Selasa, 13 September 2011

Sukhoi Su-3

Sukhoi Su-3 (I-360); 1942

Pada saat evakuasi OKB Sukhoi ke Novosibirsk, purwarupa dari pengembangan Su-1, yaitu SU-3, sedang dalam pembuatan. Pada awalnya diberi kode I-360, Su-3 memakai bodi pesawat dan permukaan ekor dari Su-1 dengan sayap yang baru secara keseluruhan dengan bentang yang lebih pendek sehingga mengurangi luar permukaan sayap sebanyak 2 m2. Kapasitas radiator diperbesar, tetapi bagian utama lainnya sama persis dengan Su-1.

Su-3 mempertahankan mesin M-105P dan persenjataan dari Su-1. Pembuatan Su-3 selesai di Novosibirsk dan mulai melakukan uji terbang pada musim panas 1942. Walaupun TsIAM bertanggung jawap penuh atas pengembangan turbo-supercharger TK-2, kekurangan-kekurangan principal tetap ditemui, dan sebagai konsekuensinya pengembangan dari Su-3 tidak dilanjutkan pada 1942.

Spesifikasi:

BERAT:
Berat Lepas-Landas: 2860 kg; 6305 lb
Berat Kosong: 2490 kg; 5490 lb
DIMENSI
Bentang Sayap: 10.10 m; 33 ft 2 in
Panjang: 8.42 m; 27 ft 7 in
Tinggi: 2.71 m; 8 ft 11 in
Luas Sayap: 17.00 m2; 182.99 sq ft
PERFORMA
Kecepatan Max.: 638 km/h; 396 mph
Jarak Operasional: 700 km; 435 miles

Senin, 12 September 2011

Sukhoi Su-8

Sukhoi Su-8 (DDBSh); 1943

Fungsi: Pesawat Serang Darat (Ground Attack)
Pembuat: Sukhoi
Didesain oleh: Pavel Sukhoi
Penerbangan Pertama: 1944
Status: Prototype only
Jumlah dibuat: 2
Sukhoi Su-8 atau DDBSh (Dalam bahasa Rusia: Су-8 ДДБШ - Двухмоторный Двухместный Бронированный Штурмовик – Pesawat serang darat berlapis baja-berkursi dua-bermesin ganda) adalah purwarupa pesawat serang berat milik Soviet dari Great Patriotic War.

Pengembangan

Ketika Sukhoi sedang menyempurnakan pesawat serang ringan Sukhoi Su-6, OKB juga mengembangkan pesawat besar, berat, bersenjata berat dan berlapis baja Su-8. Dua purwarupa selesai pada 1943 dan melakukan uji pabrik pada 1944, tetapi tidak dapat lolos dari uji pemerintah maupun produksi karena ketidakadaan mesin M-71. Sebuah usaha dilakukan dengan mengganti mesin menjadi Mikulin AM-42 tetapi tidak terlihat adanya perkembangan.

Su-8 mempunyai konstruksi tetap. Kokpitnya berlapis baja, dengan bodi pesawat menengah berbahan aluminium dan ekor monocoque (konstruksi dengan frame berbentuk seperti tabung yang dilapisi dengan bahan tertentu) kayu. Sayapnya terbuat dari konstruksi baja dan aluminium dengan lapisan kayu (triplek) pada bagian luarnya. Kemudi kembarnya berbahan logam. Sebagai tambahan untuk kokpit, mesin, tangki bahan bakar dan oli pendingin semua berlapis baja, dengan berat lapis baja total 1.680 kg (3.705 lb), lebih dari dua kali berat lapis baja pada Ilyushin Il-2.

Specifikasi (Su-8)

Karakteristik Umum:
•Awak: 2
•Panjang: 13.5 m (ft in)
•Bentang Sayap: 20.5 m (ft in)
•Tinggi: ()
•Luas Sayap: 60 m² (646 ft²)
•Berat Kosong: 9,180 kg (20,240 lb)
•Berat dengan Muatan: 12,425 kg (27,390 lb)
•Berat Lepas Landas Max.: 13,380 kg (29,500 lb)
•Mesin: 2× Mesin Radial Shvetsov M-71F, dengan kekuatan masing-masing 1,640 kW (2,200 hp)

Performa:
•Kecepatan Maksimal: 550 km/h (300 kn, 340 mph) pada 4,600 m (15,090 ft)
•Jarak Operasional: 1,450 km (785 nmi, 900 mi)
•Tinggi Operasional Max.: 9,000 m (29,530 ft)
•Kecepatan Naik: 9 min to 5,000 m (16,405 ft)

Persenjataan
•4 ×Kanon Nudelman N-37 37 mm (1.46 in) atau 4 × Nudelman N-45 45 mm (1.78 in) di bawah badan pesawat.
•8 × Senapan Mesin ShKAS 7.62 mm (0.30 in) (empat di setiap sayap)
•1 × senapan mesin UBT 12.7 mm (0.50 in) di turret atas
•1 × ShKAS 7.62 mm di turret bawah
•Berat amunisi total 232 kg (510 lb)
•Bom hingga 1400 kg (3,085 lb)

KRI Teluk Bayur-502

KRI Teluk Bayur-502

Kapal perang jenis Landing Ship tank (LST) di bawah pembinaan satuan Lintas Laut Militer (Satlinlamil) Surabaya termasuk salah satu kapal perang yang diusulkan untuk dihapus dari jajaran Kolinlamil. KRI Teluk Bayur-502 sudah lebih dari empat puluh tahun dioperasikan TNI AL dalam berbagai penugasan operasi dan latihan.

Kapal perang yang sampai saat ini diawaki oleh 95 personel sejak masuk menjadi kekuatan unsur kapal perang TNI AL tepatnya 17 Juni 1961 telah mengemban berbagai penugasan operasi militer untuk perang dan operasi militer selain perang ke berbagai wilayah perairan Indonesia.

Berbagai penugasan operasi militer diantaranya ikut dalam operasi angkutan pergeseran pasukan ke Timor–Timur dan berbagai penugasan ke perairan di Wilayah Indonesia dalam rangka mengakut pasukan untuk penugasan di daerah rawan konflik.

Demikian pula beberapa tahun sebelumnya pernah mendapat tugas untuk membantu kegiatan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia diantaranya mengangkut alat-alat berat Departemen Pekerjaan umum dan mengangkut berbagai kebutuhan untuk pemukiman transmigrasi di Sulawesi serta kegitan bantuan sosial lainnya ke beberapa pulau lainnya di Indonesia baik di wilayah Timur maupun Barat.

Sedangkan dalam kegiatan latihan, kapal perang yang berfungsi sebagai angkut tank dan personel tersebut dalam kegiatan pendaratan amphibi maupun pendaratan administrasi ikut terlibat dengan berbagai latihan manuver lapangan (Manlap) diantaranya latihan Puncak TNI AL Armada Jaya sampai dengan latihan gabungan TNI yang digelar Desember tahun lalu.

Kapal perang yang diproduksi Amerika Serikat tahun 1942 termasuk jenis angkut tank dengan panjang 99,89 meter dan lebar 15,25 meter dengan tonage 2510 ton, pada awal masuk dan dioperasikan Kolinlamil memiliki kemampuan berlayar sampai dengan 10 knot per jam dan mampu mengangkut sampai 17 tank dalam kegiatan operasi dan latihan.

KRI Teluk Bayur -502 yang telah direpowering beberapa tahun yang lalu memiliki kemampuan mengangkut sampai dengan 800 personel atau lebih dari dua batalyon tempur dengan segala perlengkapan perorangan dengan pemasangan tenda-tenda pasukan di geladak utama sebagai salah satu fasilitas akomodasi pasukan.

RQ-3A DarkStar Tier III Minus

RQ-3A DarkStar Tier III Minus

UAV Tier III Minus, yang lebih deikenal dengan julukan DarkStar, adalah satu dati dua UAV altitude dan enduransi tinggi yang sedang dikembangkan untuk DARO (Defense Airborne Reconnaissance Office) oleh Advanced Research Projects Agency (ARPA). Departemen Pertahanan AS membatalkan progran UAV DarkStar pada Februari 1999 karena pemotongan anggaran. Diberi pilihan antara stealth atau jarak, AU AS lebih memilih Global Hawk (jarak) dari pada Darkstar (stealth).

Program Tier III Minus adalah program pertama yang dilakukan di bawah "Section 845 Authority". Otoritas ini melancarkan jalan kolaborasi antara industri-pemerintah yang sebelumnya belum pernah dilakukan dengan mengesampingkan peraturan pengadaan/procurement Dewan Pertahanan. Tier Three Dark Star datang dengan spesifikasi dalam satu halaman yang menunjukkan kehebatan altitude, enduransi dan penjejakan (stealth) untuk dengan biaya $10 juta (tahun fiskal 1994) untuk 11-20 unit.

Sistem DarkStar adalaj UAV dengan altitude dan enduransi tinggi yang dikembangkan untuk pengintaian pada area dengan pertahanan ketat. Secara fisik, bentang sayapnya sedikit lebih lebar dari setengah bentang sayap Global Hawk dan panjangnya hanya sepertiganya. Stasiun operator daratnya dikembangkan oleh Raytheon/E-Systems yang mengkombinasikan perencanaan misi, komando dan kontrol, komunikasi dan kontrol kualitas penggambaran area ke dalam sebuah dua stasiun yang dapat berpindah tempat. Dikembangkan tingkat stealth tinggi, tujuan operasional DarkStar adalah agar dapat berhasil dan selamat dalam melakukan penetrasi ke wilayah dengan pengamanan ketat. Melengkapi Tier II Minus, Tier II Plus akan dikembangkan untuk UAV jarak jauh dalam operasi pengintaian dengan tingkat pengamanan rendah-medium. Kedua UAV ini dapat lepas landas, terbang dan mendarat secara otomatis penuh, dan dapat diganti misinya secara dinamis selama dalam penerbangan. Tier II Minus dapat beroperasi hingga 500 mil laut dari tempat lepas landas dan dapat terbang selama 8 jam dengan ketinggian 45.000 kaki, dengan membawa beban sensor radar bidik kamera sitetis atau elektro-optik. DarkStar dapat mengangkut beban 1.000 pound.

Sistem sensornya mirip dengan Global Hawk, kecuali lebih sedikit bandwith-nya karena kebutuhan jaringan komunikasi dalam jarak yang lebih pendek. Sebagai tambahan DarkStar dapat membawa beban radar atau EO, tidak seperti Global Hawk yang mampu membawa keduanya sekaligus.

Sebuah team dari Lockheed/Boeing memimpin pengembangan sistem Tier III Minus. Setiap perusahan bertanggung jawab terhadap 50 persen program. Boeing Military Aircraft Division, Seattle, bertanggung jawab untuk pengembangan dan uji sayap dan subsistem sayap. Lockheed Martin Skunk Works, Palmdale, bertanggung jawab pada desain dan pengembangan bodi pesawat dan subsistemnya, perakitan akhir, integrasi dan uji sistem. Sebuah mesin turbo-fan, yang disediakan oleh Williams International, menghasilkan tenaga untuk UAV ini.

DarkStar melakukan penerbangan pertamanya pada Maret 1996. Pada penerbangan kedua terjadi kecelakaan karena kesalahan modelling aerodinamis. Pada 22 Desember 1996, Wakil Menteri Pertahanan untuk Akuisisi dan Teknologi, Paul G Kaminski, menyetujui revisi terhadap program UAV DarkStar. Revisi program ini merupakan hasil dari review independen atas kecelakaan yang terjadi tersebut.

Yakovlev Yak-15 Feather

Yakovlev Yak-15 Feather

Yak-15 adalah salah satu pesawat jet tempur pertama Uni Soviet. Prototype pesawat tempur ini berhasil melakukan first flight pada tanggal 24 April 1946, bersamaan dengan first flight prototype MiG-9. Yak-15 sendiri kemudian diproduksi sebanyak 280 unit.

Sama halnya seperti MiG-9, Yak-15 juga menggunakan mesin yang berasal dari mesin jet buatan Jerman yang berhasil direbut oleh Uni Soviet pada akhir Perang Dunia II. Dalam hal ini yang digunakan adalah mesin Tumansky RD-10 yang merupakan hasil jiplakan dari mesin Junkers Jumo 004. Yak-15 sendiri pada dasarnya merupakan hasil modifikasi besar-besaran terhadap pesawat tempur Yak-3, terutama penggantian mesin piston Klimov VK-105 dengan mesin jet Tumansky RD-10.

Specifications (Yak-15)
Crew : 1
Powerplant : 1 x 8.9 kN Tumansky RD-10 turbojet engine
Length : 8.70m
Wingspan : 9.20m
Height : 2.27m
Weight empty : 1,918 kg
Loaded weight : 2,234 kg
Maximum speed : 805 km/h
Range : 510 km
Service ceiling : 13,350m
Armament : 2 x 23mm NS-23 cannons

Kamis, 08 September 2011

Caproni Ca.135

Caproni Ca.135

Caproni Ca.135 adalah medium bomber yang digunakan oleh Angkatan Udara Italia dan Hungaria dalam Perang Dunia II. Pesawat ini berhasil melakukan first flight pada tanggal 1 April 1935 dan mulai digunakan secara operasional pada tahun 1936. Ca.135 hanya diproduksi sebanyak 140 unit.

Sama halnya sepeti sebagian besar pesawat militer buatan Italia pada tahun 1930-an, Ca.135 masih menggunakan konstruksi sayap yang terbuat dari kayu serta sebagian kulit pesawat yang masih terbuat dari bahan semacam kain. Sebagai medium bomber, performa Ca.135 termasuk mengecewakan karena mesin yang kurang bertenaga sehingga mengakibatkan kurangnya jarak tempuh dan ketinggian terbang. Oleh karena itu maka AU Italia bisa dikatakan tidak pernah menggunakan Ca.135 dalam pertempuran dan hanya menggunakannya sebagai pesawat latih sampai dengan tahun 1941. Memanng sebanyak tujuh unit bomber ini pernah dikirimkan untuk membantu pihak Nasionalis dalam Perang Saudara Spanyol, namun hanya dua pesawat yang berhasil tiba di Spanyol karena lima pesawat lainnya mengalami kerusakan teknis saat melakukan penerbangan menuju Spanyol. Dari lima pesawat tersebut, hanya dua yang berhasil mendarat kembali di Italia; sementara sisanya jatuh di lautan.

Hungaria adalah pengguna terbesar Ca.135 dan memiliki sekitar 100 unit pesawat ini, walaupun sebagian besar merupakan bekas pakai AU Italia. Ca.135 mulai digunakan oleh AU Hungaria pada tahun 1939 dan sama seperti AU Italia, sebenarnya pilot-pilot Hungaria banyak yang mengeluhkan kemampuan pesawat ini. Namun Hungaria tetap menggunakan Ca.135 karena pada saat tersebut hanyat pesawat itulah yang mereka miliki sebagai medium bomber. Ca.135 AU Hungaria digunakan dalam Perang Dunia II untuk membantu pasukan Jerman dalam pertempuran di front Rusia dari tahun 1941 sampai dengan tahun 1943. Sejak tahun 1943 Ca.135 Hungaria ditarik dari garis depan dan digantikan oleh Junkers Ju-88 buatan Jerman.

Selain Italia dan Hungaria, negara lainnya yang mengoperasikan Ca.135 adalah Peru. Peru mengoperasikan enam unit pesawat ini dari tahun 1937 sampai dengan tahun 1942. Ca.135 milik Peru sempat digunakan dalam perang perbatasan Peru dengan Ekuador pada tahun 1941.

Specifications (Ca.135bis)
Crew : 5
Length : 14.40 m
Wingspan : 18.75 m
Height : 3.40 m
Empty weight : 4,500 kg
Loaded weight : 8,500 kg
Powerplant : 2 x 1,000 hp Piaggio P.Xibis RC40 radial engines
Maximum speed : 440 km/h
Range : 1,200 km
Ceiling : 7,000 m
Armament : 3 x 12.7mm machine guns and up to 1,600 kg of bombs

HMS Hood

HMS Hood

Ide untuk membangun Hood setahun sebelum pertempuran laut Jutland terjadi. Tepatnya pada 1913, Dewan Petinggi AL Kerajaan Inggris memutuskan membangun kapal perang baru. Ada dua syarat yang wajib dipatuhi yaitu mampu dipasangi meriam dengan caliber 15 inci (381 mm) dan mampu melaju hingga mencapai 33 knot. Agar kedua syarat dapat dipenuhi maka terpaksa mengorbankan proteksi di bagian atas dek.
Pada awalnya Inggris membangun 4 kapal sejenis namun setelah desain rampung ,London membatalkan niat tersebut. Ssaat membangun Hood merupakan capital-cruiser. Dilihat dari kesaktian yang dimilikinya, kapal ini sebenarnya lebih pantas digolongkan sebagai battleship cepat.

Melawan Bismarck
Hood masih merupakan capital-ship terbesar dan tercepat saat PD II pecah. September 1939 ketika Nazi Jerman melancarkan serangannya ke Polandia, AL Inggris memasang Hood sebagai flag ship dari unit Battlecruiser Squadron, Home Fleet.

Maret 1940 para petinggi AL Inggris memutuskan untuk melakukan sedikit perombakan pada kapal. Selama hamper dua bulan lamanya kapal ini bermukim did ok kering. Perubahan paling mendasar berupa penghapusan seluruh meriam caliber 5,5 inci (140 mm). sebagai gantinya Inggris menyomot tiga buah unit meriam caliber 4 inci (102 mm).

Juni 1940 Hood memasuki jajaran gugus tugas Force-H dan berperan sebagai flag-ship serta dipimpin oleh Vice-Admiral ( setara Laksamana Madya) Somerville dimana ditugasi mengepung armada kapal perang AL Prancis yang berkumpul di Mers-el-Kebir.
Bersama battleship HMS Prince of Wales ditugasi menyergap battleship Jerman yaitu KMS Bismarck dan Prinz Eugen. Pada tanggal 24 Mei 1941 terjadi pertempuran. Hood terkena tembakan dari kapal penjelajah Jerman terlebih dahulu. Selanjutnya tembakan salvo dari KMS Bismarck diluncurkan dari meriam utama menghabisi karir Hood. Lambung kapal terbelah menjadi dua dan menyedot hamper semua awak. Hanya 3 orang yang selamat.

Spesifikasi
Klasifikasi : battlecruiser
Asal : Inggris
Mulai dibangun : 1916
Rampung : 1920
Awak : 1.421 (tahun 1941)
Dimensi : anjang 262,2m ; beam 31,8m ; drought 9,7m
PROPULASI : 24 tabung uap model kompak buatan Yarrow; turbin bergigi tunggal buatan Brown-Curtis; jumlah baling-baling 4 buah
Persenjataan : 8 meriam 15 inci (381 mm) ; 12 meriam 5,5 inci (140 mm) ; 8 meriam dual-purpose 4 inci (102mm) ; 24 meriam anti pesawat 2 pdr : 16 senapan mesin 12,7mm ; 4 tabung torpedo 533mm (21inci)

KRI Ki Hajar Dewantara (364)

KRI Ki Hajar Dewantara (364)

KRI Ki Hajar Dewantara (364) merupakan kapal perusak kawal berpeluru kendali. Kapal ini juga merupakan kapal perang latih bagi anggota TNI AL.

KRI Ki Hajar Dewantara merupakan bagian dari armada pemukul (striking force). Memiliki kemampuan jelajah dan persenjataan yang mumpuni bagi pengawalan dan perlindungan kawasa perairan Republik Indonesia.

KRI Ki Hajar Dewantara mengambil nama dari seorang pahlawan nasional yang juga merupakan Bapak Pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara.

Data Teknis
KRI Ki Hajar Dewantara memiliki berat 1,850 ton. Dengan dimensi 96,70 meter x 11,2 meter x 3,55 meter. Ditenagai oleh 2 mesin diesel jelajah, 2 shaft menghasilkan 7000 bhp dan 1 boost turbine dengan 22,300 shp. Sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 27 knot. Diawaki oleh 91 pelaut 14 instruktur dan 100 taruna.

Persenjataan
Sebagai bagian dari armada pemukul KRI Ki Hajar Dewantara dipersenjatai dengan berbagai jenis persenjataan untuk menjaga wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Termasuk diantaranya adalah :

4 rudal permukaan-ke-permukaan MM-38 Exocet buatan Perancis dengan jangkauan maksimal sekitar 42 Km dengan kecepatan 0,9 mach dan hulu ledak seberat 165 Kg dalam konfigurasi 2x2.
1 Meriam Bofors 57/70 berkaliber 57mm dengan kecepatan tembakan 200 rpm, jangkauan 17 Km untuk target permukaan dan udara dengan pemandu tembakan Signal WM28.
2 kanon Penangkis Serangan Udara Rheinmetall kaliber 20mm dengan kecepatan tembakan 1000 rpm, jangkauan 2 KM untuk target udara.
4 Torpedo AEG SUT, berpeluncur tabung 533mm, jangkauan 28 Km pada 23 knot atau 12 Km pada 35 knot dengan hulu ledak seberat 250 Kg.
Bom Laut/Mortir Anti Kapal Selam
Peluncur peluru kendali permukaan-ke-udara Mistral.
Sensor dan elektronis
Sonar menggunakan PHS-32 hull mounted MF, kontrol penembakan menggunakan WM-28 dan EW menggunakan SUSIE-1 intercept, 2 flare RL

Penerbangan

Sebuah helikopter NBO-105 TNI ALTerdapat dek untuk helikopter NBO-105. NBO-105 adalah helikopter buatan Industri Pesawat terbang Nusantara (IPTN) yang sekarang telah berganti nama menjadi PT. Dirgantara Indonesia. Helikopter ini berfungsi sebagai over horizon survelilance, anti kapal selam dan transportasi.

Operasi
Pada tanggal 10 hingga 11 Maret KRI Ki Hajar Dewantara 364 dengan komandannya pada waktu itu, Letkol (laut) Edi Suyadi tergabung dalam satgas Aru Jaya melakukan operasi penghalauan terhadap kapal ferry Lusitania "si bedhes" Expresso yang bermaksud menuju Dilli, Timor timur tanpa ijin. Operasi berhasil dilakukan tanpa ada peluru yang ditembakkan.

Pada tanggal 15-28 Agustus 2002 dalam latihan Dalla-2002, KRI Ki Hajar Dewantara melakukan penembakan peluru kendali permukaan-ke-udara Mistral.