Jumat, 17 September 2010

Alvis Stormer TNI-AD

Alvis Stormer : Tank APC Modern TNI-AD

Indonesia bisa dibilang telah menjadi pelanggan setia produk militer besutan Alvis. Sejak dekade tahun 60-an, beragam alat tempur kavaleri TNI-AD didatangkan, salah satunya berasal dari Inggris. Alvis menjadi pemasok yang cukup strategis, produsen alat tempur asal Inggris ini telah memasok beragam tipe panser, seperti Ferret, Saracen, dan Saladin. Walau telah berusia lebih dari 50 tahun, ketiga panser tadi masih operasional lewat program upgrade.
Memasuki era 90-an, TNI-AD kembali kedatangan alat tempur besutan Alvis. Yakni tank ringan Scorpion dan tank APC (armored personel carrier) Stormer, kedua tank ini didatangkan pada medio tahun 1997 hingga 1999. Hadirnya Scorpion dan Stormer memang disiapkan sebagai arsenal kaveleri utama, dimana andalan TNI-AD sebelumnya yakni tank AMX-13 kanon 75 mm dan AMX-13 VCI/APC sudah dianggap terlalu tua untuk dijadikan andalan, meski varian AMX-13 sudah di upgrade total oleh TNI-AD dan hingga kini masih memperkuat beberapa batalyon kaveleri.

Menurut informasi dari lembaga riset ADF, Indonesia setidaknya memiliki 40 unit Stormer dari beragam versi. TNI-AD diketahui memiliki versi tank jembatan (bridge layer), recovery vehicle, ambulance, logistic vehicle, dan versi commando. Sedangkan masih ada beberapa versi yang tak dimiliki oleh TNI-AD, seperti versi penyapu ranjau (mine layers), air defence dengan rudal atau kanon 30 mm, dan versi pelontar mortir 81/120 mm. Pada versi commando yang dimiliki TNI-AD, Stormer sebatas dilengkapi senjata berupa kanon 12,7 mm dan 7,62 mm.

Stormer mempunyai beberapa keunggulan, diantaranya mampu mendukung proteksi personel pada kondisi perang NBK (nuklir, biologi, dan kimia) lewat penambahan perangkat khusus. Stormer dilengkapi pula dengan passive night-vision equipment. Walaupun sejatinya Stormer bukan tank amfibi, tank ringan ini dilengkapi dengan amphibious kit untuk melaju di air secara terbatas.

Penampilan Stormer versi Commando dalam sebuah defile di Surabaya
Stormer adalah tank angkut personel yang sangat ideal untuk kondisi geografis di Indonesia. Hal ini terlihat dari bobotnya yang hanya 12,7 ton. Mobilitas Stormer pun terbilang tinggi, tank dengan 2 kru dan kapasitas angkut pasukan 12 personil ini dapat diangkut dengan mudah oleh pesawat angkut sekelas C-130 Hercules. Sebuah Hercules dapat memuat 1 unit Stormer.

Di lingkungan TNI-AD, Stormer disiapkan dalam satu paket gelaran dengan tank Scorpion. Penempatan kedua tank ini dibawah satuan kavaleri Kostrad, yakni pada Yon Kav 8 di Divisi Infrantri 2 Kostrad (Jawa Timur) dan Yon Kav 9 di Divisi Infantri 1 Kostrad (Jawa Barat). Selain Indonesia, negara jiran Malaysia diketahui juga menggunakan Stormer dengan jumlah 45 unit, Oman membeli 4 unit dan tentunya AD Inggris dengan 151 unit. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi Stormer
Negara pembuat : Inggris
Berat : 12.7 tonnes
Panjang : 5.27 m
Lebar : 2.76 m
Tinggi : 2.49 m
Kru : 2 + 12
Mesin : Perkins 6 litre, 6 cylinder diesel 250 hp (186 kW)
Transmisi : David Brown TN15D
Suspensi : Torsion bar
Jarak tempuh : 640 Km
Kecepatan Max : 80 km per jam

AIM-9 Sidewinder TNI-AU

AIM-9 Sidewinder TNI-AU

Meski secara teknologi TNI AU tak ketinggalan dalam update pengadaan pesawat tempur, lain halnya dengan persenjataan yang melengkapi pesawat tempur. Akibat anggaran pembelian yang serba ngepas, TNI AU hingga kini hanya dibekali rudal udara ke udara secara terbatas.
Rudal andalan TNI AU tak lain adalah sidewinder. Rudal pemburu panas ini mulai hadir sejak awal tahun 80-an. Dari beberapa tipe pesawat tempur yang dimiliki, diketahui hanya tiga jenis pesawat tempur yang mampu menggotong sidewinder, yakni F-5 Tiger, F-16 Fighting Falcon dan Hawk 100/200

Ada dua tipe sidewinder milik TNI AU, yakni AIM-9 P2 dan AIM-9 P4 sidewinder. Paket rudal AIM-9 P2 dibeli bersamaan dengan pengadaan 16 pesawat tempur F-5 E/F Tiger yang pertama datang pada 21 April 1980.
Sedangkan tipe AIM-9 P4 dibeli bersamaan dengan pembelian 12 pesawat tempur F-16 A/B Fighting Falcon pada tahun 1989. Rudal sidewinder untuk pertama kal ditembakkan pada tahun 1989 di selatan Samudra Hindia. Rudal diluncurkan dari dua F-5 yang lepas landas dari lanud Ngurah Rai, Bali.

Apa perbedaan antara AIM-9 P2 dan AIM 9 P4? Letak perbedaannya cukup mencolok, dengan AIM 9 P2 mengharuskan pilot menempatkan musuh di depannya agar rudal dapat menuju pesawat musuh. Sebab rudal ini hanya akan menuju panas yang dikeluarkan dari exhaust.
Sebaliknya rudal AIM 9 P4, meski sama-sama mengarah ke panas tetapi rudal ini akan membidik panas yang ditimbulkan oleh perbedaan suhu akibat gesekan bodi pesawat dengan udara. Dengan demikian AIM 9 P4 bisa ditembakkan meskipun pesawat musuh datang dari depan dalam posisi berhadapan. Dari perbedaan teknis ini mengubah cara dan konsep pertempuran udara (dog fight).

Rudal buatan Raytheon Company, AS ini memiliki banya varian, tipe terbarunya adalah AIM 9X yang mulai digunakan militer AS tahun 2003 lalu. Untuk tipe AIM 9 P4 milik TNI AU memiliki kecepatan luncur 2.5 Mach dalam tempo waktu 2,2 detik. Jangkauan rudal efektif adalah 17,7 Km dengan lama misi 60 detik. Bobot sidewinder sendiri sekitar 78 Kg.







KRI Dewaruci TNI-AL

KRI Dewaruci

KRI Dewaruci adalah kapal latih bagi taruna/kadet Akademi Angkatan Laut, TNI Angkatan Laut. Kapal ini berbasis di Surabaya dan merupakan kapal layar terbesar yang dimiliki TNI Angkatan Laut. Nama kapal ini diambil dari nama dewa dalam kisah pewayangan Jawa, yaitu Dewa Ruci.

Karier (ID)
Pembuat: H.C. Stulchen & Sohn Hamburg, Jerman
Mulai dibuat: 1952
Diluncurkan: 24 Januari 1953
Ditugaskan: 1953
Status: Masih bertugas
Pelabuhan daftar: Armada Timur TNI-AL

Karakteristik umum
Berat benanam:
847 ton
Panjang: 58.5 m (191,93 kaki)
Lebar: 9.50 m (31,17 kaki)
Draft: 4.05 m (13,29 kaki)
Tenaga penggerak: 1 unit Diesel 986 HP, dengan satu propeler berdaun 4
Kecepatan: 10,5 knot dengan mesin
9 knot dengan layar
Awak kapal: 75 orang
KRI Dewaruci adalah kapal latih bagi taruna/kadet Akademi Angkatan Laut, TNI Angkatan Laut. Kapal ini berbasis di Surabaya dan merupakan kapal layar terbesar yang dimiliki TNI Angkatan Laut. Nama kapal ini diambil dari nama dewa dalam kisah pewayangan Jawa, yaitu Dewa Ruci.

Sejarah
Kapal berukuran 58,5 meter dan lebar 9,5 meter dari kelas Barquentine ini dibangun di H.C. Stulchen & Sohn Hamburg, Jerman dan merupakan satu-satunya kapal layar tiang tinggi produk galangan kapal itu pada 1952 yang masih laik layar dari tiga yang pernah diproduksi. Pembuatan kapal ini dimulai pada tahun 1932, namun terhenti karena saat Perang Dunia II galangan kapal pembuatnya rusak parah. Kapal tersebut akhirnya selesai dibuat pada tahun 1952 dan diresmikan pada tahun 1953.
Dewaruci dibuat pada tahun 1952 oleh H.C. Stulchen & Sohn Hamburg, Jerman Barat, pertama diluncurkan pada tanggal 24 Januari 1953, dan pada bulan Juli nya dilayarkan ke Indonesia oleh taruna AL dan kadet ALRI. Setelah itu KRI Dewaruci yang berpangkalan di Surabaya, ditugaskan sebagai kapal latih yang melayari kepulauan Indonesia dan juga ke luar negeri.
Kapal
Dimensi
Panjang total 58,30m, Lebar lambung 9,50m , Draft 4,50m . Bobot mati 847 ton.
Tiang layar
Kapal ini memiliki 3 tiang utama yaitu tiang Bima, Yudhistira dan Arjuna serta memiliki 16 layar.
Layar
Type: Barquentin, 16 layar dengan luas total 1091 m2,
Tiang depan (35,25 m)
1. Flying Jib,
2. Outer Jib,
3. Middle Jib,
4. Inner Jib,
5. Royal Sail,
6. Top Gallant sail,
7. Upper top sail,
8. Lower top sail,
9. Fore sail, Tiang Utama (35,87 m)
1. Main top gallant sail,
2. Main top mast stay sail,
3. Main stay sail,
4. main top sail,
5. Main sail, Tiang akhir (32,50 m)
1. Mizzen top sail,
2. Mizzen sail.
Mesin
Selain menggunakan layar, KRI Dewaruci juga menggunakan mesin 986 PK Diesel sebagai alat gerak dengan satu propeler berdaun 4. Kecepatan penuh 10,5 knot dengan mesin, 9 knot dengan layar.
Penugasan

KRI Dewaruci
Setiap tahunnya, kadet AAL berlayar dengan Dewaruci ke berbagai belahan dunia dengan tujuan utama adalah latihan pelayaran bintang atau disebut Kartika Jala Krida.
KRI Dewaruci juga sering mengikuti lomba kapal layar di berbagai tempat di dunia. Kapal ini juga memiliki marching band sendiri, yaitu marching band taruna Akademi Angkatan Laut yang biasa dikenal dengan nama Gita Jala Taruna.

J-10,,, Fighter China

J-10 (Jian 10)

(Jian Fighter 10 atau j-10) adalah indigenously dibangun Cina pesawat tempur yang dikembangkan oleh Industri Pesawat Chengdu. Chengdu Aircraft Industry adalah bagian dari China Aviation Industry Corporation I (AVIC I). Di barat pesawat J-10 dikenal sebagai Dragon
DESAIN
Struktur pesawat didasarkan pada ekor delta-(planform segitiga) sayap, foreplanes dan sweptback ekor vertikal. Ada dua, tetap, luar ventral miring (pada bagian bawah tubuh) sirip di dekat ekor. Ukuran dan desain J-10 sangat mirip dengan pesawat tempur Israel Aircraft Industries Lavi, yang itu sendiri adalah sama dengan teknologi dan berasal dari pesawat F-16 USAF.
The horizontal foreplanes untuk meningatkan kecepatan lepas landas dan penanganan karakteristik rendah.
SENJATA
J-10 memiliki 11 hardpoints eksternal: lima hardpoints pada pesawat dengan satu di centreline dan sepasang hardpoints pada setiap sisi pesawat, dan tiga hardpoints pada setiap sayap.
Stasiun luar sayap membawa peluru kendali udara ke udara seperti Cina dibangun Python 3 PL-8, P-11 atau PL-12 atau Rusia Vympel R-73 (AA-11 ‘Archer’) atau R-77 (AA -12 ‘Adder).
PL-8 infra merah homing rudal jarak dekat udara-ke-udara yang diproduksi di Cina di bawah perjanjian lisensi oleh Akademi China (sebelumnya Luoyang Electro-optik Pusat Pengembangan Teknologi) dan merupakan varian dari Python 3 rudal Israel. PL-11 adalah varian berlisensi-diproduksi dari rudal MBDA Italia Aspide jarak sedang udara ke udara.
Rudal PL-12 yang diproduksi di Cina di bawah perjanjian kerjasama dengan Rusia. Ia menggunakan AA-12 Adder teknologi rudal Rusia dikonfigurasi dengan motor roket Cina-dikembangkan untuk memberikan berbagai 50 mil dan kecepatan Mach 4.

Pesawat ini dapat dipersenjatai dengan bom laser-terpimpin(sentral target), anti-kapal YJ-8K atau roket padat C-801K powered rudal, serangan C-802 tanah dan rudal turbojet-powered anti-kapal yang diproduksi oleh CHETA, dan-YJ 9 anti-radiasi rudal. Sebuah meriam 23mm terinstal secara internal di sisi pelabuhan bagian depan badan pesawat di atas nosewheel tersebut.
inframerah dan laser target designator . China Aviation Industry Corporation I (AVIC I) telah ditampilkan model pameran J-10 dilengkapi dengan penargetan , yang akan menyediakan kemampuan J-10 untuk menggunakan laser dan senjata dipandu navigasi satelit.
Kemungkinan cocok pulsa Doppler radar termasuk Cina 1473 Jenis radar, Rusia Phazotron Zhuk-10PD atau Zhemchug, yang JL Cina-10A, Israel IAI Elta EL/M-2023 atau Galileo Italia Avionica Grifo 2000.
J-10 (Jian Fighter 10 atau 10) adalah pesawat tempur indigenously dibangun Cina multi-peran
• J-10 dilengkapi dengan tangki bahan bakar eksternal dan PL-8 berbagai rudal udara-ke-udara pendek, yang merupakan varian dari Rafael Python 3 rudal diproduksi di bawah lisensi di Cina.
J-10 memiliki kecepatan maksimum Mach 1,9 dan berbagai tempur 550km.
J-10 ini didukung oleh satu mesin turbojet AL-31FN. Semakin canggih J-10 Super 10 memiliki mesin AL-31FN dengan nosel dorong-vector.
Pesawat ini didukung oleh mesin-31 turbojet AL dipasok oleh Saturnus Lyulka. Pesawat prototipe dan seri pertama dari pesawat produksi dipasang dengan-AL 31FN berkembang 79kN dan 123kN dengan afterburn, dan yang saat ini digunakan dalam Angkatan Udara Cina Su-27 dan Su-30 pesawat.
Varian lebih tinggi dan maju powered J-10, Super-10, pertama kali dilaporkan pada tahun 2006, dilengkapi dengan 31FN AL-M1 yang disediakan oleh Salyut. The-AL 31FN M1 menyediakan 132.5kN dan dilengkapi dengan wewenang penuh kontrol mesin digital dan nosel empat arah knalpot berputar untuk dorong vektor.

MBT Arjun, India

Arjun (Lion) - Military Tanks,India

Arjun (diambil dari nama pahlawan mitos Arjuna) merupakan tank domestik pertama milik India. Mendapat pengalaman tak ternilai dalam produksi lokal di bawah lisensi tank Vijayanta (tank Mk 1 milik Vickers Defense Systems Inggris), Defense Research and Development Organization (DRDO) India mulai membuat desain dan memproduksi MBT (Main Battle Tank) sendiri untuk memenuhi kebutuhan penggantian tank di Angkatan Darat India. Hasilnya adalah Arjun yang merupakan usaha yang luar biasa bagi industri lokal India, dengan bantuan dari Jerman dan Belanda. Sayangya terjadi pembengkakan dana dan beberapa kali penundaan dalam proyek ini.

Purwarupa Arjun pertama diperkenalkan pada tahun 1984 dan didesain menjadi MBT seberat 40 ton yang dilengkapi dengan meriam utama 105 mm standar-industri. Tetapi akhirnya diubah menjadi tank seberat 50 ton dengan meriam utama yang lebih besar dan potensial sebesar 120 mm. Dari luar, tank ini mempunyai kesamaan dengan tank-tank lain pada tank generasi sekarang ini. Tank ini diawaki oleh 4 orang dan sopirnya berada di “hull”. Desainnya mempertahankan kerendahan hati dan dilengkapi dengan 7 roda di tiap sisi track-nya dengan beberapa lapis baja di bagian atas-nya. Tangki bahan bakar eksternal dapat dibawa di bagian belakang tank untuk meningkatkan jarak jangkau. Persenjataannya terdiri dari meriam utama 120mm dengan sebuah senjata mesin 7.62 mm yang terpasang secara koaksial. Selain itu terdapat senjata mesin anti-pesawat tunggal 12.7mm (kaliber 50) yang dipasang pada puncak “turret”. Total 39 proyektil amunisi 120mm dibawa dalam kontainer khusus dan terpisah dari awak sehingga meningkatkan tingkat keselamatan awak.

Tenaga tank dihasilkan dari mesin disel berpendingin-air MTU 838 Ka 501 series turbocharged yang menghasilkan sekitar 1.400 tenaga kuda. Mesin dengan tenaga lebih besar sekitar 1500 tenaga kuda saat ii masih dalam pengembangan. Perhatian khusus juga diberikan pada sistem kontrol-penembakan yang dihubungkan dengan sistem suspensi rumit dan komponen stabilisasi senjata yang menjadikan Arjun mempunyai kemampuan “first hit” yang sangat baik jika dibandingkan dengan tank lain segenerasi. Beberapa kemampuan amfibi juga telah ditunjukkan.

Telah diharapkan bahwa sasis Arjun akan digunakan pada banyak sekali mesin/kendaraan lain yang masih berhubungan. Diantaranya adalah kendaraan purwarupa “armored recovery”, “armored reconnaissance”, self-propelled gun, dan kendaraan pertahanan udara (anti-pesawat). Serta sebuah kombinasi menarik antara turret Arjun dan sasis kelas T-72 untuk membentuk Tan EX.

Akan tetapi, karena lambatnya perkembangan program Arjun, India memutuskan untuk membeli MBT buatan Rusia dalam jumlah besar untuk sementara, untuk mengantisipasi bertambahnya jumlah kendaraan lapis baja milik Pakistan. Sekitar 32 Tank Arjun telah dibuat termasuk sebuah purwarupa dan 12 model. Direncanakan India akan memesan 125 tank Arjun yang merupakan jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan perkiraan awal sebanyak 1000-2000 tank pada awal proyek di tahun 1970an.



Specifications:
Designation: Arjun (Lion)
Length: 33.43 ft; 10.19 m
Width: 12.60 ft; 3.84 m
Height: 7.61 ft; 2.32 m
Engine(s): 1 x MTU 838 Ka 501 12-cylinder liquid-cooled turbocharged diesel engine generating 1,400hp @ 2,500rpm.
Weight: 64.6 tons (US Short); 58,600 kg
Max Speed: 42 mph; 67.6 km/h
Max Range: 300 miles; 483 km

Armament:
1 x 120mm rifled main gun
1 x 12.7mm (.50 caliber) AA machine gun
1 x 7.62mm (.30 caliber) coaxial machine gun
12 x smoke grenade dischargers

Ammunition:
39 x 120mm projectiles
3,000 x 7.62mm ammunition
1,000 x 12.7mm (.50 caliber) ammunition
12 x smoke grenades

NBC Protection: Yes
Night Vision Yes
Crew: 4
Operator: India

UAV Eagle Eye

Eagle Eye UAV


UAV Bell Eagle Eye mempunyai penampilan seperti pesawat konvensional pada umumnya dengan rotor di setiap ujung sayapnya yang memungkinkan manuver naik atau turun dan melayang. Bell Helicopter Textron Incorporation (BHTI) mulai terlibat dalam program UAV dengan membuat gorong-gorong angin untuk model V-22, menggunakan suku cadang helikopternya seperti mesin, as gardan, gear box dll, dan membuat UAV rotor miring Eagle Eye.

Eagle Eye mempunyai bentang sayap 15.2 kaki, panjang 17.9 kaki dan tinggi 5.7 kaki, dengan berat 2.000 pound (tergantung beban yang dibawa). Uji terbang pertama (hanya melayang) dilakukan di fasilitas BHTI di Dallas, Texas, pada 1992.

Setelah berhasil dalam uji terbang pertama (melayang), team pemerintah dan kontraktor pindah ke Yuma Proving Grounds (YPG) untuk uji terbang lanjut di kuartal ketiga 1993. Uji terbang tersebut berhasil dan Eagle Eye terbang dengan mode helikopter, diubah melalui mode transisi ke mode pesawat. 35 penerbangan telah dilakukan dengan total lama terbang 15 jam. Kecepatan maksimal yang dapat dicapai adalah 159 knots pada ketinggian 1.550 kaki di atas rata-rata permukaan laut.

Pemerintah tidak lagi membutuhkan UAV Vertical Take Off and Landing (VTOL) dan kemudian membatalkan perjanjian seluruh demonstrasi/pengambangan UAV Vertical Take Off and Landing (VTOL). BHTI melanjutkan pengembangan Eagle Eye bersama dengan R&D.

Pada musim semi 1998, pemerintah kembali menginginkan demonstrasi UAV VTOL dan mengontrak BHTI untuk mendemonstrasikan kualitas dan performa penerbangan Eagle Eye. Demonstrasi ini dilakukan dalam dua fase. Fase Pertama berupa demonstrasi penerbangan dengan landasan terbang darat dan Fase Kedua berlandasan laut (kapal laut). Fase kedua berhasil dilaksanakan pada April 1998 di Yuma Proving Ground.. UAV ini terbang lebih dari 43 kali dengan 55.5 jam terbang dan berhasil mencapai kecepatan 200 knots, dengan ketinggian 14.600 kaki. Fase Kedua dilaksanakan pada 1999 dan dilakukan di sebuah kapal perang kecil. Purwarupa pertama hancur dalam sebuah kecelakaan, tetapi purwarupa kedua berhasil melalui program uji ini. 

Keberhasilan dalam program uji ini membuat UAV ini masuk dalam program “Deepwater” pada 2002 dan pembuatan UAV dengan ukuran sebenarnya, dan disebut dengan TR918, dengan mesin turboshaft Pratt & Whitney Canada P200/55.

Bell telah mempromosikan Eagle Eye selama satu dekade untuk mendapatkan pembeli, dan pada musim panas 2002 penjaga pantai AS memesan UAV ini sebagai bagian program Deepwater.

AL dan Korps Marinir AS juga menunjukkan ketertarikan dan beberapa dari negara lain. Di musim panas 2004, Bell berhasil membuat hubungan dengan Sagem di Perancis dan Rheinmetall Defense Electronics di Jerman untuk menjual varian Eagle Eye di Eropa. Bell akan menyediakan suku cadang mentahnya, sementara partner di Eropa akan menyediakan “payload” dan suku cadang lain sesuai dengan kebutuhan konsumen, dan kemudian Bell akan melakukan integrasi sistem.

Specifications
Manufacturer: Bell Helicopter - Textron, Texas
AV Type: Tilt Rotor
Length: 17.9/5.46 (ft/m)
Height: 5.7/1.73 (ft/m)
Wingspan: 15.2/4.63 (ft/m)
Rotospan (diameter): 9.5/2.90 (ft/m)
Take-Off Gross Weight: 2250/1020 (lbs/kg)
Empty Weight: 1300/590 (lbs/kg)
Fuel Weight: 750/340 (lbs/kg)
Payload Weight: 200/90 (lbs/kg)
Speed (kts): Max 200+, Cruise 0-200
Altitude: 20,000/6,100 (ft/m)
Endurance: 8 hours
Radius of Operation: 110/200 LOS (nm/km)
Engine: Allison 250-C20 GT 420 shp
Fuel: Heavy.JP
Landing Gear: Wheeled/Retractable
Flight Control: Automated/Dual Redundant
Take Off/Landing: VTOL/STOL
AV Data Link(s): S-Band/UHF (TCDL future)
Payload: FLIR - EO/IR - SAR

F-20 Tigershark

F-20 Tigershark

Pesawat tempur F-20 Tigershark (Hiu Macan), adalah pesawat tempur hasil pengembangan dari F-5 Tiger II buatan Northrop Corp (kini Northrop Grumman), Amerika Serikat. Meski mengusung teknologi yang cukup maju untuk kebutuhan pesawat tempur abad ke-21 dan telah dipertontonkan kehebatannya dalam berbagai pameran di dunia termasuk pameran kedirgantaraan Farnborough di Inggris, pesawat ini dihentikan produksinya karena tidak ada satupun pesawatnya yang laku terjual, meski sebenarnya adalah ditujukan untuk menggantikan pesawat F-5 Tiger II yang dioperasikan oleh negara-negara dunia ketiga yang umumnya memiliki anggaran militer terbatas.

Sebabnya adalah kebijakan pemerintah Amerika Serikat sendiri yang memang tidak berminat mengoperasikan pesawat ini dalam jajaran armadanya, selain itu pemerintah Ronald Reagan sendiri tidak mengizinkan penjualan pesawat tersebut ke negara yang saat itu ditujukan sebagai pembeli potensial yakni India dan Taiwan, alasannya adalah pesawat itu terlalu bagus.


Dengan kemampuannya yang cukup modern, bila pembelinya Taiwan, akan membuat buruknya hubungan Amerika Serikat-RRC, sementara bila pembelinya adalah India, maka dikhawatirkan akan jatuhnya teknologi maju yang diterapkan pada pesawat tersebut ketangan Uni Soviet melalui jaringan spionasenya di India. Sementara Arab Saudi yang berminat membeli sejumlah 200 pesawat untuk meremajakan armadanya yang terdiri atas 200 pesawat F-5 Tiger II, mau membelinya jika pesawat itu juga masuk dalam jajaran operasional militer Amerika Serikat.

Pesawat tempur ini sebenarnya, seperti halnya ketika dipromosikan, adalah pesawat yang relatif murah dalam harga dan pengoperasiannya dibandingkan pesawat-pesawat tempur mutakhir lainnya seperti F-4 dan F-16 yang juga ditujukan pada negara-negara sahabat Amerika Serikat. Dengan biaya untuk pengadaan enam pesawat F-4 Phantom, dapat digunakan untuk mengadakan 14 pesawat (satu skadron) F-20 Tigershark. Disebutkan juga biaya terbangnya hanya kurang dari 1000 dolar AS perjam. Bandingkan dengan F-16 yang dua kali lipatnya, bahkan Tornado yang memakan lebih dari tiga kali lipatnya.


F-20 Tigershark
________________________________________
Tipe Fighter aircraft

Produsen Northrop Corporation

Terbang perdana 30 August 1982
Status Did not enter production
Jumlah produksi 3
Biaya program US$1.2 billion
Acuan dasar Northrop F-5

1. Pencerminan teknologi baru
Selain cukup murah dan mudah dalam perawatannya, F-20 juga memiliki waktu reaksi cukup cepat. Dalam tempo 2 menit 30 detik F-20 sudah berada 20 km dari pangkalannya dalam ketinggian 32000 feet dan mengunci pesawat musuh dalam radius 90 km dari pangkalannya.
Sosoknya yang tidak jauh beda dengan F-5 Tiger II, memiliki kemampuan melesat dengan dua kali kecepatan suara (Mach-2), dilengkapi sistem avionik dan teknologi propulsi, sistem kendali yang cukup modern serta kemudi yang semua ditangani secara elektrik (fly-by-wire) yang diadopsi juga oleh F-16.

2. Data Teknis
• Tipe
Pesawat tempur dengan kursi tunggal dengan jenis penyerang taktis (tactical strike fighter), juga memiliki kemampuan untuk patroli udara (Combat Air Patrol) dengan radius 300 mil dari pangkalannya serta dapat dilengkapi tiga tangki bahan bakar 330 galon yang dapat dibuang. Dengan adanya tangki tambahan tersebut, durasi terbang F-20 bertambah lebih dari 2 jam. Serta dapat digunakan untuk pendukung tembakan di udara (Close Air Support)

• Mesin
Menggunakan satu mesin General Electric F-404 dengan diameter 88 cm dan berat 907 kg, yang juga diguanakan pada F/A 18 Hornet. Mesin ini berdaya dorong 60 persen lebih besar dari kedua mesin J-85-GE-21 yang digunakan F-5 Tiger II dengan daya dorong 10.000 lbs.


Mesin ini dikenal irit bahan bakar dengan konsumsi 60% dari pemakaian bahan bakar yang digunakan oleh pesawat tempur berkecepatan Mach-2. Dengan bahan bakar yang sama, pesawat F-20 dapat melakukan dua sortie penerbangan dibandingkan dengan pesawat tempur yang dipakai dalam armada udara AS.
Bila dibandingkan dengan mesin GE-79 yang dioperasikan F-14 Tomcat, maka mesin ini memiliki 19.000 bagian lebih sedikit , kompresor dan turbin yang kecil dibandingkan mesin pertama. Mesin ini tidak mengalami tanda-tanda stall bila dioperasikan dan telah diujicoba oleh Angkatan Laut AS, termasuk ujicoba dalam menghadapi tekanan atau gaya gravitasi. Bisa dikatakan mesin F-20 sangat ringan, kuat dan berdaya dorong tinggi dan mudah dirawat.
• Radar dan Peralatan Avionik
Tidak disebutkan radar jenis apa yang diaplikasikan dalam F-20 Tigershark. Disebutkan bahwa radar yang diaplikasikan memiliki kemampuan untuk mengenali segala sasaran, kemampuan melihat ke atas (look-up) dan kebawah (look-down) , mengontrol manuver dan menetukan jarak pertempuran dan berkemampuan segala cuaca serta pembacaan peta yang cukup baik.
Peralatan lain yang digunakan pada dasarnya hampir sama dengan yang diaplikasikan oleh F-5 Tiger II, juga dilengkapi dengan INS (Inertial Navigation System) ditambah dengan Head Up Display (HUD).
• Persenjataan
F-20 dilengkapi dengan dua kanon M-39 kaliber 20 mm dengan kecepatan tembak 1400 peluru/menit dengan cadangan 450 ikat amunisi. Selain itu dapat juga dipersenjatai dengan kanon Gatling GAU-8 Avenger seperti yang diaplikasikan pada A-10 Thunderbolt II yang teruji dalam perang dapat menghancurkan tank.
F-20 dilengkapi dengan rudal standar untuk pertempuran udara ke udara (Air to Air doghfight) AIM-9 Sidewinder serta rudal jarak jauh BVR (beyond visual range) AM-120 AMRAAM, rudal udara ke darat (Air Ground Missiles) AGM-65 maverick sebanyak empat rudal, serta berbagai macam bom standar seperti Bom Mk-82, smart bomb (bom pintar) serta GEPOD 30 mm (pod tambahan canon 30 mm diluar pesawat).
Sementara untuk konfigurasi bantuan udara (Close Air Support) F-20 dapat membawa tujuh bom Mk-82, dua sidewinder dan dua tangki bahan bakar plus persenjataan lainnya.
3. Nasib Malang
Dengan kemampuan, ketangguhan dan mudahnya dalam operasional dan perawatan, F-20 Tigershark sebenarnya cukup mampu dioperasikan oleh negara negara maju lebih-lebih negara-negara dunia ketiga yang memiliki anggaran militer khususnya angkatan udara terbatas. Namun tidak adanya dukungan dari Pemerintah Amerika Serikat, dengan sendirinya negara-negara dunia ketiga enggan untuk mengoperasikannya. Hal yang sering dialami oleh produsen persenjataan negara-negara Barat yang sering bertolak belakang dengan kebijakan politik pemerintahannya serta persaingan tidak sehat antar produsen senjata, sehingga hal yang ironis seperti persenjataan yang murah, mudah dan modern sering bernasib hanya sampai di tingkat ujicoba dan prototype saja.
4. 1. Karakteristik umum
• Kru: 1 pilot
• Panjang: 47 ft 4 in (14.4 m)
• Lebar sayap: 27 ft 11.9 in / 8.53 m; with wingtip missiles (26 ft 8 in/ 8.13 m; without wingtip missiles)
• Tinggi: 13 ft 10 in (4.20 m)
• Area sayap: 200 ft² (18.6 m²)
• Berat kosong: 13,150 lb (5,090 kg)
• Berat terisi: 15,480 lb (6,830 kg)
• Berat maksimum lepas landas: 27,500 lb (11,920 kg)
• Mesin: 1× General Electric F404-GE-100 turbofan, 17,000 lbf (76 kN)
Performa
• Kecepatan maksimum: Mach 2+
• Radius tempur: 300 nmi (633 mi, 1,020 km) ; for hi-lo-hi mission with 2 × 330 US gal (1,250 L) drop tanks
• Jarak jangkau ferri: 1,490 nmi (2,165 mi, 3,980 km) ; with 3 × 330 US gal (1,250 L) drop tanks
• Batas tertinggi servis: 55,000 ft (16,800 m)
• Laju panjat: 52,800 ft/min (255 m/s)
• Beban sayap: 81.0 lb/ft² (395 kg/m²)
• Dorongan/berat: 1.1
Persenjataan
• Senjata api: 2× 20 mm (0.79 in) Pontiac M39A2 cannons in the nose, 280 rounds each
• Titik keras: Five external hardpoints with a capacity of 8,000 lb (3,600 kg) of bombs, missiles, rockets and drop tanks for extended range,
• Roket: 2× CRV7 rocket pods Or
2 × LAU-10 rocket pods with 4 × Zuni 5 in (127 mm) rockets each Or
2 × Matra rocket pods with 18× SNEB 68 mm rockets each
• Rudal: 2× AIM-9 Sidewinders on wingtip launch rails (similar to F-16 and F/A-18)
AGM-65 Maverick air-to-surface missiles on hardpoints
• Bom: Various air-to-ground ordnance such as Mark 80 series of unguided iron bombs (including 3 kg and 14 kg practice bombs), CBU-24/49/52/58 cluster bomb munitions, M129 Leaflet bomb
Avionik
• General Electric AN/APG-67

F-14 Tomcat

F-14 Tomcat
 
F-14 Tomcat adalah pesawat tempur supersonik sayap ayun, yang bermesin dan berkursi ganda. F-14 merupakan pesawat tempur superioritas udara utama Angkatan Laut Amerika Serikat dari tahun 1972 sampai tahun 2006. Pesawat ini juga memiliki kemampuan serang darat setelah dilengkapi sistem LANTIRN. Pesawat ini mulai dikembangkan setelah kegagalan proyek F-111B, dan merupakan pesawat tempur generasi ke-4 pertama Amerika Serikat, yang dirancang dengan didasari pengalaman bertempur dengan pesawat-pesawat MiG buatan Soviet pada Perang Vietnam.
Pesawat ini mulai dipakai oleh Angkatan Laut Amerika Serikat pada tahun 1972, menggantikan F-4 Phantom II. Pesawat ini juga sempat diekspor ke Iran pada tahun 1976. Pada tanggal 22 September 2006, pesawat ini resmi dipensiunkan dan digantikan oleh F/A-18E/F Super Hornet
F-14 Tomcat

F-14 pada Perang Irak, Agustus 2004.
________________________________________
Tipe Pesawat tempur superioritas udara
Produsen Grumman Aircraft Engineering Corporation

Perancang Bob Kress[1]

Terbang perdana 21 Desember 1970

Diperkenalkan September 1974

Dipensiunkan 20 September 2006, AL AS
Status Aktif di Iran
Pengguna Amerika Serikat
Iran

Jumlah produksi 712

Program F-14 Tomcat dimulai ketika pengembangan F-111B, varian Angkatan Laut Amerika Serikat dari program Tactical Fighter Experimental (TFX), dianggap tidak memuaskan, karena terlalu berat dan kurang lincah. Angkatan Laut AS membutuhkan pesawat tempur pertahanan armada (fleet air defense fighter, FADF) yang peran utamanya adalah mencegat pesawat pengebom Soviet sebelum mereka bisa meluncurkan rudal ke arah armada laut, selain itu Angkatan Laut AS juga menginginkan pesawat yang memiliki kemampuan superioritas udara yang baik.
Pada bulan Mei 1968, Kongres Amerika Serikat menghentikan pendanaan untuk program F-111B, membuat Angkatan Laut AS bisa mengembangkan pesawat baru yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Angkatan Laut AS kemudian memulai tender untuk pengembangan pesawat baru. Dari lima perusahaan yang memberikan proposal (empat diantaranya menawarkan pesawat dengan sayap lipat seperti F-111), McDonnell Douglas dan Grumman dipilih sebagai finalis pada Desember 1968, dan akhirnya Grumman memenangkan kontrak ini pada Januari 1969. Sebelum ini, Grumman memang merupakan mitra dalam pengembangan F-111B, dan mereka sudah mulai memikirkan dan merancang pesawat baru ketika merasakan bahwa program F-111B akan gagal. Desain awal dan perkiraan harga sebelumnya sudah sempat disebarkan ke petinggi Angkatan Laut sebagai alternatif F-111B F-14 pertama kali terbang pada tanggal 21 Desember 1970, hanya 22 bulan setelah Grumman memenangkan kontrak ini.

Varian
712 F-14 telah diproduksi antara tahun 1969 sampai 1991 di pabrik Grumman di Calverton, Long Island.
YF-14A: Prototip dan versi praproduksi. 12 buah.
F-14A: Versi produksi pertama, interseptor berkursi ganda untuk Angkatan Laut AS. Modifikasi pada saat-saat akhir menambahkan kemampuan serang darat. 545 buah dikirim ke Angkatan Laut AS, dan 79 buah ke Iran. 102 F-14A terakhir menggunakan mesin TF30-P-414A yang lebih baru. Selain itu, F-14A ke-80 diproduksi untuk Iran, tetapi akhirnya dipakai AS.
F-14A + Plus atau F-14B: Pembaruan dari F-14A dengan mesin GE F110-400. 38 pesawat baru diproduksi, dan 48 buah F-14A dimutakhirkan ke bersi B ini Pada akhir tahun 1990-an, 67 F-14B diperbarui dengan badan pesawat baru dan peralatan avionik mutakhir. Pesawat dengan modifikasi ini diberi nama F-14B Upgrade
F-14D Super Tomcat: Varian terakhir F-14. Mesin TF-30 diganti dengan GE F110-400, seperti pada F-14B. F-14D juga ditambah peralatan avionik digital terbaru termasuk Glass cockpit, dan radar APG-71 menggantikan AWG-9. 37 pesawat baru diproduksi, dan 18 F-14A dimutakhirkan ke versi D.
Spesifikasi (F-14D Super Tomcat)

Karakteristik umum
Kru: 2 (Pilot and Radar Intercept Officer)
Panjang: 61 ft 9 in (18.6 m)
Lebar sayap:
Spread: 64 ft (19 m)
Swept: 38 ft swept (11.4 m)
Tinggi: 16 ft (4.8 m)
Area sayap: 565 ft² (54.5 m²)
Airfoil: NACA 64A209.65 mod root, 64A208.91 mod tip
Berat kosong: 42,000 lb (19,000 kg)
Berat terisi: 61,000 lb (28,000 kg)
Berat maksimum lepas landas: 72,900 lb (32,800 kg)
Mesin: 2× General Electric F110-GE-400 afterburning turbofans
o Dorongan kering: 13,810 lbf (72 kN) masing-masing
o Dorongan dengan afterburner: 27,800 lbf (126 kN) masing-masing
Performa
Kecepatan maksimum: Mach 2.34 (1,544 mph, 2,485 km/h) at high altitude
Radius tempur: 500 nm (576 mi, 927 km)
Jarak jangkau ferri: 1,600 nm (1,800 mi, 3,000 km)
Laju panjat: >45,000 ft/min (230 m/s)
Beban sayap: 113.4 lb/ft² (553.9 kg/m²)
Dorongan/berat: 0.91
Persenjataan
13,000 lb (5,900 kg) of ordnance including:
Guns: 1× M61 Vulcan 20 mm Gatling Gun
Missiles: AIM-54 Phoenix, AIM-7 Sparrow and AIM-9 Sidewinder air-to-air
Loading configurations:
o 2× AIM-9 + 6× AIM-54
o 2× AIM-9 + 2× AIM-54 + 4× AIM-7
o 2× AIM-9 + 4× AIM-54 + 2× AIM-7
o 2× AIM-9 + 6× AIM-7
o 4× AIM-9 + 4× AIM-54
o 4× AIM-9 + 4× AIM-7
Bombs: GBU-10, GBU-12, GBU-16, GBU-24, GBU-24E Paveway I/II/III LGB, GBU-31, GBU-38 JDAM, Mk-20 Rockeye II, Mk-82, Mk-83 and Mk-84 series iron bombs
Avionik
Hughes AN/APG-71 radar
AN/ASN-130 INS, IRST, TCS