
9.5 meters beam
6.9-7.6 meters draft
Propulsion:
1 liquid-metal nuclear reactors
(155 MWt Type: OK-550 or BM-40A)
[2 units re-engined with VM-4 reactor from Project 671B]
2 steam turbines; 40-47,000 shp
1 5 bladed propeller
Crew:
31-45
Armament:
Missiles:
• 21 81R (SS-N-15) or
• 12 Vodopad (SS-N-16)
Torpedoes: 6 533mm bow TT
• 18 53-65K, SET-65 torpedoes or
• 20 VA-111 torpedoes or
• 21 SS-N-15/81R or
• 24 mines
Systems:
• Topol MRK.50 [Snoop Tray] Surface Search radar
• Sozh Navigation system radar
• MG-21 Rosa Underwater communications
• Molniya Satellite communications
• Vint & Tissa Communications antennas
• Accord Combat direction system
• Leningrad-705 Fire control system
• Okean active/passive Sonar
• MG-24 Luch mine detection sonar
• Bukhta ESM/ECM
• Yenisei Sonar intercept receiver
• Khrom-KM IFF
Claymore
Claymore
Kata claymore (IPA: /ˈkleɪmɔr/ atau /kleɪˈmɔr/, dari Scottish Gaelic claidheamh mòr, "great sword") merujuk pada dua jenis berbeda pedang. Kata ini mungkin merujuk pada pedang dua tangan dengan sebuah cross hilt (pelindung tangan berbentuk salib di bagian atas gagang pedang), digunakan oleh Highlanders dari Skotlandia, atau merujuk pada pedang basket-hilted (berpelindung tangan mengelilingi gagang) yang diadopsi dari abad ke-16, yang hingga kini menjadi pedang pelengkap seragam Highland regiments dari AD Inggris.
Two-handed (Highland) claymore
Claymore dua-tangan adalah pedang besar yang dipakai pada masa akhir abad pertengahan dan periode modern awal. Pedang ini telah digunakan dalam peperangan clan konstan dan pertempuran perbatasan dengan Inggris dari tahun 1500 hingga 1700. Perang terakhir yang diketahui memakai benyak senjata ini adalah Battle of Killiecrankie pada tahun 1689.
Ukuran rata-rata claymore sekitar 140 cm (55") untuk keseluruhan panjang, dengan panjang pegangan 33 cm (13"), bilah pedang 107 cm (42"), dan dengan berat sekitar 2.5 kg (5.5 lb). Cukup seragam bentuknya, pedang ini diset dengan ujung pedang roda yang kadang diujungnya berbentuk bulan sabit dan sebuah pelindung tangan. Bentuk lain claymore dua-tangan adalah claymore "clamshell hilted".
Basket-hilted claymore
Jenis selanjutnya memiliki bentuk yang lebih pendek, satu-tangan dan populer dengan pasukan Skotlandia dan Inggris di abad ke-17, dan masih terlihat dipakai secara terbatas di PD II; “claymore” modern dibawa pada PD II oleh Lt. Col. Jack Churchill. Pedang ini bermata pisau satu sisi atau dua sisi, denga berat antara 2-3 lbs (0.9 and 1.5 kg), dengan bilah pedang sepanjang 30-35 inci (0.75–0.9 m). Pelindung “keranjang” dirancang untuk melindungi tangan saat pertempuran. Pedang berpelindung “keranjang” Skotlandia biasanya dibedakan dengan pedang lain karena adanya garis di bagian dalam pelindung yang biasanya berwarna merah, and juga kadang berhiaskan rumbai dekoratif di bagian pelindung atau ujung pegangan.
De Havilland D.H. 100 Vampire
De Havilland D.H. 100 Vampire
De Havilland Vampire adalah pesawat tempur jet kedua yang digunakan secara operasional oleh Angkatan Udara Inggris. Prototype jet tempur ini berhasil melakukan first flight pada tanggal 20 September 1943, namun tidak sempat diturunkan dalam Perang Dunia II dan baru memperkuat skadron-skadron tempur RAF pada tahun 1946. Pesawat tempur ini dibuat sebanyak 3.268 unit dalam berbagai varian.
Secara total terdapat 15 varian Vampire, termasuk varian latih berkursi ganda, varian nigh fighter, dan varian pesawat jet tempur angkatan laut yang diberi nama Sea Vampire. Prototype Sea Vampire sendiri mencatatkan sejarah ketika pada tanggal 4 Desember 1945 melakukan pendaratan dan tinggal landas dari kapal induk HMS Ocean, menjadikannya sebagai pesawat jet tempur pertama yang melakukan pendaratan dan tinggal landas dari sebuah kapal induk. Kemudian pada tanggal 14 Juli 1948 varian Vampire F3 mencatatatkan rekor sebagai pesawat jet pertama yang melakukan penerbangan melintasi samudera Atlantik.
Vampire termasuk sebagai pesawat tempur yang terbukti battle proven. Jet tempur ini digunakan oleh Inggris untuk menggempur gerilyawan komunis selama operasi militer di Malaya. Kemudian Angkatan Udara India juga menggunakan Vampire dalam perang India-Pakistan tahun 1945. Pesawat tempur ini juga masih digunakan oleh Rhodesia dalam bush war/perang kemerdekaan Zimbabwe yang berlangsung dari tahun 1964 sampai dengan tahun 1979.
De Havilland Vampire termasuk pesawat jet tempur yang cukup sukses secara komersial dan digunakan oleh 31 negara, termasuk Indonesia. AURI sempat mengoperasikan varian latih D.H.115 Vampire T.11 yang merupakan pesawat jet pertama yang dimiliki oleh Indonesia. Inggris sendiri mengoperasikan Vampire sampai dengan tahun 1966, sementara pengguna terakhir Vampire adalah Rhodesia/Zimbabwe yang baru mempensiunkan pesawat ini pada tahun 1979-1980.
Specifications (Vampire FB.6)
Crew : 1
Powerplant : 1 x 14.9 kN de Havilland Goblin 3 turbojet engine
Length : 9.37m
Wingspan : 11.58m
Height : 2.69m
Weight empty : 3,304 kg
Maximum take-off weight : 5,620 kg
Maximum speed : 882km/h
Range : 1,960 km
Service ceiling : 13,045m
Armament : 4 x 20mm Hispano Mk.V cannons, 8 x 3 inch rockets, 2 x 225 kg (500 lb) bombs
Langganan:
Komentar (Atom)













