Minggu, 04 September 2011

M26 Pershing Heavy Tank

M26 Pershing Heavy Tank

M26 Pershing adalah heavy tank yang digunakan oleh pasukan AS pada masa-masa akhir Perang Dunia II. Tank ini diberi nama Pershing sebagai penghargaan untuk mengenang jasa-jasa Jenderal John Joseph “Black Jack” Pershing, komandan American Expeditionary Force dalam Perang Dunia I.

Tank dengan berat sekitar 41,8 ton ini diawaki lima orang dan menggunakan mesin bensin Ford GAF V-8 berkekuatan 500 tenaga kuda. Memiliki kecepatan maksimum 40 km/jam dan jarak tempuh sekitar 160 km. Persenjataan utama tank ini adalah sepucuk meriam M3 kaliber 90mm dengan 70 butir amunisi. Selain itu masih ditambah dengan dua pucuk senapan mesin ringan Browning M1919A4 kaliber 0.30 (5.000 butir amunisi) dan sepucuk senapan mesin berat Browning M2HB kaliber 0.50 (550 butir amunisi).

Proyek tank ini sebetulnya telah dimulai pada tahun 1942-1943, namun tidak berjalan lancar karena menemui banyak hambatan,; termasuk ditentang oleh sejumlah perwira militer AS. Pada masa itu doktrin militer AS tidak mengenal konsep heavy tank. Selain itu doktrin pasukan AS pada waktu itu juga menyebutkan bahwa pasukan tank adalah untuk mendukung pasukan infantri, sementara pertempuran antar tank adalah tugas pasukan tank destroyer. Tidak hanya proyek tank T26/M26 saja yang ditentang, bahkan penggunaan meriam kaliber 76mm pada tank-tank Sherman juga tidak berjalan mulus karena dianggap tidak mampu melontarkan proyektil HE sebaik meriam 75mm. Tidak main-main, salah satu penentang tank T26/M26 dan meriam kaliber 76mm adalah Jenderal George S.Patton.

Kemunculan tank-tank Panther dan Tiger dalam pertempuran di Normandia merubah semua pandangan tersebut. Para perwira militer AS pun berbalik banyak yang meminta Sherman dipersenjatai dengan meriam 76mm (termasuk jenderal Patton) dan proyek tank T26/M26 kembali berjalan dan kemudian memasuki masa produksi, walaupun masih dalam skala terbatas.

Pada bulan Desember 1944 Jerman melancarkan serangan di Ardennes dan walaupun akhirnya pasukan AS berhasil memukul mundur serangan Jerman tersebut, mereka kehilangan banyak tank. Militer AS pun kemudian meminta agar T26 segera dikirim ke medan perang. Namun karena masalah produksi, hanya sekitar 20 unit yang berhasil dikirim ke Eropa pada bulan Januari 1945.

T26 tidak sempat digunakan dalam pertempuran besar di Eropa, namun beberapa kali terlibat dalam kontak senjata dengan pasukan Jerman. Untuk pertama kalinya pasukan AS memiliki tank yang mampu diajak bertempur secara frontal melawan tank-tank Panther dan Tiger. Namun sebuah tank T26 sempat rontok dalam duel melawan tank Tiger Jerman. T26 terus digunakan hingga Perang Dunia II usai. Selain di Eropa, beberapa unit T26 juga sempat dikirim ke Okinawa namun tidak sempat terlibat pertempuran karena mendarat hanya beberapa hari sebelum Jepang menyerah.

Usai Perang Dunia II, kode T26 diubah menjadi M26 Pershing dan kemudian digolongkan sebagai medium tank. Varian selanjutnya adalah versi yang lebih modern dan diberi nama M46 Patton. Tank-tank ini kemudian digunakan dalam Perang Korea dan pada tahun 1950-an sejumlah negara Eropa Barat juga menerima tank ini sebagai bagian dari kekuatan militer mereka. Salah satunya adalah Italia yang menggunakannya sampai tahun 1963.

Dari pengalaman membuat tank M26 Pershing inilah yang kemudian menjadi dasar bagi AS dalam pengembangan tank M48 dan M60 Patton.

IS-2 Stalin Heavy Tank

IS-2 Stalin Heavy Tank

Pada tahun 1943 tank-tank berat KV-1 dan KV-2 dirasakan sudah tidak mampu lagi digunakan dalam pertempuran melawan Jerman. Lambat dan dengan persenjataan yang sama dengan tank medium T-34, ditambah dengan kemunculan tank-tank Panther dan Tiger semakin menegaskan akan adanya kebutuhan heavy tank baru bagi pasukan Uni Soviet. Oleh karena itu maka kemudian dirancang satu tank baru yang akhirnya diberi nama IS, mengambil dari nama Iosef Stalin; pimpinan negara Uni Soviet.

Versi awal tank dengan empat orang awak ini adalah IS-1 yang dipersenjatai dengan meriam D-5T kaliber 85mm. Namun pada saat yang bersamaan diproduksi medium tank T-34/85 dengan persenjataan yang sama dan oleh karena itu dibutuhkan meriam dengan kaliber yang lebih besar untuk mempersenjatai heavy tank baru tersebut. Uji coba sempat dilakukan dengan menggunakan meriam kaliber 100mm, namun kemudian dihentikan dengan alasan logistik. Akhirnnya diputuskan untum mempersenjatai tank tersebut dengan meriam D-25T kaliber 122mm.

Konsep heavy tank dalam militer Uni Soviet adalah untuk mendukung pasukan infantri dan oleh karena itu dipergunakan meriam kaliber 122mm. Dengan proyektil HE seberat 28 kg (bandingkan dengan meriam 88 Jerman dengan proyektil HE seberat 9 kg, atau proyektil HE meriam 75mm yang hanya seberat 4 kg) tentu saja sangat menakutkan. Selain itu meriam 122m juga sudah digunakan secara luas di kalangan pasukan Uni Soviet sehingga mempermudah urusan logistik. Selain meriam kaliber 122 dengan 28 butir amunisi, IS-2 juga dipersenjatai dengan dua pucuk senapan mesin DT kaliber 7,62mm; tidak sedikit pula IS-2 yang masih ditambahi dengan senapan mesin berat DShk kaliber 12,7mm guna keperluan anti serangan udara.

IS-2 pertama kali digunkan dalam pertempuran pada bulan April 1944. Pasukan tank Jerman kaget luar biasa ketika melihat meriam kaliber 88mm pada tank Tiger I tidak mampu menembus lapisan baja IS-2, kecuali dalam jarak kurang dari 1.000 meter. Bahkan meriam kaliber 75mm tank Panther bahkan hanya efektif dalam jarak kurang dari 600 meter. Walaupun lebih diutamakan untuk menembakkan proyektil HE, tetapi meriam 122mm pada tank IS-2 juga bisa digunakan untuk menembakkan proyektil AP dan mampu menembus lapisan baja tank Tiger dalam jarak lebih dari 1.000 meter.

Secara teknis lapisan baja dan meriam 122mm yang digunakan tank IS-2 memang mampu mengimbangi tank-tank Jerman, namun IS-2 ternyata lebih lamban dan sulit bermanuver jika dibandingkan dengan tank-tank Jerman. Selain itu tank-tank Jerman juga memiliki fire control yang jauh lebih baik dari tank-tank Uni Soviet.
Walaupun masih memiliki kelemahan, tetapi IS-2 adalah tank yang cukup tangguh dan digunakan sebagai ujung tombak serangan pasukan Uni Soviet pada tahun 194401945. Tank ini pula yang digunakan untuk mendobrak pertahanan Jerman di Berlin, sekaligus membawa Uni Soviet meraih kemenangan dalam Perang Dunia II.

Pada awal tahun 1945, muncul versi baru dari tank IS-2; yaitu IS-3. Versi IS-3 ini memiliki lapisan baja yang lebih tebal dengan desain turret model baru. IS-3 adalah salah satu simbol perang dingin, digunakan oleh beberapa negara sekutu Uni Soviet pada tahun 1950-an dan 1960-an. Salah satu penggunanya adalah Mesir, yang menggunakan IS-3 dalam Perang Arab-Israel tahun 1967 dan 1973.

Secara total telah diproduksi lebih dari 8.000 unit tank IS dalam berbagai varian dan versi, termasuk assault gun ISU-122 dan ISU-152.

SA – 1 Guild

S (Systema) – 25 Berkut / Kode NATO : SA – 1 Guild

Sishanud SAM pertama Russia/Uni Sovyet ini dibangun pada 9 Agustus 1950. Sishanud SAM S-25 Berkut ( yang berarti Elang Emas dalam bahasa Indonesia ) terdiri dari :

- Radar E/F A-100 “Kama”, yang berfungsi sebagai Radar Peringatan Dini dan Deteksi Target. Jangkauannya antara 25 – 250 km.
- Radar B-200, berfungsi sebagai Radar Pemandu Rudal.
- Rudal V-300, Rudal utama dalam Sistem S-25 ini.

Tidak banyak yang dapat dijelaskan dalam Sishanud SAM Russia pertama ini selain mempunyai kecepatan maksimun 2,5 Mach, membawa hululedak berkisar antara 200 – 300 kg, serta ketinggian minimum 900 meter maksimal 18 km. Sista ini dibangun untuk mengatasi pembom tinggi Amerika B-52 Stratofortress.

Negara yang mengoperasikan Sista Hanud ini hanya ada 2 : Uni Sovyet/Russia dan Korea Utara

KAR-98

KAR-98

Karabiner 98 adalah rifle dengan sistem mekanisme bolt-action (satu peluru, satu reload). Dikembangkan oleh salah satu pabrik senjata terkenal pada jaman dulu di Jerman yang bernama Mauser (sekarang dah kalah pamor sama Heckler und Koch -H&K). Kar98k masuk ke dalam dinas militer NAZI pada tahun 1935. Memiliki tingkat akurasi yang cukup baik, hanya saja masih kalah dengan pesaing nya 'Mosin-Nagant' buatan Rusia.

Data teknis
Ukuran peluru : 7.92 x 57mm Mauser.
Panjang seluruh : 1250mm
Panjang laras : 740mm
Berat : 4.09kg
Kapasitas peluru : 5 peluru

Selasa, 12 Juli 2011

McDonnell Douglas YC-15

McDonnell Douglas YC-15
1975

YC-15 merupakan usulan McDonnell Douglas untuk US Air Force dalam kompetisi Advanced Medium STOL Transport (AMST), untuk menggantikan C-130 Hercules sebagai standar transportasi taktis STOL USAF. Pada akhirnya baik YC-15 ataupun YC-14 Boeing tidak diproduksi, akan tetapi desain dasar YC-15 akan digunakan untuk membuat C-17 Globemaster III yang sukses.

Desain dan Pengembangan
Pada tahun 1971 USAF mulai bekerja pada rangkaian proposal purwarupa, yang menghasilkan proyek AMST dan Light Weight Fighter (Pesawat Tempur Ringan). RFP resmi dikeluarkan pada Januari 1972, yang menginginkan pesawat yang mampu mendarat dan lepas landas pada landasan tidak dipersiapkan sepanjang 2.000 kaki (610 m), jarak jangkau 500 nmi (930 km) dengan beban 27.000 lb (12.000 kg) tanpa pengisian ulang bahan bakar. Sebagai perbandingan, C-130 memerlukan landasan sepanjang 4000 ft (1200 m). Lima perusahaan menyerahkan desain untuk berkompetisi, Boeing dengan Model 953 pada Maret 1972. Pada 10 November 1972, dilakukan penyaringan, Boeing dan McDonnell Douglas memenangkan kontrak untuk pembuatan masing-masing dua purwarupa.

Desain McDonnell Douglas memakai sayap supercritical, hasil penelitian NASA yang dilakukan oleh Richard Whitcomb. Desain sayap ini menurunkan secara dramatis drag gelombang transonic sebanyak 30% dibandingkan dengan desain sayap konvensional, sementara pada saat yang sama menawarkan daya angkat pada kecepatan rendah yang sangat bagus. Paling kontemporer, pesawat ini memnggunakan sayap tertekuk untuk menurunkan drag gelombang, tetapi ini menyebabkan pengendalian pesawat pada kecepatan rendah menjadi sulit, yang membuatnya menjadi tidak cocok untuk operasi STOL.

Tim Desain juga memilih untuk menggunakan externally-blown flaps untuk meningkatkan daya angkat. Sistem ini menggunakan double-slotted flaps langsung ke bagian exhaust mesin jet, sedangkan sisa dari exhaust terus melalui flap dan kemudian terus melengkung ke bawah akibat efek Coandă. Walaupun efek ini telah dipelajari untuk beberapa waktu oleh NASA, bersama dengan konsep serupa, dengan pemakaian turbofan yang panas dan exhaustnya terkonsentrasi, membuat sistem sulit untuk digunakan. Pada saat proyek AMST, mesin telah berubah drastis dan sekarang lebih tidak terkonsentrasi dan udara yang dikeluarkan jauh lebih dingin. Untuk YC-15, empat mesin kecil digunakan, versi dari Pratt & Whitney JT8D yang banyak digunakan pada Boeing 727, dimodifikasi dengan fan ekstra di belakang mesin untuk meningkatkan aliran udara sejuk.

Desain Boeing pada umumnya serupa, dan juga memanfaatkan sebuah sayap supercritical. Tetapi terdapat perbedaan yaitu pada penempatan mesinnya. Desain Boeing menggunakan "upper surface blowing". Sistem ini memungkinkan mereka untuk menempatkan dua mesin yang lebih besar dekat dengan akar sayap, menggunakan diffuser untuk menyebarkan exhaust di atas permukaan. Mereka merasa desain ini menawarkan tingkat keselamatan lebih apabila terdapat kegagalan pada satu sisi mesin, sedangkan sistem bawah sayap pada YC-15 akan mengakibatkan daya angkat simetris signifikan.

Pengujian

Dua YC-15 dibuat, satu dengan bentang sayap 110 kaki (# 72-1876) dan satu dengan bentang 132 kaki (# 72-1875). Keduanya memiliki panjang 124 kaki (38 m) dan bermesin empat Pratt & Whitney JT8D-17, masing-masing dengan daya dorong 15.500 lbf (68,9 kN).

Penerbangan pertama dilakukan pada 26 Agustus 1975. Purwarupa kedua mengikuti pada bulan Desember. Mereka diuji untuk beberapa waktu di McDonnell Douglas karena purwarupa Boeing belum siap sampai hampir satu tahun kemudian. Pada bulan November 1976 kedua rancangan telah dipindahkan ke Edwards Air Force Base untuk pengujian kepala-ke-kepala, termasuk pengangkutan beban berat seperti tank dan artileri dari landasan tanah Graham Ranch, Runway 22.

YC-15 menyelesaikan 600 jam program uji penerbangan pada 1977. Pada Maret 1976 Air Force Chief of Staff Gen David C. Jones meminta Air Force Systems Command untuk melihat apakah mungkin untuk menggunakan satu model AMST untuk peran pengangkutan udara strategis dan taktis, atau sebagai alternatif, jika mungkin mengembangkan derivative non-STOL dari AMST untuk peran airlift strategis. Hal ini menyebabkan sejumlah studi yang pada dasarnya menyimpulkan bahwa modifikasi semacam itu tidaklah mudah, dan akan memerlukan perubahan besar dengan ukuran pesawat yang lebih besar.

Meskipun YC-14 dan YC-15 memenuhi atau melampaui spesifikasi dari permintaan USAF, semakin pentingnya misi strategis vs taktis akhirnya membuat USAF untuk mengupdate C-130 untuk jangka pendek karena lebih menguntungkan. Program AMST dibatalkan pada tahun 1979. Pada Januari 1979, C-X Task Force dibentuk untuk mengembangkan pesawat strategis sesuai kebutuhan. C-X akhirnya menjadi C-17 Globemaster III, yang dikembangkan berdasarkan desain dasar YC-15.

Specifications

General characteristics
•Crew: 3
•Capacity: Up to 150 troops or 78,000 lb (35,000 kg) of cargo
•Length: 124 ft 3 in (37.9 m)
•Wingspan: 110 ft 4 in/132 ft 7 in (33.6 m/40.4 m)
•Height: 43 ft 4 in (13.2 m)
•Wing area: 1,740 ft² (162 m²)
•Empty weight: 105,000 lb (47,600 kg)
•Max takeoff weight: 216,680 lb (98,286 kg)
•Powerplant: 4× Pratt & Whitney JT8D-17 turbofans, 16,000 lbf (72,5 kN) each

Performance
•Maximum speed: 465 knots (861 km/h)
•Range: 2,600 nm (4,810 km)

FEARLESS Corvette Singapura

FEARLESS Corvette Singapura

Singapore Technologies Marine Ltd (ST Marine), bagian dari Singapore Technologies Engineering, membangun 12 unit kapal patroli kelas Fearless untuk angkatan laut Singapura (RSN).

Enam kapal dari kelas ini, Fearless (94), Brave (95), Courageous (96), Gallant (97), Resilience (98) dan Unity (99), dipersenjatai dengan senjata untuk misi peperangan anti kapal selam. Enam lainnya, Resilience (82), Unity (83), Sovereignty (84), Justice (85), Freedom (86) dan Independence (87), merupakan kapal patroli. 

Kapal patroli dengan konstruksi monohull baja, round bilge semi-displacement hull, rangka depan V-shaped. Superstruktur dibangun dari marine grade light alloy. Rancangan kapal dapat direkonfigurasi untuk menerima berbagai jenis perangkat sensor, sistem persenjataan sesuai dengan kebutuhan operasional.
PERSENJATAAN

Meriam utama versi kapal patroli berupa Super Rapide Gun 76mm dari Oto Melara, dan senapan mesin caliber 12,7mm dari Chartered Industial Singapore.

Enam kapal pertama dilengkapi dengan tiga tabung luncur torpedo 324mm jenis B515 dari Whitehead Alenia. Sistem pertahanan udara berupa rudal permukaan-ke-udara Mistral jenis Simbad dari MBDA, yang dipasang pada stern deck. Untuk enam unit kapal kedua dikonfigurasikan untuk peperangan permukaan. Awalnya dipersenjatai dengan rudal anti-kapal permukaan jarak menengah Gabriel II dari IAI, namun kemudian dibatalkan.

PERLINDUNGAN
Peluncur decoy Shield III dari BAE SYSTEMS, membawa tiga modul roket terpasang pada sudut elevasi 30°. Peluncur ini dapat dipersenjatai dengan berbagai jenis amunisi decoy termasuk chaff rocke P8.

Radar penerima peringatan (RWR/Radar Warning Receiver) NS 9010C dari Elisra, Israel, memiliki kemampuan mendeteksi dan menganalisa secara cepat atas transmisi radar pihak lawan dan memiliki penampilan instantaneous frequency measurement (IFM), instantaneous direction finding (IDF) dan analisa ancaman.

Selain itu dilengkapi juga dengan perangkat sensor MSIS optronic director dari El-Op, Israel, untuk mengendalikan penembakan meriam utama. MSIS termasuk thermal imager gelombang panjang, kamera TV dan laser rangefinder/designator.

Radar sapu permukaan dan kendali penembakan EL/M-2228(X) yang beroperasi pada E dan F band dari Elta Electronics Industries, Israel. EL/M-2228(X) merupakan radar surveillance dan gunnery dengan kemampuan pulse doppler radar search dan threat alert pada X band. Secara simultan melakukan deteksi target permukaan dan udara dengan mode operasi track while scan dan splash spotting while scanning. Selain itu
juga terdapat radar navigasi yang beroperasi pada I band.

Kapal jenis anti-kapal selam dilengkapi juga dengan sonar aktif bawah air frekuensi menengahTSM 2363 Gudgeon dari Thales Underwater Systems.

PROPULSI.
Versi kapal patroli menggunakan dua mesin disel MTU 12V 595 TE 90 yang terhubung dengan ZF gear boxes. Dilengkapi dengan MTU Ship Control Monitoring and Management System (SCMMS). Dilengkapi juga dengan sistem twin waterjet dari KaMeWa, Swedia, untuk meningkatkan daya maneuver termasuk operasi diperairan dangkal.

Senin, 11 Juli 2011

Grumman F11F Tiger

Grumman F11F Tiger

Pada saat F9F Cougar melakukan terbang perdana pada tanggal 20 September 1950, Grumman sebenarnya sudah mulai merancang jet tempur baru untuk menggantikan F9F Panther dan F9F Cougar. Fighter baru yang memiliki kemampuan terbang supersonik tersebut adalah F11F Tiger yang kemudian melakukan terbang perdana pada tanggal 30 Juli 1954.

F11F Tiger adalah fighter yang cukup mudah untuk diterbangkan dan mudah untuk dirawat, Namun mesin turbojet Wright J65 yang digunakan oleh pesawat ini ternyata sering mengalami masalah dan kurang bertenaga sehingga mengurangi jarak tempuh dan kemampuan terbang F11F. Sebagai akibatnya pesawat ini hanya diproduksi sebanyak 200 unit dan hanya digunakan sebagai fighter selama empat tahun saja, yaitu dari tahun 1957 sampai dengan tahun 1961 dan kemudian digantikan oleh F-8 Crusader.

Dianggap tidak layak sebagai fighter, F11F Tiger kemudian digunakan sebagai pesawat latih sampai dengan tahun 1967. Namun pesawat ini memiliki kemampuan manuver yang cukup baik sehingga kemudian digunakan oleh team aerobatik Blue Angels mulai tahun 1957 sebelum akhirnya digantikan oleh F-4 Phantom pada tahun 1969.

Specifications (F11F-1) :
Crew : 1
Length : 14.31 m
Wingspan : 9.64 m
Height : 4.03 m
Empty weight : 6,091 kg
Maximum take-off weight : 10,052 kg
Powerplant : 1 x 7,450 lb (3,379 kg) thrust Wright J65-W-18 turbojet engine
Maximum speed : 1,207 km/h
Range : 2,044 km
Service ceiling : 12,770 m
Rate of Climbing : 1,565 m/minute
Armament : 4 x 20mm cannons and 4 x AIM-9 Sidewinder air-to-air missiles

KRI Karel Satsuit Tubun (356)

KRI Karel Satsuit Tubun (356)

KRI Karel Satsuit Tubun adalah Fregat kelas Ahmad Yani milik TNI Angkatan Laut. Dinamai menurut Karel Satsuit Tubun, salah seorang pahlawan nasional.

KRI Karel Satsuit Tubun merupakan kapal fregat eks-Angkatan Laut Belanda bernama HNLMS Isaac Sweers (F814) yang kemudian dibeli oleh Indonesia. Kapal ini bersaudara dekat dengan Fregat Inggris Kelas HMS Leander dengan sedikit modifikasi dari disain RN Leander asli. Dibangun tahun 1967 oleh Nederlandse Dok en Scheepsbouw Mij, Amsterdam, Belanda dan mendapat peningkatan kemampuan sebelum berpindah tangan ke TNI Angkatan Laut pada tahun 1977-1980. Termasuk di antaranya adalah pemasangan sistem pertahanan rudal anti pesawat (SAM, Sea to Air Missile) Mistral menggantikan Sea Cat.

Senjata
2x2 - Rudal Darat ke Udara -Sea Cat
1 Pucuk Meriam - OTO-Melara Compact Kaliber 76 mm ; kecepatan tembakan 85 peluru per menit
2x4 - Rudal anti Kapal perang RGM-84 Harpoon - berpemandu Active radar homming
4x - Torpedo Honeywell Mk 46 Kaliber 533 mm berkemampuan SUT (Surface & Underwater Target)
2x - Senapan Mesin Berat browning kaliber 12,7 mm

Perangkat elektronik
Radar
Radar kontrol tembakan
Sonar
Decoy

Pembuat: Nederlandse Dok en Scheepsbouw Mij, Amsterdam, Belanda
Mulai dibuat: 1967
Diluncurkan:
Nama sebelumnya: HNLMS Isaac Sweers (F814)
Status: Masih bertugas

Karakteristik umum
Berat benanam: 2.200 ton standar
2.850 ton beban penuh
Panjang: 113,4 m (372,05 ft)
Lebar: 12,5 m (41,01 ft)
Draught: 5,8 m (19,03 ft)
Tenaga penggerak: s shaft, geared steam turbines 2 boilers, 30.000 hp
Kecepatan: 28,5 knot
Jarak tempuh: 4.500 nm pada 18 knot
Awak kapal: 251 orang
Persenjataan: 2x2 - Rudal Darat ke Udara -Sea Cat
1 Pucuk Meriam - OTO-Melara Compact Kaliber 76 mm ; kecepatan tembakan 85 peluru per menit
2x4 - Rudal anti Kapal perang RGM-84 Harpoon - berpemandu Active radar homming
4 x Torpedo Honeywell Mk 46 Kaliber 533 mm berkemampuan SUT (Surface & Underwater Target)
2 x Senapan Mesin Berat browning kaliber 12,7 mm