Rabu, 02 Februari 2011

HOVERCRAFT TNI AL

HOVERCRAFT TNI AL

TNI Angkatan Laut akan mengembangkan penggunaan hovercraft buatan dalam negeri untuk mengangkut pasukan. Kapal buatan Hoverindo seharga Rp. 3 Miliar per unit ini lebih murah dibanding buatan luar negeri, yang harganya mencapai Rp. 12 miliar per unit.
Kelebihan hovercraft adalah tidak melihat jenis pantai dalam pendaratan. Kalimantan Timur, Kapal ini tidak memerlukan sekoci untuk mendarat, bahkan bisa melaju di laut dan darat.
Kapal hovercraft bisa digunakan mendarat di daerah terpencil seperti di Indonesia timur.Kapal ini akan terus disempurnakan sesuai dengan keinginan TNI Angkatan Laut.Saat ini hovercraft menggunakan satu propeller dan diharapkan bisa menggunakan dua atau tiga propeller.
Kapal buatan Hoverindo ini mulai digunakan TNI Angkatan Laut pada awal Desember 2005.

SPESIFIKASI UMUM

Daya Angkut : 20 Penumpang + 2 Awak (atau 2 ton barang)
Kecepatan max : 35 knot / 64,62 kilometer/jam
Waktu jelajah max : 10 jam
Jarak tempuh max : 450 Kilometer
Kapasitas tangki : 700 Liter
Panjang : 13 meter
Lebar : 5,9 meter
Tinggi : 3,7 meter (beroperasi) and 3,2 meter (tak beroperasi)
Panjang kabin penumpang : 5,6 meter
Lebar kabin penumpang :2,8 meter

Sampai saat ini TNI AL mempunyai 4 unit Hovercraft di bawah satuan kapal amfibi Koarmatim,
sedangkan 2 unit berada di kapal rumah sakit Dr Suharso 990

Senapan mesin 12,7 mm DSHK TNI

Senapan mesin 12,7 mm DSHK TNI

Adalah senjata penangkis serangan udara musuh yang di katagorikan dalam tipe senapan. Senjata ini di buat di Rusia tahun 1942.Dalam penggunaanya untuk melindungi Pos Komando.

Di lingkungan TNI senjata ini di gunakan oleh pasukan PasKhas TNI AU dan oleh Batalyon Arteleri Pertahanan Udara Ringan TNI AD.

KARATERISTIK UMUM

Kaliber : 12,7 mm
Kecepatan awal : 830-850 meter/detik
Jarak tembak efektif : 1800 meter
Rata - rata temabakan : 540-600 butir/ menit
Berat senjata : 25 Kg

Kapal induk Jepang Shōkaku

Kapal induk Jepang Shōkaku

Data Teknis

Berat benanam: 25.675 ton (muatan standar),
32.105 tons (muatan penuh)
Panjang: 257,5 m
Lebar: 26 m
Draft: 8,8 m
Tenaga penggerak: Turbin Kanpon,
119 MW (160.000 hp),
4 baling-baling
Kecepatan: 34,2 knot (63.3 km/jam)
Jarak tempuh: 9.700 nmi pada 18 knot
(18.000 pada 33 km/jam)
Awak kapal: 1.660
Persenjataan: 16 × meriam anti pesawat terbang 127 mm (Tipe 98)
70 × meriam anti pesawat terbang 25 mm (Tipe 96)
Pesawat: 72(+12)
18 Zero, 27 Val, 27 Kate (Des. 1941)

Shōkaku mulai dibangun di Galangan Kapal Yokosuka pada 12 Desember 1937, diluncurkan pada 1 Juni 1939, dan mulai bertugas pada 8 Agustus 1941. Pembuatan kapal-kapal induk Kelas Shōkaku berada dalam program yang sama yang juga melibatkan pembuatan kapal-kapal tempur kelas Yamato. Dengan desain modern yang efisien, berat sekitar 30.000 ton, dan kecepatan maksimum 34 knot (63 km/jam), Shōkaku dapat membawa 70 hingga 80 pesawat. Daya tahannya yang tinggi dibandingkan dengan kapal induk sekutu sekelasnya memungkinkan Shōkaku dapat bertahan dalam kerusakan serius selama Pertempuran Laut Koral dan Santa Cruz, meskipun pada akhirnya hidupnya dihentikan oleh torpedo-torpedo kapal selam.

Shōkaku dan kapal induk kembarannya Zuikaku, menyusun Divisi Kapal Induk Ke-5 Jepang, memperoleh pesawat-pesawat terbangnya beberapa saat sebelum penyerangan Pearl Harbor dan siap tempur tepat pada waktunya. Pesawat-pesawat pelengkapnya terdiri dari 15 pesawat tempur Mitsubishi A6M, 27 pengebom tukik Aichi D3A, dan 27 pengebom torpedo Nakajima B5N.

Bersama dengan Zuikaku, Shōkaku tergabung dalam Kido Butai (gugus serang Pearl Harbor) dan ikut serta dalam serangkaian ofensif laut Jepang di masa-masa awal perang, termasuk penyerangan Rabaul pada Januari 1942, dan Pertempuran Laut Koral di bulan Mei.

Dalam serangan Lautan Hindia Maret 1942, Shōkaku bersama dengan Akagi, Zuikaku, Sōryū, dan Hiryū menyerang Colombo. Di sini Laksamana Chuichi Nagumo berhasil secaral luas merusakkan fasilitas-fasilitas pendukung.

Tugas tersebut diselesaikan dengan baik, gugus tugas berhasil menemukan dan menenggelamkan kapal induk Britania Hermes, dan dua penjelajah (Cornwall dan Dorsetshire), yang hendak bergerak ke Laut Koral. Shōkaku ikut berperan dalam penenggelamkan kapal USS Lexington, namun menderita beberapa kerusakan dari serangan pesawat-pesawat kapal induk USS Yorktown dalam perjalanan pulang.[1]

Setelah perbaikan, Shōkaku ambil bagian dalam dua pertempuran di tahun 1942, keduanya beraksi bersama kapal kembarannya Zuikaku. Di Pertempuran Solomon Timur, mereka berhasil merusakkan USS Enterprise, dan di Pertempuran Kepulauan Santa Cruz, mereka menenggelamkan USS Hornet tetapi lagi-lagi Shōkaku menderita kerusakan serius dari pengebom-pengebom tukik Amerika.

Pada 1943 di bawah komando Kapten Matsubara Hiroshi, Shōkaku kembali bertugas, melakukan serangan balasan terhadap Kepulauan Aleutian, namun operasi dibatalkan setelah kemenangan sekutu di Attu. Setelah itu sepanjang sisa tahun 1943, Shōkaku berpangkalan di Truk.

Pada 1944, Shōkaku dipangkalkan di Kepulauan Lingga, salah satu gugusan Kepulauan Riau di selatan Singapura. Pada 15 Juni 1944, Shōkaku berangkat bersama dengan Armada Bergerak untuk Operasi A-Go, sebuah serangan balasan terhadap kekutan sekutu di Kepulauan Mariana. Selama Pertempuran Laut Filipina pada 19 Juni 1944 pukul 11:23, Shōkaku dihantam tiga (kemungkinan empat) torpedo dari kapal selam AS Cavalla (dikomandani Herman J. Kossler). Saat Shōkaku sedang mengisi bahan bakar pesawat-pesawatnya yang merupakan kondisi paling mudah diserang, serangan torpedo dilancarkan. Hantaman torpedo memicu kebakaran yang ternyata tidak dapat dikendalikan. Pada 14:08 sebuah bom udara milik pesawat-pesawat Shōkaku meledak, memicu ledakan terbakarnya bahan bakar pesawat. Shōkaku tenggelam dengan cepat pada posisi 11°40′N 137°40′E / 11.667°LU 137.667°BT / 11.667; 137.667 membunuh 1.272 awaknya. Penjelajah Yahagi, perusak Urakaze, Wakatsuki, dan Hatsuzuki berhasil menyelamatkan Kapten Matsubara dan 570 awak.

Grumman F11F Tiger

Grumman F11F Tiger

F11F Tiger merupakan hasil pengembangan besar-besaran yang dilakukan pabrikan Grumman terhadap F9F Cougar. Pengembangan dilakukan oleh Grumman sejak tahun 1953 dan pesawat tempur ini berhasil terbang pertama kali pada tanggal 30 Juli 1954. Angkatan Laut AS kemudian tertarik dengan pesawat tersebut dan mulai menggunakannya sejak tahun 1956.

F11F Tiger menggunakan mesin turbojet Wright J65 yang ternyata mengalami masalah pada afterburner. Persoalan mesin tersebut terus mengganggu operasional F11F sehingga akhirnya pesawat ini hanya dibuat sebanyak 200 unit dan hanya digunakan oleh skadron-skadron tempur Angkatan Laut AS sampai dengan tahun 1961. Setelah tahun 1961, F11F Tiger dialihkan sebagai pesawat latih dan digunakan sampai tahun 1967.
Walaupun sering mengalami masalah mesin, namun pesawat ini memiliki kemampuan manuver yang cukup baik sehingga digunakan oleh team aerobatik Blue Angels dari tahun 1957 sampai dengan tahun 1969.

Specifications (F11F-1)
Crew : 1
Powerplant : 1 x 46.7 kN / 10,500 lb-afterburning thrust Wright J65-W-18 turbojet engine
Length : 14.31m
Wingspan : 9.64m
Height : 4.03m
Weight empty : 6,092 kg
Maximum take-off weight : 10,052 kg
Maximum speed : 1,207 km/h
Range : 2,044 km
Service ceiling : 12,770m
Armament : 4 x 20mm cannons and 4 x AIM-9 Sidewinder air-to-air missiles

FN MAG TNI

FN MAG TNI

Inilah salah satu senapan mesin klasik yang tak lekang dimakan jaman, FN MAG. Kata terakhir dari label tadi tak lain merupakan singkatan dari Mitrailleuse d'Appui General. Atau bila dijabarkan bisa berarti senapan mesin serbaguna (General Purpose Machine Gun-CPMG). Memakai peluru berkaliber 7,62 mm, senapan ini pertama kali diperkenalkan pabrik FN Herstal pada era 50-an. Sesuai dengan julukannya yang serbaguna itu maka FN MAG bisa dipakai untuk beragam keperluan tempur. Kala difungsikan sebagai senapan mesin ringan maka senjata dilengkapi dengan penyangga ganda (bipod) di ujung larasnya. Sementara saat bertugas sebagai senapan mesin sedang (medium) maka bagian badan dipasangi penyangga tiga kaki (tripod).

Selain bagi keperluan infanteri, FN MAG bisa pula dipasang pada ranpur, heli, maupun pesawat tempur. Kehandalannya di lapangan makin terdongkrak lantaran FN MAG menerapkan sistem cepat pada pengantian larasnya.Ciri khas sistem tadi bisadikenali dari handle yang dipantek di pangkal laras. Dilingkungan TNI AD, FN MAG juga menjadi senjata standar pasukan reguler lain.

Selasa, 01 Februari 2011

Dassault Mirage 5

Dassault Mirage 5

Dassault Mirage 5 merupakan pesawat penyerang berkecepatan supersonik yang dikeluarkan oleh Dassault Aviation dari Perancis pada tahun 1960-an. Pesawat ini telah dihasilkan di Prancis dan beberapa negara lainnya. Pesawat ini dikembangkan berdasarkan pada pesawat tempur Mirage III.

Pengembangan awal

Mirage 5 dikembangkan setelah permintaan Angkatan Udara Israel ke Dassault. Karena Timur Tengah memiliki cuaca cerah pada kebanyakan waktu, Israel telah mengusulkan untuk menghapus sistem avionik yang dipasang di belakang kokpit pada pesawat standar Mirage IIIE untuk mengurangi biaya dan pemeliharaan serta mengantikannya dengan ruang penyimpanan tambahan untuk misi serangan. Pada September 1966, Israel telah memesan 50 unit pesawat baru ini dimana memiliki kapabilitas sergap dalam cuaca yang secara visual cukup baik bagi pilotnya.

Namun untuk perangkat avioniknya dapat disamakan di pesawat Mirage III seperti radar Cyrano. Hal ini misalnya terdapat pada pesawat Pakistan, Mesir, Libya, dan Abu Dhabi. Cara ini mungkin dimaksud untuk mereda, atau mengurangu kritik terhadap ekspor teknologi tinggi yang dilakukan Prancis terhadap Negara-negara yang dianggap tidak bersahabat oleh pihak Barat. Belgia yang juga memiliki Mirage 5BA, lebih memilih avionic buatan Amerika bagi pesawatnya tersebut.

Spesifikasi :
Peran : Pesawat penyerang - pembom
Produsen : Dassault Aviation
Pengguna utama : Angkatan Udara Prancis
Dikembangkan dari : Dassault Mirage III
Pesawat yang serupa : IAI Nesher

Bell AH-1 SuperCobra

Bell AH-1 SuperCobra

Helikopter AH-1W dan AH-1J seri SuperCobra merupakan helikopter hasil modifikasi dan sedikit perubahan dari versi sebelumnya yaitu AH-1 HueyCobra (“Cobra”)
Banyak helikopter yang memiliki dasar pembuatan seperti heli kobra ini, SuperCobra terdiri dari dua bagian, yaitu kursi utnuk tendem (penembak di depan dan pilot dibelakang). Yang paling penting untuk dicatat yaitu bagian luar atau eksterior heli ini berbeda dengan yang asli HueyCobra dan SuperCobra yaitu memiliki dua turbin. Sistem persenjataan SuperCobra yaitu anti peluru, kavaleri udara dan peran pengintaian bersenjata dan keunggulan lainnya dapat menyerang titik target sasaran (individu) dengan kemampuan anti peluru dan senjata anti helikopter.

SuperCobra yang dirancang untuk memberikan dukungan dan bantuan keamanan digunakan untuk berbagai jenis misi. Senjata yang dapat dipasang pada helikopter ini seperti misil anti peluru Hellfire, misil anti pesawat terbang (pengelak/tembakan pelindung), misil anti radar Sidearm, Hydra 70 roket pods, 20mm cannon pods dan 7.62mm mitralyur pods. Standar alat perang utama adalah General Electric (GE) tiga barel 20mm M197 gatling gun
Helikopter SuperCobra digunakan oleh satuan Marinir Amerika Serikat memiliki fungsi yang sama seperti AH-1 Cobra untuk angkatan bersenjata Amerika. Untuk SuperCobra seri AH-1J sementara ini hanya diekspor ke iran. Satuan marinir amerika mendapatkan jatah 103 helikopter superkobra seri AH-1Ws dari pemerintah atau Dephan mereka.

AGM-154A JOINT STANDOFF WEAPON (JSOW).

AGM-154A JOINT STANDOFF WEAPON (JSOW).

Merupakan program bersama USN dan USAF untuk standarisasi senjata kendali jarak menengah, terutama untuk menghancurkan target terlindung pada jarak diluar jangkauan senjata anti-serangan udara, untuk mempertinggi tingkat keselamatan pesawat tempur.

JSOW dikembangkan dalam dua varian; A dan C, dirancang untuk menghancurkan target berupa area target, hard target, dan gabungan keduanya. Kontraktor yang ditunjuk adalah Raytheon.

KARAKTERISTIK UMUM.

• Fungsi utama: sista air-to-surface Standoff from Point Defence (SOPD) untuk berbagai jenis sasaran.
• Pemandu: GPS/INS, Terminal IR Seeker (unique “C” model).
• Panjang : 4,1 meter
• Diameter : 33 cm (box shaped on a side) – 40,6 x 51,9 cm.
• Bobot: dari 483 kg sampai 681 kg.
• Bentang sayap: 2,69 meter.
• Hulu ledak: BLU-97 – combined effect bomblets (JSOW A)
BLU-108 – sensor fuze weapon (JSOW B) – dibatalkan.
BROACH multi-stage warjead (JSOW C)
• Pesawat peluncur: F/A-18C/D, F/A-18E/F, F-35C, F-16 Block 40/50, B-1B, B-2A, B-52H, F-15E, F-35A.
• Jarak jelajah: Peluncuran ketinggian rendah – 28 km
Peluncuran ketinggian tinggi -120 km
• Deployment: Januari 1999.